NovelToon NovelToon
LEGENDA PENDEKAR DUA DUNIA

LEGENDA PENDEKAR DUA DUNIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Fantasi / Petualangan / Supernatural / Fantasi Timur
Popularitas:1.4M
Nilai: 4.4
Nama Author: Mr Poo

Mengapa novel ini saya beri judul PENDEKAR DUA DUNIA?
Sebab Kim Thian nantinya berkelana kedunia ROH dan dunia nyata.
Dunia Roh meliputi dunia orang mati, dunia siluman, dunia peri, dunia jin sampai dunia dewa, dunia malaikat,dll. Jika didunia ROH ,maka kita harus menaikkan level ROH kita.
SEDANGKAN DUNIA NYATA ADALAH bumi ini, bulan, planet planet

Maaf bila baru baru ini update nya lama untuk episode ini dan juga cerita lain karanganku, soalnya sibuk bekerja , maklum, kerja ikut orang tidak bisa santai, Trimakasih atas pengertiannya.

Sedangkan dunia nyata meliputi seluruh bumi bulan, bintang dan seluruh planet nantinya. Dan didunia nya yang akan kita tingkatkan adalah Qi kita dan kekuatan tubuh nyata kita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr Poo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30.MENGINAP

yang masih muda dan cantik. Tentu wanita itu akan dijadikan perebutan dan akan dipermainkan oleh

banyak orang sampai mati dalam keadaan menyedihkan dan mengerikan sekali.

“Ke dua nona hendak menginap?” tanya seorang pelayan dengan sikap ramah.

Lan lan merogoh saku dan mengeluarkan potongan perak. Dia memperlihatkan perak itu sambil

berkata, “Kami membutuhkan sebuah kamar dengan dua tempat tidur, harap pilihkan yang bersih.”

Melihat potongan perak itu, sikap si pelayan bertambah hormat. Ia maklum bahwa yang membawa uang

perak dalam perjalanan hanyalah orang-orang dari kalangan ‘atas’, kalau bukan puteri-puteri hartawan

tentulah wanita-wanita kang-ouw yang membekal banyak uang. Sambil mengangguk dan tersenyum lebar

dia lalu menjawab, “Harap kalia ber dua jangan khawatir. Mari, silakan masuk!”

Tentu saja kamar yang bersih dalam rumah penginapan itu sebetulnya masih terlalu kotor bagi Lan lan ,

karena kamar yang katanya paling bersih itu masih jauh lebih kotor dari pada kamar dapur di istananya!

Setelah mencuci muka dan makan malam, kedua orang dara itu lalu duduk di atas pembaringan di dalam

kamar mereka dan bercakap-cakap dengan suara perlahan setengah berbisik. “Aku khawatir bahwa

peristiwa di hutan itu akan ada lanjutannya, enci Lin, Yang jelas saja, delapan belas orang itu mati tentu ada

yang membunuh, dan si pembunuh tentu tahu akan keadaan kita. Aku merasa seolah-olah kita di sini pun

kini sedang diawasi orang.”

Lin Lin mengangguk. “Aku pun mempunyai perasaan demikian, Dik, Namun, kurasa orang yang

membunuh mereka itu bukanlah musuh. Kalau musuh, tentu dia atau mereka sudah turun tangan ketika

kita tertidur di hutan!”

“Perjalanan kita masih amat jauh dan biar pun kita sudah melewati kota Peking, namun kita akan melewati

daerah yang sama sekali tidak kita kenal dan menurut kongkong... eh, mendiang kongkong...” Sampai di

sini, Lan lan tak dapat melanjutkan ucapannya karena lehernya terasa seperti dicekik ketika dia teringat

kepada kakeknya yang tewas dalam keadaan menyedihkan, bahkan jenazahnya pun tidak sampai

terkubur!

Lin Lin mengerti akan keharuan hati adiknya, maka dia merangkul sambil berkata, “Ahhh, kongkong telah berkorban nyawa demi keselamatanku, adikku! Entah bagai mana aku akan dapat membalas budi

kongkong itu ...”

Lan lan cepat menekan hatinya dan dia berkata agak keras, “Jangan berkata begitu, enci!”

Sejenak mereka termenung, kemudian terdengar lagi Lin Lin berkata, “Engkau adalah seorang dara

perkasa, di dalam tubuhmu mengalir darah petualang kang-ouw yang berani dan perkasa, karena kau sering berpetualang dengan gurumu!

Agaknya, bagimu keadaan kita ini tidaklah terasa berat, adikku. Akan tetapi aku...! Sejak kecil aku hidup

mewah dan senang, sekarang, aku harus menderita kesengsaraan seperti ini, maka tidak mengherankan

kalau aku sampai bersikap cengeng, adikku. Bagaimana aku tidak akan berduka? Bukan hanya kongkong tewas, juga menurut cerita para pedagang garam, sebagian besar para anggota rombongan yang

mengawalku tewas dalam perang. Dan semua ini gara-gara aku seorang! Bahkan sekarang..., adikku yang

tercinta, engkau pun harus menderita karena mengawalku!”

Lan lan tertawa. “Kata siapa aku menderita, enci? Aku sama sekali tidak menderita!”

“Apa? Tidak usah berpura-pura. Pakaian kita pun hanya yang menempel di tubuh kita! Tak pernah dapat

berganti pakaian, padahal sudah berapa lama? Seluruh tubuh terasa gatal-gatal dan aku berani bertaruh

bahwa tentu ada kutu di pakaian kita.”

Tiba-tiba Lan lan menggaruk-garuk dada kirinya dan kelihatan dia merasa ngeri. “Aihhh, jangan bicara

tentang kutu, enci! Marilah kita pikirkan dengan tenang dan sejujurnya. Benar bahwa engkau adalah

seorang puteri yang tidak pernah menderita kesengsaraan hidup. Akan tetapi apa bedanya dengan aku?

Aku pun hanya seorang putri yang belum pernah melakukan kemewahan seperti dirimu, karena aku sibuk berlatih. Keadaan kita sama saja,

enci. Akan tetapi betapa pun juga, kita tidak boleh putus asa, tidak boleh merasa gelisah. Kegelisahan

hanya akan membuat kita tidak tenang dan mengurangi kewaspadaan kita. Biarlah kita saling melindungi

dan aku bersumpah bahwa aku takkan meninggalkanmu. Aku pasti akan dapat memenuhi pesan mendiang

kongkong, yaitu mengantarkan enci sampai ke kota raja dan di sana kita dapat minta bantuan Puteri Siang.

seperti yang dipesankan kongkong kita.”

Melihat sikap Lan lan yang penuh semangat itu, bangkit pula semangat Puteri Lin Lin.

Dia

mengepal tinju dan berkata, “Ah, kiranya tidak percuma pula aku dulu tekun mempelajari ilmu silat, apa lagi

memperoleh petunjuk-petunjukmu, adikku. Saat ini, aku bukan puteri kerajaan, tetapi seorang dara

kang-ouw yang berpetualang dan siap menghadapi bahaya apa pun juga! Kalau ada bahaya mengancam,

hemmm... haiittttt...!” Puteri itu membuat gerakan silat dengan kaki tangannya, seolah-olah dia mengamuk

dan merobohkan para pengeroyoknya. Sikapnya lincah dan lucu sehingga Lan lan tertawa dan

merangkul kakak nya itu.

“Bagus! Begitulah seharusnya, enci. Kita seperti sepasang burung yang terbang lepas di udara. Bebas dan

kita boleh berbuat apa saja menurut kehendak kita sendiri. Bukankah itu menyenangkan sekali? Coba,

kalau kita masih berada di istana, lalu enci ingin makan roti kering dan air, ingin menginap di kamar yang

begini bersahaja, tentu akan dilarang oleh sri baginda!”

Kedua orang dara itu bercakap-cakap sambil bersenda-gurau dan mereka sudah lupa lagi akan peristiwa

siang tadi di hutan. Tak lama kemudian dua orang dara itu telah tidur nyenyak saling berpelukan di atas

sebuah pembaringan dan membiarkan pembaringan kedua kosong. Dengan berdekatan di waktu tidur,

mereka lebih besar hati dan aman!

Kurang lebih lewat tengah malam kedua orang gadis itu terbangun karena kaget mendengar suara gaduh

di atas kamar mereka. Mula-mula Lan lan yang terbangun lebih dulu dan otomatis dia meloncat turun

dari pembaringan. Pada saat itu Lin Lin juga terbangun dan puteri ini berbisik, “Suara apa itu...?”

Lan lan sudah menyambar bungkusan perhiasan dan topi mereka yang tadi mereka taruh di atas meja,

menyimpan bungkusan di dalam saku bajunya yang lebar, kemudian menyerahkan topi caping yang

sebuah kepada puteri itu sambil berbisik, “Sssttttt, ada orang bertempur di atas genteng...“

Keduanya sudah siap dan mencurahkan perhatiannya ke atas. Makin jelas kini suara orang bertanding di

atas dan menurut dugaan Lan lan yang lebih tajam pendengarannya, sedikitnya ada lima puluh orang

bertanding di atas genteng kamarnya. Dan mereka semua adalah orang-orang yang berilmu tinggi karena

biar pun mereka bergerak cepat, namun tidak ada kaki yang memecahkan genteng yang diinjak. Yang

terdengar hanya suara angin menyambar-nyambar, angin senjata tajam dan kadang-kadang terdengar

suara menjerit ,jeritan kematian dan suara pantun.

“Enci Lin , mari kita cepat lari...!”

Puteri itu meragu. “Mengapa lari? Di luar... bukankah lebih berbahaya? Kita berjaga di sini dan kalau ada

bahaya baru kita membela diri.”

“Sssttt... kau turutlah aku, enci. Cepat!” Lan lan sudah menggandeng tangan puteri itu, menariknya

keluar dari kamar dan terus berlari melalui belakang rumah penginapan. Pintu belakang rumah penginapan

itu masih tertutup. Ceng Ceng membuka palang pintu, kemudian mereka berdua meloncat ke dalam gelap,

melalui pintu belakang dan terus lari tanpa menoleh lagi.

“Kita lari ke mana, Adikku?” puteri itu bertanya, heran kenapa adik nya ini tanpa ragu-ragu

melarikan diri ke arah tertentu.

“Enci, ingatlah kata-kata terakhir di setiap baris pantun tadi. Lima kata-kata itu adalah terkurung-laribelakang-utara-sungai! Nah, yang berpantun itu adalah seorang sahabat atau penolong yang

menganjurkan kita lari karena kita telah terkurung dan kita dianjurkan lari melalui pintu belakang, menuju ke

utara dan kalau aku tidak salah menduga, kita akan tiba di sebuah sungai.”

Lin Lin terkejut dan juga kagum akan kecerdikan adik nya, akan tetapi juga ingin sekali tahu

siapa orang yang berpantun dan yang menolong mereka itu.

“Dia siapa, adik ?” tanyanya sambil terus berlari di samping adiknya.

“Entahlah, akan tetapi suaranya seperti... heiiii!” Mendadak Lan lan menghentikan larinya karena dia

kini teringat akan suara itu. “Tentu saja dia orangnya!”

“Apa katamu?” Lin Lin berusaha menyelidiki muka Lan lan di dalam gelap itu. “Dia siapa?”

“Penolong kita itu, yang berpantun tadi... suaranya seperti si muka bopeng yang bikin ribut dengan ular-ular

di Pekingitu dan... dan... wah, tidak mungkin salah, tentu dia orang pandai yang menolong kita.”

Tiba-tiba Lan lan menarik tangan Lin Lin dan dia sendiri sudah melepas topi capingnya,

menggunakan benda itu untuk menghantam ke kanan, ke arah bayangan yang berkelebat dan tadi dilihat

bayangan itu hendak menangkap Lin Lin .

“Prakkkk!”

Lan lan terhuyung ke belakang dan caping di tangannya itu hancur berantakan. Dara ini kaget bukan

main. Dia menyerang bayangan itu dengan caping biasa, akan tetapi dia sudah mengerahkan tenaga dalamnya,

sehingga bagi lawan yang ilmunya tidak amat tinggi, serangannya itu sudah cukup hebat dan dapat

merobohkan orang.

Namun bayangan itu menangkis dengan lengannya. Akibatnya tidak hanya capingnya yang hancur, akan

tetapi dia sampai terhuyung saking kuatnya tenaga orang yang menangkisnya itu! Dia teringat akan pesan

kongkong-nya bahwa di pedalaman banyak sekali terdapat orang pandai maka tanpa menanti orang tadi

bergerak, dia sudah menerjang ke depan, menggunakan sepasang pisau belati yang disimpan di sebelah

dalam bajunya.

“Hyaaatttt...!” Dara perkasa ini mengeluarkan pekik dahsyat, tubuhnya menerjang cepat dan sepasang

pisaunya menyambar dari kanan kiri, yang kanan mengarah lambung, yang kiri mengarah leher. Serangan

yang dahsyat dan lihai sekali, apa lagi dilakukan dalam cuaca yang gelap!

“Plak-plak... wuuuutttt...!”

Kembali Lan lan tercengang dan kaget. Orang itu telah dapat menangkis serangan dalam gelap,

menangkis lengan kanan kiri, bahkan telapak tangan orang itu menyambar hendak mencengkeram ubunubun kepalanya. Untung dia dapat mengelak cepat, kalau tidak, sekali kepalanya kena dicengkeram oleh

tangan yang dia tahu amat kuat itu, akan celakalah dia! Kini, bayangan itu menerjangnya dengan

kecepatan yang mengerikan.

Akan tetapi Lan lan tidak menjadi gentar. Dia menggerakkan kedua tangannya yang memegang pisau,

melindungi tubuhnya dan sekaligus dia menggerakkan kepalanya sehingga kuncir rambutnya menyambar

seperti seekor ular hidup ke arah mata orang itu!

“Sing, sing...! Plakkk!”

Lan lan mengeluarkan teriakan kaget karena selain sepasang pisaunya dapat dielakkan orang, juga

kuncirnya hampir saja dapat ditangkap kalau saja dia tidak dapat melepaskan tendangan yang amat kuat

dan membuat lawan itu terpaksa menarik kembali tangannya yang akan menangkap kuncir.

Akan tetapi tiba-tiba tubuh orang itu mencelat ke depan dan sebelum Lan lan dapat mencegahnya,

bayangan itu sudah menangkap Lin Lin , Puteri ini memekik dan berusaha memukul, akan tetapi

tingkat kepandaian puteri ini masih jauh sekali di bawah tingkat lawannya yang amat lihai, maka sekali

orang itu menggerakkan tangan, tubuh itu telah menjadi lemas tertotok dan dia telah dipondong!

“Jahanam, lepaskan dia!” Lan lan sudah menerjang maju dengan lompatan dahsyat. Hatinya marah

bukan main dan sedikit pun dia tidak takut menghadapi lawan yang tangguh itu, yang dia khawatirkan

adalah Puteri Lin Lin , maka begitu menerjang maju dia telah menggunakan sepasang pisaunya untuk

menyerang dan berusaha merampas tubuh Lin Lin yang telah dipondong orang itu

Namun ternyata lawan gelap itu lihai bukan main, gerakannya ringan sekali sehingga dia dapat mengelak

dengan melompat ke kanan kiri. Selain lawan memang lihai, juga Lan lan merasa kurang leluasa

gerakannya karena dia takut kalau-kalau senjatanya mengenai tubuh enci nya. Kemudian dengan

beberapa lompatan jauh, orang itu melarikan diri meninggalkan Lan lan .

“Iblis, hendak lari ke mana kau?” Lan lan tentu saja mengejar secepatnya.

Namun dia kalah cepat dan hal ini terutama sekali disebabkan karena Lan lan belum hafal akan

keadaan di situ sehingga tentu saja dalam berlari cepat dia harus berhati-hati agar jangan sampai terjatuh

dan ketinggalan makin jauh lagi. Dia sudah mulai gelisah sekali karena orang yang melarikan Lin Lin .

itu makin jauh meninggalkannya ketika tiba-tiba orang itu berteriak dan roboh terguling! Tubuh Lin Lin ,

yang masih lemas tertotok juga ikut terguling, akan tetapi tiba-tiba ada tangan menyambarnya dan tubuh itu

seketika terbebas dari totokan. Lin Lin mengeluh dan cepat menjauhkan diri sambil terhuyung-huyung

dan berpegang kepada sebatang pohon.

Ketika Lan lan tiba di tempat itu, orang yang melarikan Lin Lin tadi telah lari, dikejar bayangan lain

yang agaknya tadi merobohkan penculik itu dan membebaskan totokan Lin Lin. Dalam sekejap mata

saja dua bayangan yang berkejaran itu telah lenyap dari situ.

“Engkau tidak apa-apa, enci?”

Lin Lin menggeleng kan kepalanya.

Lan lan merasa gembira. Cepat dia memegang lengan puteri itu dan diajaknya terus lari ke utara,

seperti yang dipesankan dalam pantun oleh penolong mereka yang aneh. Siapakah penolong itu? Apakah

yang menolong Lin Lin dari tangan penculik itu pun sama orangnya dengan yang tadi berpantun di

atas kamar penginapan sambil bertanding, dan sama pula dengan si muka bopeng yang melepas ular di

pintu gerbang Peking?

Lan lan merasa heran dan bingung. Kalau benar orangnya hanya satu, tentu orang itu lihai bukan main.

Dia tahu betapa orang-orang yang bertanding di atas kamar penginapan itu memiliki ilmu meringan kan tubuh yang amat

tinggi, dan kalau penolongnya hanya seorang, berarti dia itu dikeroyok! Tadi pun dia mendapat kenyataan

yang tak mungkin dibantah bahwa penculik Lin Lin adalah orang lihai yang memiliki kepandaian lebih

tinggi dari pada dia. Namun penolong itu dalam segebrakan saja mampu merampas Lin Lin .

Selain itu, juga hatinya khawatir sekali. Mudah saja diduga bahwa pihak musuh sudah mengenal

penyamaran mereka, sudah tahu bahwa yang menyamar sebagai gadis-gadis petani itu, yang seorang

adalah Lin Lin . Bahkan di dalam gelap, penculik tadi sudah dapat menentukan mana yang harus

diculiknya! Kalau begini, berbahayalah!

“Mari cepat, enci!” Dia berkata dan mereka berlari secepatnya.

Namun, betapa pun mereka hendak bersicepat, tetap saja mereka menabrak pohon! Apa lagi ketika

mereka tiba di sebuah hutan yang penuh pohon. Mereka tidak dapat berlari lagi dengan baik, hanya

meraba-raba dan menyelinap di antara pohon-pohon, kadang-kadang hampir terguling karena kaki mereka

terjerat akar pohon atau semak-semak.

Dengan napas terengah-engah Lin Lin mengeluh, “Aduuhhhh... kita berhenti dulu... ahhh, lelah

sekali...”

“Jangan, enci. Banyak musuh yang lihai... mereka sudah mengenal engkau!”

Ucapan Lan lan ini membuat sang puteri terkejut sekali. “Be... benarkah mereka telah mengenaliku?

Celaka... hayo... hayo lari cepat...”

Kini Lin Lin yang lari lebih dulu, lari dengan nekat karena takut! Dia merasa ngeri kalau sampai

tertawan dan dibawa kepada raja rampok... ahh, tidak berani dia membayangkan nasib seperti

itu, maka dia lari secepatnya.

“Enci... hati-hati... !” Kini Lan lan yang merasa khawatir melihat puteri itu lari cepat dengan nekat tanpa

melihat-lihat ke depan.

1
Frengky Sultani
Kim Thian jadi penonton yg manis.
Umi Fatonah
bahasa dlm novel ini kyk bhasa ank jakarta bukan anak cina 😃
spooky836
plagiat
Umi Fatonah
manggil kakek kongkong giliran manggil mc nya mas 🤣
Umi Fatonah
🤣🤣🤣🤣maaassss
Umi Fatonah
hahahaha lucu harus nya gak perlu mindahin rumah ke dunia jiwa ribet amat
Umi Fatonah
kebanyakan keteranganya
daripada cerita nya
Umi Fatonah
kenapa gk pke dunia jiwa aja sih thor baca nya jdi enak gitu
Hadi Wahyono
Luar biasa
Raditya Vicky
ngaurrrr
Raditya Vicky
Luar biasa
ayik yafi
datar banget
Zuchri Jalil
Luar biasa
noName
responnya trllu kurang emosi...
hrusnya kan gini...
siap yang melakukan itu....siapa...???
katakan pada paman ..
ayooo panggil semua org kluarga kita dan kita cari para pembunuh itu.....
hrusnya kan gitu ..
biar ada respon enak saat baca Thor ini kog ga ada empati yg kuat ya🙈🤣😄
noName
thor ga ndapet gregetnya...harusnya kan kalau orang yg ketemu dgn org yg lama g ketemu apa lagi suda dinyatakan meninggal hrusnya kan lebih heboh ...lebih ada harunya gitu..
masa gitu aja thor tnya kabar biasa kayak ga pernah terjadi apa2..
pada hal ini alurnya Uda bgus cerita nya tapi emosinya kurangggggh🙏🙏🙏🙏🎀🎁🎁🎀🎁
noName
ribet jadinya kayak baca data stastik tllu bnyk didata dan ktrgn kayknya thor lama kerja admin ya😊🙏💐💐💐
guntur moch
si Mc hanya Fokus sama Cewek yg penting si Cewek gk Terluka biar si Kakek Mati,terus maksudnya dia ngikutin rombongan untuk Apa
Zerry Hendra: tuuullll,,,, berarti judul ceritanya pendekar mata keranjang saja 😅😅
total 1 replies
Yosep Fery. A
Luar biasa
Dian Mardiana
membosan kan
Karya Sujana
yes
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!