"Aku lihat kamu mirip seseorang."
"Mirip siapa?"
"Mirip menantu idaman Papaku."
---
Diego dan Alita, mereka terlihat seperti remaja biasa. Ke sekolah dan belajar seperti siswa pada umumnya.
Perfect partner yang usil dan jahil, tidak sesederhana yang terlihat. Layaknya tumbuhan hijau pemangsa, keduanya menunggu dan memangsa, dan akan menyerang balik jika ada yang mengganggu.
Siang dan malam adalah waktu yang berbeda, begitu pula dengan identitas Mistletoe, Shaun dan Lele.
Status : Tamat.
Lagu rekomendasi :
Johnny Orldano - What if - ft Mackenzie Ziegler
Johnny Orlando - Everybody Wants You
Johnny Orlando - Last Summer
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xiie Lu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Shaun & Lele 28
Happy reading!
.
***
Sosok yang di hadapan mereka saat ini sungguh berbeda. Bukan lagi pemuda cupu dan berkacamata dan membosankan untuk dilihat.
Alita menganga tidak percaya, Summer telah berubah. Lembaran soal yang diberikan guru tadi sampai terjatuh karena saking terkejutnya dia. Beberapa mulut mulai memuji bahkan pendengaran Alita mulai panas oleh pembicaraan tidak ada akhlak itu.
Masih bergeming, Alita kembali menilik penampilan Summer yang tidak biasa di matanya. Bukan pada ketampanan Summer yang mulai menguar dalam fisik sempurna itu. Rambut acak-acakan dengan bando melingkar di keningnya, seragam yang berbanding terbalik dengan pakaian biasa. Kalung panjang menghiasi lehernya.
Bahkan senyum yang terukir di bibir yang murah senyum itu berubah seratus delapan puluh derajat, sunggingan tipis dan miring terpatri di sana. Alita menggeleng tidak percaya. Pemuda di hadapannya ini bukan Summer.
Tanpa mengucapkan salam, Summer langsung beranjak ke tempat duduknya dan pandangan Alita masih tertuju padanya.
"Nona Dario, kembali ke tempat dudukmu!"
Pikiran Alita masih kosong, tapi rupanya pendengaran itu masih berfungsi sempurna. Dengan gontai dia kembali ke tempatnya.
"Nona Dario!" Panggilan datar dan tegas kembali terdengar, Alita menengok. "Yeah?"
Tanpa berkata apa pun, Mr. Kim menunjuk dengan dagunya pada kertas putih yang jatuh di lantai. Alita menyengir lalu kembali memungut benda tipis itu. "Sorry, Sir," ujarnya dan berlari kecil.
Pandangan Alita masih tertuju pada pemuda dengan penampilan tak biasa itu. Summer duduk dengan santai, tanpa peduli pada panggilan Mr. Kim di depan sana.
"Summerall Owhadi, sekarang giliranmu untuk menyelesaikan soal di papan!"
Bibir Summer membentuk seringai tipis, dengan santai dia bangun dan menuju ke papan tulis. "Ini pelajaran untuk kelas XII, kenapa diajarkan untuk kelas XI, Mr. Kim?" tanya Summer sebelum menyelesaikan soal tentang statistik.
Mr. Kim terkekeh kecil, lalu pandangannya terkunci pada perubahan pemuda di hadapannya. Sangat berubah. Dia bersedekap dan melangkah tepat di hadapan Summer. "Ini lingkungan sekolah dan ada peraturannya, kenapa kamu memakai aksesoris berlebihan?"
Summer mengerjap ragu, namun seringai tipis masih melekat di bibirnya. "Ini tidak ada hubungannya dengan materi statistik ini, Mr. Kim," ujarnya.
"Why not? Kamu menanyakan kenapa saya mengajar materi kelas XII, tentu saja saya harus bertanya kenapa kamu berpenampilan seperti itu." Seringai tipis juga terbit di bibir Mr. Kim, dan entah kenapa, Alita yang berada di jajaran kursi nomor dua dari belakang merasakan atmosfer di ruang kelas berbeda.
Tidak ada sahutan lagi dari Summer, dengan lincah dia menyelesaikan penyelesaian tentang nilai mean. Sementara Mr. Kim mengangguk-angguk sambil matanya menjelajahi ruangan.
"Sudah selesai, Sir!"
"Kamu bisa kembali!"
Alita menghembuskan napas lega setelah Summer sampai di tempat duduk. Perawakan guru di depan sana sangat sangar dan dia takut Summer akan menjadi sasaran amukan.
***
Bel istirahat berbunyi, menandakan pelajaran telah usai sampai di detik ini. Alita langsung mengalihkan pandangannya pada pemuda yang kini menjadi perhatian para siswi nakal.
Alita berdecak, tak urung juga dia mendekat. "Selamat datang kembali, Summer," sapanya sekadar basa-basi, namun di luar dugaan, pemuda berlesung pipit itu tidak menyahut. Bahkan seolah tidak menyadari keberadaannya di depan Summer.
Alita memutar bola mata malas, dengan sedikit kesal dia keluar dari kelas. Bibirnya mengerucut sebal, ingin mengadu pada Diego, dia tahu pemuda itu pasti sangat sibuk dengan urusannya yang entah apa.
Beberapa pemuda yang melihatnya keluar dari kelas berusaha menarik perhatian Alita, tapi gadis itu seolah terbiasa akan hal itu. Menoleh pun enggan dia lakukan.
Dengan langkah pasti, dia pergi ke belakang sekolah tempat biasa dia dan Summer menghabiskan waktu bersama saat masih pura-pura menjadi sepasang kekasih. Tempat yang jarang disentuh oleh para siswa kecuali siswa nakal dan ingin bolos sekolah.
Ingatannya kembali pada saat dia meminta Summer menjadi pacarnya.
"Jadilah pacarku!"
Pemuda itu terhenyak, tanpa mengucapkan sepatah kata, Summer menunduk dengan tangan bertautan. Alita tertawa melihatnya.
"Maksudku, jadilah pacar pura-puraku," jelasnya agar Summer tidak salah paham.
Alita bisa melihat raut kekecewaan dari manik yang ditutupi kacamata itu. Dengan senyum khasnya, Alita melingkarkan tangannya di lengan Summer dan bergelayut di sana. "Kamu tidak keberatan 'kan?"
Alita melirik Summer, manik pemuda itu berlarian ke segala arah dan tubuhnya menegang saat dia menyentuh lengannya.
Dan jawaban iya membuat senyum Alita mengembang sempurna. "Aku ingin membuat Diego cemburu," akunya pada pemuda yang resmi menjadi pacar sewaannya.
Summer menoleh terkejut. "Kau ...? Bu-bukankah adiknya Diego?"
Alita menggeleng. "Kamu pasti terkejut, tapi Diego bukan kakakku. Tepatnya kami sepasang calon kekasih yang terjerat hubungan tidak biasa."
Pemuda itu mengangguk tanpa bertanya lebih lanjut. Keringat dingin menguncur di keningnya. Sungguh, Summer menyukai Alita dalam diam tapi tidak bisa mengungkapkannya. Sungguh konyol 'kan? Ditembak gadis yang disukai hanya demi membuat seseorang cemburu. Summer merasa dunianya saat itu seolah sedang diterpa kebakaran besar.
Dalam keheningan, Alita membuka ponselnya dan mengetikkan pesan pada Diego. Namun, pemuda itu malah menjawab dengan sebuah panggilan.
"Dia sudah datang ke sekolah?" tanya Diego perihal pemberitahuan lewat pesan singkat tepat saat Alita baru mengangkat panggilan.
"Hm, dia berubah. Menjadi Summer yang tidak biasa," ucapnya membuat seseorang di sana terkekeh. "Maksudnya?"
"Dia tidak semanis Billy Batson lagi," keluh Alita membayangkan wajah pemeran utama film Shazam yang sering dia tonton, pemuda tampan dan manis seperti Summer.
Diego terkekeh dari seberang. "Bukankah itu bagus? Gaya rambut seperti milik Billy Batson sudah ketinggalan zaman."
"Eh?" Alita mengerjap. "Dari mana kamu tahu kalau Summer mengganti gaya rambutnya?"
"Mengubah gaya rambut dan melepaskan kacamata adalah sesuatu yang menjadi ciri khas pria cupu. Apakah aku salah?"
Alita mengangguk-angguk paham. Benar juga, Summer menjadi sangat tampan tanpa kacamata dan gaya rambut barunya. "Benar juga," gumamnya. "Kapan urusanmu selesai? Aku bosan di sekolah sendirian tanpa ada teman," keluh Alita lagi.
"Kenapa? Mau pulang berkencan atau tidur-tiduran di kamar?"
"Huh?"
"Maksudku, kamu mau berkencan dengan siapa setelah pulang?"
Alita tersenyum tipis, mengangkat sudut bibirnya dan berucap dengan nada menggoda. "Aku ingin berkencan denganmu."
Kembali lagi Diego tertawa. Bahkan mungkin pemuda itu mengacak rambutnya sendiri. "Kamu percaya padaku? Astaga, aku hanya mengelabuhi Uncle Sil."
"Maksudmu? Kamu bercanda soal itu?" tanya Alita gemas.
"Tidak."
Alita memutar bola matanya dan mengerut kesal. "Bajiingan nakal ini," erangnya dan menutup panggilan itu.
Menghela napas gusar, Alita memejamkan matanya untuk merasakan semilir angin yang menerpa wajah. Dia merentangkan tangannya untuk menghalau angin yang berlawanan arah dengannya.
Beberapa detik dalam posisi itu, tangan kekar seseorang ikut menutup matanya. Alita tersentak, dengan kasar dia menarik tangan yang mengganggunya. Namun, tangan itu tidak kunjung lepas.
"Siapa kau?! Lepaskan tanganmu!" teriaknya kesal.
Suara kekehan menyadarkan Alita, dia kembali terkejut dan memutar kepalanya tanpa berniat membuka matanya yang tertutupi tangan kekar itu. "Summer?"
"Kamu bisa menebak dengan benar, Sayang," ucap pemuda itu seraya melepaskan tangannya dan ikut duduk di samping Alita.
Gadis itu sedikit terlonjak dengan panggilan yang diberikan Summer padanya. "Sa-sayang ...?"
Summer tidak memedulikannya. "Diego tidak datang lagi?"
Alita mengangguk. "Hm, dia menjadi malas ke sekolah akhir-akhir ini."
"Apa dia tidak merindukan temannya yang baru saja bebas dari tuduhan tersangka pembunuhan?" tanya Summer sambil merangkul pundak Alita seperti yang sering dia lakukan.
Alita terdiam. Sulit baginya untuk berbicara, mengingat Summer baru saja mengalami masa yang sulit.
"Aku pikir dia punya banyak pekerjaan akhir-akhir ini. Bahkan sampai tidak memedulikan temannya sendiri. Lele, apa kamu percaya tentang adanya teman sejati?"
Lagi-lagi Alita terhenyak. Tadi panggilan sayang dan sekarang Lele, Summer benar-benar bukan Summer cupu dan kutu buku. Namun sesaat dia merespon perkataan Summer. "Aku tidak percaya, apalagi kalau pertemanan antarpria dan wanita."
Summer terkekeh pelan. "Aku juga," imbuhnya. "Bahkan teman terdekat pun bisa mengkhianati kita."
Alita mengernyit, tapi belum sempat otaknya mencerna setiap perkataan Summer, suara pemuda itu kembali mengejutkannya.
"Ayo kita berkencan!"
Tanpa disadari Alita, Summer mengalihkan pandangannya ke arah lain. Kilatan dingin terpancar dari bola matanya, disertai dengan sudur bibir yang terangkat menyerupai bulan sabit miring.
.
---
Aku sering kali bingung mau naro poto yg mana utk visual Diego, poto bang JO banyaaak banget di galeri, cakep2 lagi semua😂😂😂
Cocoklah ya, kira2 spt itu bayangan Summer nackal di kepalaku😅
---
Jan lupa klik jempol dan komen next ya😊
***