NovelToon NovelToon
CEO Rescue Me!

CEO Rescue Me!

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / CEO / Cinta pada Pandangan Pertama / Tamat
Popularitas:554k
Nilai: 5
Nama Author: Ough See Usi

Adisti harus memutuskan pertunangannya dengan Prasetyo Anggoro, seorang pewaris Anggoro Putra Group, saat 30 hari menjelang pernikahannya. Rita Gunaldi, desainer sekaligus MUA baju pengantin yang merupakan, pemilik The Ritz “mengambil” tunangannya tepat di depan matanya.

Siapa yang menyangka tepat di hari H yang sudah dibatalkan, Adisti jatuh dari tebing dan justru bertemu dengan jodoh yang sebenarnya di tengah jurang, Bramasta Sanjaya seorang pewaris Sanjaya Group dan perintis B Group. Pertama kali mereka bertatap mata di tengah jurang, pertama kalinya mereka merasakan jatuh cinta. Dan huruf “G” kecil tulisan tangan Adisti semakin meyakinkan hati Bramasta.

Keluarga Anggoro dendam. Begitupula Rita Gunaldi. Dendam menguak aib dan kejahatan yang mereka lakukan. Melibatkan Interpol dan polisi di dalamnya.

Cinta dan Dendam, kepada siapa nasib akan berpihak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ough See Usi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30 – BEBAN YANG TERANGKAT

Agung sampai rumah pukul 12.30 setelah mampir dulu ke tukang mie ayam langganannya. Kebiasaan dari SMA, saat hati dan pikiran suntuk maka mie ayam yang menjadi pelariannya. Siang tadi, 2 mangkuk mie ayam dihabiskan sambil benaknya dipenuhi pertanyaan: mengapa?

Rumah sepi. Belum ada yang pulang. Untungnya setiap anggota keluarga punya kunci rumah. Agung menenteng kardus mie instannya ke dalam rumah. Diletakkan begitu saja di dekat kaki meja ruang tengah. Berbaring di sofa sambil mendesah. Akhirnya dia bangkit untuk ke kamar mandi. Membersihkan diri lalu berwudhu.

Menaiki tangga dengan langkah gontai. Tas ranselnya disampirkan pada kursi di kamar. Mengeluarkan kemeja dari dalam celananya, menggelar sejadah lalu berniat sholat dhuhur.

“Allahu akbar,” Agung bertakbiratul ihram sambil mengangkat kedua tangannya sejajar dengan telinga. Do’a iftitah lalu al fatihah.

Saat mulai membaca al fatihah, tiba-tiba saja terselip perasaan yang sedih luar biasa, merasa didholimi dan teraniaya oleh orang yang membuatnya harus kehilangan pekerjaannya.

Pencapaian posisinya selama 12 tahun ini merupakan kebanggan dirinya juga Ayah dan Bunda. Agung terisak dalam sholatnya. Bahkan saat bacaan al fatihah ayat ke-5, dia mengulangnya 2 kali dengan terisak keras.

“Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin”_Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan_

Agung meraih Qur’annya. Berusaha menenangkan hatinya dengan membaca al Qur’an. Hingga matanya terasa berat.

Handphonenya dalam mode silent dari tadi. Karena terlalu banyak yang menelepon dari kantor untuk menanyakan ada apa sebenarnya. Pertanyaan yang dia sendiri tidak tahu jawabannya. Agung terlelap dengan cepat. Tubuh dan pikirannya penat. Hati dan harga dirinya terluka dengan surat PHK dari perusahaan yang dia bela dan bangun selama 12 tahun.

Adisti dan Bunda tiba hampir pukul 14.00. Mommy tidak turun dari mobil karena hendak langsung ke kantor Daddy. Bunda heran karena Scoopy sudah terparkir di carport.

“Dek, Kakak sudah pulang?”

“Eh? Kok sudah pulang? Jangan-jangan Kakak sakit?”

Bunda bergegas membuka pintu. Mengucap salam lalu memanggil Agung tetapi tidak ada sahutan.

“Di kamarnya mungkin Bun..” kata Adisti. Dia melihat kardus mie instan di dekat meja tengah. Bergegas melihat isinya.

“Loh, kok ini barang-barang Kakak di kantor dibawa pulang?”

Bunda naik ke kamar Agung. Adisti hanya berdiri di tangga paling bawah. Menunggu.

“Assalamu’alaikum..” Bunda mengetuk pintu kamar lalu membukanya, “Kak?”

Agung masih terlelap. Wajahnya tampak lelah. Bunda tidak tega membangunkannya.

[Tidak panas, kok] Bunda meraba kening Agung.

“Kakak kenapa, Bun?” tanya Adisti ketika melihat Bunda menuruni tangga.

“Kakak tidur. Sudah biarkan saja. Capek banget sepertinya.” Adisti mengangguk.

“Ayah belum pulang ya?” tanya Bunda.

“Iya Bun.. Lama banget ya.”

Saat adzan Ashar, Agung terbangun. Sayup-sayup ia mendengar percakapan Bunda dan Ayah tentang kejadian di rumah sakit. Teringat ia dengan adiknya. Bergegas bangun lalu turun.

“Maaf Yah, Bun, tadi Kakak ketiduran.”

“Sudah makan?”

Agung mengangguk. “Adek mana?”

“Masih tidur kayaknya. Bangunin gih, udah Ashar soalnya.”

“Dek, bangun. Dek, Ashar..”

Adisti menggeliat. Melihat Agung lalu tersenyum.

“Kakak kenapa pulang cepat? Pasti karena Abang cerita ke Kakak ya tentang kejadian di rumah sakit pagi tadi? Padahal gak ada yang terluka kok. Kita bahkan tidak ada yang menyadari ada bahaya. Isssh Abang Bramasta itu ya, kakak sedang ada meeting bulanan aja kok diminta pulang buat lihat Adek..”

Agung terdiam.

“Memang ada kejadian apa tadi?”

“Loh, Kakak tidak tahu? Abang tidak cerita ke Kakak?”

“Handphone Kakak mode silent dari pagi. Cerita ke Kakak ada kejadian apa tadi pagi?”

Adisti menceritakan semuanya.Termasuk juga pelayanan jalur khusus yang ternyata memakan waktu lama karena dirinya harus di rontgen untuk memastikan posisi sendi. Pengosongan lorong rontgen di jam sibuk tidak dilakukan dalam waktu yang sebentar.

Agung bersyukur mereka selamat dari marabahaya. Dia yakin otak pelakunya adalah Nyonya Hilman.

Nada panggil gawai Adisti berdering. Nama Bramasta terbaca pada layar.

“Assalamu’alaikum Abang.” Jeda.

“Ada. Tadi Disti dan Bunda pulang, Kakak ternyata sudah di rumah sedang tidur. Disti kira Abang nyuruh Kakak pulang lebih cepat buat mastiin Disti dan Bunda aman.” Jeda.

“HPnya mode silent dari pagi.”Jeda.

“Kakak ada di dekat Disti sekarang. Mau bicara dengan Kakak?” Jeda.

“OK. Kak, kata Abang angkat HPnya. Dari tadi Abang nelepon Kakak gak diangkat terus..Udah Abang.”Jeda.

“Wa’alaikumussalam, dah Abang..”

Nada panggil gawai Agung berdering. Agung langsung mengangkatnya.

“Assalamu’alaikum Bang. Nanti Bang, saya keluar dulu.”Jeda.

Agung berjalan cepat ke halaman samping. Kakinya melangkah ke gazebo.

“Halo, Bang. Saya udah di gazebo. Tadi ngomong apa?”Jeda.

“Iya Bang, tadi Adek bilang, pihak direksi rumah sakit mengatakan, ini di luar kebiasaan. Tidak biasanya ada troli makanan di ramp UGD. Dari rekaman CCTV bagaimana?”Jeda.

Terdengar bunyi dering notifikasi pesan chat yang masuk dari arah Bramasta. Agung mengernyit. Badannya terasa kaku, ia menyalakan loudspeaker untuk mendengarkan suara Bramasta.

“A.. halo?”

“Iya Bang?”

“Ada pesan masuk di handphone Adisti. Ibunya Tiyo.”

Agung menegakkan duduknya.

“Apa katanya Bang?”

“Hei miskin! Seharusnya tadi tidak meleset ya. Luar biasa kamu. Pakai dukun mana sampai bisa menggandeng Nyonya Sanjaya?? Sok polos, sok suci, ternyata sama saja! Tapi saya senang, kakak kamu yang sombong itu sudah jadi pengangguran sekarang. Seneng banget deh lihat ekspresinya saat meninggalkan Buana Raya untuk selamanya.”

Agung meremas tangannya.

“A? Kok Aa gak cerita ke Abang?”

“Bang, tolong jangan ceritakan hal ini kepada Ayah, Bunda dan Adek ya. Aa gak sanggup melihat mereka bersedih. Biarkan Aa nanti yang cerita sendiri kepada mereka setelah Aa mendapat pekerjaan di tempat yang baru.”

Sunyi di antara keduanya.

“Jadi ini sebabnya A Agung pulang lebih cepat?”tanya Bramasta.

“Bahkan rapat direksi pagi tadi dihentikan. Komisaris meminta Aa untuk segera meninggalkan kantor sesegera mungkin,” Agung terdiam meredakan rasa tercekat di lehernya, “Dewan direksi dan para manajer tidak dapat berbuat apa-apa. Alasan pemutusan hubungan kerja pun tertulis karena hal yang tidak dapat disebutkan.”

“Semoga Allah melimpahkan kesabaran dan kekuatan untuk A Agung.”

“Aamiin yaa Mujibbasaalimiin.”

“A, kasus Aa jadi pembicaraan hangat di kalangan pengusaha. Ya Allah, dari siang tadi para pengusaha banyak yang membicarakan ini. Abang tidak mengira pegawai yang disebut berbakat, cerdas dan multi talent itu A Agung.. Cerita yang beredar tidak menyebutkan nama pegawai ataupun nama perusahaan.”

“Maksudnya bagaimana Bang?”

“Sepertinya dewan direksi dan para manajer Buana Raya menceritakan kejadian yang tidak biasa ini ke teman-teman mereka sebagai bentuk ketidakpuasan terhadap keputusan sepihak dari komisaris.”

“Lalu tindakan kita terhadap Nyonya Hilman Anggoro selanjutnya bagaimana, Bang? Kejadian di rumah sakit sudah memenuhi unsur pidana kan?”

“Bukti, A. Buktinya terlalu lemah jika hanya mengandalkan chat pesan. Tunggu kabar dari Bang Leon, ya.”

“Bang Leon?”

“Kita pakai koneksi Bang Leon yang bekerja di biro penyidik seperti CSI_Crime Scene Investigation, Tim Forensik_nya Singapura. Rekaman CCTV di beberapa tempat tadi sudah dikirim Hans ke Singapura. Mereka punya alat canggih yang bisa memperbaiki kualitas gambar CCTV.”

“Aliran dana dari rekening Nyonya Hilman juga sudah dipantau. Nanti bila semua bukti terkumpul, kita akan ajarkan kepada Nyonya Hilman bahwa masih ada langit di atas langit.”

“Indra bagaimana?”

“Reaksi Indra sama dengan reaksi Daddy. Indra pagi tadi kalap begitu mendengar kejadian di rumah sakit. Ingin segera datang ke rumah sakit meninggalkan meeting.”

“Kenapa?”

“Karena mencemaskan Mommy. Indra sayang banget ke Mommy, seperti ke ibu kandungnya sendiri.”

“Wah.. unbelievable_tak dapat dipercaya_.”

“Dia baru bisa tenang setelah Abang menelepon Adisti dan mendengar Mommy menimpali pembicaraan dengan ceria.”

Agung dan Bramasta terkekeh bersama.

“A Agung, kalau Abang sarankan, malam ini juga buat surat CV_curriculum vitae_. Mungkin akan berguna sewaktu-waktu ada panggilan mendadak meskipun A Agung tidak pernah mengajukan surat lamaran pekerjaan kepada perusahaan tersebut. A Agung keluar dari perusahaan dengan cara yang tidak biasa, bukan tidak mungkin, A Agung akan mendapatkan pekerjaan di tempat baru dengan cara luar yang biasa juga.”

“Bang, thanks a lot_terimakasih banyak_. Berbicara dengan Bang Bram benar-benar meringankan rasa sesak di dada.”

“Don’t mention it_Jangan sungkan_. That’z what brothers for_ Itulah gunanya saudara_.”

Di ruang kantor Bramasta, Bramasta menatap sebal tumpukan map di atas mejanya. Harus di selesaikan sore ini juga karena besok pagi ia lebih banyak berada di luar kantor bersama Adisti. Memikirkan Adisti membuatnya tersenyum.

Suara pintu di ketuk lalu Indra masuk.

“Duh… ribetnya.. Pusing deh..” keluh Indra.

“Kenapa?”

“Papi barusan nelepon, minta cari tahu pegawai yang dipecat yang lagi jadi pembicaraan para pengusaha.”

“Kenapa?”

“Pokoknya harus dapat identitasnya. Papi lagi butuh orang.”

“Kenapa?”

“Ada manajer yang mengundurkan diri.”

“Kenapa?”

“Ya Allah ya Rabb, dari tadi nanyanya gak berubah, kenapa kenapa mulu,” Indra bersungut kesal.

Bramasta terkekeh.

“Bantuin napah. Papi kan gitu orangnya, maksa banget.”

“Gue udah tau kok siapa orangnya.”

“Siapa? Darimana tahunya?”

Bramasta mengacungkan handphone Adisti.

“Ow em ji. Please jangan bilang pegawai itu adalah Prasetyo Anggoro..” Indra menaikkan kedua alisnya dengan tatapan horror.

“Lu mah ngaco. Ngaco banget,” Bramasta terkekeh.

“Siapa dong?”

“Agung Aksara Gumilar. Kakaknya calon bini gue.”

“Hah?”

“Ada chat masuk dari Ibunya Tiyo. Baca,” Bramasta mengangsurkan handphone Adisti pada Indra.

Indra bergegas membuka aplikasi pesan chat di handphone Adisti.

“Gila. Ini gila. Dia yang merencanakan kejadian di rumah sakit juga. Bram, gak bisa dibiarkan ini. Dia udah gila!”

“Keep Calm_Tetap tenang_ Bro. Kita tunggu kabar dari Bang Leon.”

“Agung bagaimana?”

“Terpukul banget. Tapi sudah gue nasehati tadi. Dia berpesan untuk tidak menyampaikan hal ini kepada keluarganya. Dia ingin menyampaikannya sendiri setelah dia bekerja di tempat yang baru.”

“Kasihan Agung.”

Bramasta mengangguk.

“Komisaris Buana Raya brengs*k banget. Heran deh, punya kartu truff apa si Nyonya Hilman Anggoro itu sampai membuat Gunawan Tan bertekuk lutut manut pada keinginannya?” Indra menatap layar chat Ibunya Tiyo.

“Rapat direksi sampai dihentikan oleh komisaris demi mengusir Agung. Gue yakin saat itu Agung sedang presentasi laporan bulanan. Gue tahu betul dengan kapabilitas para petinggi Buana Raya,” kata Bramasta, “Senewen gue kalau ngobrol atau menjelaskan sesuatu ke petinggi Buana Raya. Seperti bekerja dengan komputer yang prosesornya lamban banget.”

Indra terkekeh, “Untung saja B Group tidak pernah bekerja sama dengan Buana Raya, ya.”

“Ndra, minta sekretarisnya Om Dhani untuk menghubungi A Agung besok pagi saja. Malam ini biar dia rehat dulu.”

Indra mengangguk. Lalu membuat panggilan suara kepada papinya, Kusuma Wardhani, Direktur Keuangan di Sanjaya Group.

“Assalamu’alaikum, Pi.” Jeda sejenak.

“Identitasnya sudah diketahui. Cerita lengkapnya nanti saja ya kalau kita udah nyampe rumah. Mami juga pasti ingin dengar..” Indra terkekeh.

“Iyalah. Soalnya Papi dan Mami kenal kok dengan sosok pegawai pecatan yang lagi naik daun itu.” Jeda.

“Nanti saja.. Udah ya Pi. Assalamu’alaikum.”

1
Ough See Usi
gak di ACC pihak NT.

Sama dengan Mr. Architect, awalnya pakai foto Taehyung BTS, tapi disuruh ganti.
Niken Dwi Handayani
Awalnya pakai photo Chow Yun Fat, kok bisa ganti jadi Hyun Bin Thor?
Ough See Usi: waduh salah kolom sayanya.. 🙏🏼

karena gak di ACC pihak NT
Ya gitu deh...
total 1 replies
Ough See Usi
Eric masih 11 tahun
Alif 8 tahun
Abay 5 tahun
Andra 2 tahun
Sidney 15 tahun
Niken Dwi Handayani
Di novel ini Eric umurnya berapa ya? Sebab di novel nya Anton, umurnya sudah 11 tahun kalau ga salah baca.
Ough See Usi: maaf salah naruh komen.
Author juga salah nempatin umur 🙏🏼🙏🏼

Belum direvisi 🙏🏼🙏🏼
Mau nge-revisi udah kelewat jauh.

Semua novel, masih ditahun yang sama.
total 1 replies
Syaiful Leli
kapan munculnya naga2 dalam tubuh merwka thor
Ough See Usi: ada di bab-bab ataupun cerita berikutnya

Keempat novel Author itu twtralogi, saling menyambung jalinan ceritanya.

Selamat membaca, semoga suka ya. 😍😍😘
total 1 replies
Ulla Hullasoh
halahhhh....... lupa tuh Indra
Ough See Usi: qqqqqq 😁🤭
total 1 replies
Ulla Hullasoh
keluarga medusa emang keluarga bejad menyeramkan
Ough See Usi: jahara pokoknya..
total 1 replies
Ulla Hullasoh
Hadiah buat ayah mertua/Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Ough See Usi: ofcourse... 😁😁🤭
total 1 replies
Ulla Hullasoh
wahhhhh ngebut nih Bram wkwkwk
Ulla Hullasoh
keren nih bang Bram tanjabbb tanpa basa basi...keren Thor
Ough See Usi: Bram gitu loh.... 🥰🥰
total 1 replies
Ulla Hullasoh
tamu nya Adisti pada kreatif wkwkwk
Ough See Usi: qqqqqq 🤣🤣🤣🤭
total 1 replies
Ulla Hullasoh
waduhhhh mama toh yang membocorkan
Ough See Usi: Mommy memang gak bisa nge-keep cerita... 😁😁🤣
total 1 replies
Ulla Hullasoh
semangat Thorrr
Ough See Usi: siyyyaaaap
(walau sambil meriang...)
total 1 replies
Ulla Hullasoh
Anton keren kumplit nih laporannya
Ough See Usi: selalu dong... Anton... 😁😁
total 1 replies
Ulla Hullasoh
lanjut Thorrr ceritamu selalu bagus. kerennn
Ough See Usi: Hatur nuhun, hatur tengkyu

🥰🥰🥰🥰🌷🌷🌷
total 1 replies
Ulla Hullasoh
kerennn Thor...saya malah sdh duluan baca cerita Anton yg sdh menikah. kerennn
Ough See Usi: Author baru nemuin Reader yang membacanya dengan urutan terbalik... 🤭

Kalem, gak akan jadi bingung.
Paling, "Ooh jadi begitu benang merahnya..."


Selamat membaca ya.... 🥰🥰🥰
total 1 replies
amelia Adwin
ttp setia deh...tenang za...😘
Ough See Usi: 🥰🥰🥰 iya... iya.... 😁😁😁😘
total 1 replies
Noni Diani
Luar biasa
Ough See Usi: Terima kasih banyak🥰🥰
Ayo capcus ke novel berikutnya supaya lebih kenal dengan para Babang Ganteng di Kuping Merah 😁😁😉🌺
total 1 replies
Noni Diani
Biasa
Ough See Usi: Terimakasih banyak
Jangan lupa baca novel selanjutnya ya.. 🌷
total 1 replies
Septi Lahat
aq nggk ush baling-baling apapun tuh kak thor,, aq pengen punya kendaraan yg bisa anter jemput ank2 qu dg aman terlindungi dri panas n hujan 😁😁😁
Ough See Usi: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!