NovelToon NovelToon
Kasta

Kasta

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Cintapertama / Cintamanis / Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:49.6k
Nilai: 5
Nama Author: Vava Deviana

kepercayaan diriku itu bagaikan sebutir kacang. bagaimana aku sanggup untuk mengagumimu yang bersinar terang. Sadar akan siapa aku dan dirimu yang begitu tinggi. biarlah kenangan berlalu di belakang. aku tak ingin ada yang terluka

______

Awalnya aku tak berpikir untuk mempercayaimu. Akan ku lakukan berbagai cara untuk membuatmu membenciku. Tapi, aku luluh dengan sifat lembut itu. Tak bisakah kau untuk di sampingku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vava Deviana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berkunjung ke rumah Aya

"Silakan di minum semuanya," ujar Nindia yang datang membawakan es sirup. Ia juga membawa toples makanan ringan untuk camilan.

"Terima kasih kak." Dea yang ceria seperti biasa menampilkan senyum cerah. Dean ikut tersenyum tanpa berkata apapun.

Nindia mengusap sebentar rambut Aya sebelum berlalu kembali ke dapur. Di dapur ia memotong melon menjadi potongan kecil-kecil. Memisahkan menjadi dua ke tempat yang berbeda.

Tadi saat ia akan memotong melon untuk Arya, tiba-tiba saja Aya pulang. Gadis itu meletakan kepalanya di pinggang Nindia dan mengeluh dengan apa yang dilakukannya di luar rumah.

Nindia sangat suka sekali saat gadis itu bermanja dengannya. Tapi, itu hanya sebentar karena Aya memiliki tamu. Setelah memberi semangat, gadis itu berlaku ke ruang tamu dimana temannya berada.

Wildan hanya masuk sebentar untuk mengecek keadaan Arya. Setelah itu, beliau kembali ke kantor. Aya sendiri yang mengantar hingga pintu depan.

"Bisa pinjam laptop kamu kan Aya?" tanya Dean yang sudah membuka buku paket.

Laki-laki itu tanpa basa-basi langsung mengerjakan tugas. Membaca dengan seksama sebelum memulai membuat laporannya.

Aya memutar kursi rodanya menuju kamar. Mengambil laptop yang memang biasa digunakan gadis itu untuk mengerjakan tugas. Meletakan di pangkuan, dan kembali ke ruang tamu.

Saat ia melewati ruang keluarga, Aya bisa melihat kakaknya tengah menyandarkan diri di sana. Remaja itu mengabaikan sang kakak dan melanjutkan perjalanan.

"Melonnya mau kakak bawa kemana?" tanya Aya yang berpapasan dengan Nindia di jalan.

"Ini untuk kak Arya. Tadi kakak sudah taruh yang punya Aya dan kawan-kawan." Aya mengangguk mengerti dan membiarkan Nindia menuju ruang keluarga.

"Ini kak, apa butuh sesuatu lagi?" tanya Nindia sebelum meninggalkan tempat itu.

Arya menggelengkan kepala tanda tidak membutuhkan apapun lagi. Nindia meninggalkan ruang keluarga dan melanjutkan tugasnya.

Aya memberikan laptopnya kepada Dea. Rahma yang duduk di sampingnya mencuri pandang. Itu adalah Asus ZenBook 14. Barang yang sudah diincar sedari lama. Namun, hingga kini ia tidak bisa memilikinya.

Matanya menatap sinis ke Aya yang di topang Dean untuk duduk di bawah. Kebencian di dalam dirinya semakin membuncah. Kenapa semua yang diinginkan harus dimiliki oleh gadis itu. Kenapa ia tidak pernah bisa mendapatkan yang terbaik?

"Bagaimana kalau kita buat latar belakangnya dulu?" tanya Dea yang mulai membuka Microsoft word.

"Kita bisa cari di internet dan menggabungnya dengan penjelasan di buku," kata Aya.

Gadis itu sudah sibuk membuka buku paket. Membaca kata-kata yang bisa di rangkai untuk dijadikan latar belakang. Dean sibuk berselancar di internet. Mencari beberapa artikel di berbagai web.

Rahma tidak melakukan apapun. Ia bingung akan melakukan apa. Biasanya saat pembuatan laporan, ia akan menyuruh anggota lain. Baru kali ini dia ikut turun langsung dalam belajar kelompok.

"Kau bisa mencari di buku. Membuat ringkasan, ataupun membuat rumusan masalah," ujar Dea yang memperhatikan Rahma hanya berdiam diri.

Rahma menggertakkan gigi saat di tegur oleh Dea. Harga dirinya seakan terinjak. Entah kenapa ia menjadi enggan untuk dekat dengan Dea.

Ia membolak-baliknya buku dengan bingung. Dadanya terasak sesak menahan amarah. Menyesal dia tidak menyanggah ide satu kelompok dengan mereka.

"Tetangga sebelah ternyata yang datang," ujar Arya bersandar di pintu dengan tangan bersidekap.

Empat pasang mata mengalihkan pandangan pada Arya. Laki-laki

tampan itu mendekat dan duduk di sofa. Dea langsung saja berdiri dan duduk berdekatan dengan laki-laki itu.

"Wow, kakak makin tampan deh." Dea memberikan senyuman manisnya.

Hal itu membuat Arya tertawa dengan terbahak-bahak. Ia mengelus Surai Dea yang panjang dan halus. Mengalihkan pandangannya ke Dean yang sibuk dengan smartphonenya.

"Bagaimana liburannya?" tanya Arya mencairkan suasana yang sepi senyap.

"Biasa saja," jawab Dean yang merasa kalau pertanyaan itu ditunjukkan untuknya. Arya menganggukan kepalanya paham.

"Lain kali datang kesini kita tanding lagi," seru Arya lagi dengan senyum meremehkan kepada Dean.

Remaja laki-laki itu menatap kakak Aya dengan pandangan sengit. Dia berkata, "Boleh saja kalau kakak siap kalah."

Arya terkekeh dengan jawaban Dean. Laki-laki itu membungkuk memperhatikan Aya yang ada di bawahnya. Kemudian mengintip laporan yang sedang di ketik Dea.

"Kalian akan praktek?" tanya Arya yang entah mengapa menyebalkan di telinga Aya.

Aya meletakkan buku paketnya dengan keras. Ia membalikan badan dan mencubit kaki Arya kecil. Laki-laki itu mengaduh kencang.

Arya berdiri dan mencubit kedua pipi Aya. Gadis itu melawan dengan mencubit lengan Arya. Tidak ada yang mau mengalah di antara keduanya. Dea dan Dean tersenyum melihat keakraban kakak beradik itu.

Berbanding terbalik dengan Rahma yang menatap benci. Kehidupan Aya sangat berkebalikan dengan dirinya. Ia benci memiliki adik yang merepotkan dan kakak yang hanya bisa memerintah.

Tanpa sadar gadis itu menggenggam rok sekolahnya dengan erat. Karena terlalu kencang hingga menyebabkan kerutan di seragam itu.

"Kakak bantu aku," adu Aya ketika melihat Nindia yang lewat di depan ruang tamu dengan sekeranjang penuh pakaian.

Nindia berhenti sejenak dan melihat apa yang terjadi. Selang beberapa menit, gadis itu melenggang meninggalkan ruang tamu begitu saja.

Sepanjang jalan Nindia hanya tersenyum melihat Aya dan Arya. Sedangkan di ruang tamu, Aya makin mengeraskan cubitannya.

"Ah ... Kak Nindia tega denganku," keluh Aya yang masih belum bisa melepaskan tangan Arya.

"Nindia sekarang sekutu kakak." Arya melepaskan pipi Aya dan menjulurkan lidah sebelum berlari ke luar.

"Kak Arya sweet banget deh," kata Dea yang memandang Arya dengan damba.

Dean langsung saja memukul saudara kembarnya. Remaja lelaki itu dengan datar berkata, "Kak Arya nggak cocok sama kamu yang terlalu pecicilan."

Dea yang mendengar itu langsung berdiri dan bersidekap dada. Bisa-bisanya ia memiliki kembaran yang tidak mendukung saudaranya sendiri.

"Ngajak berantem ya?" seru Dea lantang dan berdiri di belakang Dean. Gadis itu memukul punggung lebar sang saudara terus-menerus.

Aya mencoba melerai dan memberi jarak keduanya. Ia meminta agar segera melanjutkan membuat latar belakang karena hari yang semakin sore.

"Kita mulai praktek kapan?" tanya Rahma yang mulai muak di diamkan dan tidak mengerti apapun.

"Iya ya, kalau rumah Rahma jauh. Kalau begitu besok bawa bahannya saja. Nanti, biar praktek nya Aya yang urus," ucap Aya pelan takut menyinggung gadis itu.

Ia hanya tidak ingin Rahma pulang pergi ke rumahnya dan merasa lelah. Tapi, gadis itu seperti mengartikan hal lain dari ucapan Aya.

"Baik. Kalau begitu aku pulang dulu." Rahma mendongkol dan memgambil tasnya, lalu berpamitan.

Mereka bertiga terbengong dengan langkah tergesa-gesa Rahma. Saling berpandangan dan kembali fokus dengan pembuatan laporan.

Rahma berjalan tergesa hingga tidak sadar Nindia yang berlawanan arah dengannya. Ia menabrak bahu Nindia dengan sangat keras dan berlalu tanpa mengucapkan maaf.

Nindia memungut keranjang kosong yang jatuh. Ia menghela nafas dan melanjutkan langkah menuju ruang cuci. Ia tidak mau terlalu ikut campur, asal masih di batas wajar dan tidak melukai fisik.

1
Dheana Rabbani Alghozy
ini rumah gede kayak istana gak ada pembantu nya ya?


ko arya jahil bgt si ama nindia
Kaisar Tampan
singgah juga ke novelku ya, simpanan brondong tampan
Kaisar Tampan
kok cepat kali end
Kak Seul
kok gak update lagi kak?? ditunggu loh kelanjutan nya ❤❤
RaraMo
salam kenal kk
Voxryn
Semangat kakak
Kak Seul
next nya kak💞💞 tetap semangat ya 😄
Cimai (IG : cimai_author)
aku mampir kak 😍
lintang berseri
semangat semangat ....
lintang berseri
lanjut ini ...
Nana Annisa
memang berat hidup dikota, yang penting ingan dengan tujuan awal kita aja pasti semangat...
Nana Annisa
salam kenal...
lintang berseri
keren banget kata katanya ka,,,, langsung nyesek aku....
Kak Seul
hallo kak, aku balik lagi baca, tetap semangat terus ya, saling mendukung ❤❤❤
andi.hermawan97(IG√)
aku nyimak ya kak, btw rapih juga penulisannya... enak dibaca
Sweetpea
hai kak aku mampir nih☺️ semangat terus kk
Rubella
ekrhemm hemm hayo..
Rubella
tidak apa apa gemuk yang penting KeEnyanG~~
Rubella
yahh bener, aku juga ga suka berbau bau horor gitu
Eny Mariska
Semoga aja Nindia baik-baik aja. 😭 ☀ terus ya author up ceritanya. 💘💪🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!