Dua saudara berstatus kakak beradik tinggal bersama sejak usia remaja tanpa kedua orang tua. Karena kedua orang tuanya sudah bercerai dan memilih tinggal bersama keluarga baru masing-masing.
Hal itu membuat mereka harus berjuang untuk bertahan hidup, dan takdir mereka berubah ketika dewasa.
Namun, suatu ketika kedua orang tuanya memperebutkan anak kedua , di situlah kakak membela adiknya tidak membiarkan mereka mengambil adiknya.
Lalu, bagaimana mereka melalui masa-masa sulit?
Ikuti terus kisahnya dan dukung karya author,
Terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19.
Di ruang meeting wajah mereka nampak serius semua klien memberikan hasil presentase mereka. Pembahasan kali ini mencakup beberapa perusahaan besar dengan persaingan yang ketat. Salindra merasa gugup melihat para petinggi perusahaan dan terlihat wajah semua yang hadir begitu serius.
"Salindra," panggil Haikal.
“Iya, Pak Haikal!" jawabnya dengan jantung berdegup sangat cepat.
Asisten Rayan selalu memperhatikan Salindra ketika meeting membuatnya merasa kasihan, Salindra memang baru pertama kali bekerja di perusahaan besar dan pertama kali bertemu dalam meeting bersama para pejabat. Asisten Rayan tertawa melihat tingkah Salindra yang menurutnya terlalu polos.
“Tunjukkan presentase kita," perintah Haikal dengan tegas.
“Salindra, santai saja tidak usah gugup begitu nanti kamu bisa salah saat berdiri di depan. Fokus dengan presentase yang kamu bawa," bisik Asisten Rayan di telinga Sindra.
Salindra merasa semakin gugup mendengar perkataan Asisten Rayan.
"Insya Allah, Pak! Saya akan berusaha sebaik mungkin," jawabnya dengan suara lirih.
Salindra beranjak dari tempat duduk berjalan ke depan papan yang tertera layar monitor tertulis presentase. Salindra menerangkan layar monitor degan baik dan lancar. Namun, saat bersamaan muncul sebuah video yang membuat semua orang terkejut sedangkan Salindra wajahnya sudah pucat pasi melihat video tersebut.
Haikal menatap tajam ke arah Salindra yang berdiri di depan layar sambil mengepalkan tangannya dengan kuat. Ia merasa sangat malu dan kecewa ketika yang dilihat bukan presentasi melainkan video mesum, kemudian beranjak dari ruangan tersebut dengan langkah lebar.
"Segera ke ruangan saya,“ perintah Haikal kepada Salindra dan Asisten Rayan.
Semua klien yang hadir saling berbisik sampai terdengar riuh di dalam ruangan tersebut. Salindra melihat video yang memperlihatkan dirinya saat sedang mendapat perlakuan tak senonoh. Tangan Salindra mengepal kuat matanya menyiratkan kemarahan yang luar biasa.
“Siapa yang berani melakukan semua ini?" batin Salindra sambil berpikir keras.
“Maaf, Tuan-tuan. Ini salah paham, kami akan menyelesaikan masalah ini. Maafkan kelalaian kami dan mari kita harus mengakhiri meeting hari ini, terimakasih atas kehadiran kalian semua, sekali lagi kami minta maaf," ucap Asisten Rayan kepada para klien yang hadir.
Haikal, Asisten dan Salindra senang berada di dalam ruangan membahas masalah video tak senonoh tadi di ruang meeting yang membuat malu Haikal. Pria itu menatap tajam Salindra yang duduk sambil menunduk gelisah. Sedangkan Asisten Rayan sedang berpikir keras mencari solusi masalah tersebut.
"Bagaimana bisa ada video di saat meeting, Salindra apa kamu sengaja ingin membuatku malu di depan para klien, sekarang atau besok pasti ada yang mundur dari kerjasama dengan perusahaan," Haikal merasa frustasi.
“Maafkan saya, Pak Haikal. Saya bisa jelaskan mengenai video tersebut. Sebenarnya video itu terjadi semalam waktu saya di sekap oleh preman saat akan pulang dari pasar malam..." Salindra menjelaskan sampai akhir tanpa ditambah dan dikurangi.
Haikal menatap Salindra dengan lekat, Asisten Rayan mengangguk paham. Kemudian ia menyimpulkan sesuatu di balik cerita Salindra.
"Apakah kamu punya musuh... Di sini atau di sekitar tempat tinggalmu?“ tanya Asisten Rayan.
Salindra mengingat orang-orang yang dikenalnya mulai dari kakaknya sampai teman kerja. Ia curiga pada seseorang, tapi tidak punya bukti kuat untuk menuduh. Tapi, ia yakin orang itu yang sudah membuatnya celaka dan malu. Salindra menggeleng pelan, jujur saat ini ia merasa tidak tenang dan takut dikeluarkan dari pekerjaan.
Dari pertama bekerja saja Salindra sudah ada yang tidak suka bagaiamana di hari berikutnya pasti akan mendapat cobaan lain lagi. Saat ini ia hanya bisa pasrah jika harus mendapat hukuman dari Haikal selaku Direktur.
"Maaf, Salindra... Untuk sementara ini kamu saya turunkan jabatanmu di divisi pemasaran, maaf aku harus melakukan ini agar menjadi pelajaran untukmu," kata Haikal beranjak dari kursi sofa.
"Oh iya, Rayan... Kamu panggil Elis ke sini," katanya lagi sebelum akhirnya duduk di kursi kebesarannya.
“Baik, Tuan! Saya permisi," sahut Asisten Rayan berjalan keluar dari ruangan.
"Saya juga permisi," Salindra beranjak dari tempat duduk dengan langkah lesu keluar mengikuti Asisten Rayan.
Saat berada di luar Asisten Rayan menatap Salindra kasihan. Ia ingin mencari siapa pelaku yang sengaja ingin menjatuhkan Salindra.
Salindra membereskan peralatan kerjanya dan keluar dari ruangan dengan wajah sendu. Sebelum meninggalkan ruangan, ia menyapu pandangan seluruh ruangan sambil tersenyum getir. Baru juga beberapa hari menempati kursi itu sekarang harus pindah ke Divisi. Salindra menutup pintu, berjalan menelusuri lorong menuju lift dimana ruangannya pindah di lantai sepuluh tempat divisi pemasaran.
Semua orang melihat Salindra masuk ke dalam ruangan merasa heran, beda dengan Citra dan Dila yang sudah lebih dulu mengenalnya. Citra tersenyum senang melihat Salindra keluar dari ruangan sekertaris berpura-pura tidak melihat.
Agil menghampiri Salindra dengan senyum ramah, memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan tapi tidak mendapat balasan memakluminya.
"Namaku Agil, oh iya tempat dudukmu di sebelah sana lebih tepatnya yang kosong,"kata Agil menunjuk meja kosong tak jauh dari tempatnya berdiri.
Salindra melihat tempatnya bekerja merasa canggung. “Terimakasih atas bantuanmu," sahut Salindra dengan senyum ramah berjalan ke arah tempat yang ditunjuk Agil.
Salindra duduk dan merapikan beberapa peralatan kerja di atas meja setelah rapi ia sejenak merenung apa yang baru saja terjadi. "Rasanya seperti mimpi," batinnya sambil menghembuskan napas kasar.
“Salindra, kamu di suruh ke ruangan Manager sekarang juga, cepat," perintah Dila.
Dengan malas Salindra berjalan tanpa bersemangat, seluruh tubuhnya seolah terkuras bahkan tenaganya saja tidak bisa diajak kompromi. Langkahnya berhenti di depan pintu bertuliskan Ruang Manager, Ia menarik napas kemudian mengetuk pintu dengan ragu.
Pintu langsung terbuka terlihat seorang pria berparas tampan, rambut cepak melihat Salindra yang berdiri di depan pintu dengan tatapan datar. Salindra memberi salam sambil berjalan masuk.
“Silahkan duduk," perintahnya sambil membuka beberapa kertas di dalam sebuah map berwarna merah.
“Kamu cetak selebaran ini setelah itu kamu jadikan brosur selanjutnya sebarkan," katanya tanpa Ekspresi.
Salindra melihat nama di meja tertulis Ardiansyah, hanya tersenyum pahit. Ia seperti mengenal nama itu tapi seperti bayangan semata. "Apalagi ini, bukan pekerjaanku malah aku yang mengerjakan, hufh," keluh Salindra dalam hati.
“Baik, Pak akan saya kerjakan!' sahut Salindra sambil menunduk hormat berbalik hendak keluar dari ruangan.
“Tunggu_"
Salindra menoleh ke belakang melihat Manager Adrian berjalan mendekatinya sambil memperhatikan Salindra dari atas sampai bawah penasaran. Dalam hatinya merasa tertarik dengan sikap Salindra.
"Tolong bersihkan ruangan saya, saya akan keluar sebentar," katanya kemudian pergi dari ruangan tanpa menoleh.
Mata Salindra membulat sempurna mendengar permintaan Manager Adrian. Ia heran kenapa harus dirinya yang mengerjakan, dalam hatinya hal semacam ini bukanlah tugasnya, Salindra ingin menolak tapi Manager dengan cepat keluar dari ruangan dan menghilang dari pandangannya.
“Apa yang kamu lakukan di ruangan ini, kamu pasti akan berbuat curang kan, hayo ngaku,“ tanya perempuan tersebut dengan nada tinggi menunjuk ke arah Salindra.
Salindra yang tidak tahu apa-apa terkejut melihat perempuan masuk dan langsung menuduhnya yang bukan-bukan. Ia ingin membela diri namun, sang Manager masuk dan ikut membentaknya.
“Saya kan tadi disuruh_"
“Keluar kamu dari sini!" usir Sang Manager dengan kasar.
Tanpa menunggu waktu Salindra melangkah sambil melirik perempuan dan Manager Adrian. Sebelum benar-benar pergi Manager berkata.
"Jangan sampai ada orang yang tahu,"
"Baik, Pak Adrian!" jawab Salindra melangkah keluar dengan perasaan kesal sambil menggerutu dalam hati.