⚠️Novel ini hanya karya fiksi semata ⚠️
Kesuciannya direnggut secara paksa oleh pria tak di kenal dalam semak-semak sepulang sekolah.
Dirinya yang ketahuan berbadan dua tak di terima dalam lapisan masyarakat, hingga ia berhenti sekolah dan di usir dari kampung halamannya.
Kedua orang tuanya yang hanya buruh lepas pemetik teh, terpaksa menikahkannya dengan sang tuan tanah yang telah memiliki istri namun tak punya keturunan.
“Aku hanya mau anak mu, setelah kau melahirkan kau akan ku ceraikan.” ucap Arash sang tuan tanah pengendali masyarakat setempat.
Bagaimana kisah hidup Ruby Maryam selanjutnya?
Akankah ia bahagia? Atau justru menderita?
Instagram : @saya_muchu
Ikuti terus alur novel Pelakor Tak Berdosa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reski Muchu Kissky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kontrol
Saat keduanya sudah tinggal berdua, Frans pun duduk di sebelah Bunga.
“Kenapa kau minum sebanyak ini? Apa kau sedang ada masalah?” Frans menyingkirkan beberapa botol minuman keras dari hadapan Bunga.
“Suami ku menikah lagi, Frans.” ucap Bunga dengan wajah murung.
“Benarkah?” Frans yang masih mencintai Bunga ikut sedih, melihat mantan kekasihnya berduka.
“Apa kau sudah menikah?” Bunga menanyakan status Frans saat ini.
“Belum.” jawab Frans dengan melempar tersenyum pada Bunga.
“Apa itu karena aku?” Bunga yang setengah mabuk berani menanyakan hal itu pada Frans.
“Iya, tapi... semua sudah berlalu.” Meski masih sayang, namun Frans tak mau mengharapkan Bunga lagi .
“Hum!” Bunga tersenyum, lalu ia pun menggenggam tangan Frans.
“Andai aku berpisah dengan suami ku, apa kau mau menjadi kekasih ku?”
Berkat pengaruh para sahabatnya.Bunga mencoba membuka hatinya kembali pada Frans, yang mencintainya.
“Apa kau akan cerai?” Frans tak mengira jika dirinya masih punya kesempatan untuk kembali bersama Bunga.
“Aku belum tahu, tapi kalau kau mau menerima ku, mungkin akan ku lakukan.” Bunga yang ingin menguji perasaannya berinisiatif memeluk Frans terlebih dahulu.
Frans yang mendapat lampu hijau pun merasa senang.
Meski begitu, ia tak mau macam-macam pada Bunga yang belum menjadi istri sahnya.
“Bunga, ini enggak pantas kita lalukan.” Frans melepas pelukan mantan kekasihnya.
“Memangnya kita melalukan apa, Frans? Toh dulu kita juga biasa pelukan dan juga ciuman semasa pacaran.” Bunga yang telah mabuk sungguhan dengan cepat mengecup bibir Frans.
“Bunga, jangan memancing ku, ayo! Ku antar kau pulang!” Frans yang ingin menghindari hal-hal tak di inginkan berniat mengantar Bunga ke rumahnya.
“Katanya kau masih mencintai ku, gimana sih? Masa baru ketemu sudah mau pulang?” tatapan manis Bunga membuat Frans jadj goyah.
“Bunga, aku tahu ini bukan dirimu, andai kau sadar mengatakannya, mungkin aku akan mau meladeni keinginan mu.” kemudian Frans membantu Bunga berdiri.
Tapi Bunga yang terlanjur penasaran dengan ukuran junior milik Frans malah semakin memeluk erat tubuh kekasihnya.
“Aku juga masih mencintai mu, pernikahan ku dengan mas Arash hanya sebuah perjodohan, ku rasa dia juga tak sepenuhnya mencintai ku, makanya dia sampai hati mempoligami ku,” terang Bunga.
“Mungkin yang kau katakan benar, aku pasti menerima mu, tapi... itu setelah kau cerai darunya,” ucap Frans.
“Frans, dulu kita hampir melakukannya, tapi tidak jadi, apa sekarang kita bisa lanjut?”
Bunga yang ingin balas dendam pada suaminya, mengikuti saran dari teman-temannya.
“Bunga? Kau sadar dengan yang kau katakan?” Frans tak percaya, kalau Bunga akan mengajaknya bercinta terlebih dahulu.
”Hehehe... tentu saja, tapi kalau kau tak mau juga enggak apa-apa, siapa sih laki-laki yang mau pada wanita mandul seperti ku, Hiks...” Bunga yang bergairah tiba-tiba menangis pilu.
Frans yang iba pun membalas pelukan Bunga, “Jangan menangis Bunga, ku mohon.” Frans tak bisa jika melihat kekasihnya bersedih.
“Pernikahan ku hancur Frans, suami ku memiliki anak dengan wanita lain, hiks... katanya dia tak mencintai gadis itu, tapi aku enggak percaya padanya, pasti dia hanya menunggu waktu, untuk menceraikan ku, hiks...” Bunga benar-benar percaya dengan kata-kata teman-temannya.
Frans yang mencintai Bunga, tak dapat melihat mantan kekasihnya terpuruk di depan matanya.
Ia pun mencium puncak kepala Bunga dengan lembut.
“Kalau kau memang ingin bersama ku, aku siap menerima mu apa adanya.” Frans yang tulus mencintai Bunga, tak masalah dengan kondisi Bunga yang tak bisa memberinya keturunan apabila nanti ia dan Bunga jadi menikah.
🏵️
“Nomor Antrian 45! Silahkan masuk ke ruang 5!” ucap sang resepsionis melalui mikropon.
Kemudian Arash dan Ruby pun bangkit dari kursi mereka dengan posisi masih berpegangan tangan.
Namun saat mereka telah berada di depan pintu ruang USG, Arash pun melepaskan tangan Ruby.
Selanjutnya pria tampan itu memutar handle pintu.
Ceklet!!
Krieetr!!!
“Arash?” Wira sang dokter obgyn sekaligus sahabat Arash mengernyitkan dahi, saat melihat Arash datang bersama wanita lain.
“Ya Wira?” sahut Arash seraya duduk bersama Ruby di hadapan Wira.
“Ini siapa Rash?” Wira yang tak mengenal Ruby pun menjadi penasaran.
Arash berpikir sejenak, karena ia bingung harus menjawab apa.
“Teman ku.” Arash yang ingin tepat janji pada Bunga, tak mengakui kalau Ruby adalah istri keduanya.
“Oh, ku pikir kau menikah lagi.” ucap Wira seraya tertawa cengengesan, namun hatinya menaruh segudang curiga pada Arash.
“Aku kan sudah menikah, untuk apa menikah lagi?” ujar Arash.
“Oh iya, kau benar juga,” ucap Wira.
Bohong, pasti ini istri simpanannya, batin Wira.
“Terus teman mu ini mau periksa kandungan atau transvaginal?” tanya Wira.
“Mau usg,” ucap Arash.
Kan! Benar, dasar laki-laki laknat! batin Wira.
“Oh, mau usg? Dengan ibu siapa?” meski Wira kesal pada Arash dan Ruby, namun ia harus tetap menjalankan tugasnya sebagai dokter.
“Ruby Maryam dok.” Ruby mengatakan nama lengkapnya.
“Hari pertama terakhir haidnya kapan?”
“Kalau enggak salah 14 Maret kemarin dok,” jawab Ruby.
“Sekarang tanggal 7 Juni, berarti 12 minggu lewat satu hari ya. Oke bu Ruby, silahkan ke ranjang.” Wira pun bangkit dari duduknya menuju ranjang pasien, begitu pula dengan Ruby.
Kemudian Ruby naik ke atas ranjang, setelah itu ia pun membaringkan tubuhnya.
Selanjutnya Wira mulai mengoles ultrasonic gel ke perut Ruby.
Setelah itu Wira menggerak-gerakkan transducer di atas perut bidang Ruby.
“Wah, itu dedenya.” Wira menunjuk ke arah monitor.
Ruby yang baru pertama kali melihat video janinnya yang terus bergerak merasakan ada yang aneh dalam dadanya.
“Panjangnya baru sekitar 5 cm bu Ruby, itu kira-kira seruas jeruk, masih kecil banget, beratny 15 gram, bagian mata sudah bergeser lebih rapat ke tempat seharusnya, seperti kita sekarang bu, kuku tangan dan kaki juga sudah mulai terbentuk, ini dia.”
Wira menunjuk tepat di setiap apa yang ia jelaskan dengan kursonnya pada Ruby dan Arash.
Arash yang telah membeli janin itu pun mendengar dan memperhatikan dengan seksama, setiap apa yang di katakan Wira.
“Tapi normal kan Wir, di usia 12 minggu jari tangan dan kakinya masih dalam masa pertumbuhan?” Arash takut jika perkembangan bayinya terlambat.
“Normal Rash, tenang saja, tapi sayangnya, air ketuban bu Ruby kurang, dan juga tidak jernih.” wajah Wira nampak resah mengatakannya.
“Apa itu berbahaya?” tanya Arash dengan perasaan khawatir.
“Ya, kalau tak di tangani dengan cepat, air ketuban sedikit ini bisa menyebabkan beberapa komplikasi serius, antara lain kelahiran prematur, keguguran, bayi lahir dengan berat badan rendah, dan sindrom Potter, Rash. Maka dari itu sebisa mungkin, bu Ruby harus banyak minum, katakan juga pada suaminya, untuk mengingatkan bu Ruby, agar bu Ruby tak lupa untuk selalu menjaga cairan tetap stabil,” terang Wira.
”Pasti ku katakan, tapi belum terlambat kan?” Arash yang lebih sibuk dari Ruby membuat kecurigaan Wira makin kuat, kalau Ruby adalah istri Arash.
“Belum, pokoknya minum air putih yang banyak, tentunya lebih bagus air yang sudah di rebus,” terang Wira.
“Baik, aku mengerti.” kemudian Arash menoleh ke Ruby yang dari tadi diam tanpa kata.
“Kau dengar, jangan malas minum dan juga makan.”
“Iya tuan, aku mengerti. Maaf dok, kira-kira aku lahiran kapan ya dok?” tanya Ruby, karena ia ingin segera menyelesaikan kontraknya.
“Kalau tak meleset tanggal 2 Desember,” jawab Wira.
...Bersambung......