Namaku Sheila,Aku bekerja di perusahaan Andre.Dan Aku menjabat sebagai sekretaris di sana.
Dengan niat untuk membalas dendam kepada Bos Ku.
Karena hampir setiap hari, Aku selalu di marahi tanpa alasan yang jelas.
Dengan ambisi Ku itu,Aku menaruh, obat perangsang di dalam minuman nya, dengan niat memberikan pelajaran kepada Bos ku.
tapi ternyata hal yang tidak terduga pun terjadi.
Bagaimana kisah nya... Cokodot lah.😊😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riski iki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30
Seketika, Dewi pun hanya tersenyum mendengar ucapan Sahabatnya itu, dan mulai memperhatikan sejenak wajah Sheila yang terlihat sedikit tegang.
Tadinya Ia sangat ingin mengerjai Sahabatnya, tetapi saat melihat wajah Sheila yang sangat tegang, akhirnya iapun mengurungkan niatnya.
" Baiklah, aku akan mengantarmu ke ruangan barunya," ucap Dewi.
" Benarkah, aku tidak salah dengarkan." jawab Sheila berbinar senang.
" Tentu saja benar."
Kemudian, kedua wanita itupun melangkahkan kakinya menuju ruangan Andre.
****
Ketika Andre sedang menandatangani beberapa berkas penting di dalam ruangannya, tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk.
" Masuk," ucap Andre dari dalam.
Dengan menarik nafas panjang, Sheila pun mendorong pintu itu hingga terbuka lebar, kemudian Ia bersama dengan Dewi masuk kedalam ruangan Andre.
Sementara Andre yang sedang duduk di kursi kebesarannya, mulai mendongakkan kepalanya melihat kedua wanita itu masuk kedalam ruangannya.
" Berhenti," ucap Andre tiba-tiba.
Sehingga membuat Dewi dan Sheila pun saling memandang satu sama lain.
" Apakah kita membuat kesalahan," ucap Sheila sambil berbisik di telinga Sahabatnya.
" Entahlah, aku sendiri tidak tau," ucap Dewi sambil mengangkat bahunya keatas.
Sedangkan Andre yang mendengar kedua wanita itu saling berbisik, mulai meletakkan berkas yang Ia pegang di atas meja kerjanya, kemudian dia berdiri dari kursi dan berjalan perlahan menuju tempat Sheila dan Dewi berdiri.
" Kau," tunjuk nya pada Dewi
" Saya Pak," ucap Dewi sambil mengarahkan jari telunjuknya kepada dirinya.
" Ya, siapa lagi kalau bukan dirimu."
" Hum, ada perlu apa Bapak sama saya," ucap Dewi sambil tersenyum.
" Hum...! Seharusnya aku yang bertanya padamu, ada perlu apa kau kemari?" ucap Andre datar.
Dewi yang mendengar perkataan Bosnya, mulai salah tingkah, hingga Iapun kembali mengarahkan pandangannya kepada Sheila, dan memberi isyarat terhadap Sahabatnya itu agar segera menjawab pertanyaan Andre.
Sedangkan Sheila yang mengerti arti dari tatapan mata Sahabatnya itu, mulai memberanikan diri untuk menjawab pertanyaan Andre sebelumnya.
" Maaf Pak Andre, saya yang memintanya untuk menemaniku kemari, sebab aku belum siap untuk...?" ucap Sheila terpotong karena Andre tiba-tiba mengangkat tangannya, dan menyuruhnya untuk segera berhenti berbicara.
" Cukup...! Aku mengerti," ucap Andre.
" Dan sekarang lebih baik kalian berdua, segera menyusun berkas-berkas yang berserakan itu, dan aku minta kalian harus menyesuaikan tanggal, bulan dan tahun yang tercantum didalam berkasnya," ucap Andre datar, kemudian Ia kembali duduk di kursi kebesarannya.
" Huh,untung saja aku tidak di pecat," ucap Dewi, sambil mengusap dadanya dengan kedua tangan.
" Sudahlah, Ayo kita kerjakan apa yang Ia perintahkan, sebelum kamu benar-benar di pecat olehnya, dan aku sih, tidak masalah di pecat juga." ucap Sheila dengan santainya.
" M... maksud kamu," tanya Dewi dengan terbata-bata.
Seketika itulah Sheila menyadari, bahwa saat ini Ia sedang keceplosan berbicara, kemudian Iapun menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Sudahlah tidak usah kau pikirkan, aku hanya bercanda," ucap Sheila sambil mengibaskan tangannya.
" Hum...! Sahabatku ini, kau membuat jantungku hampir keluar dari sarangnya," ucap Dewi sambil terkekeh geli dengan ucapannya sendiri.
Kemudian mereka berdua pun mulai merapikan berkas-berkas yang berserakan di atas lantai.
****
Beberapa Jam berlalu begitu saja, hingga keduanya tak menyadari, bahwa saat ini sudah tiba waktunya untuk istirahat.
Dan sejak tadi pula, Ponsel Sheila terus saja berbunyi, yang membuat Andre sedikit kesal mendengarnya.
Dengan begitu sangat penasarannya Iapun berjalan perlahan menuju meja tempat Sheila meletakkan Ponselnya.
Kemudian dia mengambil benda pipih itu, dan memeriksa nama kontak yang menghubungi Sheila barusan.
Seketika wajahnya pun berbinar senang melihat Nama yang tercantum didalam benda pipih itu.
" Andy," ucapnya yang langsung mengangkatnya.
" Hallo Nak, apakah kamu baik-baik saja."
Sedangkan di sebelah bumi lainnya, Andy yang tidak mengenal suara yang mengangkat Ponsel Bundanya mulai terlihat kesal.
" Maaf, Anda siapa, dan aku peringatkan engkau, hanya sedetik saja, jangan coba-coba mendekati Bundaku, dengan alasan apapun, kalau tidak kamu sendiri akan tau akibatnya," ancamnya dengan penuh penekanan.
Sementara Andre yang mendengar ucapan anaknya, hanya terkekeh.
" Hum...! kau ini, masa tidak mengenal suara Ayahmu sendiri."
Andy yang mendengar ucapan itu, sedikit menjauhkan Ponsel tersebut dari telinganya, dan Iapun sedikit malu dengan ucapannya sendiri.
" A... Ayah! Maafkan aku," ucapnya pelan.
" Tidak apa-apa Nak, malahan Ayah sangat suka dengan sikap posesif mu itu terhadap Bundamu," ucap Andre.
" Kakak itu siapa," ucap Andrea yang sedang berada di samping Andy.
Andy pun mulai mendekat ke telinga sang adik, dan membisikkan Nama orang yang sedang berbicara dengannya.
" Wah...! Berikan padaku Ponselnya Kak, Aku sangat ingin berbicara dengan Ayah, dan saat ini aku sedang mempunyai Ide yang sangat berlian," ucap Andrea yang langsung mengambil Benda Pipih itu dari tangan sang Kakak.
Sedangkan Andy yang tidak bisa berbuat apa-apa, hanya membiarkan benda pipih itu, diambil alih oleh adiknya, padahal Ia juga sangat ingin berbicara dengan sang Ayah.
" Ayah...! Ini Aku Andrea," ucapnya dengan nada lembut.
" Andrea, Ratu kecil Ayah, bagaimana kabarmu Sayang," tanya Andre dengan sangat lembut.
" Tentu saja aku baik Ayah."
" Ayah."
" Hum."
" Bersediakah Ayah, membawa kami besok pagi, jalan-jalan di taman," ucap Andrea.
Seketika itu pula, Andre yang mendengar ajakan Ratu kecilnya, merasa sangat senang sekaligus bahagia.
" Tentu saja Ayah bersedia, tetapi ajak juga Bunda kalian ya," ucap Andre sambil tersenyum.
" Sip, Ayah! Kau tenang saja, kalau mengenai hal itu, kamu tidak perlu khawatir," ucap Andrea.
" Bagus, sampai jumpa besok pagi ya, Ratu kecil Ayah," ucap Andre.
" Baik Ayah, sampai jumpa besok, Ayah jangan sampai lupa ya," ucap Andrea mengingatkan.
" Iya Ratu kecil Ayah," ucap Andre.
Kemudian Andrea pun mematikan benda pipih itu, dan menyerahkannya kepada sang Kakak.
" Ini Ponsel mu Kak, tangkap," ucap Andrea sambil melemparkan benda pipih itu kepada sang Kakak.
Dengan sangat sigap pula, Andy menangkap Ponsel miliknya, kemudian Ia kembali memasukkannya kedalam saku kantong celananya.
" Apa yang sedang kau bicarakan dengan Ayah," tanya Andy.
" Kepo? Apa mau tau banget Kak," ucap Andrea.
" Hum...! Dua-duanya lah," jawab Andy.
" Baiklah, aku akan menceritakannya kepada Kakak, tapi ada syaratnya."
" Syarat," ucap Andy sambil mengerutkan keningnya.
" Iya kak, Syarat?" ucap Andrea sambil menaikkan sedikit alisnya keatas.
" Hum...! Yasudah lah, cepat katakan," ucap Andy mengalah.
Kemudian Andrea pun mulai menceritakan, tentang Ia yang mengajak Andre untuk jalan-jalan esok hari di taman.
Dan Ia harus bisa menyakinkan Bundanya untuk ikut jalan-jalan juga.
" Kakak, kau harus membantuku untuk membujuk Bunda untuk ikut," ucap Andrea.
" Tidak masalah, tapi Syarat yang kau berikan sebelumnya batal."
" Yah...! kok bisa gitu kak, gagal deh makan eskrimnya," ucap Andrea sambil memonyongkan bibirnya beberapa senti ke depan.
di sumbersari
Syukurlah, semua berakhir dengan bahagia. Aku lega tidak ada yang jadi korban keras kepalanya si Sintia. Selamat untuk Andre dan Sheila! Semoga, kebahagiaan selalu memayungi keluarga kalian, ya! Aamiin ...!
salam dari Hati Terbelah Di Ujung Senja 😊