Dalam hidupku tak pernah menyangka bahwa dalam pernikahanku akan mengalami hal semacam ini.
Seandainya godaan itu datang dari wanita lain, mungkin saja aku tak akan segila ini. Tapi justru godaan itu datang dari wanita yang seharusnya aku hormati sebagai ibu dari istriku.
Aku hanyalah lelaki normal, lelaki biasa yang bisa saja khilaf dalam bertindak. Apalagi jika dihadapkan dengan godaan nyata setiap hari, godaan yang mampu mengikis kesetiaanku, godaan yang mampu menjegal keimananku.
Aku, Adarga Handanu ... lelaki biasa yang sedang berjuang keluar dari jeratan nafsu sang ibu mertua. Berhasilkan aku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ammi Pooja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 29 Kebohongan
POV Danu
Mentari begitu terik, angin enggan bertiup. Di tepi jalan depan rumah sakit aku duduk termenung memandangi beberapa kendaraan yang lalu lalang.
Aku sengaja keluar untuk mencari inspirasi. Berbagai cara sudah aku coba untuk kembali masuk ke raga, tapi tetap saja tak bisa. Entahlah, hingga kapan aku harus seperti ini.
Di sana, di ruang ICU tubuhku masih tergolek lemah dengan perban membalut kepala. Selain itu, berbagai alat bantu kehidupan juga menempel di badan. Mungkin saja jika alat-alat itu dilepas, maka selamanya raga dan nyawa tak akan bersatu kembali.
Ketakutan demi ketakutan yang menghantuiku kini berubah menjadi semangat untuk menemukan cara agar bisa kembali ke raga itu. Seperti saat ini, setelah mencoba berkali-kali hingga putus asa akhirnya aku putuskan untuk keluar mencari ide. Berharap menemukan jalan kembali.
Apa aku perlu cenayang untuk membantu, ya? Kalaupun perlu, lalu di mana bisa aku temukan cenayang itu? Seperti di film-film horor begitu, bisa panggil arwah terus minta bantuan. Atau ... hmm ... sebentar, aku coba mengingat lagi film kuno 'Si Manis Jembatan Merah'.
Eh, Jembatan Merah apa Jembatan Hantu, sih, judulnya? Ya, sudahlah ... pokoknya itu. Kalau di tayangan gambar hidup dalam layar datar itu, antar roh bisa bertemu dan saling bicara. Tapi, selama aku terpisah dengan raga tak satu pun arwah dapat kujumpai.
Harusnya seperti dalam sebuah cerita sang tokoh bertemu dengan hantu cantik dan akhirnya jatuh cinta, sang tokoh pun dengan rela melepas raga demi sang hantu cantik. Di surga mereka hidup bahagia. Akhir kisah yang membahagiakan.
Khayalan aneh. Iya kalau dapat hantu cantik, kalau ternyata hantunya seperti nenek semlohai yang kecentilan ... tak bisa kubayangkan aku dikejar hantu macam itu. Hiii ... jadi bergidik ngeri aku.
Seandainya hantu itu Arini, paling tidak aku bahagia bisa bersamanya hingga jannah. Eh, tapi Arini, kan, belum jadi hantu?
Arini. Hmm ... pasti dia sedang asyik ngobrol dengan ayah tirinya yang tampan satu level di atasku itu. Sejak kupergoki Bobby yang mencoba memberikan perhatian lebih ke Arini, rasa khawatir itu terus menggerogoti pikiranku.
Berbagai ketakutan akan goyahnya hati dan kesetiaan Arini menjadikan aku ingin cepat kembali ke alam sadarku. Ya Tuhan, tolonglah hamba-Mu. Jagakan hati Arini untukku.
Setelah jenuh dengan pemikiran tak jelas, aku putuskan untuk kembali ke rumah sakit. Terik mentari tak aku rasa, bayanganku saja enggan mengikuti. Hei, di mana bayanganku? Benar, pantulan cahaya tak membentuk bayangku.
Berputar berkali-kali tetap saja tak menemukan sosok hitam di bawahku. Yang ada justru aku hampir menabrak ....
"Bobby? Jadi, dari kemarin dia belum pulang? Atau dia memang sengaja datang lagi untuk menemui Arini? Sepertinya dia sedang memanfaatkan situasi ini untuk terus menarik simpati dari Arini.
Tapi, tunggu! Dia berjalan menuju mobilnya. Tak berapa lama Pak Nardi menyerahkan kontak dan keluar dari mobil. Dengan tenang Bobby melajukan mobil. Ia tak melihat jika aku sembunyi di jok belakang. Eh, tapi ngapain juga aku sembunyi? Lagi-lagi aku lupa kalau aku ini roh.
Tak ada suara atau kata terdengar dari mulut pria tampan yang mulai jadi rivalku itu. Dia diam seribu bahasa, hanya terkadang terdengar desah napas kasar.
Gawai yang ia letakkan di dashboard mobil bergetar. Entah dari siapa, hanya saja saat ia menerima dengan earphone bluetooth yang terpasang di telinga kanannya, aku sedikit curiga.
"Aku masih meluncur ke tujuan," ucapnya menjawab suara di seberang sambungan.
" .... "
"Tenang, aku pastikan dapat mengenali mereka sesuai dengan foto yang kamu kirim tadi."
" .... "
"Serahkan saja padaku, semua pasti beres. Tak perlu khawatir, oke?"
" .... "
"Ya, aku tahu. Kamu bisa mengandalkan aku. Ya sudah, aku masih menyetir. Kamu harus menyiapkan kebohongan berikutnya agar mereka tidak tahu hal yang sebenarnya, karena kita butuh waktu untuk menyelesaikan semua masalah ini."
" .... "
"Baiklah, Assalamualaikum." Bobby mengakhir pembicaraan.
Ada apa dengan Bobby? Siapa yang bicara dengannya? Kenapa orang itu mengirim foto ke Bobby? Lalu, untuk apa pula Bobby meminta orang tersebut untuk membuat kebohongan baru?
Sungguh jiwa detektif conan ini meronta. Banyak tanya memunculkan banyak praduga, rasa penasaran pun mencapai level maksimal. Sepertinya Bobby punya urusan yang ia rahasiakan. Sudah pasti ada niat terselubung saat ia bersikap baik terhadap Arini.
Aku harus tahu apa rencana Bobby. Tak akan aku biarkan lelaki ini mengambil Ariniku. Lihat saja, Bobby. Kamu akan lihat apa yang bisa aku lakukan.
Mobil Bobby menepi di dekat terminal kota, ia meraih gawai kembali dan menekan panggilan. Ia meminta orang tersebut untuk keluar dari terminal menuju lokasi tempat ia berada sekarang.
"Kamu suruh mereka keluar saja, aku sudah menunggu di depan pintu keluar terminal." Begitu perintah Bobby dalam sambungan whatsapp itu.
Sebenarnya siapa orang yang dalam gawai itu? Harusnya aku duduk di dekatnya, tapi kenapa malah ngumpet di sini? Parah, gegara pukulan vas bunga itu membuat aku lemot dalam berpikir. Aku harus tuntut nenek semlohai kejam itu.
"Sebentar, mereka sudah datang," ucap Bobby seraya membuka pintu mobil.
Mataku mengekori arah perginya. Bobby melangkah ke belakang motor dan ... itu ... itu kenapa ayah dan ibu yang datang?
Sontak aku kaget dan menerobos keluar dari mobil, berjalan tergesa menghampiri orang tua yang sudah enam bulan ini tak pernah kukunjungi. Ada gurat kekhawatiran tersirat di riak wajah mereka. Ada apa ini?
Bobby mengambil alih tas koper yang ditenteng ayah. Dengan sopan ia mengajak ayah dan ibu untuk menuju mobil. Aku rasa mereka belum menyadari jika sedang menjadi target Bobby.
Target? Jangan-jangan orang yang dalam sambungan itu menyuruh Bobby menyingkirkan orang tuaku? Duh, kenapa bisa sejahat itu? Demi mendapatkan Arini, Bobby berlaku senekad itu hingga melibatkan ayah dan ibuku.
"Ayah, ibu, tolong jangan ikut orang ini. Dia ada niat jahat terhadap kalian." Aku mencoba memberitahu, tapi percuma. Sepatah kata pun tak mampu mereka dengar.
Hanya lelah yang aku dapat, berteriak-teriak membuang energi. Baiklah, akan aku ikuti kemana Bobby membawa orang tuaku. Awas saja jika sampai terjadi apa-apa dengan mereka, tak akan aku lepas kamu.
"Terimakasih, Nak Bobby sudah bersedia menjemput kami," ucap ibu.
"Sama-sama, Bu."
Menjemput? Tidak mungkin, untuk apa Bobby menjemput ayah dan ibu? Ayah punya mobil, mereka bisa datang sendiri dengan naik mobil. Pasti ini akal-akalan Bobby yang meminta ayah tidak mengendarai mobil sendiri.
Tapi ... darimana Bobby tahu nomor telepon orang tuaku? Huff! Pasti Arini. Dia terlalu percaya dengan Bobby.
"Kemarin, pagi-pagi sekali Arini telepon Ayah. Tapi mobil ayah masih di bengkel, jadi nggak bisa langsung ke sini naik mobil. Pesan tiket kereta sudah habis, travel juga sudah penuh," tutur ayah panjang lebar.
Ooh, mobil ayah masuk bengkel. Aku kira ....
"Iya, Arini sudah cerita ke saya, Pak. Dia sekarang sedang menjaga Danu, jadi dia meminta saya untuk jemput Bapak dan Ibu," jawab Bobby dengan tutur bahasa yang begitu sopan.
"Arini pasti sedih, dia, kan, cinta banget dengan anak kita, ya, Yah?"
"Iya, Bu. Pasti dia sekarang sedang khawatir," jawab ayah yang duduk di sebelah Bobby.
Ayah dan ibu belum tahu saja kalau Arini mulai mendua. Parahnya lagi, pria yang diajak selingkuh adalah ayah tirinya. Selingkuh? Benarkah Arini telah selingkuh? Sepertinya aku berlebihan.
"Oh iya, Nak Bobby ini apanya Arini?" tanya ayah yang ternyata juga penasaran dengan Bobby.
"Saya suami Bu Hera, jadi bisa dibilang saya ini ayah tirinya Arini."
"Wah, Arini punya ayah tiri yang masih muda dan gagah begini? Bisa-bisa jadi saingan Danu, nih!" kelakar ayah yang membuatku makin kebat-kebit hati ini.
"Ya, nggak mungkin, Pak. Saya juga tahu Arini terlalu cinta dengan Danu, dia wanita yang teguh pendirian."
Suasana hening sejenak. Hanya deru kendaraan yang terus melaju ke arah rumah sakit. Kulempar pandangan keluar jendela, mencoba menikmati pemandangan kota yang selama ini tak pernah kuperhatikan.
Trap!
Pandangan ini membentur pada sosok yang sedang duduk di depan sebuah minimarket. Bu Hera! Ya, itu Bu Hera yang sedang duduk bersandar di salah satu tiang penyangga bagunan itu.
"Bobby, itu Bu Hera! Hentikan mobil! Kita harus menangkap wanita jahanam itu dan menyeretnya ke kantor polisi!" teriakku berkali-kali, namun lagi-lagi hanya seperti udara hampa yang tak mampu merambatkan suaraku ke gendang telinga mereka.
Rasa geram, kesal, dan ingin mengamuk berbaur menjadi satu menyebabkan dada ini penuh dengan kecamuk. Kenapa keadaan ini harus menimpaku? Kenapa bukan wanita jahanam kerak neraka itu saja yang sekarat?
"Kita sudah sampai," ujar Bobby memberitahu. Ia menghentikan mobil di area parkir dan mempersilahkan ayah dan ibu turun.
Kubuntuti mereka menyusuri lorong rumah sakit menuju ruangan tempat di mana aku sedang berjuang untuk kembali ke alam sadar. Bobby menunjukkan pintu ruang ICU, membiarkan ibu membuka pintu dan menghambur memelukku.
Jeritan pilu wanita yang melahirkanku itu teramat menyayat. Tangis seorang ibu yang takut kehilangan anaknya begitu menyentuh dasar hati.
"Bu, doakan Danu. Danu tidak ingin terjebak dalam dunia lain," pintaku dengan nada sendu.
"Danu, kamu harus sembuh, Nak. Ibu akan di sini menjaga dan mendoakanmu." Tangan wanita itu mengusap lembut kepalaku.
Beberapa menit berlalu, larut dalam suasana kesedihan. Di tepi ranjang, Arini berdiri sembari memegang kakiku. Bulir bening kembali menuruni pipi mulusnya.
Aku mendekati wanitaku, berusaha menghapus air mata yang terus menganak sungai. "Berhentilah menangis, Arini. Mata kamu sudah sembab. Lihatlah, sekarang kelopak matamu jadi mata panda."
Arini menyeka air mata, kemudian mengelus pundak ibu. Sejurus kemudian, kedua wanita itu telah berpelukan. Ibu berusaha menyemangati Arini agar tetap sabar dan kuat menghadapi ujian ini.
Ya, Arini adalah menantu kesayangan ibu. Saking sayangnya, jika Arini bertandang ke rumah sudah dapat dipastikan akan banyak makanan yang tersaji hanya demi menyambut menantu kebanggaannya itu.
"Danu itu memang ceroboh, kurang bisa berhati-hati. Kalau sudah begini siapa juga yang repot." celetuk ayah yang membuatku terhenyak dengan perkataannya.
"Ayah ini, namanya juga musibah. Kita nggak akan tahu kapan musibah itu datang." Ibu menyahut dengan sisa isakan tangis.
Kok, aku yang disalahkan? Kenapa aku dibilang ceroboh? Aku seperti ini karena membela Arini, tapi kenapa malah dibilang ceroboh dan tidak hati-hati? Ada yang tidak beres.
"Maaf, Yah. Arini lupa membersihkan kamar mandi, jadi lantainya licin."
"Makanya, kamu sewa jasa ART. Jadi, biar semua kerjaan rumah ada yang bantuin," nasehat ayah.
Aku tak habis pikir dengan percakapan mereka yang jelas melenceng jauh. Apa hubungan sakitku dengan kamar mandi yang belum dibersihkan Arini? Setauku hampir setiap pagi seusai mandi dia selalu menyikat lantai kamar mandi.
"Sudah, Yah. Jangan bicara seperti itu. Sekarang yang terpenting adalah berdoa untuk kesembuhan anak kita," tutur ibu dengan lembut.
Mereka bertiga keluar dari ruangan meninggalkan raga yang terkapar lemah. Di kursi telah duduk Bobby dan Niko. Mereka berdiri saat melihat ayah dan ibu keluar yang kemudian disusul Arini.
"Arini, aku dan Niko pamit pulang dulu, ya? Jika perlu apa-apa langsung hubungi aku." Bobby berpamitan pada Arini dengan tatapan yang penuh arti.
Aku yakin, ada yang mereka sembunyikan dariku. Suatu saat aku pasti akan membongkar semua teka-teki hubungan kalian.
Sepeninggal Bobby dan Niko, aku sedikit merasa lega karena tak melihat kebersamaan Arini dengan ayah tiri yang mulai modus itu. Arini terduduk lemah di kursi, sedangkan ibu mulai membuka koper dan mengambil sebuah kardus makanan berukuran sedang.
"Ibu bawakan beberapa potong kue untukmu. Makanlah dulu," ucap ibu seraya menyerahkan kardus itu.
"Terimakasih, Bu." Arini menerima dan segera membuka kardus berwarna putih itu, mengambil sepotong kue bolu dan menggigitnya perlahan.
Kuperhatikan wajahnya, tampak ia sedang menahan rasa mual dengan menekan erat perutnya. Ah, aku jadi ingat. Seharusnya aku membelikan dia testpack untuk tahu apakah ada Danu junior di dalam rahimnya atau tidak.
Aku berharap sekali ada Danu junior tumbuh di perut ratanya, agar tak ada lelaki yang mendekati dia lagi. Aku harus segera kembali ke alam sadar. Tapi bagaimana caranya?
"Arini, kapan ibumu kembali?" tanya ibu tiba-tiba yang membuat Arini terhenyak dan kebingungan mencari jawaban.
"Maksud, Ibu?" Arini masih berpura-pura tak tahu arah pembicaraan ibu.
"Bobby ayah tirimu ada di sini, sudah pasti ibumu juga sudah kembali, kan?"
"Oh, eh, itu, Bu ...." Arini makin panik dengan pertanyaan mendadak itu. Sudah pasti Arini tak akan siap dengan jawabannya.
"Kamu ini kenapa, Nak? Kok, seperti orang bingung."
"Eeh ... itu, Bu. Ibu pergi dari rumah ninggalin Bang Bobby. Terus Bang Bobby mencoba datang ke rumah mencari ibu, dikira ibu tinggal denganku. Nah, pas dia datang ... Mas Danu terjatuh dari kamar mandi. Akhirnya dia yang bantu bawa Mas Danu ke rumah sakit."
Jawaban Arini membuatku tercengang. Kebohongan apa yang tengah ia lakonkan? Jadi, ini kenapa ayah mengira aku ceroboh dan tidak berhati-hati?
Helo ... Arini, aku seperti ini karena menolongmu! Karena membelamu! Kenapa kamu tidak bilang saja terus terang kalau ibu kamu yang membuatku hampir kehilangan nyawa?
Ya, Tuhan ... ada apa dengan Ariniku?
Aku terduduk lemas bersandar pada dinding. Tak mengerti apa yang sebenarnya tengah mereka mainkan. Arini, kuharap kamu akan jujur dan mengungkap semua fakta.