NovelToon NovelToon
Terlarang: Simpanan Sang Ayah, Milik Sang Putra

Terlarang: Simpanan Sang Ayah, Milik Sang Putra

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Ibu Tiri
Popularitas:65
Nilai: 5
Nama Author: Nara

Demi melunasi utang keluarga, **Meilani "Lani" Lie** rela menjadi simpanan **Gunawan Tio**, konglomerat garmen berusia 42 tahun. Hidupnya nyaris sempurna di balik topeng—sampai **Rey**, putra Gunawan yang baru pulang dari luar negeri dengan tubuh penuh luka, menatapnya penuh benci.

*"Habis menggoda yang tua, sekarang mau menggoda yang muda?"*

Rey membencinya. Sepuluh tahun lebih muda, liar, dan berbahaya—ia bersumpah mengusir Lani dari rumah itu. Tapi semakin ia menekan, semakin ia tak bisa lepas. Dan ketika Lani akhirnya pergi tanpa membawa sepeser pun uang, Rey baru sadar satu hal terlambat: **ia salah membenci orang.**

Dari benci menjadi obsesi, dari paksaan menjadi penebusan—inilah kisah cinta paling terlarang: mantan simpanan sang ayah, dan sang putra yang menolak melepasnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

BAB 16

MALAM KETIKA SEMUA SALAH

Hujan turun sejak tiga sahabat itu meninggalkan restoran.

Mereka baru saja makan bersama setelah berminggu-minggu sibuk dengan masalah masing-masing. Wulan pulang ke Bekasi, Wiwid memesan taksi ke apartemennya, dan Lani kembali ke unit kecil yang kini terasa terlalu penuh oleh keberadaan Rey.

Sejak malam Gilang, Rey mulai meminta izin sebelum datang. Ia juga mengikuti pemeriksaan polisi dan proses mediasi awal tanpa membuat keributan baru. Lani belum sepenuhnya percaya, tetapi setidaknya pintu kamarnya tidak lagi dibongkar.

Malam ini apartemen kosong ketika ia tiba.

Lani membuka sebotol anggur merah sisa perpisahan, menuang satu gelas, lalu duduk di dekat jendela. Gelas kedua membuat bahunya lebih ringan. Gelas ketiga tidak habis.

Pukul sepuluh lewat, kunci berbunyi setelah sebuah pesan masuk.

`Boleh masuk?`

Lani sempat membalas `boleh` sebelum Rey membuka pintu.

"Kamu minum?"

"Sedikit."

Rey melepas jaket basah. Tatapannya jatuh pada pipi Lani yang memerah dan rambut yang terlepas dari ikatan.

"Gue tidur di sofa."

"Kenapa?"

"Karena lo minum."

Lani berdiri. Langkahnya stabil, hanya pikirannya tidak setajam biasa. "Aku nggak mabuk."

"Besok aja ngomongnya."

Rey hendak melewatinya. Lani menangkap ujung kausnya.

"Kamu selalu mendekat saat aku bilang jangan," katanya. "Sekarang aku mendekat, kamu malah pergi."

Rey menatap tangan itu. "Lani, lihat gue. Kamu tahu ini siapa?"

"Rey. Umur dua puluh. Anak Pak Gunawan yang paling menyebalkan di Jakarta."

"Dan lo mau apa?"

Lani tahu jawaban aman. Ia juga tahu tubuhnya sudah terlalu lama mengingat panas, jarak, dan semua ciuman yang dulu tidak ia pilih.

Kali ini ia ingin memilih sendiri.

"Aku mau kamu berhenti bertanya."

Ia menarik Rey dan menciumnya.

Rey tidak langsung membalas. Kedua tangannya tetap di sisi tubuh sampai Lani mencium lagi, lebih jelas, tanpa ragu. Baru kemudian tangannya naik ke pinggang Lani.

"Kalau mau berhenti, bilang," bisiknya.

"Aku nggak mau berhenti."

Hujan menutupi suara mereka. Ciuman berubah dari hati-hati menjadi lapar, tetapi setiap kali Rey bergerak lebih jauh, ia menunggu Lani menariknya kembali. Tidak ada ancaman. Tidak ada tangan yang menahan penolakan. Hanya dua orang dewasa yang sama-sama tahu batas itu dilintasi bersama.

Rey mengambil gelas anggur dari meja dan menggantinya dengan air putih. Ia meminta Lani minum, lalu menunggu beberapa menit meski Lani mengeluh ia merusak suasana.

"Aku perlu tahu kamu masih memilih ini setelah kepalamu lebih jernih," katanya.

Lani menghabiskan air, menyebut nama lengkap Rey, waktu, dan tempat mereka berdiri. Setelah itu ia mengulurkan tangan lagi.

"Aku tahu persis siapa kamu. Sekarang jangan perlakukan aku seperti aku nggak tahu keinginanku sendiri."

Rey menyentuhkan dahi ke dahinya. "Kalau besok lo menyesal?"

"Itu urusan besok. Malam ini aku memilihmu."

Lampu kamar dimatikan.

***

Pukul sebelas tiga puluh, Wiwid keluar dari taksi dengan pandangan buram.

Ia melepas lensa kontak di studio karena matanya perih setelah pemotretan panjang. Dua gelas minuman bersama kru membuat langkahnya ringan. Ponselnya penuh notifikasi yang tidak dibaca.

Salah satunya dari Raka.

`Bapak titip oleh-oleh. Aku taruh di apartemen, ya. Kunci darurat dari rumah ada sama aku.`

Setelah Raka mengembalikan kunci pribadinya, satu kunci keluarga tetap disimpan Pak Herman untuk keadaan darurat. Malam ini Herman memintanya mengantar makanan sekaligus memeriksa keran dapur yang bocor.

Raka sudah mandi karena bajunya basah saat membawa kotak. Ia baru keluar dari kamar mandi dengan kaus di tangan ketika pintu utama terbuka.

Sebelumnya ia menunggu hampir dua jam. Ia memperbaiki keran, menyimpan oleh-oleh di kulkas, lalu mengirim tiga pesan yang semuanya hanya bertanda terkirim. Kacamata Wiwid tergeletak di meja dekat sofa. Raka sengaja tidak pulang karena hujan semakin deras dan Pak Herman meminta memastikan Wiwid menerima makanan.

Ia tidak tahu Wiwid sudah minum bersama kru atau pulang tanpa lensa kontak.

"Teh Wiwid?"

Wiwid hanya melihat sosok tinggi di bawah cahaya lorong. Tanpa lensa, wajah itu menjadi garis kabur. Pikirannya langsung menuju pesan Alvin sore tadi yang mengajak berdamai.

"Alvin," gumamnya.

Raka membeku. "Ini aku."

Namun Wiwid sudah memeluk lehernya dan mencium bibirnya.

Kaus jatuh dari tangan Raka.

Selama bertahun-tahun ia membayangkan bagaimana rasanya dicium perempuan ini. Tidak pernah sekali pun ia membayangkan namanya akan salah saat itu terjadi.

"Teh, tunggu."

Wiwid menciumnya lagi. "Jangan cerewet."

Raka membalas satu kali, terlalu lama untuk disebut kecelakaan. Tangan Wiwid menyentuh dadanya, dan seluruh pertahanan yang dibangunnya sejak diusir dari studio runtuh.

Lalu Wiwid berbisik, "Aku kangen, Alvin."

Nama itu memukul lebih keras daripada tamparan.

Raka memegang kedua bahunya dan menciptakan jarak. "Lihat aku. Ini Raka."

Wiwid mengerutkan mata, tetapi tidak mampu memusatkan pandangan. "Jangan bohong."

"Aku ambilkan kacamata."

Ia pergi ke meja kerja. Ketika kembali, Wiwid sudah tertidur menyamping di atas tempat tidur, masih mengenakan pakaian lengkap. Raka menyelimuti tubuhnya dan memilih duduk di lantai.

Menjelang subuh, kelelahan membuatnya tertidur di sisi luar ranjang, di atas selimut dan tetap mengenakan celana.

Batas yang dilanggar malam itu hanya ciuman.

Namun bagi mereka, satu ciuman sudah cukup menghancurkan susunan keluarga yang dikenal sejak kecil.

***

Di rumah keluarga Prayoga, makan malam berakhir dengan dua laki-laki mabuk.

Dimas mengundang Bram untuk membicarakan konsep gim yang ingin diajukan langsung kepada pendiri perusahaan. Bu Suminah memasak terlalu banyak dan berulang kali menyebut betapa berbakat anaknya. Setelah orang tua masuk kamar dan Dika tidur, Dimas membuka botol kedua.

Sepanjang makan, Wulan mengisi piring semua orang tetapi hampir tidak menyentuh miliknya. Dimas memotong penjelasannya dua kali, memintanya mengambil es, lalu menyuruhnya menunjukkan kamar tamu sebelum pembicaraan selesai.

Bram melihat semuanya.

"Bu Wulan belum makan," katanya ketika Dimas meminta botol baru.

"Nanti juga makan, Pak. Dia biasa belakangan," jawab Dimas.

Wulan menunduk. "Nggak apa-apa."

Bram mengenali kalimat yang sering dipakai orang ketika tidak seorang pun memberi ruang untuk jawaban lain. Ia memindahkan sepiring makanan ke sisi Wulan tanpa komentar. Gerakannya mengingatkan Wulan pada tisu yang masih tersembunyi di kotak jahit.

Ia tidak berani mengangkat mata.

"Pak Bram harus coba build saya," katanya dengan lidah berat. "Tim lain nggak punya visi seperti saya."

Bram minum lebih sedikit, tetapi tubuhnya tetap lelah dan kepalanya hangat. Pukul satu, Dimas sudah tidak mampu berdiri.

Wulan menopang suaminya menuju ruang kerja. "Mas, bangun. Tidur di kursi panjang dulu."

"Pak Bram... kamar tamu..." gumam Dimas.

"Nanti aku tunjukkan."

Wulan kembali ke ruang makan. Bram tidak ada. Ia mengira laki-laki itu menemukan kamar tamu sendiri.

Lampu padam beberapa detik kemudian.

"Mati lampu lagi," keluh Wulan.

Rumah tenggelam dalam gelap. Baterai ponselnya habis, dan lampu darurat disimpan Bu Suminah entah di mana. Wulan meraba dinding menuju kamar utama, terlalu lelah untuk memeriksa semua pintu.

Bram, yang baru keluar dari kamar mandi, salah menghitung belokan. Ia masuk ke kamar utama dan menemukan kasur dalam gelap. Ia mengira Dimas memberikan kamar itu kepadanya.

Wulan masuk beberapa menit kemudian. Sesosok laki-laki berbaring di sisi ranjang.

Untuk pertama kali dalam berbulan-bulan, ia mengira Dimas pulang ke kamar tanpa harus dipanggil.

"Mas?"

Bram mendengar suara perempuan, tetapi dalam kepalanya yang berat ia mengira Wulan sedang memanggil suaminya dari luar. Ketika tangan menyentuh bahunya, ia berbalik.

Wulan mencium lebih dulu.

Kegelapan menghapus nama dan wajah. Bram membalas. Wulan merasakan tangan yang lebih hati-hati daripada yang dikenalnya, lalu menganggap Dimas akhirnya memilih lembut.

"Mas..."

Bram berhenti.

Suara itu terlalu dekat. Tubuh perempuan itu juga menegang dengan cara seseorang yang mulai menyadari kesalahan.

"Bu Wulan?" tanyanya.

Wulan membeku.

Itu bukan suara Dimas.

Ia mendorong tubuh di depannya, meraba meja, lalu berlari ke luar kamar. Lampu menyala kembali tepat ketika tangannya menemukan sakelar lorong.

Bram berdiri di dalam kamar utama dengan kemeja kusut dan wajah pucat.

"Pak Bram?"

Dari ruang kerja terdengar dengkur Dimas.

Wulan menutup mulut agar tidak menjerit. Bram mengambil jaketnya tanpa mendekat.

"Saya minta maaf," katanya. "Saya salah kamar."

"Aku pikir..."

"Saya tahu."

Mereka sama-sama tahu penjelasan tidak dapat menarik kembali ciuman dalam gelap.

***

Fajar datang hampir bersamaan di tiga tempat.

Lani membuka mata dengan kepala berdenyut. Lengan Rey melingkari pinggangnya, dan pakaian mereka berserakan di lantai. Ingatan tentang dirinya yang menarik Rey lebih dulu kembali satu per satu.

Ia tidak dipaksa.

Ia tidak menolak.

Justru itulah yang membuat tubuhnya kaku.

Di apartemen lain, Wiwid meraba meja, menemukan kacamata, lalu memasangnya. Wajah yang tidur di sisi luar ranjang menjadi jelas.

"Raka?"

Ia melompat turun sampai lututnya membentur meja.

Di Bekasi, Wulan berdiri di ambang ruang kerja. Dimas masih tidur dengan mulut terbuka. Bekas lembap dari ciuman Bram terasa seperti dosa yang tidak bisa dicuci.

Tiga perempuan membuka mata pada pagi yang sama.

Tak ada satu pun yang siap menamai keinginan itu.

Dan tak satu pun tahu bagaimana kembali menjadi diri mereka sebelum malam itu.

Hujan telah berhenti di Jakarta, tetapi di tiga kamar berbeda, pagi terasa seperti awal dari badai yang jauh lebih panjang.

Jalan kembali ke malam sebelumnya sudah tertutup untuk mereka semua.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!