Buku ke-2 dari The Ragen.
Baca dulu The Ragen : Escape From Zombie Apocalypse
Hari-hari setelah kemenangan pasukan Venus atas Demon membawa harapan baru bagi umat manusia. Para Ragen dan MoRag melemah, memberi kesempatan bagi Army untuk membasmi mereka dengan lebih mudah. Beberapa wilayah berhasil disterilkan dan kembali layak huni. Pangkalan Venus terus menyiarkan pesan ke seluruh negeri, menawarkan perlindungan bagi para penyintas.
Namun, di balik kemenangan itu, ada pihak-pihak yang diam-diam memanfaatkan situasi. Mereka memburu serum MoRag peninggalan Demon demi keuntungan, menjualnya kepada negara-negara tertentu untuk menumbangkan saingan mereka. Salah satu target utama mereka adalah UK, negeri yang menyimpan banyak harta berharga dari era sebelum perang nuklir.
Akankah Leo dan kawan-kawannya kembali ke tanah air mereka untuk menyelamatkan rakyatnya? Mampukah mereka mempertahankan negara itu dari kehancuran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aria Monteza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Serangan tak terduga
Mentari siang perlahan condong ke barat, memandikan pusat kota United Kingdom dengan cahaya keemasan yang menyinari setiap sudut jalan. Suasana kota tampak hidup, dipenuhi oleh hiruk-pikuk aktivitas masyarakat yang bergerak dalam keteraturan. Lalu lintas berjalan tertib, pejalan kaki melintas dengan irama yang nyaris seragam, dan tidak tampak kerumunan yang mencolok. Meski ramai, kota ini bernafas dalam disiplin yang mengakar.
Di antara kerumunan itu, tampak seorang pria berdiri diam, memerhatikan sekeliling dengan pandangan tajam dan penuh perhitungan. Dialah Kalev, salah satu dari puluhan pengungsi yang baru saja lolos dari proses karantina ketat di Gerbang Timur, satu-satunya titik akses yang digunakan untuk menerima pengungsi dari dunia luar dengan wilayah UK yang terisolasi. Tubuhnya masih menyimpan kelelahan dari perjalanan panjang, tetapi sorot matanya menandakan tekad yang tidak luntur.
Kalev menyusuri trotoar lebar yang dibatasi pagar pembatas bergaya gotik, sembari mengamati segala hal di sekitarnya. Ia melihat deretan poster dan videotron yang menghiasi bangunan tinggi, menayangkan himbauan-himbauan resmi dari pemerintah terkait kewaspadaan terhadap virus Ragen, virus mematikan yang telah menghancurkan banyak peradaban di luar tembok UK. Namun hingga kini belum pernah menembus wilayah kerajaan yang terkenal ketat dalam penjagaannya itu.
Kerajaan UK, dengan kebijakan isolasinya yang nyaris total, selama ini menjadi simbol keberhasilan dalam menghadapi ancaman global. Namun, Kalev tahu, benteng sekuat apa pun selalu memiliki celah. Dan ia telah datang untuk menemukannya.
Langkah kakinya membawanya ke kawasan padat penduduk, di mana rumah-rumah berdempetan dan jalan-jalan sempit dipenuhi aktivitas warga kelas menengah ke bawah. Di sinilah denyut nadi rakyat berdegup paling kuat dan mungkin juga paling rentan.
Di balik saku jaket lusuh yang ia kenakan, tersembunyi sebuah tabung kecil berisi cairan ungu kehitaman yang nyaris tak terlihat mencurigakan. Itulah serum virus Ragen hasil eksperimen panjang yang kini berada dalam genggamannya. Kalev merasakannya menekan dada, seperti sebuah janji yang sebentar lagi akan ditepati.
Ia berhenti sejenak di depan sebuah warung kecil yang ramai pembeli, menatap anak-anak yang berlarian dan para ibu yang sibuk berbelanja bahan makanan. Pemandangan itu sejenak menyentuh sisi manusianya, tetapi tidak cukup kuat untuk menghalangi misinya. Ia menarik napas panjang, lalu kembali melangkah.
Kerajaan ini akan runtuh bukan oleh serangan dari luar, tetapi dari racun yang tumbuh perlahan di dalam. Dan Kalev, adalah pembawanya.
Kawasan padat itu masih ramai dengan aktivitas warga ketika Kalev melangkah perlahan di sepanjang jalan sempit. Aroma makanan dari warung-warung pinggir jalan bercampur dengan bau aspal panas dan peluh manusia yang baru saja kembali dari kerja. Ia tampak seperti pejalan kaki biasa, menyatu dalam keramaian, tetapi sesungguhnya tengah menimbang sebuah keputusan besar. Menentukan di mana tepatnya ia akan melepaskan kehancuran yang dibawanya.
Sesekali ia berhenti untuk mengamati sekitar, matanya menyisir wajah-wajah yang lalu-lalang dengan sorot tajam. Ia tidak terburu-buru. Ia tahu, momen yang tepat harus dipilih dengan cermat. Beberapa kali tubuhnya tidak sengaja bersentuhan dengan para buruh bangunan yang baru saja pulang dari tempat kerja. Teguran pun terdengar, singkat namun tajam, mengingatkannya bahwa setiap gerakan harus tetap dijaga agar tidak mencurigakan.
Setelah berjalan menyusuri lorong demi lorong, akhirnya Kalev memutuskan untuk berhenti di sebuah gang kecil yang tersembunyi di balik deretan warung. Tempat itu cukup sepi, tetapi tidak terlalu jauh dari pusat keramaian. Suara tawa dan percakapan orang-orang yang tengah bercengkerama selepas bekerja masih terdengar jelas dari balik tembok. Tempat itu... sempurna.
Dengan gerakan hati-hati, ia mengeluarkan tabung kecil dari saku jaketnya. Tangan kanannya menggenggam alat suntik yang telah dipersiapkan sejak lama, sedangkan tangan kirinya membuka lengan bajunya perlahan. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menusukkan jarum ke kulitnya, menyuntikkan cairan itu ke dalam aliran darahnya.
Awalnya, tidak terjadi apa-apa. Tubuhnya tetap diam, tidak bereaksi. Namun beberapa detik kemudian, rasa panas mulai menjalar dari titik suntikan, menjebak pembuluh darahnya dalam kobaran yang tak terlihat. Dadanya sesak. Napasnya berat. Kakinya mulai goyah.
Dengan tubuh sempoyongan, Kalev keluar dari gang itu dan berjalan ke arah kerumunan. Setiap langkah terasa semakin berat, seperti ditarik oleh beban tak kasat mata. Pandangannya mulai kabur, kesadaran perlahan memudar, digantikan oleh satu dorongan rasa lapar. Bukan lapar biasa, tetapi rasa lapar yang menggerogoti kesadaran, yang menuntut dipuaskan dengan cara paling liar.
Seseorang yang sedang berjalan dari arah berlawanan tanpa sengaja menabraknya. Pria itu buru-buru meminta maaf, tetapi tak sempat mengucapkan kalimat kedua, karena Kalev langsung menerkamnya. Giginya menancap ke bahu pria itu dengan keganasan yang tidak manusiawi, mencabik daging seakan sedang melahap sepotong daging steik.
Teriakan menggema di sekeliling mereka. Orang-orang yang menyaksikan kejadian itu berlarian panik, yang membuat Kalev beralih ke korban berikutnya. Menggigit tanpa ragu, memburu dengan keganasan binatang liar. Darah mulai membasahi jalan, dan tubuh-tubuh yang tadinya tersungkur di jalan dengan ajal siap menjemput, kini satu per satu bangkit dengan mata kosong dan mulut berlumur darah.
Mereka mengikuti jejak Kalev, menyerang siapa pun yang berada dalam jangkauan. Dalam hitungan menit, kawasan itu berubah menjadi neraka. Kepanikan merambat seperti api membakar jerami. Cepat, liar, dan tak terkendali. Orang-orang berubah menjadi makhluk beringas, lapar akan daging segar, tak lagi mengenal teman atau kerabat.
Dan dari pusat kekacauan itu, Kalev berdiri di tengah lautan jeritan dan tangisan, menjadi pemicu dari runtuhnya ketenangan yang selama ini dibanggakan kerajaan. Api telah dinyalakan. Dan ia membakar dari dalam.
Suara sirine meraung panjang, menggema ke seluruh penjuru Kerajaan UK. Nada nyaring dan berkepanjangan itu memecah langit senja, menandai dimulainya sebuah bencana yang tidak pernah diperkirakan akan terjadi di tanah yang selama ini disebut "wilayah steril".
"Ini bukan simulasi!"
Suara keras dari pengeras suara pemerintah menggema, disiarkan dari menara-menara informasi yang tersebar di kota.
"Seluruh warga diminta segera menuju titik evakuasi terdekat! Ulangi! Segera menuju titik evakuasi!"
Warga yang sebelumnya hanya berkerumun dalam kebingungan, kini pecah dalam kepanikan. Teriakan dan jeritan memenuhi udara.
"Ayo! Cepat! Ke arah barat!"
"Anak-anak! Mana anak-anakku?! Siapa yang melihat putriku?!"
"Jangan dorong! Kita semua akan masuk! Tenang!"
Di persimpangan jalan besar, para petugas berseragam militer dikerahkan. Mereka berdiri membentuk barikade, mengarahkan arus manusia ke gedung-gedung perlindungan yang dibangun khusus untuk keadaan darurat. Tapi jumlah mereka terlalu sedikit untuk menghadapi kekacauan sebesar ini.
Letnan Marlow, seorang komandan lapangan, berbicara tegas lewat alat komunikasinya.
"Pos Dua, laporkan! Berapa jumlah pengungsi yang berhasil diamankan?"
"Sekitar tiga ratus sejauh ini, Letnan! Tapi kami kehilangan kendali di koridor selatan! Mereka… mereka menyerang siapa saja yang dekat!"
"Yang menyerang... maksudmu para warga?!"
"Bukan! Mereka bukan lagi warga, Pak! Mereka menggigit! Mereka seperti... seperti binatang buas!"
Letnan Marlow terdiam sejenak, menelan ludah dengan gugup. Ia belum pernah menghadapi situasi seperti ini. Sebuah suara lirih dari belakang memecah lamunannya.
"Pak... saya melihat satu dari mereka berlari... lebih cepat dari manusia biasa. Dia... dia tidak seperti yang lain."
"Seperti apa maksudmu?" tanya Marlow cepat.
"Matanya... hitam seluruhnya. Mulutnya... berdarah. Dia… dia tertawa, Pak."
Sementara itu, di jalan utama yang mengarah ke distrik pusat, Kalev berlari di antara tubuh-tubuh yang berserakan. Bajunya sudah robek dan berlumur darah, sebagian bukan miliknya. Ia tidak lagi seperti manusia. Pergerakannya cepat, liar, tak terkendali. Setiap kali matanya menangkap sosok manusia, ia menerkam tanpa ragu. Giginya menancap, darah mengucur, lalu ia berpindah ke mangsa berikutnya.
Seorang pria berusaha menarik istrinya yang jatuh tersandung.
"Bangun! Kita harus pergi! Bangunlah, Sayang!"
Namun belum sempat ia membopong tubuh istrinya, Kalev melompat dari balik kendaraan yang terbakar.
"Aaaaakhh!" teriakan pria itu menggema.
Kalev menerkam mereka berdua seperti serigala lapar, menggigit dan mencabik.
Dua warga yang melihat kejadian itu mencoba berbalik arah, tetapi sudah terlambat. Orang-orang yang sebelumnya digigit Kalev kini ikut bangkit, mata mereka kosong, wajah mereka penuh darah, dan langkah mereka tak goyah sedikit pun. Mereka menyerang apa pun yang bergerak.
"Ini gila... ini seperti kiamat!" teriak seorang perempuan muda sambil menangis.
"Terus lari! Jangan berhenti! Jangan lihat ke belakang!" balas pria yang bersamanya sambil menarik tangannya.
Pemerintah mencoba mempertahankan komunikasi, tetapi jaringan mulai terganggu. Videotron yang tadi menampilkan peringatan mulai menayangkan visual kabur, hanya potongan gambar jalanan penuh darah dan jeritan yang tidak terdengar.
Letnan Marlow kembali berbicara dengan suara serak. "Kita harus karantina zona pusat. Segel semua jalan masuk dan keluar. Ini sudah bukan penyebaran biasa… ini invasi dari dalam."
Sementara itu, di tengah kekacauan yang tak lagi dapat dikendalikan, Kalev terus memburu. Di balik wajahnya yang penuh darah, senyum kecil tergambar. Bagi dirinya, ini bukan kehancuran. Ini adalah awal dari kemenangan.
***
Di ruang kendali Capitol, dinding-dinding kaca besar menampilkan peta digital wilayah kerajaan secara real time. Lampu indikator mulai berkedip merah di beberapa titik. Suasana yang awalnya tenang mendadak berubah mencekam saat layar utama menampilkan laporan langsung dari zona padat penduduk.
“Yang Mulia,” suara operator wanita terdengar panik. “Kami baru saja menerima laporan visual dari Zona K-3. Ragen... Ragen telah muncul di dalam kota.”
Leo, yang tengah menelaah berkas laporan serangan dari arah Gerbang Barat, sontak menoleh tajam. "Bagaimana mungkin Ragen bisa muncul di dalam kota? Apakah ada celah yang terlewat?"
Di sisi kanannya, Ignis menatapnya dengan mata menyipit.
"Kami belum tahu bagaimana virus itu bisa muncul di dalam. Tidak ada laporan pelanggaran perbatasan atau penyusupan," ucap operator wanita itu.
Leo segera berdiri. Suaranya berubah menjadi dingin dan tegas. “Siapkan protokol evakuasi tingkat empat. Fokuskan ke distrik pemukiman padat dan titik-titik konsentrasi warga. Jangan tunggu instruksi pusat.”
Ia berjalan cepat menuju panel komunikasi utama dan menekan tombol sambungan prioritas.
“Ini Raja Leo kepada seluruh pos pengendali. Aktifkan jalur evakuasi. Batasi akses keluar-masuk dari dan ke zona pusat. Saya ulangi, batasi akses sepenuhnya!”
Ignis mengikuti dari belakang. “Apa kita juga mengkarantina Capitol?”
Leo menggeleng. “Belum. Tapi kita tutup semua akses ke Lakewell Palace. Ratu dan penghuni istana masih di sana.”
Ia mengambil perangkat komunikasi pribadi dan menelepon langsung pengawas Lakewell Palace.
“Kapten Erna, dengar saya baik-baik. Tutup seluruh gerbang Lakewell Palace. Tidak ada yang keluar maupun masuk tanpa izin langsung dariku,” perintah Leo begitu sambungan terhubung.
“Dimengerti, Yang Mulia,” jawab suara di ujung sana. “Kami akan perketat penjagaan.”
“Pastikan unit pengamanan istana siaga penuh. Jika ada pergerakan mencurigakan, tangani di tempat. Ragen tidak boleh masuk ke istana. Apa pun yang terjadi.”
Leo menutup komunikasi dan berdiri menatap layar kembali. Pada peta digital, titik merah penyebaran virus kian menyebar seperti tinta merah di atas kertas basah.
Ignis mendekat, suaranya rendah. "Jika kita tidak tahu asal usulnya," kata Ignis pelan, "kita tidak bisa memprediksi bagaimana penyebarannya."
Raja Leo mengepalkan tangannya. "Dan itu membuatnya jauh lebih berbahaya."
Mereka berdiri dalam diam, menyaksikan nyala merah yang menjalar di peta digital seperti luka yang baru mulai terbuka.
lalu ada kota² dan desa² nya. dan di setiap kota/desa dilindungi tembok. aku kepikiran ini pas baca yg bagian evakuasi raja ke zona utara.
mungkin kalo di lihat dari udara. UK di novelmu penampakannya mirip punggung kura². dg garis² nya sebagai benteng tiap kota/desa.
coba donk thor. next update bikinin peta UK kalo dilihat dari udara
anaknya selena cewek
pas gede, mereka berjodoh.
fix, leo jadi besan dg mantan pacarnya😁
bisa kembali muncul ketika leo akhirnya bertemu lagi dg selena