Afgans Radithia Zafran harus menikah dengan wanita bernama Alisya, gadis yang tidak dikenal dan merupakan calon pengantin dari adiknya sendiri. Sang adik yang bernama Vincent hilang entah kemana sehari sebelum seharusnya dia menikahi kekasihnya tersebut.
Karena keluarga Afgan sudah mengeluarkan banyak uang untuk acara pernikahan dan undangan pun sudah di sebar, maka terpaksa Afgan menggantikan sang adik.
Satu tahun pernikahan mereka, Vincent tiba-tiba kembali dan meminta kakaknya itu mengembalikan wanita yang seharusnya menjadi istrinya, sementara benih-benih cinta sudah terlanjur hadir di hatinya dan dia sudah bisa menerima Alisya sebagai istrinya.
Seperti apa kisahnya? Mampukan Afgan mempertahankan wanita yang bernama Alisya itu sebagai istrinya? dan apakah istrinya itu masih bisa setia setelah sang adik yang seharusnya menjadi suami gadis itu kembali dan menggoyahkan biduk rumah tangga yang sudah susah payah mereka bangun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertikaian
Blug ...
Afgan menarik tubuh Vincent kasar lalu menghantam wajahnya keras sehingga dia tersungkur ke atas aspal dengan ujung bibir yang mengeluarkan darah segar.
Afgan pun hendak kembali menarik kerah baju adiknya namun, Alisya segera memeluk tubuh Afgan membuat Afgan akhirnya mengurungkan niatnya tersebut.
''Cukup, bang. Sudah hentikan,'' lirih Alisya terisak.
''Brengsek kamu, Vincent. Kata siapa kamu boleh memeluk istri orang, hah ...?'' teriak Afgan dengan mata memerah dan rahang yang dikeraskan merasa geram.
Vincent berusaha bangkit, tangannya nampak mengusap ujung bibir dengan tersenyum menyeringai, matanya pun terlihat merah berkaca-kaca.
''Dia memang istrimu, kak. Tapi kami belum putus, dan seharusnya dia menikah dengan aku, bukan sama kamu,'' jawab Vincent berdiri tegak.
''Kurang ajar? setelah kamu meninggalkan dia di hari pernikahan kamu, sekarang kamu bilang seharusnya dia menikah sama kamu, hah ...?'' Afgan semakin kesal, dia menepis pelukan Alisya dan kembali menghantam wajah adiknya membabi buta.
Alisya yang menyaksikan hal itu, berteriak histeris, apa yang dia khawatirkan akhirnya terjadi juga, pertikaian itu terjadi di depan matanya kini, dan itu karena dirinya, sungguh hati Alisya benar-benar merasakan sakit yang tiada terkira.
Vincent yang juga merasa kesal dan hatinya diliputi rasa cemburu pun membalas pukulan kakaknya, dia menghantamkan bogem mentahnya tepat di wajah Afgan sehingga hidung kakaknya itu mengeluarkan darah segar kini, membuat Alisya kembali berteriak memekikkan telinga.
''HENTIKAN ...'' teriak Alisya dan kedua saudara kandung itu pun akhirnya menghentikan gerakan tangannya yang sudah siapa untuk saling menghantam.
''APA KALIAN GILA, HAH. KENAPA BERKELAHI DI SINI? HIKS HIKS HIKS ...'' teriak Alisya histeris.
''Biarkan saja, dia pantas menerima ini, laki-laki brengsek kayak dia harus di beri pelajaran,'' jawab Afgan hendak melayangkan tangannya ke udara.
''ABANG, CUKUP ...'' tangis Alisya semakin pecah.
Afgan yang melihat wajah istrinya kini basah dengan air mata, segera menurunkan tangannya dan menghempaskan tubuh Vincent kasar.
''Denger ya, brengsek. Kalau kamu berani menyentuh istriku lagi, aku gak akan segan untuk membunuhmu, aku gak perduli meskipun kamu adikku sendiri,'' geram Afgan penuh penekanan.
''Lakukan saja, aku gak takut ...''
''Brengsek ...'' Afgan hendak melayangkan pukulan.
''ABANG, CUKUP. AKU MOHON, HIKS HIKS HIKS ...''
Afgan pun menghentikan gerakan tangannya. Dia menoleh dan menatap istrinya, meraih tangan Alisya lalu hendak menuntunnya untuk masuk ke dalam rumah, namun, tangan Vincent meraih tangan Alisya yang sebelah kanan, dan menggenggamnya kuat membuat kedua tangan Alisya kini di genggam oleh dua orang laki-laki sekaligus.
''Alisya, aku mohon, kembalilah padaku, maafkan semua kesalahanku. Aku benar-benar menyesal telah meninggalkan kamu dulu, sungguh ...'' rengek Vincent dengan tatapan mengiba.
Alisya menepis tangan Vincent kasar.
''Maaf aku tidak bisa. Jika kamu masih menganggap hubungan kita belum putus seperti yang kamu katakan tadi, maka aku minta kita putus sekarang juga. Lupakan aku karena aku pun telah melupakan kamu sejak dulu, kubur rasa cintamu karena aku pun sudah mengubur cinta aku untuk mu dalam-dalam.''
''Aku mohon lupakan aku, karena aku telah sah menjadi istri Abang Afgan, dan aku pun mencintai dia sekarang.'' Jawab Alisya membuat Vincent tertegun.
''Kamu dengar, Vincent ...? telinga kamu masih normal 'kan?'' ketus Afgan penuh penekanan.
''Nggak, aku gak percaya kamu mencintai dia. Yang kamu cinta hanya aku, Al. Dulu kamu mengatakan itu sama aku,'' rengek Vincent dengan air mata yang mulai berjatuhan layaknya anak kecil.
Alisya tidak menanggapi ucapan Vincent, dia berjalan bersama suaminya masuk ke dalam rumah, meninggalkan Vincent, laki-laki yang pernah menjadi kekasihnya itu di pinggir jalan.
Vincent bahkan masih saja berteriak memanggil namanya, namun, Alisya tidak peduli sama sekali, dan segera menutup pintu secara kasar setelah dia dan suaminya memasuki rumah.
Brug ...
Alisya ambruk, terduduk lemas di lantai, membuat Afgan terkejut.
''Alisya ... Sayang ...'' Afgan berjongkok tepat di depan istrinya.
''Hiks ... hiks ... hiks ...'' Alisya menangis histeris.
''Sudah, sayang. Laki-laki brengsek kayak dia gak usah ditangisi,'' Afgan memeluk tubuh istrinya erat.
Alisya masih saja menangis tiada henti.
''Kenapa kamu menangis segala? apa jangan-jangan kamu masih punya perasaan sama dia? itu sebabnya kamu menangis seperti ini, Al?''
''Nggak, bukan seperti itu. Aku hanya- hiks hiks hiks ...'' jawab Alisya terbata-bata.
''Hanya apa? kenapa kamu menangis seperti ini?''
Alisya mengurai pelukan, lalu mencoba untuk bangkit dan berdiri.
''Aku mau sendiri dulu, jangan ganggu aku. Aku ingin istirahat.'' Pinta Alisya berjalan menuju kamar.
''Al ... Bee ... Alisya ...'' Afgan berjalan mengejar.
Blug ...
Pintu kamar pun di tutup secara kasar, dan Alisya menguncinya dari dalam mengurung diri, membuat Afgan merasa cemas, dan segera mengetuk pintu.
Tok ... Tok ... Tok ...
''Aliya, sayang. Buka istriku, maaf kalau aku mengatakan hal yang salah tadi. Buka pintunya, sayang ...'' pinta Afgan, namun dia tidak mendapatkan jawaban apapun.
Afgan pun terus melakukan hal yang sama, mengetuk pintu secara berkali-kali seraya memanggil nama Alisya dengan perasaan cemas, akan tetapi istrinya itu masih tidak menjawab panggilan darinya, membuat Afgan semakin merasa khawatir.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀