Langit Janet Mathida seakan runtuh ketika dijadikan alat pembayaran Papanya yang terlilit hutang judi dan pinjol. Dia terpaksa tinggal bersama Devan Gevaro yang tidak menginginkannya.
》Setelah sari masa muda dinikmati dan hamil, dia diminta pergi dari kehidupan Devan. Seketika Janet seperti tebu, habis manis sepah dibuang.
》Apakah Janet terima dan berjuang untuk membalas perlakuan Devan?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Serupa Beda Rasa"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. SBR
...~•Happy Reading•~...
Di pos security ; Selesai bicara dengan Gevaro, Jensen meminta security untuk mengawasi kedatangan Papa Janet ke tempat itu.
"Mari kita keluar Bu." Jensen mengajak Janet keluar dari pos menuju lobby. Janet mengikuti, tapi belum merasa aman. Dia takut Papanya akan kembali lagi untuk membawanya.
"Silahkan naik mobil saya, Bu." Jensen mempersilahkan Janet masuk ke mobilnya yang sudah menunggu.
"Langsung jalan, Pak." Ucap Jensen kepada sopir yang masih menunggu.
"Tapi mobil boss ada di depan, Pak." Sopir menunjuk mobil Gevaro yang masih menunggu.
"Lewatin saja. Beliau yang minta kita jalan duluan." Jensen melakukan sesuai perintah Gevaro.
"Siap, Pak." Sopir Jensen segera melewati mobil Gevaro.
Setelah mobil menjauh dari lobby, Janet merasa sedikit tenang dan bisa berpikir. "Pak, saya dijemput Mas Andri." Ucap Janet yang ingat mau dijemput Andri.
"Kalau begitu, tolong telpon. Kita bertemu dengannya...." Jensen menentukan tempat untuk Janet pindah ke mobil Andri. Dia mau memastikan Janet aman sesuai perintah Gevaro. Janet segera menghubungi Andri, sebab melihat Jensen sangat serius.
Gevaro yang melihat mobil Jensen sudah melewati mobilnya, segera mengatur strategi. "Pak, tutup jalan. Supaya mobil dari belakang tidak bisa melewati depan lobby." Gevaro menjelaskan yang dia mau, lalu melepaskan jasnya dan tinggalkan di mobil.
~▪︎▪︎
Kenapa belum jalan, Mami Devan membentak sopir yang belum menjalankan mobil. Padahal dia ingin tahu tempat tinggal Janet.
"Maaf, Bu. Kita tidak bisa membuntuti mobil tadi, karna dihalangi mobil lain di depan." Sopir menunjuk mobil Gevaro yang sudah melintang di depan lobby.
Mami Devan menahan nafas melihat Gevaro turun dari mobil dan berjalan ke arah mobilnya. "Apa tidak bisa dipaksakan keluar dari sini?" Mami Devan sangat marah karena sudah tidak bisa menghindar dari Gevaro. 'Pasti ini gara-gara Marco menuntun dia ke sini.' Mami Devan geram ingat Papa Janet yang masuk mobilnya.
"Tidak bisa Bu. Security sudah berbaris di depan lobby." Sopir menunjuk ke arah para security. Mami Devan mengepalkan tangan untuk meredam amarahnya. Apa lagi melihat Gevaro berjalan cepat dengan wajah keras.
Ketika di dekat mobil Mami Devan, Gevaro mengetok jendela mobil bagian sopir dengan telapak tangan. Hingga membuat sopir terkejut dan menurunkan kaca. "Turun." Perintah Gevaro sambil berusaha membuka pintu mobil. Sopir terpaksa turun dari mobil.
Tanpa menunggu lama, Gevaro langsung naik duduk di tempat sopir. "Bagaimana, Bu? Angin apa yang membawa Bu Brenda ke sini?" Tanya Gevaro tanpa melihat Maminya yang duduk di belakang.
"Turun! Jangan pamer kesombonganmu." Bentak Maminya.
Ucapan Maminya membuat Gevaro yang sudah emosi jadi marah. Dia tidak lagi menganggap Maminya yang sedang bicara dengannya. "Sampai kapan mau jadi muncikari buat anak kesayanganmu?"
"Apa maksudmu?" Bu Brenda makin marah dibilang jadi muncikari.
"Kau kira aku tidak tahu, yang dilakukan buat anak kesayanganmu?" Bentak Gevaro tidak kalah marah.
"Janet bukan benda mati yang bisa dijadikan hadiah buat menemani anakmu di tempat tidur."
"Kalau dia takut tidur sendiri, belikan dia manekin. Bukan menjadikan dirimu muncikari."
"Jangan kurang ajar. Pantas Meghan pergi darimu." Maminya membalas.
"Hhhhhh... Dia pergi dariku? Kalian yang naif. Aku menendangnya tanpa intro." Gevaro tertawa dengan suara keras.
"Apa sekarang dia tidak bisa memanaskan tempat tidur anak kesayanganmu, jadi kau datang ke sini mau ambi Janet untuk gabung jurus?" Ucap Gevaro di ujung tawanya.
"Lidahmu makin tajam. Kau kira kami bejat?" Maminya terkejut dan mengulurkan tangan hendak memukul kepala Gevaro.
Gevaro yang mengamati dari spion, segera menghindar. "Kalau tidak bejat, apa urusan kalian mencari Janet?"
"Dia harus membayar hutang."
Gevaro berbalik dan melihat Maminya dengan rahang yang mengeras. "Bayar hutang? Dia berhutang apa pada kalian?" Bentak Gevaro membuat Maminya kebingungan. "Justru sekarang kalian berhutang nyawa padanya."
"Kalian bertingkah seperti pemabuk yang minum alkohol di laut dan mabuk di darat."
"Pergi tagih hutang pada orang yang berhutang padamu. Mengapa tidak seret orang tadi atau gantung dia, supaya bayar hutang?"
"Jangan mengelabui niat busuk kalian dengan alasan seperti orang tidak sekolah. Apa kau anak pungut Opa yang jatuh dari pohon?"
"Deviiiin... Aku Mamimu." Teriak Maminya dengan wajah memerah.
"Aku tidak tuli. Aku masih pakai nama itu, hanya karna pemberian Opa. Kalau pemberianmu, aku sudah membuangnya ke tempat sampah."
"Kau sebut Mamiku, tapi tidak tahu artinya. Apa kau cuma melahirkan Devan? Aku lahir dari angin? Kasih sayang orang tua yang tidak bijak, bikin anak-anaknya berseteru, sampai ke sesuatu yang absurd."
"Kau sedang mengajariku?" Maminya tersinggung.
"Kalau kau bersikap seperti orang tua terpelajar, anak tidak akan mengajarimu. Kau merendahkan dirimu dengan datang ke sini untuk mengejar maianan buat anak yang tidak tumbuh otaknya."
"Kau sekarang menghina kakakmu? Kalau dia membunuhku saat lahir, kau tidak akan lahir." Maminya membelah diri.
"Alasan absurd yang bikin dia besar kepala. Suatu saat dia akan menginjak kepalamu. Tiap hari berdoa dan beribadah, tapi tidak ada yang dimengerti tentang hidup."
"Apa anak bodo itu bisa mencabut nyawamu dan memberiku hidup? Tuhan yang berkuasa menghidupkan dan membunuhmu. Ingat itu sepanjang hidupmu."
"Kau terus menghina kakakmu, lalu lihat seperti apa kau sekarang. Apa yang kau miliki? Sama dengan Papimu. Tidak punya apa-apa."
"Mendengar kau bilang itu, aku merasa orang paling bahagia di dunia ini."
"Aku makan minum dari hasil keringatku. Tidak seperti kalian yang diletakan di atas nampan perak dari keringat orang."
"Kalau kau bangga dan merasa anak kesayanganmu hebat, suruh dia urus perusahaan yang jatuh di atas pangkuannya. Jangan mencariku untuk minta bantuan dari orang yang tidak punya apa-apa."
"Untuk apa dia minta bantuanmu? Dia sudah bekerja dan sukses, makanya perusahaan itu diberikan Opanya sebagai hadiah."
"Dia tahu Janet ada di sini dari mana, kalau tidak datang minta bantuanku? Usia sudah lebih dari setengah abab, tapi masih naif dan dikerjai anak."
"Sudah cukup nasehatku hari ini. Ingat, ini pertama dan terakhir mencari Janet!" Gevaro memberi peringatan dan hendak membuka pintu mobil untuk turun.
"Kau sudah tidur dengan Janet, jadi belain dia terus." Mami Devan tidak tahan untuk membalas Gevaro.
"Apa aku harus membuat pengumuman atau butuh muncikari agar bisa tidur dengan seorang wanita?" Gevaro tidak jadi membuka pintu mobil saat mendengar tuduhan Maminya.
"Aku ingatkan sekali lagi. Aku bukan seperti kalian yang mencari simpati Opa dengan mengumbar cerita kosong. Aku akan memperlihatkan kebejatan kalian di tempat yang kalian tidak bisa tutupi dengan cerita rekayasa."
"Opa akan melihat kelakuan bejat dan penindasan kalian di ruang sidang. Ingat itu...! Kesabaranku sudah tidak setipis kertas lagi, tapi tissu dibelah tujuh."
Gevaro membuka pintu. "Sekarang aku makin tahu. Mengapa kalian saling mendukung..." Gevaro berhenti. Dia membanting pintu dan meneruskan dalam hati. 'Ternyata mereka memang satu frekwensi.'
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~▪︎○¤○▪︎~...