"Aku pikir setelah bertemu denganmu aku akan bahagia, tapi yang aku dapatkan hanya kecewa!"
Namun, awal pertemuan yang diharapkan akan menjadi kesan indah yang membahagiakan, justru berbanding terbalik saat Eva mengetahui siapa orang yang selalu ada untuknya. Akankah cinta itu hadir kembali dalam hidupnya, atau hanya akan menjadi kenangan saja?
Ilustrator: Sky_graphic
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kamila Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih tetap asing untukku
Setelah sekian jam berada di dalam pesawat bersama Yudi, akhirnya Eva bisa menghirup udara di Amerika saat dirinya telah sampai di luar bandara. Yudi membiarkannya berkeliling kecil di depan sana, di dekat taman kecil di pinggiran jalan. Sesekali pemuda itu tersenyum saat Eva melambaikan tangannya, menyuruh dirinya untuk menghampiri gadis itu. Tapi Yudi menggelengkan kepalanya, menolak dan memilih duduk di pinggiran jalan, sembari memainkan ponselnya.
Saat ponsel baru saja menyala, sudah banyak sekali panggilan dan pesan yang masuk ke dalam ponselnya. Ini pasti kak Dewi, pikirnya. Dan benar saja, di layar itu tertera nama Dewi.
Belum sempat menghubungi balik Dewi, Eva sudah ada di hadapannya dengan wajah sedikit sendu.
"Ada apa," tanya Yudi. Gadis itu menunjukkan luka yang ada di lututnya, tergores dan sedikit berdarah di permukaan kulit itu. Yudi segera membasuh lukanya dengan air mineral yang dia bawa.
"Lain kali kamu hati-hati ya, jangan terlalu petakilan," ucap Yudi sambil mencubit manja pipi gadis itu.
"Yud, aku sedikit pusing." Eva terduduk di bangku yang hendak mereka tinggalkan. Yudi segera menelepon seseorang untuk menjemputnya, dan tidak perlu waktu lama mobil jemputan pun sudah datang. Karena memang jarak rumah dan bandara tidak terlalu jauh.
"Pak silahkan masuk," ujar sang supir pada Yudi. Dia membantu Yudi membukakan pintu untuk dirinya dan Eva.
"Bawa kami ke apartemen." Yudi sangat panik karena Eva terlihat pucat, dia tertidur di pangkuan Yudi. Sang supir melirik lewat kaca yang ada di atas kepalanya.
"Apa sebaiknya kita pergi ke dokter dulu pak?" Supir itu menawarkan diri, karena melihat Yudi yang sangat panik dan terlihat sangat sayang pada gadis itu.
Sudah dua puluh lima tahun sang supir bekerja untuk keluarganya, dan mereka berdua sudah tidak asing lagi satu sama lain. Terkadang sang supir yang selalu memberikan saran untuknya.
"Di sini sepertinya tidak ada rumah sakit yang dekat," ujar Yudi. Sang supir tampak ragu untuk berkata, tapi tetap dia mengatakannya.
"Sebenarnya di depan sana ada dokter yang buka praktek hari ini."
"Biar ku ingat, di depan bukannya dokter kandungan?" Mendengar itu Eva langsung bangkit, dia tampak gugup dan merona. Bagaimana bisa Yudi berkata seperti itu, dia akui dia pernah melakukan itu dengannya. Tapi bagaimana mungkin bisa secepat itu terjadi.
"Kita langsung pulang saja Yud. Aku hanya kecapekan saja kok," pinta Eva.
"Baiklah."
___
Eva sudah terbaring di dalam kamar yang cukup luas. Kasurnya empuk dan nyaman. Saat dia terbangun, dia hanya sendirian tidak ada Yudi ataupun orang lain. Saat hendak duduk menyandarkan tubuh di kepala kasur, Eva merasa kepalanya semakin berat. Dia pun berbaring kembali.
"Kenapa dengan kepalaku," gumam Eva seraya menyentuh kepalanya. Dan tidak lama kemudian Eva melirik sekilas saat pintu kamar terbuka, terlihat samar orang yang datang namun suaranya masih bisa dia dengar.
"Kamu sudah bangun Ev," tanya seorang wanita yang sudah lama suara itu dia kenal.
Eva tidak bisa membuka matanya, sakit di kepala membuatnya terpaksa memejamkan mata.
"Kak Dewi," gumam Eva. Kemudian Eva merasakan sentuhan lembut di kepalanya, sentuhan yang sudah beberapa tahun tidak dia rasakan.
"Iya ini aku, Eva. Kamu kenapa seperti ini? Aku harap kamu cepat sembuh, aku tidak sabar ingin memelukmu." Ucapan itu membuat Eva merasa geli, pasalnya dulu mereka sering berantem. Bahkan untuk akur saja setelah keduanya saling berjauhan.
"Sekarang aku akan tinggalkan kamu sendiri, jika sudah sembuh datanglah ke rumahku." Suara langkah kaki itu kemudian menjauh, Eva tahu kakaknya itu sudah pergi saat suara pintu tertutup kembali.
Eva masih merasa asing dengan kakaknya, walaupun mereka berdua memiliki ikatan yang sangat kuat, ternyata perasaan itu masih sama seperti dulu. Yang Eva inginkan sekarang adalah Yudi berada di sisinya, menemaninya saat dirinya terbaring tidak berdaya. Terakhir bertemu dengan pemuda itu kemarin, dan sampai saat ini dia belum bertemu lagi.
Dalam ketidak-berdayaannya itu, perlahan air matanya menetes. Dia merasa sedih kepada dirinya sendiri. Lalu suara pintu kembali terbuka, langkah kaki mulai mendekati dirinya. Dan dia sangat senang karena yang datang adalah Yudi.
"Bagaimana tidur kamu, nyenyak?"
"Yud, kenapa kamu baru ke sini sekarang? Aku takut sendirian." Eva meremat tangan Yudi dengan kuat.
"Kemarin tiba-tiba ada kerjaan yang harus aku selesaikan dulu. Maaf sudah membuat kamu merasa sendirian," ujarnya sambil mengecup kening gadis itu.
"Apa kamu sudah bertemu kak Dewi?"
"Sudah! Tapi hanya sebentar."
"Kenapa kamu tidak bersemangat? Bukankah kalian sudah lama tidak bertemu, pasti banyak sekali hal yang kalian ceritakan."
"Aku tidak tahu kenapa, tapi perasaanku masih sama seperti dulu. Dia tetap asing bagiku, Yud."
"Mungkin karena sudah lama tidak bertemu, jadi kamu merasa seperti itu."
Yudi melihat makanan yang masih utuh belum tersentuh sedikitpun di atas meja.
"Dan ini kenapa makanannya belum di makan?"
"Aku tidak bisa bangun Yud, kepala ku sakit banget."
"Aku suapin ya, setelah itu minum obat. Aku ingin sekali mengajak kamu berkeliling."
____
Hari ini Yudi akan kembali lagi ke Jogja bersama Novi. Dia terlihat sangat kacau beberapa hari ini. Dan Ayu sudah pindah dari kosan, karena masalahnya dengan Novi yang membuat dirinya di usir oleh Ibu Santi.
"Kak Arya ayo dimakan dulu nasi gorengnya, aku buatkan spesial buat kakak." Novi menyendoki nasi ke piring untuk dia berikan kepada Arya.
"Tante bagaimana ini? Kak Arya tidak mau makan masakan aku." Gadis itu mengadu pada tantenya.
"Arya jangan buat mamah marah dan penyakit mamah kambuh lagi, cepat habiskan," bentak wanita itu. Arya dengan terpaksa memakannya.
Hanya beberapa suap makanan, dia sudah mengakhirinya. Dan berpamitan sebentar untuk pergi keluar.
"Aku sudah kenyang." Pemuda itu meninggalkan keduanya yang masih menikmati makanannya.
___
Tanpa sepengetahuan ibunya, Arya sebenarnya sudah ada janji dengan Ayu untuk bertemu.
Terlihat gadis itu sudah menunggunya di kursi kecil di pinggiran taman, tempat terpojok.
Ayu melihat Arya menghampirinya, dan dia merasa gugup saat pemuda itu mulai mendekat.
"Maaf membuat kamu menunggu lama," ujar Arya.
"Tidak kok. Ada apa?"
"Aku bingung mau mulai dari mana, tapi aku merasa hatiku bimbang jika aku tidak mengatakan ini pada kamu."
"Aku akan mendengarkan, jadi tidak usah merasa bingung."
Kemudian pemuda itu mulai menceritakan kegelisahannya pada Ayu. Semenjak Eva tidak ada, dia lebih nyaman berbagi cerita kepada gadis itu ketimbang yang lainnya.
Mungkin karena kepribadian Ayu sedikit mirip dengan Eva atau memang gadis itu bisa menempatkan diri menjadi teman curhat yang baik.
Ayu merasa senang sekaligus sedih juga, karena ternyata cinta memang bisa membuat pemujanya menjadi gila. Lihat saja pemuda yang ada di hadapannya kini, wajah yang pucat dan badan yang kurus. Seperti mayat yang di beri nyawa, tetapi juga enggan untuk hidup. Itulah gambarannya.
jangan patah semangat ea thoor 😘
ohyaa, akuu jugaa writtrer lohh btw, bisaa juga kalian baca ceritakuu, namanya "My Girlfriend Is Mafia". Mohon dibacaa yaa eehhehehee.. Makasi bangett bagi yang sudah nyempetin baca 😊😊
semangat buat thor nyaa!! 💪💪
salam dari: Monopoli Cinta Tuan Muda.
Mari saling mendukung ☺
suka...🤩🤩🤩