karya : Rosnila
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rosnila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pernikahan Dan kepanikan
Setelah selesai dari kamar mandi aku kembali keruangan mas Angga, Aku berniat untuk bertanya tentang obat-obatan yang ada di tong sampah, Namun aku urungkan niat ku.
Aku takut nanti malah terlihat terlalu ikut campur, belum pun lagi aku menjadi istri untuk mas Angga.
Akhirnya aku memutuskan untuk duduk diam disamping mas Angga. Mas Angga mengalihkan pandangan ke arah ku, dan aku hanya tersenyum.
Karena bosan menunggu akhirnya aku pun memainkan handphone ku saja. Dan membiarkan mas Angga fokus pada pekerjaan nya.
Lumayan juga lah, punggungku terasa letih karena terlalu lama duduk. hampir satu jam mas Angga disibukkan dengan pekerjaannya.
"Kamu capek Cha?" tanya mas Angga disela pekerjaan nya.
"Tidak mas." jawab ku sambil tersenyum.
" kalau capek , istirahat saja dikamar."
Aku Hanya menggeleng, ya ruang kantor itu tersedia sebuah kamar kecil, mungkin digunakan untuk mas Angga istirahat.
Namun Aku hanya menatap ke Raha kamar itu dan sama sekali tidak bergerak untuk kesana. Aku pikir kamar itu adalah privasi, tidak baik Aku masuk sembarangan ke kamar orang lain.
Dan setelah satu jam, aku melihat sekretaris mas Angga bangun dan keluar, mungkin karena tugasnya sudah selsai.
"Kita pulang ya Cha, nampaknya kamu lelah."
"Tidak kok mas, icha kan cuma duduk diam aja." jawab ku.
Mas Angga tersenyum ke arah ku, menggenggam jemariku dengan lembut, membuat hatiku begitu tenang.
Kami pun keluar dari ruangan itu dan turun kelantai dasar, Dan memutuskan untuk pulang kerumah.
Mobil mas Angga mulai melaju meninggalkan halaman kantor, kalau ini entah kenapa Akau merasa lebih rileks dari saat pergi tadi.
Aku yang tadinya merasa begitu canggung, namun saat ini sudah sedikit lebih tenang, karena aku yakin mas Angga adalah orang yang baik.
Setelah mengantarku sore itu, mas Angga langsung pulang, karena banyak pekerjaan yang harus dia kerjakan.
Aku melambaikan tanganku untuk sesaat, mengantar mas Angga kembali kerumah nya.
Dan akhirnya hari yang sudah ditunggu oleh semua orang pun tiba, hatiku gelisah tak menentu saat itu, entah apa yang membuat ku gelisah.
Aku dan keluarga saat ini sudah berada di hotel tempat dimana akad nikah dan resepsi pernikahan akan dilaksanakan.
"Icha, kamu kenapa?" tanya mama.
"Tidak ma, Icha hanya sedikit gelisah."
"Sudah, kamu yang tenang semua akan berjalan lancar."
Sekitar pukul 09.00 aku pun diantar menuju tempat akad, Dan disana sudah ada mas Angga yang sedang duduk menghadap berhadapan dengan papa.
Jantungku berdetak kencang, aku berpikir apakah semua akan baik-baik saja? Dan sesaat mas Angga menatap ke arah ku, dan kembali senyum itu menenangkan jiwa ku yang sedang gelisah.
Seakan saat itu mas Angga sedang menggenggam jemariku dengan erat, ada rasa nyaman yang Aku rasakan, dan saat itu juga Aku memantapkan hatiku untuk pernikahan ini.
Tak berapa lama mas Angga dan papa mulai mengucapkan ijab kabul. Dan sampai akhirnya terdengar suara riuh yang mengucapkan kata Sah.
Aku langsung mengucap syukur didalam hati, tak pernah menyangka akhirnya aku menjadi seorang istri. Semoga saja aku bisa menjadi istri yang baik untuk mas Angga.
Aku bergeser mendekat ke arah lelaki yang saat ini telah menjadi suami ku, mas Angga pun memasangkan cincin dijari manis ditangan Kananku.
Dan Aku mencium tangan mas Angga, ada rasa nyaman yang mengalir di relung hatiku saat itu. Bahkan saat mas Angga mencium keningku, tanpa bisa dicegah ada titik bening yang menetes di pipi ku.
"Ya Allah mudah-mudahan ini adalah takdir terbaik untuk ku." ucap ku dalam hati.
"Terimakasih sayang, telah memberikan kesempatan untuk bisa mencintai kamu." ucap mas Angga.
Dan kata-kata itu semakin membuat aku terharu, Dan tak dapat menahan tangis.
"Jangan menangis Cha." mas Angga menghapus air mata ku.
Dan acara dilanjutkan dengan sungkeman , dengan keluarga kami, suasana menjadi haru saat itu.
Dan hari itu semua dilanjutkan tanpa jeda, walaupun pernikahan ini terkesan mendadak, akan tetapi berjalan dengan baik.
Acara resepsi pun sudah digelar, mas Angga dan Aku saat itu benar-benar menjadi seorang raja dan ratu, begitu banyak tamu undangan yang datang.
Dan jam telah menunjukkan pukul 15.40 , namun tamu masih berdatangan. Aku terasa mulai letih karena terus berdiri.
"Cha, kamu lelah?" tanya mas Angga yang rupanya sedari tadi memperhatikan ku.
"Tidak apa-apa mas, kaki Icha hanya pegal saja."
"Kamu duduk saja!" pinta mas Angga.
"Tidak usah mas, masih banyak tamu."
"Sudah tidak apa-apa."
Mas Angga membawa ku untuk duduk, dan terlihat memangil seorang pengurus katering pernikahan kami.
"Mbak tolong bawakan makan siang dan juga sebotol air mineral." pinta mas Angga.
"Mas lapar?" tanya ku.
"Kamu kan belum makan."
"Mas juga belum makan, bukan hanya Icha." jawab ku sambil tersenyum.
Mas Angga meraih jemariku dan tersenyum ke arah ku. aku menatap wajah itu yang begitu meneduhkan hatiku saat itu.
Tapi entah kenapa aku merasa ada yang lain dari mas Angga, wajahnya tidak seceria sebelum nya, walaupun dia sedang tersenyum.
Apa yang sebenarnya terjadi? Tanya ku dalam hati, namun aku mencoba menyembunyikan kegundahan hatiku saat itu.
Tak berapa lama, makan siang yang diminta mas Angga pun datang. Aku langsung mengambilnya, Dan mas Angga mengambil sebotol air mineral nya.
"Terimakasih." ucap ku.
"Ayo mas makan!" aku menyuapi mas Angga.
Namun bukannya membuka mulut nya, dia malah mengambil sendok yang ada ditangan ku dan berbalik menyuapi aku.
"ayo buka mulut nya!"
"Mas, kenapa tidak makan."
"Udah kamu dulu yang makan."
Baru dua suap mas Angga menyuapi ku, tiba-tiba aku melihat dia berhenti, dan memegangi kening nya.
"Mas kenapa, Apa mas sakit?" tanya ku khawatir.
"Saya baik-baik saja , hanya sedikit lelah."
"Kalau begitu mas minum dulu."
Aku memberikan botol air mineral yang sudah terlebih dulu ku buka tutup nya, mas Angga meneguk air mineral itu hampir separuh nya, aku semakin khawatir, dan terlintas di kepala ku tentang obat yang kulihat dikamar mandi.
"Apa saat ini mas Angga sedang tidak sehat?" namun pertanyaan itu hanya kutanyakan pada hati ku.
Ku letakkan piring yang tadi ku pegang, aku menatap mas Angga, rasa khawatir itu tentu masih kurasakan.
Dan belum sempat aku bertanya kepada mas Angga tentang yang terjadi, kami sudah harus berdiri menyambut tamu.
Dan tiba-tiba saja mas Angga yang sedang menyalami tamu terlihat oleng dan hampir jatuh kelantai, untung saja papa sempat menahan tubuhnya dan membawanya duduk.
"Mas, mas kenapa?" tanya ku panik.
Namun mas Angga tak lagi menjawab, ya Allah ternyata dia kehilangan kesadarannya. Aku langsung panik, begitu juga dengan mama dan papa mas Angga.
Kami mencoba membangunkan namun mas Angga masih tak sadarkan diri, semua panik dan dibantu tamu undangan mas Angga dibawa masuk kedalam mobil papa.
Dan kami menuju kerumah sakit, Aku memeluk kepala mas Angga yang bersandar di bahu ku. Jantung ku berdetak kencang, aku gelisah dan tak bisa bicara apapun.
Apa Yang terjadi, pasti mas Angga terlalu capek , pikirku saat itu. Dan mobil yang dikemudikan papa berhenti di depan pintu utama rumah sakit.
Mama mas Angga kandung turun dan meminta suster untuk membantu membawa mas Angga.
Mas Angga langsung dipindahkan ke tempat tidur dan dibawa masuk kedalam. perasaan ku campur aduk, berharap tidak ada yang serius disana.
Tapi apa yang sebnarnya membuat mas Angga sampai pingsan?