Ini kisah cinta yang rumit. Antara seorang duda labil bernama Arfan Rahardian dan gadis mini bernama Rea Kusuma.
Di tahun sebelumnya, sepasang kekasih ini pernah batal menikah. Dan dua tahun setelahnya mereka kembali dipersatukan dalam ikatan pernikahan.
Ego, salah faham, dan tinggi hati, mewarnai hari-hari dalam pernikahan Rea dan Arfan. Sikap dingin dan keras kepala dalam diri Arfan sangat bertolak belakang dengan Rea yang super hangat serta perhatian.
Bagaimanakah kisah mereka? Baca saja di episodnya:)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ranimut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meninggalkan
"Rea!" Teriak Arfan. Semua pengunjung menatap pria itu dengan penuh tanda tanya.
Arfan segera menarik lengan Rea dengan kasar dan menamparnya. Seketika Rea menunduk menahan rasa sakit.
Faruk yang melihat tingkah Arfan yang kurang ajar segera bertindak. "Apa gini cara loe perlakuin perempuan!" Ucapnya sambil meniju wajah pria jangkung itu.
Keduanya saling adu kekuatan, para pengunjung hanya mampu melihat tanpa mau membantu. Sedangkan Rea masih menunduk, ia masih tidak percaya akan tindakan suaminya barusan. Inikah yang ia maksud dengan cinta, semalam?
Tak lama, datanglah petugas keamanan yang memisahkan dua pria yang sedang bertengkar itu. "Orang gi*a, bubar-bubar! Kalau mau berkelahi jangan disini!" Ucapnya sambil mendorong keduanya agar menjauh.
Rea masih diam, kali ini air matanya sudah tumpah. Faruk segera menghampirinya dan menanyakan keadan Rea. Arfan yang sudah tersulut api cemburu, segera menarik paksa Rea meninggalkan tempat itu.
"Seharusnya aku sadar, kau memang wanita mur*han!"
"Bodohnya aku yang bisa-bisanya mencitaimu Rea."
"Seharusnya aku menceraikanmu saja." Ucap Arfan. Rea yang mendengar ucapan suaminya segera menatap tajam kearah pria itu.
"Cepat masuk!" Sambil mendorong paksa Rea kedalam mobil.
Mobil berjalan dengan cepat, Rea takut dengan sisi Arfan yang keras ini. Mungkin inilah saatnya untuk mengatakan semua padanya.
"Kamu dengerin dulu penjelasan aku."
"Apa lagi yang mau kamu jelasin. Kalau kamu tidak mencintaiku, dan kamu mencintai dia, itukan maksudnya? Seharusnya aku sadar dari semalam, kalau kamu tidak mencintaiku. Bodohnya aku yang tetap mencintaimu Rey!"
"Coba kamu dengerin dulu penjelasan aku."
"Semua sudah jelas, tidak ada yang perlu dibahas lagi."
"Aku mohon, kamu dengerin aku dulu." Sambil menangis, wanita itu mencoba meyakinkan suaminya.
"Diam!" Teriaknya.
"Kak_"
"Aku bilang diam, ya diam!" Ucap Arfan sambil menghentikan mobil dengan tiba-tiba.
Arfan mencengkram pipi Rea dengan keras, dan menatapnya tajam. "Aku muak denganmu Rea! Aku mau kita cerai!" ucapnya kemudian mendorong wajah Rea hingga membentur kaca mobil.
"Kenapa cerai? Apa tidak bisa kita omongin lagi baik-baik?"
Arfan diam, dia malas menanggapi wanita disebelahnya ini.
Tak lama mobil sampai didepan rumah, Arfan segera membuka pintu Rea. "Keluar, cepat!" Bentaknya. Rea hanya menggeleng, ia tidak ingin kemana-mana.
Arfan kembali menarik paksa Rea dan menggeretnya masuk kedalam rumah. Arfan menghempas tubuh Rea kelantai.
"Apa ini balasanmu Rey? Aku mencintaimu, tapi kau! Kau malah berduaan dengannya!"
"Apa yang kau katakan Kak? Kau salah faham, aku tidak ada hubungan apapun dengan Faruk." Kata Rea dengan terisak.
Arfan kembali mencengkram pipi Rea, ai sudah habis kesabaran kali ini. "Aku mau Cerai, Rey! Kamu aku talak."
Rea terdiam, tidak percaya jika Arfan baru saja menalaknya. Bagaimana dengan hubungan yang sudah terjalin lima tahun ini. Apakah sudah tidak ada nilainya lagi dimatanya. Air mata sudah tak terbendung, Rea sudah tidak sanggup.
"Sadarlah dengan apa yang kamu ucapkan barusan!" Kata Rea.
"Sekali lagi, kamu aku talak!"
Tubuh Rea melemas. Secepat inikah? Semalam ia mengatakan cinta dan sekarang talak?
"Cepat kemasi barang-barangmu, aku malas melihat wajahmu." Meninggalkan Rea.
Mungkin inilah jalan yang terbaik, lagi pula sama saja baginya. Toh memang sebentar lagi ia akan meninggalkan dunia ini. Rea mencoba menguatkan hatinya, ia harus menerima semua ini. Lagi pula, ini memang kesalahannya. Seharusnya ia mengatakan yang sebenarnya dari awal. Mungkin kejadian pahit ini tidak akan menimpanya.
Rea mulai bangkit dari duduknya, dan berjalan menuju kamarnya. Sejenak ia teringat Nathan, bagaimana responnya saat mengetahui bahwa ia akan pergi? Rea membohingi dirinya dengan mengatakan "Nathan sudah besar, dia sudah tidak terlalu memerlukanku."
Rea mulai memasuki kamarnya, semua kenangan menyeruak begitu saja saat melihat keseliling ruangan.
"Bulannya bundar banget."
"Iya, terang juga."
"Iya, seterang pernyataanmu."
Rea tersenyum kecut mengingat kenangan itu. Andai ia punya waktu yang banyak, andai ia ceritakan kejadian yang sebenarnya.
Cukup, Rea mengelap air matanya dan membuka lemarinya. Tidak ada yang ia bawa, ia hanya mengambil gelang perak yang diberikan sang mertua minggu lalu.
Rea kembali mengelap air matanya dan keluar dari kamar, menuju lantai satu.
Pandangannya kosong, hanya ada air mata yang mengalir. Ia mengira, kisah cintanya akan betakhir dengan ia meninggal dunia. Namun nyatanya,Tuhan mempunyai rencana lain saat ini.
Rea berjalan menerobos semua kenangan rumah itu. Entah bagaimana nasibnya setelah ini.
Rea membuka pintu ruang kerja Arfan, dan masuk kedalamnya. Nampak mantan suaminya itu sedang berdiri menghadap jendela kaca.
Sekuat tenaga ia menahan isaknya supaya tidak terdengar. Ini seperti mimpi, tolong bangunkan Rea.
"Maaf atas kesalahanku lima tahun ini. Sengaja ataupun tidak."
"Aku tidak pernah berfikir kita akan berpisah dengan seperti ini. Aku mohon, jaga Nathan baik-baik, dia keponakanku. Aku sangat menyayanginya.
"Jika kelak kau menikah lagi, lihat dulu wanita itu, baik atau tidak untuk Nathan. Jangan sampai ia membuat Nathan tersiksa."
"Sudah bicaranya?" Datar Arfan.
Rea membuang nafasnya dengan kasar dan tersenyum miris.
"Aku hanya ingin mengembalikan gelang ini. Sampaikan maafku pada Mamah, terima kasih untuk perhatiannya akhir-akhir ini." Rea meletakan gelang perak berukirkan namanya itu diatas meja kerja Arfan.
Matanya melihat sesuatu yang tidak asing. Buku misterius itu ada dihadapannya saat ini. Sejenak ia melirik Arfan, merasa aman ia mengambil buku itu diam-diam dan berlalu pergi.
"Ini yang terakhir. Kukatakan lagi, aku tidak ada hubungan apapun dengan Faruk. Dan perlu kau ketahui, aku mencintaimu. Selamat tinggal." Menutup pintu dan pergi.
Entah bagaimana respon pria itu disana. Yang jelas Rea menangis sambil berlari keluar dari rumah. Mungkin inilah akhir kisah cintanya dengan Arfan. Mungkin Rea akan kembali mencintainya dalam diam sampai maut menjemputnya.
Rea menengok kebelakang, memandang bangunan berisi ribuan kenangan itu. Berat rasanya meninggalkan semuanya. Ini semua mimpi buruk bagi Rea.
Saat ini penyesalan kembali muncul kepermukaan. Andai ia tidak pernah menutupi apapun pads Arfan, andai tadi ia pamit pada Arfan. Mungkin ini tidak akan terjadi.
Rea menghapus air matanya. Dan berlalu pergi.
End ...
.
.
.
.
.
.
Tapi boong wkwkwkw😂, terus setia ya. Cuman mau bilang, bentar lagi udahan☺. Like dan Comen ya, biar aku cemangat🌷🌷🌷 Makasih.
ceritanya bagus bangettt,,,semangat ya kk😁
hai teman teman ayo mampir di novel ku yang berjudul "ANA UHIBBUKA FILLAH USTADZ" ayo vote dan like yaa kakak kakak adik adik supaya saya bisa semangat up ceritanyaa
mataku samoek bengkak 😭😭😭