"Karena hati tidak perlu memilih, ia selalu tahu kemana akan berlabuh"
Begitu juga dengan Darren yang rela menjadi seorang playboy agar bisa menemukan wanita yang tidak sengaja ia nodai. Setelah 6 tahun lamanya Darren baru bisa bertemu dengan Celine wanita yang selama ini dia cari. Darren tidak menyangka kalau dirinya memiliki dua anak kembar laki-laki yang genius hasil perbuatannya dulu.
Akankah mereka bersatu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirwana Asri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepulangan Celine
Setelah dinyatakan pulih Celine diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Rencananya hari ini Darren akan membawa Celine pulang ke rumahnya supaya Darren bisa merawat Celine selama masa penyembuhan.
"Sayang maukah kau tinggal bersamaku?" pertanyaan Darren sukses membuat Celine kaget sampai tangannya menutup mulutnya yang menganga.
"Apa?? Tidak kita tidak bisa tinggal bersama," kata Celine
"Kenapa? Tinggallah bersamaku agar aku bisa merawatmu selama masa penyembuhan," kata Darren.
"Tapi..." belum selesai Celine menyelesaikan kalimatnya, kata-katanya sudah dipotong oleh Darren.
"Aku tidak suka mendapat penolakan, lagipula Julian dan Jaden suka tinggal bersamaku bukan begitu anak-anak?" tanya Darren sambil melihat ke arah putranya.
"Benar mom tinggallah bersama daddy, kami ingin merasakan kehangatan sebuah keluarga, sudah lama kami ingin merasakan kasih sayang daddy," kata Julian yang membuat hati Celine terenyuh sampai mengeluarkan air mata.
"Kenapa mommy cengeng sekali," ejek Jaden sambil mengusap air mata yang jatuh ke pipi Celine.
"Baiklah sayang mommy akan tinggal bersama kalian," kata Celine dengan penuh pertimbangan.
"Yess, kesempatan untuk mengambil hati Celine semakin besar aku tidak akan menyiakan kesempatan yang sudah ada di depan mata ini," batin Darren yang merasa bahagia dengan keputusan Celine.
Saat ini laki-laki tampan itu sedang membayangkan bisa berjingkrak-jingkrak, tapi hal itu tidak mungkin dilakukan mengingat dirinya sudah memiliki dua anak berusia 5 tahun.
"Julian Jaden kalian siap untuk pulang ke rumah?" tanya Darren setelah membereskan pakaian Celine ke dalam koper.
"Siap dad," seru mereka kompak.
"Tunggu bolehkah kita menjenguk Devon sebentar saja? Aku hanya ingin melihat kondisinya." Celine meminta izin kepada Darren.
"Tentu saja ayo kita ke ruangannya," kata Darren.
Senyum mengembang di wajah Celine. Dia oun mengikuti langkah Darren menuju ke ruangan Devon. Tanpa dia duga Darren menautkan tangannya ke tangan Celine. Celine kaget jantungnya berdebar sangat kencang.
"Oh mengapa selalu seperti ini, kamu orang yang sukses membuat jantungku ini seakan ingin melompat," batin Celine dalam hati sambil melihat ke arah Darren.
"Lihatlah daddy sangat romantis pada mommy," kata Jaden.
"Aku harap mereka segera menikah," timpal Julian.
"Ya aku setuju," jawab Julian.
Saat mereka tiba di ruangan Devon, laki-laki yang tangannya dibalut kasa itu sedang bersandar di atas bankar dengan dua buah bantal di belakang punggungnya.
"Selamat pagi, apa kau sudah membaik?" sapa Celine dengan ramah.
"Iya aku sudah mendingan, mungkin aku akan pulang segera," kata Devon dengan tersenyum di hadapan Celine.
"Ehem kenapa kau buru-buru sekali tinggallah di sini sampai kau sembuh," kata Darren agak kesal melihat keakraban Celine dan Devon.
"Jangan sampai kau merusak hari-hariku bersama Celine," kata Darren dalam hati sambil menatap tajam adiknya.
Sadar akan ketidaksukaan Darren, Celine berusaha mencairkan suasana agar tidak terjadi pertumpahan darah di anatara kakak beradik itu.
"Emm Julian Jaden kalian lupa beri salam pada om Devon." kata Celine sambil menyuruh anaknya mendekat dengan mengibas-ngibaskan tangannya.
"Baik mommy," kata kedua anak kembar Celine.
Jaden dan Julian mencium tangan Devon yang merupakan paman mereka. Devon membalas dengan mengulurkan tangan sedangkan satu tangannya yang lain masih dihubungkan dengan jarum infus.
"Apa kau akan pulang hari ini?" tanya Devon kepada Celine.
"Emm, aku sudah diperbolehkan oleh dokter pulang hari ini, kau cepatlah sehat agar bisa segera pulang," kata Celine menyemangati sahabatnya itu sambil tersenyum.
Devon pun mengangguk dan membalas dengan senyuman Celine. Senyuman dari wanita yang dicintainya. Akan tetapi dalam waktu dekat dia akan berusaha untuk melupakan cintanya itu karena dia menyadari kalau Darrenlah yang pantas untuknya. Setidaknya Darren harus bertanggung jawab atas perbuatannya di masa lalu yang sudah membuat hidup Celine sengsara.
"Ayo Celine kita pulang," Darren menarik tangan Celine dengan paksa membawa wanita cantik itu keluar dari ruangan Devon.
Celine tau sikap Darren menunjukkan rasa cemburunya. Celine pun melambaikan tangan ke arah Devon tanpa berkata apa-apa. Devon hanya bisa memandang kepergian mereka. Julian dan Jaden sudah hilang entah kemana. Anak-anak itu memang selalu pecicilan tidak bisa diam walau hanya sebentar. Bagas merasa kuwalahan dalam menjaga mereka.
"Ampun anak-anak si bos larinya kenceng amat, gak bapak gak anak sama-sama ngrepotin," kata Bagas dalam hati sambil menggelengkan kepalanya.
"Darren bisakah kau sedikit berbaikan dengan adikmu, apa gunanya kau bersikap seperti ini?" kata Celine.
"Kau tentu tahu alasannya kenapa aku bersikap begitu," sejenak langkahnya terhenti dan menatap ke dalam mata Celine.
"Aku tahu kamu cemburu," batin Celine.
"Apa masih perlu aku jelaskan tentang perasaanku ini, cih kenapa kau lugu sekali," umpat Darren.
Celine pura-pura tidak tahu, dia hanya menggelengkan kepalanya. Padahal dia tahu Darren amat kesal melihat dirinya tersenyum pada Devon. Apalagi Darren tahu bagaimana perasaan adiknya itu kepada wanita yang sedang digandeng tangannya saat ini.
"Sudahlah anak-anak pasti sudah sampai di mobil duluan, kau juga harus istirahat," tiba-tiba Darren mengangkat tubuh Celine.
"Lepaskan Darren ini di tempat umum," gumam Celine dengan lirih tapi penuh penekanan.
"Tidak," Darren menjawab dengan singkat.
Tangannya masih memegang erat tubuh Celine. Walau Celine berusaha memberontak Darren dengan memukul dada bidangnya, laki-laki tampan itu tetap tidak mau melepaskan tangan kekarnya. Akhirnya Celine menenggelamkan wajahnya di dada bidang Darren.
"Issh awas saja kau Darren akan kubalas kau nanti saat sampai di rumah," batin Celine yang sangat kesal dan malu dengan tingkah konyol Darren yang menggendongnya di depan umum.
"Wow romantis sekali," kata seseorang sambil menautkan kedua tangannya.
"Ih gak tahu malu,"
"Apakah aku sedang melihat adegan film romantis?"
"It's real man,"
Bagitulah kira-kira tanggapan orang-orang yang melihat perlakuan Darren terhadap wanita yang dicintainya.
Kini keduanya sampai di pelataran parkir. Darren menurunkan tubuh Celine di atas kursi.
"Wow daddy keren sekali, apa mommy tidak berat dad?" tanya Julian.
"Berat sekali sayang entah apa saja yang dimakan oleh mommymu itu, daddy berasa kaya kuli yang sedang memanggul beras," kata Darren sambil terkekeh.
Bug
Celine melayangkan pukulan keras di bahu Darren.
"Aww sakit sayang," Darren meringis kesakitan sambil mengusap bahunya yang sakit akibat pukulan Celine.
"Rasain, punya mulut gak ada manis-manisnya," kata Celine ketus.
Kejadian itu seketika memecah tawa di antara mereka.
"Berani kamu menertawakan saya Gas, gaji kamu saya potong satu bulan kerja," ancam Darren yang merasa kesal.
"Maaf tuan atas kelancangan saya," kata Bagas sambil merutuki kebodohannya.
"Awas kau Celine saat sudah sampai rumah,kau akan merasakan manisnya mulutku ini setelah aku memakanmu nanti," kata Darren dalam hati sambil tersenyum licik.
"Jalan," titah Darren pada asistennya.
"Baik tuan," kata Bagas sambil menganggukkan kepala.