JANGAN DIBACA!!!
ASLI, BUKAN TIME TRAVEL, YA!
HANYA KISAH ASAL PENUH PERKETYPOAN!
KALAU UDAH BACA, YA JANGAN NYESEL! BISA MENYEBABKAN MUAL DADAKAN, GANGGUAN SUSAH TIDUR, DIABETES BERLEBIHAN, DAN BUCIN DADAKAN.
(Gejala di atas berdasarkan survey dari zaman kuno hingga saat ini).
Bagai bulan yang tertutup awan, aku harus membuang semua hal tentangku, semua jati diriku, dan melanjutkan hidup sebagai kembaranku sendiri.
Terasa susah. Namun, itulah yang harus kulakukan. Hanya karena paksaan sang ayah dan juga kesalahan yang sepenuhnya bukan milikku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggrek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Harus Memanggil Dia, Apa?
Seperti biasa, aku diantar ibuku ke sekolah. Di depan gerbang, ibuku menurunkan aku. Sebelum turun pastinya aku berpamitan padanya, saat aku sedang berjalan ke arah gerbang masuk. Aku melihat 'Si Bodoh' berdiri di dekat gerbang, dia melambai sambil tersenyum dengan cukup lebar. Sepertinya dia tipe orang yang penuh semangat, tapi apa yang dia lakukan di sana. Apa dia sedang menungguku, jangan bilang apa yang aku simpulkan benar.
"Pagi, Ian!" ahh, ternyata dugaanku benar. Dia sedang menunggu kedatangan diriku. Apa dia tak pernah berpikir, aku mungkin saja tak masuk sekolah hari ini. Akan sia-sia dia menunggui diriku kalau itu terjadi.
"Pagi," balasku singkat. Aku masih bingung harus memanggil dia apa, di seragam sekolahnya tertulis nama Rafael . W dengan huruf miring. Apa aku memanggil dia Rafa, Fa, atau Raf. Kalau salah panggil dan tak seperti dulu, pasti dia akan berpikir yang bukan-bukan lagi tentangku. Kemarin saja dia bertanya ini itu karena aku tak mengenalinya, yah, meski aku bisa menghindar dengan mengatakan dirinya berubah. Namun, aku ragu kalau dia akan percaya jika aku memberi alasan seperti lupa atau hal remeh lainnya.
"Ayo, kita ke kelas bersama," ajaknya kemudian, sepertinya aku terlalu lama diam setelah membalas sapaannya tadi.
Aku hanya mengangguk dan Rafael mengikuti langkahku dari belakang. Sampai di kelas, aku kembali duduk di bangku kemarin. Selain karena itu bangku yang ditunjuk guru untukku, pemandangan di luar jendela cukup mengurangi kejenuhan karena pelajaran yang menurutku membosankan. Coba saja kalian makan sesuatu yang sama berulang-ulang kali, pasti kalian juga akan merasa bosan bukan. Itu yang aku alami dengan yang namanya pelajaran, mungkin karena aku termasuk jenis manusia yang akan hapal dalam sekali lihat. Makanya aku tak suka mengulang pelajaran. Semua yang kubaca seperti tersusun secara rapi di suatu tempat di dalam otakku. Jujur, aku menyukai hal tersebut, itu membuatku mudah dalam belajar dan mengingat semuanya.
Kulihat Rafael berbicara sebentar dengan siswa yang duduk di sebelahku, dia meminta siswa tersebut bertukar tempat. Dasar bocah, ada-ada saja kelakuannya. "Kita bersebelahan!" katanya dengan nada senang dan terlihat jelas kalau dia sangat puas dengan itu.
Aku hanya menatap sekilas, kemudian kembali menatap keluar jendela. ""Aku tahu, aku lihat sendiri bagaimana kamu membajak kursi orang tadi," kataku membalas ucapannya dengan nada ringan, tak ada maksud mengejek apalagi mencela dirinya. Aku hanya memberikan respon setelah terdiam sebentar. Bel masuk menyelamatkanku, jika bel belum berbunyi, aku sangat yakin, seyakin-yakinnya, Rafael pasti akan membalas perkataanku barusan. Baru kali ini aku bersyukur diselamatkan oleh bel masuk kelas.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Bel pergantian pelajaran berdering nyaring, kulihat wajah lesu Rafael yang duduk di bangku sebelahku. Tampak jelas dia frustasi, tapi dia mencoba bersikap biasa saja. Aku mencoba mengajak dia berbincang, karena guru kami juga belum datang. Yah, siapa tahu dengan berbincang sejenak sebelum guru datang, bisa membuat sahabatku itu kembali semangat, meski hanya sedikit dan aku tak yakin juga akan hal tersebut.
"Istirahat kamu mau kemana?" tanyaku asal yang penting ada topik yang menjadi bahan obrolan untuk kami berdua.
Dia menoleh dengan cepat ke arahku, wajahnya sedikit menyunggingkan senyum manis. "Gue ikut lu aja!" balasnya dengan semangat, sepertinya dia kembali bersemangat saat ini. Apa iya ini karena aku mengajaknya berbincang, ya.
Aku berpura-pura berpikir sejenak, ini bukan hal sulit untuk dilakukan jika dirimu telah terbiasa mengatur ekspresi serta mimik wajah. "Kantin? Mau?" tanyaku menawarkan. Kemarin dia sudah mengikuti diriku ke perpus, jadi hari ini aku memutuskan untuk mengajaknya ke kantin saja.
Dia mengacungkan jempolnya. "Gue tahu makanan apa yang enak! Jadi gak sabar nunggu istirahat!" ungkapnya dengan wajah berseri, dia terlihat senang dengan ajakan dariku.
"Aku juga!" kataku memberikan senyum simpul yang singkat. Guru yang mengajar kelas berikutnya akhirnya tiba, aku diam-diam menghela napas lega. Pelajaran pun dimulai, selama pelajaran berlangsung, aku lebih sering menatap keluar jendela. Kelakuanku yang seperti itu terkadang membuat guru yang mengajar sedikit emosi, mereka akan menanyakan pertanyaan yang rumit padaku. Berharap aku tak mampu menjawab dan akan mendapatkan teguran, bisa jadi aku juga akan dapat Omelan. Tapi sayangnya, keinginan mereka tak terkabul. Tak ada yang tahu aku sudah lulus, kuliahku pun sudah aku selesaikan. Aku sekolah hanya karena ibuku menginginkannya, jika bisa lebih baik aku bekerja di belakang layar, mengurus perusahaan ayahku saja. Itu lebih menantang daripada belajar dua kali.
"Ya, anak-anak! Kita akhiri pelajaran kita sampai di sini! Jangan lupa kerjakan tugas kalian dan kumpulkan sebelum tenggat waktu yang saya berikan!" kata guru yang berdiri di depan mengakhiri kelas tepat ketika bel selesai berbunyi.
"Kalian bisa istirahat sekarang," lanjut guru itu lagi setelah beberapa murid menjawab iya untuk perintah yang dia berikan sebelumnya.
Rafael berdiri dari duduknya, dia menggeret tanganku dengan pelan untuk keluar kelas. Sepertinya dia ingin cepat-cepat sampai di kantin sekolah. Aku jadi menantikan menu apa yang akan dia pesankan untukku sebenarnya.
"Duduk di sini, biar gue yang pesankan sekalian!" katanya menunjuk meja di depan kami. Aku pun mengangguk, mataku mengikuti kemana dia pergi.
Tak lama dia kembali dengan nampan di tangannya. "Ayo, dimakan! Kalau udah dingin kurang enak," ocehnya menggeser sepiring nasi goreng. Keliatannya sih enak kalau dilihat dari tampilan dan baunya, tapi aku kurang yakin akan itu.
"Makasih," kataku. Aku mencicipi sesendok dan mengunyah dengan pelan. Ada rasa yang sangat kukenal di lidahku yang terasa, tapi aku lupa apa itu. Kumakan lagi sesuap demi sesuap nasi goreng di depanku, bukan karena enak, tapi karena aku penasaran dengan rasa yang tertinggal di lidahku ini.
"Kawan, kalau kurang gue masih bisa pesankan lagi buat lo. Jadi nyantai aja makannya," suara Rafael terdengar.
"Eh, Ian! Muka lo kenapa gitu? Perasaan tadi gak ada, deh," tegur Rafael membuat aku berhenti menyendok dan langsung menatap dirinya.
"Apa? Kenapa?" tanyaku, tanganku pun langsung menggaruk wajahku. Apa alergiku kambuh.
"Muka lo merah-merah gitu! Lo sakit, Ian?" tampang Rafael langsung berubah khawatir, dia meletakkan lembar uang lima puluh ribu di atas meja.
"Ayo, gue antar ke UKS!" katanya, dia langsung menghentikan tanganku yang sibuk menggaruk wajahku sendiri.
"Sebenernya lo kenapa, sih Ian?" ucapnya bingung. Sampai di UKS, aku ditolong oleh perawat di sana, wajahku dioles salep, gatal yang kurasakan tadi pun lumayan berkurang. Rafael menatapku dengan tatapan curiga sekaligus khawatir, tapi aku tak mau menjelaskan jika dia tak bertanya.
ayang bebeb disuruh jd tukang parkir 😝😝😝😝