Menikah dengan orang yang di cintai adalah impian setiap insan, lantas bagaimana jadinya jika sebuah pernikahan terjadi karena rasa kemanusiaan semata?
Kaka beradik, sama-sama menikahi wanita yang tidak mereka cintai, lantas setelah pernikahan itu terjadi bisakah mereka mengemban tanggung jawab masing-masing sebagai seorang Suami, sedangkan pernikahan itu terjadi begitu saja tanpa adanya persiapan bahkan perasaan??
Cerita ini adalah kisah lanjutkan dari kisah takdir , jadi di sarankan membaca 'Takdir' sebelumnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Yunus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keadaan Embun
POV Dareen
Ini sangat sulit untuk ku, aku bukan tipe pria yang mendekati wanita, biasanya wanita yang mendekati ku, wanita yang menjadi istri ku ini memang memiliki ciri fisik seperti idaman ku, tetapi tidak dengan pendiam nya, kurasa hari ku akan membosankan, terlebih dia terlihat begitu lemah, rasanya aku ingin menyalahkan takdir, mengapa Tuhan harus menjadikan dia jodohku
Memang benar tidak ada yang sempurna di dunia ini, tetapi jika boleh sedikit mengeluh. Aku sama sekali tidak menyukai tipe wanita lemah lembut, rasanya tidak serasi dengan ku yang garang, tapi apalah daya nasi sudah menjadi bubur, dia sudah menjadi istri ku dan tanggung jawab ku
" Mas, Pa, sarapannya sudah siap" Suaranya itu terdengar lirih tetapi tidak tau mengapa begitu mengena di telinga ku
Aku melangkah. Sehabis membersihkan diri aku langsung keluar dari kamar dan tepat wanita itu juga sedang memanggil ku dan Papa mertua ku untuk sarapan
" Apa nasinya segini cukup?" Tanyanya yang membuatku menatap wajah nya yang putih pucat. ' Astaga... mengapa dia terlihat sangat lemah dengan wajah tanpa rona? apa wanita ini benar-benar tidak pernah terkena sinar matahari? dia manusia atau vampir?'
" Cukup" Meski aku tidak suka dilayani olehnya yang pasti repot, tetapi karena ada mertua ku aku hanya menerima saja
Ternyata tidak hanya aku yang dilayani, Embun juga menyiapkan makanan Papanya, dan Pria yang menjadi mertua ku itu terlihat biasa saja. ' Atau mungkin memang seperti ini rutinitas Embun? aku mengira dia benar-benar tidak mampu melakukan apapun, ternyata aku salah'
Selesai makan aku masih di ajak ngobrol sama Papa mertuaku, kami berpindah ke ruang keluarga, yang hanya berbatas dinding, dan dari tempatku duduk aku masih bisa melihat ruang makan.
Aku diam-diam memperhatikan Embun, wanita itu sibuk bolak-balik dengan kursi rodanya untuk membereskan meja makan, aku jadi bingung. ' Apa gunanya ada asisten rumah tangga di rumah ini jika masih dia juga yang mengurus segalanya, bukan karena apa, tapi jelas-jelas dirinya sedang tidak sehat kan?' nah tiba-tiba saja aku merasa tidak suka tanpa sebab, melihatnya sedikit repot begitu
" Jadi kamu bisa kan gantikan waktu Papa tiga hari kedelapan?" Tepukan di bahu membuatku tersadar
" Ya, Apa tadi yang Papa katakan?" Aku sedikit kurang fokus Karena mengamati Embun, membuatku tak mendengar ucapan pria yang tengah mengajakku berbicara soal pekerjaan
" Papa harus ke Bali tiga hari, tetapi keadaan Papa belum memungkinkan untuk berpergian bukan! apakah bisa jika kamu menggantikan Papa?"
Author POV
Dareen mengepalkan tangannya di bawah meja, entah bagaimana dia harus mengatur waktunya, dia Mengantikan posisi Ayah nya karena Damar sudah waktunya pensiun tapi kini setelah hampir dua bulan tak bisa kekantor, Papa mertuanya juga mempercayakan pekerjaan nya pada Dareen
Belum menjawab pertanyaan Dominic Brian, ponsel Dareen berdering
Dareen mengeluh dalam hati begitu pangilan berakhir. Dareen di minta hadir di pernikahan Gabby ke Kalimantan timur oleh sang Paman, Rayhan akan datang ke Jakarta besok dan memberitahu Dareen agar meluangkan waktunya, sampai saat ini belum ada yang mengetahui tentang pernikahannya, jika besok Pamannya datang dan tau jika ada istri Danish di rumah orang tuanya, pasti akhirnya pernikahannya juga akan bocor, sebenarnya tidak masalah untuk Dareen, tetapi Dareen khawatir tentang Embun, bahkan dua bulan menikah, baru semalam mereka bertemu, lantas bagaimana jadinya jika Tante dan Om nya dari Kalimantan mengetahui pernikahan nya tanpa melibatkan mereka, terlebih sifat bar-bar Tantenya yang menjengkelkan
Dareen menarik napasnya, terpaksa dia akan menolak permintaan Papa mertuanya, karena perihal kedatangan Paman dan tantenya adalah hal yang perlu di khawatirkan
" Kamu bisa Bawa Embun, kalian sekalian bulan madu"
Bibir Dareen tertutup rapat. Tidak jadi menyuarakan kata-kata yang hampir terucap, telinga Dareen seolah mendengung mendengar penuturan Dominic Brian
" Selama Dia lumpuh, Putriku tak pernah sama sekali keluar dari pintu rumah ini, sudah sangat lama dia mengurung diri, hanya Dokter yang terus memantau keadaan nya satu Minggu sekali" Pria itu menghela napas " satu tahun bukan waktu yang singkat" tambahnya kemudian
Ada yang salah dengan hati Dareen begitu mendengar selama itu wanita yang menjadi istrinya bersembunyi dari dunia luar dan hanya bisa duduk di kursi roda, bukankah dia anak orang kaya yang bisa melakukan berbagai pengobatan?.
Sementara tanpa Dareen dan Dominic Brian sadari, Embun menangis di balik dinding mendengar sang Papa yang membahas dirinya, memang sudah selama itu dia merasa tak berguna dan selama itu dia menahan sakit yang tak tertahankan di kedua tungkai nya.