NovelToon NovelToon
Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Tamat
Popularitas:722.8k
Nilai: 4.5
Nama Author: Mar Dhyah

Kisah cinta seorang wanita yang berbalut iman dengan pria bejat yang merenggut kehormatannya.

Chayra Azzahra harus ikut Om dan Tantenya tinggal di sebuah pesantren atas wasiat dari Almarhum bapaknya. Dia akan menikah dengan salah seorang pria shaleh di pesantren itu.

Namun, sebuah tragedi membuatnya terjebak dalam sebuah pernikahan dengan laki-laki bejat kekasih sahabatnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mar Dhyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Makan malam pertama

Chayra menatap pantulan dirinya di depan cermin. Setelah yakin tidak ada yang kurang dari penampilannya, dia tersenyum. Tidak ada yang terlihat berlebihan juga dari penampilannya. Ia beranjak ke ruang tamu. Dimana sudah ada Ghibran yang sedang menunggunya bersama Pak Ismail di sana.

Ghibran tercengang menatapnya. Matanya tidak berkedip. Hal itu tentu saja tidak lepas dari pengawasan Pak Ismail.

"Istighfar, Nak. Kalau kamu tidak bisa mengendalikan pandanganmu. Abah sepertinya akan mengundurkan diri. Tidak jadi menghadiri undangan makan malam ini."

"Astagfirullahal'adzim, Maafkan Ghibran Abah. Insya Allah, Ghibran akan berusaha menjaga diri kedepannya." Ghibran langsung menunduk.

Pak Ismail menggeleng-geleng pelan. "Perasaan Abah, sebelumnya kami tidak pernah segila ini pada wanita. Saat melihat wanita, wajah kamu terlihat lempeng-lempeng saja. Kok, sama putri Abah, kamu seperti orang yang tidak bisa mengendalikan diri."

Ghibran hanya tersenyum meringis, mengusap-usap tengkuknya. "M.. maafkan Ghibran, Abah."

"Jangan diperpanjang, Abah. Sebaiknya kalian berangkat sekarang. Ini sudah pukul delapan lho." Bu Ainun mencoba menengahi.

Ghibran mencoba mengangkat sedikit wajahnya. Berniat melihat ekspresi Pak Ismail. Namun orang yang berniat ia lihat ekspresinya, malah sedang fokus menatap layar handphonenya.

"Ayo," Ucap Pak Ismali setelah beberapa menit.

"Hati-hati di jalan. Abah harus ingat, jangan mengajak Ayra pulang terlalu malam. Besok di akan melakukan perjalanan jauh."

"Iya, Ummi Sayang. Insya Allah, sebelum jam sebelas malam kami sudah kembali." Pak Ismail mencium kening istrinya sekilas sebelum benar-benar berangkat.

Chayra mencium tangan Bu Ainun setelah Pak Ismail selesai dengan ritual perpisahan dengan istrinya.

Tidak ada percakapan berarti sepanjang perjalanan. Hanya beberapa kali terdengar percakapan antara Ghibran dan Pak Ismail. Sedangkan Chayra hanya diam di kursi penumpang.

Chayra keluar lebih dulu setelah mobil berhenti. Memperhatikan sekeliling tempat yang ia datangi. Tempat ini baru pertama kali ia datangi. Restoran yang terlihat sangat asing di matanya. Pak Ismail dan Bu Ainun sering mengajaknya keluar untuk makan malam. Tapi, tak sekalipun mereka pernah mengajaknya ke tempat ini.

Ia menatap ke belakang. Menatap Pak Ismail dengan penuh tanda tanya.

"Ada apa, Ayra? Kenapa menatap Abah seperti itu?" Pak Ismail menghentikan langkahnya. Ghibran ikut menatap Chayra bingung.

"Tempat ini terlihat asing di mata Ayra. Apa sebelumnya kita tidak pernah kemari?"

Ghibran tersenyum mendengar pertanyaan Chayra. "Aku tidak akan mengajak kamu mendatangi tempat yang biasa kamu datangi. Sebelum berencana mengajakmu kemarin. Aku dan Abah sudah mendiskusikan tempat terlebih dahulu."

"Kok, aku tidak dikasih tahu?"

"Iya.. tidak spesial dong namanya kalau kamu dikasih tahu dulu."

"Masalah tempat ini, nanti kalian berdebat lagi. Kita harus masuk sekarang karena Papi dan Mami kamu sudah menunggu di dalam." Pak Ismail langsung mengakhiri perdebatan di depannya. Menarik tangan Ghibran, agar berjalan di depan mereka.

"Ayra, jangan berjalan berdampingan dengan Ghibran. Kamu sini, berdampingan dengan Abah saja."

Chayra tersenyum meringis, berjalan mundur mensejajarkan tubuhnya dengan Pak Ismail.

Suasana makan malam yang penuh dengan keberkahan. Awalnya, Chayra merasa kaku melihat anggota keluarga Ghibran yang hadir. Bukan hanya Papi dan Maminya saja. Namun, kedua adiknya, Om, Tante, dan juga Kakek Neneknya ikut serta.

Namun, karena mereka semua ramah dan bersikap baik sekali pada Chayra dan juga Pak Ismail. Rasa kaku itu perlahan-lahan berubah menjadi kehangatan.

Kembali dari makan malam itu, Chayra langsung ambruk di atas tempat tidur. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas lewat tiga puluh menit. Pak Ismail hanya berulang kali minta maaf pada Bu Ainun karena membawa Aura pulang terlambat.

"Kenapa sampai selarut ini, Abah?"

"Kami lupa waktu, Ummi. Keluarganya Ghibran penuh dengan kehangatan. Mereka membuat kami nyaman bergabung dengan mereka."

"Terus bagaimana dengan kepulangan Ayra besok?"

"Iya... bagaimana lagi. Dia akan pulang. Tiket kan sudah dipesan."

"Ummi akan ikut ke rumah Santi kalau begitu."

"Lho, kan Ummi mau mengurus persiapan lamaran di sini."

"Ummi sudah memberitahukan semuanya pada Santi. Dan dia tidak mau kalau lamarannya disini. Bagaimanapun juga, Santi ingin agaracaranya diselesaikan di rumahnya."

"Kalau begitu kita tunda keberangkatannya Ayra."

"Masalah itu Abah yang urus. Ummi pusing, mau istirahat dulu." Bu Ainun memijit pelipisnya. Berlalu dari hadapan Pak Ismail.

"Abah juga capek, Ummi. Butuh istirahat dan pelukan hangat Ummi." Mengikuti langkah Bu Ainun ke dalam kamar.

"Tidak menepati janji, masih tidak malu minta peluk sama Ummi?" Bu Ainun menggeleng-geleng kesal. "Tuh, Abah peluk bantal guling." Melempar bantal ke arah suaminya.

Dengan sigap, Pak Ismail berhasil menangkap bantal yang di lempar istrinya. Rasanya ingin tertawa melihat ekspresi kesal Bu Ainun. Namun, wanita itu terlihat tidak perduli dan sudah menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebal.

"Kalau sudah begini, bakalan libur nih kita ceritanya." Pak Ismail ngedumel sendiri. Meletakkan bantal di sisi tempat tidur lalu beranjak ke kamar mandi.

* * *

Chayra mengucap hamdalah setelah pesawat mendarat. Bibirnya mengulas senyum saat matanya menatap sekeliling dengan penuh rasa kagum. Dua tahun yang lalu dia berada di tempat ini. Namun, kali ini pemandangannya terlihat berbeda. Semua terlihat baru karena direnovasi.

"Mau pesan taksi online, Nak?" Bu Ainun menepuk pundak Chayra yang masih terkesiap melihat tempat di sekelilingnya.

"Eh, maaf, Ummi. Ayra terlalu bahagia bisa melihat tempat ini lagi. Ummi bilang apa tadi?"

"Pesan mobil online, Nak. Kamu dari tadi melihat sekeliling terus deh."

"Hehehe.." Chayra menggaruk-garuk kepalanya. "Kemarin Ibu bilang, dia yang mau menjemput ke Bandara."

"Apa kamu sudah menghubunginya lagi?"

"Belum, Ummi."

Baru saja mengakhiri kalimatnya. Bibir Chayra mengembang sempurna saat melihat ibu dan adiknya melambaikan tangan ke arahnya. "Itu Ibu dan Bian, Ummi." Chayra langsung berlari kecil mendekati ibunya.

Bu Ainun menarik tangan Amrina putrinya agar mengikuti Chayra. Mendekat ke arah Santi, adik iparnya.

Tangis haru pertemuan berlangsung sekitar setengah jam. Chayra enggan melepaskan pelukan ibunya. Bian juga ikut nemplok pada kakaknya.

Bu Ainun hanya Mengusap-usap punggung adik iparnya itu.

"Kita pulang, Nak. Kasihan Tante kamu capek. Kamu juga pasti capek kan?" Bu Santi tersenyum sambil mengusap-usap kepala putrinya.

"Iya, Bu. Tapi, Ayra kangen sama Ibu." Chayra beralih menatap adiknya. "Kangen sama Bian juga." Chayra mencubit gemas pipi adiknya.

"Kakak jangan mulai iseng sama Bian. Kakak tidak lihat tubuh Bian sekarang. Udah gede..." Bian mengukur tubuhnya yang hampir sama tinggi dengan Chayra.

"Mulai deh, kamu ini, Dek. Baru saja bertemu dengan Kakak." Chayra mengacak-acak rambut adiknya. "Tapi, kamu ini ngangenin banget deh."

"Sudah, anak-anak. Kita pulang sekarang. Mana, Mbak, kopernya biar Santi yang bawa."

Bu Ainun menyerahkan kopernya pada Bu Santi. Mereka berjalan beriringan menuju mobil.

--------

Malam itu, Bu Santi mengajak Bu Ainun dan Chayra berkumpul di Ruang Keluarga. Bian disuruh ajak Amrina main di rumah Bu Sulis.

"Kenapa Ayra tiba-tiba mau menikah, Mbak? Bagaimana rupa laki-laki yang akan menjadi calon menantu itu?" Bu Santi membuka percakapan yang menjadi beban pikirannya sejak semalam.

"Kalau menurut Mbak, Insya Allah, Ghibran itu laki-laki yang bertanggung jawab, Dek. Dia itu seorang Dosen. Sudah mandiri dan punya rumah sendiri. Tapi, kebanyakan waktunya dia habiskan di Pesantren. Kamu masih ingat dengan Pak Marzuki?"

"Pak Marzuki yang mana maksud Mbak?"

"Pak Marzuki Guru IPS Ekonomi. Masih ingat tidak?"

"Pak Marzuki Guru IPS Ekonomi.." Bu Santi mencoba mengingat-ingat. Tidak lama kemudian, matanya terlihat berbinar. "Oh, iya, Mbak, Santi ingat sekarang. Pak Marzuki yang matanya sipit dan mirip artis Korea itu, kan?"

"Mmm.. kalau giliran Guru tampan malah tidak bisa dilupakan. Malah bilang mirip artis Korea segala lagi. Mana lebih tampan, Almarhum Arianto atau Pak Marzuki?"

"Iya.. lebih tampan suami aku lah, Mbak. Kita kembali ke topik awal. Jangan bahas hal yang tidak perlu dibahas. Ada apa dengan Pak Marzuki?"

"Dia itu calon besan kamu."

Santi tercengang mendengar ucapan Ainun. "Maksud Mbak, Pak Marzuki itu ayahnya Ghibran?"

Bu Ainun mengangguk mantap. "Betul sekali. Waktu dia ngajar kita dulu kan, dia masih muda. Nah, Sekarang dia yang kamu bilang mirip artis Korea sudah punya anak yang bernama Ghibran Abdullah. Dan lebih hebatnya lagi, sebentar lagi anaknya yang tidak kalah tampan dengan bapaknya itu akan menjadi menantu kamu."

"Masya Allah, dunia memang sempit ya Mbak?"

"Siapa bilang dunia sempit? Kita dari Pesantren kemari saja pakai pesawat."

Bu Santi menyebikkan bibirnya. "Maksud aku nggak kayak gitu juga, Mbak."

"Sstt... Kak Ghibran nelpon." Chayra menghentikan perdebatan dua wanita di depannya. Dua wanita itu langsung fokus pada Chayra.

* * *

1
Danny Muliawati
semangat Ardian
Danny Muliawati
gerak cpt Ardian utk mencari info
Danny Muliawati
tunggu aza akibat dr perbuatan Lo AMIRA
Danny Muliawati
Luar biasa
Danny Muliawati
astagfillahalazim manusia seta SD i Ardian smga segera dpt balasan
Danny Muliawati
kan kejadian si brengek Ardian smga ada yg nolong ya Allah
Danny Muliawati
kok AQ was2 yah dg omongan si Ardian SM ayra
Risma putri Anggraini
parah banget sih ardian
Sadiah
Bagus ceritanya aku suka bangett,, 😊👍
Sadiah
Bagus ceritanya aku suka bangett,, 😊👍
cahaya
menarik 🌹🌹🌹
cahaya
up
Sila Watyi
jahat sekali kka author,,ikut nangiss😭😭😭
Yus
Kecewa
Vivi
👍👍👍👍
Sadiah
lucu suaranya acara cadel gitu,, 😘🥰
Sadiah
yach.. udh habis aja belom liat anak kedua nya... mudah²an ada sambungan nya lagi baby yg kedua chayra&Adrian ☺👍👍
Sadiah
jadi dehh adik buat adzra
Sadiah
sedih banget bacanya episode ini 😭😭
Sadiah
sabar ardian sesungguhnya Allah itu lebih deket dengan seorang pendosa apa lagi kamu benar² bertaubat Allah lebih mencintai Adrian 😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!