Lanjutan dari Dokter Cantik Milik Ceo
Namanya Sahara Putri Baskara, ia adalah seorang dokter muda, memiliki paras cantik dan pesona yang begitu luar biasa. Namun sayang ia terpaksa harus menikah dengan mantan suami wanita yang sangat ia benci, demi membebaskan dirinya dari jerat hukum yang akan ia jalani.
"Kalau kau masih mau hidup bebas dan memakai jas putih mu itu maka kau harus menikah dengan ku!" ucap Brian dengan tegas pada wanita yang sudah menabrak dirinya.
"Tapi kita tidak saling mengenal tuan," kata Sasa berusaha bernegosiasi.
"Kalau begitu mari kita berkenalan," jawab Brian dengan santai.
Lalu bagaimanakah nasip pernikahan keduanya, Sasa setuju menikah dengan Brian karena takut di penjara. Sementara Brian menikahi Sasa hanya untuk menyelamatkan pernikahan mantan istrinya, karena Sasa menyukai suami dari mantan istrinya itu.
Hanya demi menebus kesalahannya, Brian mengambil resiko menikahi Sasa, wanita licik dan angkuh bahkan keduanya tak pernah saling mengenal.
---
21+
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IPAK MUNTHE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
"Kamu baik-baik saja kan Nak, gimana bisa kamu hidup dengan seseorang yang tidak pernah kamu kenal. Bahkan kamu menjadi istri seorang pria yang tidak pernah kamu tau sebelumnya," Zakira masih terus menghawatirkan keadaan Sasa, walau pun ia melihat tidak ada bekas kekerasan pada tubuh anak nya namun tetap saja ia ingin mendengar jika anaknya benar-benar baik-baik saja.
"Sasa nggak papa Ma, Sasa cuman kangen aja sama Mama. Sasa baik-baik aja," jelas Sasa meyakinkan Zakira lagi.
"Sukur kalau begitu," Zakira tersenyum melihat putrinya baik-baik saja, kemudian ia menatap Brian, "Nak Brian, Mama minta maaf. Kalau Sasa masih banyak kekurangan, dia memang Mama besarkan dengan cara Mama yang terlalu berlebihan, kalau dia banyak melakukan kesalahan kamu salahkan Mama. Jangan kamu kasar padanya," terang Zakira, yang kini kembali berlinang air mata. Rasanya Zakira sudah banyak belajar dari apa yang selama ini terjadi pada dirinya, ia sungguh tidak bisa bila di jauhkan lagi dari Sasa. Dan ia sudah bertekad menjadi manusia yang lebih baik lagi, hanya demi bisa terus bersama dengan Sasa selamanya.
Brian diam ia hanya menatap Zakira dan mengangguk saja. Sementara Sasa memutar bola matanya dengan malas sebab Brian hanya bisa bersikap datar tanpa senyuman. Sasa ingin sekali melempar apa saja yang ada di dekatnya ke wajah Brian, namun urung ia lakukan karena Brian adalah suaminya.
"Mama Sasa masih kangen," ucap Sasa, ia kembali memeluk Zakira melepaskan rindu yang masih terasa.
"Iya sayang, Mama juga kangen," Zakira menyisir rambut Sasa, dan mengelus pipi Sasa dengan lembut.
"Ma, Sasa pengen pulang ke rumah. Sasa pengen tinggal sama Mama dan Papa lagi," pinta Sasa penuh harap.
Zakira tersenyum, ia menatap Brian lalu menatap wajah Baskara. Setelah itu Sasa kembali menatap wajah Sasa, "Kamu sudah menikah Nak, jadi kamu ikut bersama suami mu. Kemana dia pergi kamu ikut juga," terang Zakira.
"Tapi Ma," Sasa bukan tidak mau tinggal bersama Brian, hanya saja ia juga ingin bisa tinggal bersama Zakira walau hanya sehari saja.
"Kalau kami masih ingin bertemu Papa dan Mama, kamu tidak boleh bercerai atau pun membuat ulah lagi," terang Baskara dengan jelas.
"Papa apa sih.....ngancem mulu," Sasa memanyunkan bibirnya karena kesal pada Baskara.
"Papa serius."
"Sasa juga serius," jawab Sasa tidak mau kalah.
"ya....udah, Papa sama Mama pergi," Barsakata berdiri dan menarik lengan Zakira juga agar ikut bersamanya.
"Pa......" Sasa dengan cepat memegang lengan Baskara, "Iya, Sasa janji. Sasa bakalan jadi lebih baik," ucap Sasa agar Baskara tidak pergi.
"Iya, anak Papa pintar sekali," kata Baskara yang kini tersenyum dan ia kembali duduk di sofa tanpa berniat pergi lagi.
"Ih.....Papa, Sasa udah besar tau Pa," jawab Sasa, dengan sedikit kesal.
Baskara terkekeh melihat tingkah Sasa, kemudian ia menatap Brian, "Kapan pernikahan resmi kalian sekaligus resepsi nya akan di langsung kan?" tanya Baskara.
"Secepatnya Pa," jawab Brian.
Sasa hanya ingin tertawa melihat Brian yang memanggil Baskara dengan panggilan Papa, dan jawaban Brian masih saja sama tidak ada basa-basi sama sekali.
"Baiklah, Papa tunggu kedatangan kalian besok malam di rumah Papa. Nanti kita bicarakan semuanya, Papa harap tuan Pasha dan Nyonya Sindi juga datang," kata Baskara.
"Tapi Pa, Sasa masih kangen," Sasa memegang lengan Baskara agar tidak pergi, "Sasa ikut ya Pa?" pinta Sasa dengan melas.
"Kamu nanti datang ke rumah Papa sama Sumi mu," terang Baskara sambil membelai pipi sang putri.
"Tapi Pa."
"Nurut sama suami," kata Baskara lagi yang tidak ingin di bantah.
Sasa menatap Brian berharap Brian mau memberikan ijin pada dirinya, tapi tampaknya suami dingin nya itu tidak mengerti hingga Sasa hanya bisa mendesus kesal saja.
"Papa, sama Mama pamit ya Nak, kalian besok malam datang kami tunggu."
"Mama juga pamit," kata Zakira yang kini sudah bisa tersenyum lega, "Nurut aja ya Nak, Mama nggak pengen kamu jauh-jauh lagi dari Mama," ucap Zakira penuh harap.
"He'um," dengan berat hati Sasa mengangguk, meng-iyakan apa yang di katakan sang Mama, sebab ia pun tidak mau apa yang di katakan sang Mama terjadi lagi.
Setelah kepergian kedua orang tua Sasa, kini ia kembali duduk di sofa dengan kesal. Sasa duduk menunduk sambil mengacak rambutnya. Sementara Brian kembali ke kursi kebesarannya untuk bekerja, hingga membuat Sasa ingin sekali meremas wajah Brian.
"Mas!" kata Sasa memanggil Brian dari kejauhan, dengan nada yang sedikit meninggi. Namun Brian sama sekali tidak perduli ia terus berfokus pada laptop nya, "Mas....." Sasa lagi-lagi mengulanginya untuk memanggil Brian.
Brian menyandarkan tubuhnya dan menatap Sasa, namun ia tidak menjawab sama sekali panggilan Sasa barusan dan itu sungguh membuat Sasa semakin kesal saja.
"Mas, punya telinga nggak sih!" omel Sasa.
"Em," jawab Brian dengan singkat.
"Gila, sok keren banget sih......sama suara aja pelit banget" gerutu Sasa.
Brian kembali lagi pada pekerjaannya karena Sasa tidak langsung berbicara, dan akhirnya Sasa keluar dari ruangan Brian dengan membawa kekesalannya. Sejenak Brian menatap pintu yang sudah tertutup setelah kepergian Sasa, kemudian ia kembali lagi pada pekerjaannya. Beberapa saat kemudian Sasa kembali masuk dengan minuman di tangannya, ia mendekati Brian.
"Mas, ponsel aku balikin dong," pinta Sasa, sebab ia tau mungkin ada yang menghubunginya.
"Untuk apa?" tanya Brian yang kini menatap Sasa sambil tangannya mengambil minuman yang di tangan Sasa, dan meneguk nya.
"Yeeee......itu punya aku keles......" kesal Sasa menatap Brian, namun Brian hanya biasa saja. Akhirnya Sasa memutar bola matanya dengan malas, dan meletakan minuman sisa yang sudah ia minum namun di minum Brian lagi itu di atas meja, "Mas, ponsel aku mana?" tanya Sasa lagi.
"Buat apa?"
"Mas ayo dong......" Sasa mengetuk meja, ingin rasanya ia tidur guling-guling di lantai karena kesal pada pasien nya yang satu ini.
"Kemana?" Brian bukan memberikan yang ia inginkan tapi malah bertanya lagi.
"Mas, aku minta ponsel aku di balikin. Bukan ngajakin pergi, jadi mana ponsel aku sini balikin," Sasa menggerakkan-gerakkan tangannya di depan Brian.
Brian menatap tangan Sasa, kemudian ia mengambil ponsel dari saku jasnya dan memberikannya pada Sasa. Sasa hampir saja bahagia, namun kebahagian yang hampir saja datang itu kembali hilang karena Brian malah memberikan ponsel miliknya.
"Mas ini bukan ponsel ku," kesal Sasa sambil memberikannya lagi pada Brian, bahkan ia menghentakkan kakinya beberapa kali di lantai.
"Ya, aku tahu. Tapi kalau kau perlu pakai saja," kata Brian dengan santai.
"Ih......." Sasa meletakan kembali ponsel itu pada meja, dengan kesal, "Nggak ada nikah resmi, nggak ada resepsi. Terserah mau apa," kesal Sasa sambil ia berbalik keluar meninggalkan Brian.
"Sasa....." Brian memanggil Sasa namun sang istri tidak perduli, ia terus melangkah keluar dengan Brian yang mengejarnya.
***
Kakak baik hati semuanya, mohon Vote dan like.
Terima kasih.