Reinkarnasi pasti tak asing di telinga kalian, hanya saja akan asing jika kalian mengalaminya. Tidak untukku, empat kali kesempatan hidup terbuang percuma.Yang aku dapatkan hanyalah warna hitam dan putih.
Reinkarnasi mungkin sudah menjadi hal yang wajar bagiku. Klasik. TAPI KENAPA AKU BISA ADA DI TUBUH ANTAGONIS DALAM SEBUAH NOVEL!?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Estellaafseena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch.30
"Oi, Alvin! Kurang ajar kau ya! Kembalikan buku itu!"
Alvin menggeleng, terus berlari sampai tangga di perpustakaan Luxia. "Tidak akan. Toh, kakak hanya melamun saja, kenapa harus aku kembalikan?"
"Bocah kampret. Kesini kau!" Aku berteriak kesal.
Sudah lima hari semenjak pemberontakan itu. Aku dibebaskan dari tuduhan karena telah berjasa membantu istana melawan pemberontak. Ya, banyak juga bangsawan yang menentang. Namun, ini sudah menjadi keputusan tetap dari raja.
Selama lima hari juga, aku kembali mengurung diri di kamar. Entahlah, aku hanya sedang tidak ingin melakukan apapun.
Paviliun sudan sepenuhnya diperbaiki, aku hendak kembali ke sana namun Duke memintaku untuk tetap di rumah induk. Sepertinya dia sepenuhnya bucin.
Sebuah keuntungan dan kerugian untukku. Keuntungannya aku tak perlu susah-susah untuk mencari makanan, kerugiannya karena Devian dan Alvin sering sekali menganggu.
Aku tahu mereka khawatir, namun tidak perlu juga bersikap keterlaluan khawatir.
Lima hari lalu, aku meminta maaf pada Jeremy. Aku tak akan lagi datang ke istana. Jeremy terlihat marah, namun bagaimana lagi. Aku mengira Jeremy sangat marah padaku, namun dia malah bergantian datang kemari.
Awalnya dia di usir, tak boleh masuk. Namun karena aku yang memintanya, mereka membiarkan Jeremy.
Jeremy selalu bertanya kenapa aku tak akan datang lagi ke istana. Aku sering menjawab dalam hati, aku tak ingin bertemu dengan Lucifer.
Di taman waktu itu..
Lucifer menatapku tidak mengerti. Aku hanya bisa tersenyum padanya.
"Apa? Kenapa kau bicara seperti itu? Kenapa aku harus membencimu?! Apa aku membuat kesalahan?" Lucifer bicara sedikit berteriak tidak terima.
Kenapa. Itu adalah pertanyaan yang harus dijawab dengan penjelasan. Aku tak bisa menjelaskannya.
Kesalahan. Tidak. Lucifer tidak melakukan kesalahan apapun.
Yang terlintas di pikiranku adalah masa depan. Light Show, novel yang dibangga-banggakan itu sudah hilang. Sekarang hanya ada kehidupan nyata. Aku sudah tidak peduli dengan ini.
Namun, peringatan dari Shadow membuatku memikirkannya sekali lagi. Lucifer harus membenciku, untuk mengalahkan Shadow bersama dengan Irene. Hanya itu alasanku.
Seperti kata Irene tadi. Mereka adalah takdir.
Aku mengangkat tangan kananku pada Lucifer, mengarahkan jari kelingking ku padanya. "Berjanjilah, anda akan membenci saya."
Lucifer melangkah mundur. "Tidak. Aku tidak ak-"
Aku menggenggam tangannya, mengaitkan jari kelingkingnya dengan kelingkingku.
"Lucifer zen Helga, Berjanjilah untuk selalu membenciku. Aku mohon."
Lucifer terlihat tidak ingin mengatakannya. Aku tahu ini sangatlah aneh. Tapi, dia harus membenciku. Aku merasa, tak lama lagi Shadow akan membuat kekacauan di kerajaan.
"Aku.." Lucifer ragu untuk bicara.
Aku tersenyum padanya. "Katakan saja, dasar badut." Ujarku berusaha untuk menyembunyikan perasaan.
Aku menghela nafas tipis. Menatap Lucifer seceria mungkin. "Ikuti kata-kataku. Lucifer zen Helga..."
"Lucifer.. zen Helga.." Lucifer masih terdengar ragu. Suaranya pelan.
"Akan.."
"... Akan."
"Membenci.."
Di kata ini, Lucifer terdiam sejenak. Dia menunduk. "... Membenci.." Ujarnya pelan meniru perkataan ku.
"Clea Luxia."
"... Clea Luxia."
Lenggang sejenak. Entah kenapa rasanya aku tak senang. Namun sepertinya aku akan merasa lega jika Lucifer mengatakannya lagi.
"Katakan lagi."
Lucifer tersentak, menatapku. "Aku tidak ingi-"
"Katakan." Aku bicara kembali.
Dia terdiam sejenak, menunduk kembali. "... Lucifer zen Helga... akan..." Ucapan Lucifer terhenti.
"Lagi."
"... Lucifer.. akan membenci.. Clea.." Ujarnya pelan.
"Lagi, yang lebih keras." Desakku.
Lucifer geram. "Aku membencimu! Aku akan membencimu!" Dia berteriak.
Aku tersenyum hambar, melepas kaitan jari kelingking kami. Lucifer tak berani menatapku.
Ya, sudah sepantasnya dia membenciku. Suatu hari di entah hari itu akan datang cepat atau lambat, Lucifer harus melakukan tugasnya.
Aku membungkuk hormat, "Terimakasih, yang mulia. Saya permisi."
Aku balik badan, meninggalkan Lucifer. Aku tidak tahu bagaimana ekspresinya sekarang. Aku tidak peduli, memang sudah seharusnya aku menghindar darinya.
Sejak saat itu, kami tidak lagi bertemu. Istana mengalami kerusakan gedung. Dengan cepat kabar pemberontak itu tersebar di seluruh wilayah. Semua bangsawan dan rakyat terkejut mendengarnya.
Mereka meributkan hal ini. Ada salah satu anggapan pemberontakan ini terjadi berkaitan dengan masalah di ibu kota. Aku menggeleng heran, kenapa mereka terlalu cepat menyimpulkan sesuatu? Raja sendiri saja tak meributkan hal itu, tapi kenapa mereka meributkannya?
Sekarang yang ada di pikiranku hanyalah perkataan Shadow waktu itu. Tak sepenuhnya aku memahaminya. Tapi dari kata-katanya waktu itu, seperti sudah tertera makna tertentu. Apa ada yang membuatnya memaksaku untuk menjadi partner? Eh?
"Partner?.."
Aku bergumam pelan. Alvin berhenti berlari, menatapku bingung.
Partner dalam Light Show bukan hanya semacam kontrak, namun juga penggabungan antara jiwa.
Tapi itu tidak mungkin, aku tidak pernah menerimanya. Sialan. Kepalaku sakit lagi, sudah beberapa hari ini sering sekali aku merasa pusing.
Alvin mendekat, "kau tidak apa-apa?" Tanyanya cemas.
Aku tersenyum tanggung padanya. "Kenapa kau menanyakan hal seperti itu?" Tanyaku.
Alvin menyentuh dahiku, aku menepis tangannya, merasa tak nyaman.
"Kau tidak demam. Tapi kenapa kau terlihat pucat?" Alvin bertanya.
Aku menghela nafas, "tenanglah, aku hanya kelelahan saja. Semalam aku tidak bisa tidur. Sini." Ujarku seraya mengambil kembali buku yang direbut Alvin.
Alvin menggenggam tanganku. Dia menariknya pelan, membawaku entah kemana. Aku terpaksa mengikutinya. "Hei, kita ingin pergi kemana?"
"Hanya untuk berjaga-jaga, kita akan pergi menemui Medias."
Medias adalah seorang dokter kediaman Luxia. Dia orang berbakat dalam ilmu kesehatan. Namun aku tidak suka dengan dokter.
Aku menepis tangan Alvin, dia menoleh ke arahku. "Tidak. Aku tidak ingin kesana, aku baik-baik saja."
Alvin menghela nafas, "Ayolah kakak, kau selalu saja begini. Medias tidak akan melakukan apapun, hanya memeriksa keadaan kakak."
Aku menggeleng, tanda tidak mau pergi. Sejak dulu aku tidak menyukai hal berbau kedokteran, karena obatnya yang pahit tentu saja.
"Tapi bagaimana kalau nanti kakak pingsan lagi seperti tiga hari yang lalu?" Alvin bertanya, terlihat wajah khawatirnya.
Aku menghela nafas, entah bagaimana aku bisa pingsan waktu itu. Aku hanya merasa mengantuk saja, tahu-tahu waktu bangun mereka sudah memanggil dokter lalu meminta ku meminum obat. Satu hari penuh aku tertidur.
"Itu tidak akan terjadi lagi, kau tenang saja. Aku baik-baik saja sekara-"
"Tuan muda Alvin, tuan Duke memanggil."
Ucapanku terpotong oleh seseorang di belakang, aku menoleh. Ternyata Ryan. Dia kepala pelayan yang baru. Baik, kompeten, ramah, dan jujur. Usianya dua puluh enam tahun.
Sempat aku mendengar Alvin berdecak. "Baiklah. Tapi antar Kak Clea ke kamarnya, pastikan dia istirahat dengan benar." Alvin memberi perintah. Aku menggeleng tak habis pikir.
"Baik. Akan saya pastikan Nona akan istirahat dengan baik." Ujar sopan Ryan.
Alvin menatapku, "ingat. Istirahat." Ucapnya berjalan pergi. Aku hanya bisa tersenyum tanggung dengan tingkahnya.
"Mari, Nona." Ryan bicara, aku mengangguk. Dia memanduku ke kamar.
"Ryan, kenapa tuan Duke memanggilnya?" Aku bertanya. Ryan tidak langsung menjawab.
"Hanya urusan kecil, Nona. Dan saya harap Nona memanggil tuan dengan sebutan 'Ayah'. Dia pasti akan kecewa jika anda terus-menerus memanggilnya dengan 'Tuan Duke'"
Ah, aku lupa hal itu. Duke memintaku untuk memanggilnya 'Ayah' lima hari lalu. Aku sedikit canggung dengan itu. Tapi akan aku usahakan. Hari ini sepertinya akan berjalan baik.
Tapi tidak. Dia mulai berulah.
^^^つづく^^^
Arigato for reading~ಥ‿ಥ