Pernikahan yang dijalani Nafa Naufara 23 tahun dan Sakti Bimantara 30 tahun sudah memasuki usia 6 bulan, awal yang indah. Meskipun pernikahan itu harus dijalani secara jarak jauh, dengan alasan ada pekerjaan diluar kota. Nafa tidak mempermasalahkan. Namun ketika pertemuan itu semakin berkurang, Dara merasa curiga. Kini Sakti sebagai suami, hanya bisa menemui Nafa istrinya sebulan dua kali.
Kecurigaan Nafa, akhirnya terjawab. Siang itu di hunian perumahan type 36, tiba-tiba Nafa kedatangan dua orang tamu. Dua orang wanita beda usia. Yang tiba-tiba mencaci maki dengan kata-kata yang kasar.
"Dasar pelakor, tidak bisa mendapatkan pria singel malah merebut suami orang." Hardik salah satu perempuan yang kira-kira 5 tahun di atas Nafa. Nafa melongo tidak percaya dengan makian perempuan tadi.
Benarkah Nafa menikah dengan pria beristri sedangkan setahu dia Sakti adalah pria singel?
Apa yang akan Nafa lakukan setelah dia tahu bahwa Sakti adalah pria beristri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keberadaan yang Diketahui
"Al... bagaimana, Nara sudah memberitahukan di mana keberadaan Nafa? Kalau dia tidak mau terus terang, pakai caramu supaya dia berbicara di mana Nafa sebenarnya!" tekan Sakti tidak sabar.
"Tenang Sak, aku sudah dapat informasi akurat dimana Nafa sebenarnya!"
"Al, jangan main-main! Cepat katakan dimana Nafa sebenarnya!"
"Ya ampun, sabar dong Bro...! Apakah kamu tidak lihat aku berada dimana sekarang?"
"Jangan main tebak-tebakan Al, aku sudah tidak sabar ingin dapat kabar dari kamu, SECEPATNYA....!!! tegas Sakti penuh tekanan sembari memutar tubuhnya.
Sakti terkejut ketika tubuhnya tepat memutar 360 derajat, dan di hadapannya berdiri tegak Aldin dengan HP di telinganya.
"Al... kamu....!!??" Seketika Sakti memeluk Aldin dengan perasaan gembira.
"Kenapa...? Senang banget lihat aku. Apakah karena aku akan memberi kabar gembira?" Aldin tersenyum mengejek melihat Sakti seperti orang yang meminta belas kasihan.
"Ayolah Al, jangan membuat Kakakmu ini semakin dilanda sedih, aku sudah menahan rindu ini begitu lama dan berat. Tapi, kamu malah mempermainkan perasaanku dan tidak mau aku mengetahui keberadaan Nafa," paksa Sakti dengan muka dua kali memelas.
"Perjuanganmu cuma segitu Bro, tidak mencari dan hanya duduk diam menanti kabar??" ejek Aldin.
"Kau ini, aku bukannya duduk diam. Aku punya Asisten gunanya buat apa? Tidaklah kamu lihat aku sibuk dengan sidang perceraian dan ngurus kafe disini?" sahut Sakti menegang.
"Al, informasi akurat apa yang ingin kamu sampaikan, aku serius Al?"
"Kamu tidak punya firasat gitu, Bro?"
"Firasat...? Firasat tentang Nafa?" Sakti bertanya balik. Aldin mengangkat bahunya tanda tidak tahu.
"Tapi aku merasa... Nafa berada dekat disini. Kemarin saat Mama ada tamu, aku merasakan suara Nafa ada disini."
"Jangan terlalu berhalusinasi, Bro. Itu tidak mungkin. Nafa tidak berada disini, di rumah Mama Sukma," tegas Aldin.
"Lantas dimana sekarang Nafa, ayo katakan! Jangan membuat Kakakmu menderita!" tanya Sakti dengan nada penuh intimidasi.
"Tenang, Bro...! Kita makan siang dulu. Aku lapar, sejak tadi aku belum makan dan langsung datang ke rumah Mama Sukma."
"Makanlah dulu, minta Bi Nia siapkan. Aku tidak selera makan. Aku hanya selera makan Asinan dan rujak," tandas Sakti malas dan sedikit kesal dengan Aldin yang belum juga memberitahu dimana Nafa.
"Sakti... sudah sampai dimana sidang perceraian kamu dengan Meta? Apakah kamu sudah bulat bercerai dengannya?" Tiba-tiba Bu Sukma datang dari arah tangga setelah menidurkan Rafa.
"Sakti sudah bulat Ma, seperti yang Mama tahu Meta sudah tidak pernah mau menemui Rafa. Gimana bisa diteruskan rumah tangga ini? Sakti sudah kasih kesempatan beberapa kali, tapi Meta tidak pernah berubah. Sakti sudah capek menghadapi Meta," ujar Sakti prustasi.
"Kalau memang ini sudah keputusanmu, Mama cuma bisa kasih dukungan dan doa yang baik buat kalian berdua. Semoga keputusan ini menjadi jalan terbaik buat kalian berdua kedepannya," harap Bu Sukma sembari menatap sedih ke arah Sakti yang kini menyantap Asinan lagi.
Kembali ke Nafa
Sudah satu minggu sejak pulang dari rumah Bu Sukma, aku merasa ingin kembali kesana. Entah kenapa? Bukan karena cucunya saja yang gampang akrab dan menggemaskan itu, tapi ada daya tarik lain yang membuat aku ingin kesana. Apakah Asinan Bu Sukma? Entahlah....
"Wa, besok kita diundang Bu Sukma ke rumahnya lagi untuk menikmati Asinan Salak buatannya," ujarku kepada Wa Rasih yang sedang menyetrika pakaian.
"Wah.... kayaknya Neng Nafa senang ya akan diundang lagi kesana, selain Asinan Bu Sukma enak dan mantap, Bu Sukma juga kayaknya suka sama Neng Nafa. Uwa merasa kalian cocok jadi mertua dan menantu," ucap Wa Rasih spontanitas.
"Wa Rasih ada-ada saja, Nafa kesana kan karena undangannya bukan karena hal lain selain menikmati Asinan," sanggahku tersipu malu.
"Ting tong....!" Bunyi bel di luar pintu Mess terdengar begitu nyaring. Aku dan Wa Rasih saling bertatapan dan heran siapa gerangan yang bertamu siang hari ini.
Wa Rasih berdiri seraya menatap ke arahku meminta persetujuan. Aku mengangguk dan membiarkan Wa Rasih membuka pintu. Aku heran siapa yang bertamu, sebab dari ruang tengah ke pintu depan tidak terlihat langsung siapa orang yang bertamu.
"Wa... siapa tamunya, kok tidak dipersilakan masuk?" teriakku saat suara Wa Rasih seperti tidak terdengar. "Wa....!" ulangku.
"Kemana sih Wa Rasih, kok diam saja?" gumanku heran seraya berdiri dan berjalan ke arah pintu depan.
"Wa....!" teriakanku hilang seketika saat melihat siapa orang yang aku jumpai. Aku ternganga tidak percaya melihat siapa orang yang datang. Rasa rindu dan benci tiba-tiba menyatu dalam dada.
"Sayang....!" teriaknya seraya merangkulku begitu erat. Aku masih terdiam tidak percaya dalam rangkulannya.
"Mas Sakti...." ucapku lirih.
"Sayang... aku mencarimu kesana kemari dan akhirnya Mas menemukanmu disini." Mas Sakti terisak disela ucapannya. Aku tergugu, seketika air mataku menetes membasahi pipiku susul menyusul. Rasa rindu yang begitu besar seketika mengalahkan rasa benci.
Sejenak aku merasakan kenyamanan dalam pelukan laki-laki itu, laki-laki yang sudah membuatku jatuh cinta dan bodoh karena cinta, sebab aku merasa dibohongi oleh Mas Sakti yang menikahiku saat dia masih mempunyai istri.
"Sayang... kita pulang ke rumah. Di sini bukan tempatmu. Mas akan ajak kamu pulang ke rumah Mama, untuk sementara kamu tinggal di rumah Mama. Kamu tahu, Mama juga ingin bertemu kamu," ucap Mas Sakti menyadarkanku dari rasa nyaman atas pelukan Mas Sakti.
"Apa... kenapa Mas bisa kesini, siapa yang mengatakan Nafa ada disini? Pergi... pergi Mas, Nafa benci Mas Sakti!" teriakku seraya berusaha melepaskan pelukan Mas Sakti. Aku meronta-ronta dan memukul-mukul dada Mas Sakti, perlahan pelukan itu terlepas lalu aku berusaha untuk berlari, namun Mas Sakti berhasil merangkul tubuhku dari belakang. Dan kembali aku terbuai oleh rangkulannya, aku merasakan kenyamanan terlebih saat tangan Mas Sakti sengaja mengusap perutku yang masih rata. Ada kehangatan di sana yang aku rasakan, bersamaan dengan itu hatiku berkata bahwa aku merindukan Mas Sakti, aku masih mencintai Mas Sakti.
"Pergi Mas... biarkan Nafa tenang disini!" mohonku lirih. Mas Sakti menggeleng, dia keukeuh ingin membawaku pergi ke rumah ibunya yang katanya ingin bertemu denganku. Aku tidak yakin, pastinya ibu Mas Sakti akan sama seperti halnya orang-orang mencela dan mencemooh keadaanku yang notebene hanyalah istri kedua Mas Sakti.
"Tidak... Mas ingin bawa kamu sekalian. Mas ingin mengajak kamu ke rumah Mama. Mama ingin bertemu kamu, sayang," rengeknya setengah memaksa.
Aku menepis-nepis tangan Mas Sakti, walau sejujurnya aku masih mencintai dan selalu merindukan Mas Sakti, namun tiba-tiba aku merasa sakit hati jika ingat kebohongannya yang terbongkar ketika saat itu dua orang wanita beda usia mendatangiku dan melabrakku serta mengata-ngatai aku pelakor.
"Pergilah Mas... berikan Nafa ketenangan," ucapku kembali lirih.
"Tidak... Mas akan membawamu hari ini juga."
"Jangan paksa Nafa, Mas! Kalau tidak, Nafa akan memaksa janin ini untuk keluar," ancamku. Mas Sakti nampak terhenyak dia menjauhkan tubuhnya.
"Pergilah Mas... biarkan Nafa hidup tenang!" ucapku memaksa.
Mas Sakti terpaksa pergi dengan raut muka kecewa. "Kali ini Mas mengalah, namun suatu hari kamu dan janin dalam kandunganmu, akan Mas bawa ke hadapan Mama. Dan kita akan hidup bersama, ingat itu!" tandas Mas Sakti dan berlalu dengan penuh kekecewaan.
Iyan kan Thor...😬😬😬
ah mau gimanapun terserah author aja lah.....hanya author yg tau 🤭🤭🤭