NovelToon NovelToon
Kali Ini, Aku Akan Menonton Kalian Hancur

Kali Ini, Aku Akan Menonton Kalian Hancur

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:959
Nilai: 5
Nama Author: Anaya Barnes

Di kehidupan pertamanya, Li Yuexin adalah "Mutiara Kekaisaran Shenghua" yang lembut, tulus, dan terlalu mudah percaya. Ia menyerahkan harta, kedudukan, dan cintanya kepada Gu Wenhao, pria yang ia kira adalah belahan jiwanya. Namun, balasan atas kesetiaannya adalah racun diam-diam, pengkhianatan oleh sahabat masa kecil, dan kematian menyedihkan di tangan suami dan anak angkatnya sendiri.
Ketika matanya terbuka kembali, Yuexin menemukan dirinya kembali ke masa lalu, tepat sebelum jebakan itu tertutup rapat.
Kali ini, Mutiara itu tidak lagi bersinar karena pantulan cahaya orang lain. Ia telah berubah menjadi es yang tajam dan perhitungan yang dingin.

"Belas kasih diberikan kepada yang pantas. Keadilan diberikan kepada yang bersalah. Dan kali ini... aku hanya akan duduk santai, sambil menikmati pertunjukan kehancuran kalian."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anaya Barnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2

Matahari pagi telah naik lebih tinggi, menembus jendela kamar Putri Li Yuexin dan menerangi partikel debu yang menari di udara. Setelah menulis beberapa baris kaligrafi dengan tangan yang stabil, meski hatinya bergemuruh, Putri Li Yuexin meletakkan kuasnya.

Tulisan itu berbunyi, "Angin tidak meminta izin pada rumput sebelum meniupnya."

Sederhana, namun penuh makna bagi siapa saja yang paham konteks politik saat ini.

"Nona," Qingyu masuk kembali ke kamar, kali ini membawa nampan perak tertutup. "Sarapan sudah siap Nona, Bibi anda Nyonya Shen Ruolan, juga baru saja tiba di paviliun utama. Beliau membawa kue osmanthus buatan sendiri."

Putri Li Yuexin mengangguk, perutnya memang terasa kosong. Di kehidupan sebelumnya, ia sering melewatkan sarapan karena terlalu sibuk menyiapkan hadiah atau surat untuk Gu Wenhao. Kali ini, ia akan menghargai tubuhnya sendiri. Kesehatan adalah aset pertama dalam perang panjang ini.

Putri Li Yuexin berpindah ke ruang makan kecil di dalam istananya. Meja kayu rosewood itu dihiasi dengan hidangan sederhana namun enak, semangkuk bubur nasi putih yang dimasak hingga lembut, ada bakpao isi daging cincang, dan secangkir sup jahe hangat dengan telur rebus di dalamnya.

Aroma jahe yang tajam dan hangat langsung menyergap indra penciumannya. Ini adalah resep favorit ibundanya, Permaisuri Shen Yulan, yang selalu mengatakan bahwa jahe baik untuk mengusir hawa dingin dari dalam tubuh dan menjaga kejernihan pikiran.

Putri Li Yuexin mengambil sendok lalu dia meniup sup jahe itu pelan-pelan, lalu menyesapnya pelan. Hangatnya menjalar dari tenggorokan ke dada, memberikan rasa nyaman yang hampir membuatnya lupa pada kebencian yang membara.

Saat sendok menyentuh bibirnya, ingatannya tiba-tiba terseret ke masa lalu.

Flashback Kehidupan Pertama

"Yuexin, sayang, jangan makan sup jahe itu," suara Gu Wenhao terdengar lembut namun mendesak.

Mereka sedang duduk di paviliun taman rumah keluarga Gu setelah pernikahan mereka. Putri Li Yuexin, yang baru saja menikah selama enam bulan, tampak pucat karena mengalami rasa mual palsu yang direkayasa Lin Meirong untuk membuat Putri Li Yuexin cemas.

"Kenapa, Suamiku aku tidak boleh memakan sup jahe ini?" tanya Putri Li Yuexin polos, meletakkan sendoknya.

Gu Wenhao tersenyum, matanya berkilat palsu. "Ibu bilang, wanita hamil sebaiknya menghindari jahe karena bisa memicu keguguran. Meski kamu belum benar-benar hamil, lebih baik berjaga-jaga, bukan? Aku hanya khawatir padamu sayang."

Putri Li Yuexin merasa tersentuh. Dia mengira Gu Wenhao peduli pada calon anak mereka. Dengan patuh, dia mendorong mangkuk sup jahe itu menjauh. “Suamiku ini sangat baik sekali. Aku akan selalu mendengarkan saran dari Ibu."

Di balik punggung Putri Li Yuexin, Gu Wenhao bertukar pandang singkat dengan Nyonya Gu ibunya yang duduk di seberang. Senyum mereka tipis, penuh kemenangan. Mereka tahu Putri Li Yuexin tidak hamil.

Mereka hanya ingin memastikan Putri Li Yuexin tetap lemah, mudah dimanipulasi, dan bergantung pada "perhatian" keluarga Gu. Sup jahe itu sebenarnya sangat sehat untuk Putri Li Yuexin yang sering merasa dingin, tapi mereka melarangnya agar Putri Li Yuexin tetap dalam kondisi fisik yang kurang sehat.

Flashback Off

Kenyataan pahit itu membuat Putri Li Yuexin di masa kini hampir tersedak. Tangannya mencengkeram sendok begitu erat hingga ruas-ruas jarinya memutih.

Dia kini masih hidup, dia masih di sini. Dan dia tidak akan pernah lagi membiarkan siapa pun mengatur apa yang masuk ke dalam tubuhnya.

Dengan tenang, Putri Li Yuexin menghabiskan seluruh sup jahenya. Rasa pedas dan hangatnya sekarang terasa seperti janji perlindungan.

"Qingyu," panggil Putri Li Yuexin setelah meletakkan sendok. "Tambahkan satu porsi bakpao lagi, Aku masih lapar."

Qingyu tersenyum lega melihat tuannya makan dengan lahap. "Baik, Nona."

Setelah sarapan, Putri Li Yuexin bersiap menuju Paviliun Utama untuk menemui Bibi Ruolan. Sebelum pergi, ia memilih hanfu berwarna biru muda dengan sulaman bunga plum putih. Warna yang tenang, tidak mencolok, namun elegan. Ia mengenakan Jepit Rambut Phoenix Emas di sisi kanan rambutnya, membiarkannya terlihat jelas. Simbol bahwa dia adalah putri Kaisar, dan tidak ada orang biasa yang boleh meremehkannya.

Di Paviliun Utama,

Suasana sudah ramai, Bibi Shen Ruolan, seorang wanita berusia empat puluhan dengan wajah cantik yang awet muda dan mata tajam nan teduh, sedang duduk sambil memegang kipas lipat. Di hadapannya terdapat kotak kue osmanthus yang masih mengepulkan aroma manis.

"Yuexin sudah datang!" seru Bibi Ruolan saat melihat keponakannya masuk. Suaranya ceria, namun matanya segera meneliti wajah Putri Li Yuexin dengan cermat. Sebagai ahli hubungan sosial bangsawan, Bibi Ruolan bisa membaca perubahan sekecil apa pun.

Putri Li Yuexin membungkuk sopan. "Selamat pagi, Bibi. Maaf aku terlambat."

"Tidak terlambat sama sekali sayang," kata Bibi Ruolan sambil mempersilakan Putri Li Yuexin duduk. "Bibi justru baru saja berpikir tentangmu. Ada berita dari Istana, Nak. Kaisar berencana mengadakan perjamuan kecil akhir pekan ini, untuk merayakan keberhasilan Pamanmu Mingyuan seorang Menteri Perang, yang berhasil menekan pemberontakan di perbatasan utara."

Putri Li Yuexin mengangkat alisnya. "Paman berhasil?"

"Sangat berhasil," jawab Bibi Ruolan, suaranya sedikit lebih rendah. "Tapi itulah yang menjadi masalahnya, kemenangan Pamanmu membuat Faksi Barat gelisah. Selir Rong sudah mulai menyebar isu bahwa Pamanmu menggunakan dana militer secara berlebihan. Isu yang bodoh, tapi akan sangat berbahaya jika dibiarkan."

Putri Li Yuexin mengambil sebuah kue osmanthus. Manisnya pas, tidak terlalu legit. "Dan apa rencana Keluarga Shen Bi?"

Bibi Ruolan menatap Putri Li Yuexin lekat-lekat. Ada sesuatu dalam tatapan keponakannya hari ini yang berbeda. Biasanya, Putri Li Yuexin akan panik atau marah mendengar fitnah terhadap pamannya. Tapi kali ini, gadis itu tampak... tenang. Terlalu tenang.

"Ayahmu Perdana Menteri yang akan menangani itu di sidang kekaisaran," kata Bibi Ruolan perlahan. "Tapi Bibi butuh bantuanmu, Yuexin. Di perjamuan nanti, akan banyak istri pejabat Faksi Barat yang akan hadir. Bibi butuh kamu untuk... 'berbicara' dengan mereka. Bukan untuk bertengkar, tapi untuk mengalihkan perhatian. Buat mereka sibuk dengan gosip lain sehingga mereka lupa menyerang Pamanmu."

Ini adalah tugas klasik yang sering diberikan kepada Putri Li Yuexin di kehidupan sebelumnya. Dulu, ia akan melakukannya dengan gugup, takut salah bicara, dan akhirnya malah dijebak oleh kata-katanya sendiri.

Tapi kali ini, sudut bibir Yuexin terangkat sedikit. Sebuah senyuman tipis yang tidak mencapai matanya.

"Tentu, Bibi," jawab Putri Li Yuexin lancar. "Aku punya beberapa 'gosip' menarik tentang keluarga tertentu yang mungkin saja bisa mengalihkan perhatian mereka. Gosip tentang... ketidaksetiaan suami, misalnya."

Mata Bibi Ruolan berbinar tertarik. "Oh? Cerita apa itu sayang?"

Putri Li Yuexin mengambil tehnya, meniup uapnya pelan. "Rahasia, Bibi. Biarlah kejutan itu terbuka di perjamuan nanti. Yang pasti, Faksi Barat akan terlalu sibuk membersihkan nama mereka sendiri untuk memperhatikan Paman Mingyuan."

Bibi Ruolan tertawa renyah, meski ada nada penasaran yang kuat. "Kamu semakin misterius saja, Yuexin. Tapi Bibi suka itu, perempuan harus memiliki rahasia agar tetap menarik."

Putri Li Yuexin tersenyum balik. Jika saja Bibi tahu bahwa rahasia terbesar bukan tentang ketertarikan, tapi tentang kehancuran.

Di luar paviliun, angin berhembus kencang, menggoyangkan daun-daun pohon ginkgo. Musim gugur belum tiba, tapi dinginnya sudah mulai terasa. Dingin yang disengaja. Dingin yang dibawa oleh Putri Li Yuexin.

Permainan telah dimulai dan untuk langkah pertama adalah mengalihkan pandangan musuh dari sasaran utama, sambil menyiapkan jebakan di bawah kaki mereka.

"Qingyu," bisik Putri Li Yuexin saat mereka meninggalkan paviliun Bibi Ruolan. "Cari tahu jadwal pertemuan Tuan Gu Wenhao hari ini. Aku ingin tahu dengan siapa dia 'belajar' sore nanti."

Qingyu mengangguk tegas. "Hamba akan segera melaksanakannya, Nona."

Putri Li Yuexin menatap langit biru. Langit yang sama yang dulu menyaksikan kematiannya. Kini, langit itu menjadi saksi kebangkitannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!