Di SMA Nusantara, Kirei dan Arka adalah dua kutub yang tak pernah bisa bersatu. Kirei—ketua OSIS yang disiplin—membenci Arka, bad boy bertato temporer yang langganan mendapat surat teguran guru. Bagi murid lain, permusuhan sengit mereka di koridor sekolah adalah pemandangan biasa.
Namun, di balik seragam abu-abu yang mereka kenakan, ada rahasia besar yang tersembunyi. Demi janji keluarga dan menyelamatkan bisnis, Kirei dan Arka terpaksa menandatangani surat pernikahan rahasia di usia muda. Kini, dua musuh abadi ini harus tinggal di bawah satu atap yang sama dengan aturan ketat: tak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu hubungan mereka. Permusuhan, rahasia, dan kepura-puraan baru saja dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Initial Be, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Raungan mesin motor Arka lenyap ditelan tikungan, meninggalkan sepi yang menusuk di ruang tamu. Gerimis di luar berganti hujan deras, menghantam kaca jendela bagai letupan amarah yang tertahan.
Kirei terpaku di tengah ruangan, matanya menancap pada celah pintu depan yang sedikit terbuka. Pengakuan Arka soal perlindungan, hangatnya suapan bubur instan, sampai sentuhan lembut di pipinya tadi... tumpah tak berbekas, tergilas rasa curiga yang membakar akibat pesan misterius itu.
Putra dari orang yang membuat Kakek koma.
Kalimat itu terngiang berulang-ulang di kepalanya, bikin pening. Jemarinya bergetar hebat saat merogoh ponsel dari saku cardigan. Ia mendial nama Om Wijaya—paman yang mengurus seluruh legalitas pernikahan kontrak ini.
Panggilan tersambung di dering ketiga.
"Halo, Kirei? Ada apa malam-malam begini? Kakek kamu baik-baik saja?" suara Om Wijaya terdengar serak di seberang sana, sarat cemas.
Kirei menelan ludah, menata napasnya yang memburu. "Om... Kirei mau tanya satu hal. Tolong jawab jujur."
"Tanya apa, Kirei?"
"Siapa sebenarnya ayah Arka?" Kirei mengepalkan tangannya rapat-rapat sampai buku jarinya memutih. "Kenapa Kakek begitu percaya sama Arka sampai tega memaksakan pernikahan kontrak ini? Dan apa hubungannya keluarga Arka sama kecelakaan yang bikin Kakek koma?"
Keheningan merayap tebal di seberang telepon. Hanya terdengar embusan napas Om Wijaya yang mendadak berat.
"Kirei... kamu dengar isu dari mana?" suara Om Wijaya berubah kaku.
"Om, jawab Kirei!" seru Kirei, air mata ketidakberdayaan mulai mendesak di sudut matanya. "Kirei berhak tahu! Kirei yang menjalani pernikahan gila ini! Kalau Arka ternyata anak dari musuh Kakek—"
"Arka bukan musuh kamu, Kirei!" potong Om Wijaya tegas. "Ayah Arka itu mantan mitra bisnis Kakekmu... yang bangkrut dan meninggal sepuluh tahun lalu gara-gara dijebak konglomerat lain. Kakekmu merasa bersalah atas kematian Ayah Arka."
Dada Kirei bergemuruh hebat. "Jebakan? Siapa konglomerat itu, Om?"
"Keluarga Aditama," bisik Om Wijaya, nadanya sarat ketakutan tersembunyi. "Dan asal kamu tahu, Kirei... Bima—mantan wakil OSIS kamu itu—adalah anak angkat pengacara utama Keluarga Aditama."
Ponsel di genggaman Kirei nyaris terlepas. Seluruh teka-teki gila yang menyiksa pikirannya mendadak mengunci sempurna. Bima bukan sekadar cowok obsesif yang cemburu; ia adalah bidak yang dikirim musuh masa lalu untuk menghancurkan Kirei, Arka, dan Kakek sekaligus.
Pesan singkat yang masuk ke ponsel Arka tadi malam... itu umpan sengaja dari Keluarga Aditama untuk membakar adu domba.
Pukul 23.45 WIB.
Motor sport hitam milik Arka menerobos hujan deras di kawasan perumahan elit. Air hujan membasahi seluruh jaket dan seragam sekolahnya, tapi Arka tak peduli. Matanya merah menahan amarah yang menumpuk di dada.
Begitu motor berhenti di garasi, Arka melepas helmnya kasar, membiarkan air hujan menetes dari rambutnya yang basah kuyup. Ia melangkah lebar memasuki rumah, berniat langsung mengunci diri di kamar untuk mendinginkan kepala.
Langkahnya terhenti di ambang ruang tamu.
Kirei duduk di atas karpet depan meja kaca, masih mengenakan cardigan krem yang sama sambil memeluk kedua lututnya. Di depannya, dua cangkir teh hangat tergeletak manis.
Kirei mendongak, menatap Arka yang berdiri basah kuyup di dekat pintu. Tak ada raut amarah atau tuduhan di wajahnya—hanya tatapan penyesalan dan kepedulian yang tulus.
"Lo dari mana?" tanya Kirei lirih.
Arka menyipitkan mata, rahangnya mengeras. "Bukan urusan lo, Kirei. Kenapa belum tidur?"
Kirei beranjak pelan, mendekati Arka tanpa memedulikan tetesan air dari pakaian Arka yang mulai membasahi karpet. Ia meraih handuk kering di sofa, lalu mengulurkannya ke dada Arka.
"Keringkan dulu rambut lo. Nanti sakit," kata Kirei lembut.
Arka menatap handuk itu, beralih memandang Kirei tak percaya. "Lo enggak mau menanyakan pesan tadi? Enggak mau menuduh gue anak musuh Kakek lo?"
Kirei menggeleng pelan, pelupuk matanya bergetar. "Gue sudah telepon Om Wijaya."
Arka mematung.
"Om Wijaya sudah cerita semuanya," lanjut Kirei, suaranya sarat emosi yang tertahan. "Soal Ayah lo... soal Keluarga Aditama... dan soal Bima. Gue tahu pesan tadi malam cuma taktik mereka buat bikin kita adu curiga."
Arka menunduk, menyisir rambut basahnya ke belakang memakai jemari. Helaan napas beratnya memecah sepi.
"Kalau lo sudah tahu... kenapa masih berdiri di sini?" bisik Arka serak. "Bapak gue hancur gara-gara proyek Kakek lo. Keluarga kita punya sejarah kelam, Kirei. Gue terima pernikahan kontrak ini bukan cuma demi Kakek lo... tapi buat mencari bukti kejahatan Keluarga Aditama atas kematian bapak gue."
Kirei mengikis jarak. Tanpa ragu, ia meraih jemari Arka yang dingin dan basah, menggenggamnya erat dengan kedua telapak tangannya.
"Gue enggak peduli sejarah masa lalu itu, Arka," tegas Kirei, menatap lurus iris cokelat gelap cowok itu. "Yang gue tahu, cowok yang berdiri di depan gue ini selalu ada buat melindungi gue. Lo yang pasang badan di depan Bima, lo yang usut CCTV semalaman, dan lo yang menyuapi gue waktu gue lemas."
Dada Arka berdesir hebat. Tatapan matanya yang biasanya dingin dan tertutup rapat perlahan melunak, menumpahkan kerapuhan yang selama ini tersembunyi di balik topengnya.
"Lo benar-benar bodoh, Bu Ketua," gumam Arka tipis, suaranya bergetar.
"Biarlah gue bodoh," balas Kirei, menyunggingkan senyum tipis di antara genangan air mata. "Tapi mulai malam ini... perjanjian kita bukan cuma soal denda tinta merah atau aturan sembilan belas poin. Kita hadapi Keluarga Aditama bareng-bareng. Sebagai tim."
Arka menatap Kirei lama, merasakan kehangatan jemari cewek itu merayapi seluruh aliran darahnya. Perlahan, ia menarik handuk dari tangan Kirei, melemparnya asal ke sofa, lalu merengkuh pinggang Kirei dan menariknya rapat ke dalam pelukan.
Pakaian basah dan dingin milik Arka menyatu dengan hangat tubuh Kirei. Arka menyandarkan dagunya di bahu Kirei, menghirup aroma vanila dari rambut cewek itu.
"Makasih, Kirei," bisik Arka di dekat telinganya, tulus. Jantung Kirei berdegup kencang.
Mendadak, ponsel di saku jaket Arka bergetar tajam.
Arka merenggangkan dekapan, merogoh ponselnya, lalu membuka layar. Notifikasi berita darurat dari portal berita nasional terpampang jelas:
SKANDAL INVESTASI KELUARGA WIJAYA TERBONGKAR: PERUSAHAAN TERANCAM BANGKRUT, OLIMPIADE SMA NUSANTARA DIBATALKAN KARENA KASUS HUKUM.
Kirei yang ikut membaca layar mendadak lemas. Musuh mereka tak lagi bersembunyi—serangan balik dari Keluarga Aditama resmi dimulai, mengincar seluruh aspek kehidupan Kirei dan Arka secara bersamaan.