Sephia tidak pernah menyangka, kehadiran tetangga baru itu akan mengubah segalanya.
Berawal dari pertemuan-pertemuan tak sengaja, satu sekolah, hingga satu kelas—mereka perlahan menjadi dekat. Terlalu dekat, sampai Sephia mulai merasakan sesuatu yang seharusnya tidak ada.
Sayangnya, perasaan itu datang di waktu yang salah.
Dia sudah memiliki seseorang.
Sephia memilih diam, menyimpan semuanya sendiri.
Hingga sebuah kejadian memaksa mereka untuk saling mendekat, lebih dari yang seharusnya.
Namun, bahkan setelah jarak memisahkan, waktu tetap tidak pernah berpihak.
Dan saat mereka dipertemukan kembali…
segalanya sudah berbeda.
Kali ini, justru Sephia yang harus belajar melepaskan.
Karena tidak semua yang hampir, akan benar-benar menjadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkaqia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu,kah?
"Hallo..."
"Iya, Pia."
Suara Alan terdengar pelan dari seberang telepon.
Jauh lebih tenang dibanding siang tadi.
Sephia tanpa sadar mengembuskan napas lega.
"Eh..."
"Gue ganggu, ya?"
Alan menggeleng kecil, meski tahu Sephia tak mungkin melihatnya.
"Enggak kok."
"Gue lagi di luar kamar rawat nyokap."
"Oh..."
Sephia mengangguk pelan.
"Hmm..."
Suasana mendadak hening.
Tak ada yang berbicara.
Hanya suara langkah beberapa perawat yang sesekali terdengar dari lorong rumah sakit.
Alan menyandarkan punggungnya ke dinding.
Lelah.
Hari ini benar-benar terasa panjang.
Namun entah kenapa...
Mendengar suara Sephia membuat pikirannya sedikit lebih tenang.
Sudut bibirnya perlahan terangkat.
"Lo..."
"Khawatir sama gue?"
"Hah?"
Sephia spontan terdiam.
"P-pertanyaan apaan, sih?"
Alan terkekeh pelan.
"Soalnya..."
"...dari tadi yang lo pikirin kayaknya gue terus."
Wajah Sephia langsung memanas.
"Ya..."
"Kan lo tadi bikin panik."
"Tiba-tiba lari."
"Terus chat gue juga baru dibales malem."
Alan masih tersenyum.
"Cuma itu?"
Sephia mendengus pelan.
"Iya lah."
"Emang harus ada alasan lain?"
Alan terdiam beberapa detik.
Senyumnya justru semakin lebar.
"Nggak."
"Jawaban itu udah cukup."
Sephia mengernyit bingung.
"Cukup apanya?"
"Rahasia."
"Ih..."
"Nyebelin."
Alan tertawa pelan.
Tawa yang sejak siang tadi nyaris tak pernah terdengar.
Tanpa ia sadari...
Beban yang sejak tadi memenuhi dadanya terasa sedikit berkurang.
Hanya karena mendengar suara seorang gadis di ujung telepon.
Sementara itu, di kamarnya...
Sephia memandangi langit-langit sambil tetap menempelkan ponsel di telinga.
Entah kenapa...
Mendengar Alan masih bisa tertawa...
Membuat perasaannya ikut sedikit lebih lega.
Meski ia sendiri belum mengerti...
Kenapa ia bisa secemas itu saat Alan menghilang.
Suasana kembali hening.
Hanya suara langkah perawat yang sesekali terdengar melewati lorong rumah sakit.
Sephia menggenggam ponselnya sedikit lebih erat.
"Alan..."
"Hm?"
"Gimana keadaan Tante Olive sekarang?"
Alan menoleh ke arah pintu kamar rawat.
"Udah lebih baik."
"Dokter bilang kondisinya stabil."
"Besok tinggal dicek lagi."
Sephia mengembuskan napas lega.
"Syukurlah..."
"Gue dari tadi kepikiran."
Alan tersenyum tipis.
"Iya."
"Untungnya nggak separah yang gue bayangin."
Beberapa detik keduanya kembali terdiam.
Lalu Alan kembali membuka suara.
"...Maaf ya."
Sephia langsung mengernyit.
"Hah?"
"Kenapa lo minta maaf?"
Alan terkekeh pelan.
"Ya..."
"Bikin lo khawatir."
Sephia menggeleng pelan.
"Ya iya..."
"Tapi nggak perlu minta maaf juga."
Alan hanya diam.
Menunggu Sephia melanjutkan ucapannya.
"Soalnya..."
"Gue khawatir juga karena gue su..."
Kalimat itu langsung terputus.
Sephia membeku.
Matanya membelalak.
Jantungnya berdetak semakin cepat.
Alan ikut terdiam.
"Karena lo... apa?"
Tanya Alan pelan.
Sephia buru-buru menggeleng.
"Nggak."
"Maksud gue..."
"...gue suka kepikiran."
"Kalau ada temen yang tiba-tiba kenapa-kenapa."
"Oh..."
Alan mengangguk pelan.
Meski begitu...
Sudut bibirnya masih menyisakan senyum tipis.
Entah kenapa...
Ia merasa Sephia belum mengatakan seluruh kalimat yang sebenarnya.
Sementara di sisi lain...
Sephia diam-diam mengembuskan napas lega.
Nyaris saja...
Nyaris saja ia keceplosan.
Untung Alan tidak menyadarinya.
Atau...
Mungkin hanya pura-pura tidak menyadarinya.
Sephia masih menempelkan ponselnya di telinga.
Tanpa sadar, ia berjalan keluar kamar menuju balkon.
Malam itu terasa cukup tenang.
Angin berembus pelan, membuat tirai kamarnya bergoyang pelan.
Di seberang...
Lampu balkon rumah Sagara masih menyala.
"Piaaa..."
Suara itu membuat Sephia menoleh.
"Iya, Kak?"
Alan yang masih berada di ujung telepon memilih diam.
Entah kenapa...
Dadanya terasa sedikit sesak.
"Lagi apa?"
Sagara menyandarkan kedua tangannya di pagar balkon.
Sephia mengangkat ponselnya sambil tersenyum kecil.
"Teleponan."
"Sama siapa?"
"Alan."
Sagara sedikit terdiam.
Ekspresinya berubah sesaat.
Ia baru teringat kejadian siang tadi.
Alan yang tiba-tiba berlari meninggalkan sekolah.
Masuk akal kalau Sephia menghubunginya.
Meski begitu...
Entah kenapa ada sedikit rasa kesal yang muncul di dalam hatinya.
Namun ia tidak menunjukkannya.
Ia hanya tersenyum tipis.
"Ya udah."
"Jangan tidur malem-malem."
"Nanti cantiknya luntur."
Sephia langsung terkekeh.
"Iya, Kak."
"Malam."
"Malam."
Sagara masuk kembali ke dalam rumah.
Sementara di seberang telepon...
Alan mendengar setiap kalimat itu dengan jelas.
Entah kenapa...
Ucapan sederhana tadi membuatnya terdiam.
Sephia kembali mengangkat ponselnya.
"Sorry ya."
"Hm."
"Tadi Kak Sagara."
"Iya."
Alan menjawab singkat.
"Kok diem?"
"Nggak."
"Cuma ngantuk dikit."
"Oh..."
"Yaudah jangan dipaksain."
"Nanti Tante Olive bangun malah lo yang tumbang."
Alan terkekeh pelan.
"Iya."
Beberapa detik kemudian, mereka kembali mengobrol ringan.
Namun...
Pikiran Alan sudah melayang ke mana-mana.
Bayangan Sagara yang memanggil Sephia dari balkon terus terlintas di kepalanya.
Begitu akrab.
Begitu terbiasa.
Seolah itu memang sudah menjadi bagian dari keseharian mereka.
Alan mengingat kembali apa yang pernah ia lihat selama ini.
Sagara yang selalu berjalan di samping Sephia saat berangkat sekolah.
Sagara yang tanpa ragu melindungi Sephia saat kejadian di ruang arsip.
Tatapan Sagara setiap kali menatap gadis itu.
Alan bukan orang bodoh.
Ia tahu persis...
Tatapan seperti itu hanya dimiliki seseorang yang menyukai orang lain.
Sementara Sephia...
Masih saja memanggilnya dengan santai.
"Iya, Kak."
Tanpa sedikit pun menyadari arti di balik semua perhatian itu.
Alan tersenyum tipis.
Entah harus lega...
Atau justru semakin khawatir.
Karena cepat atau lambat...
Cepat atau lambat, Sephia pasti akan menyadarinya.
Dan saat hari itu tiba...
Alan tidak tahu...
Apakah dirinya masih punya kesempatan.
"Alan?"
Lamunannya buyar.
"Hm?"
"Kok diem lagi?"
"Nggak."
"Gue masih dengerin."
Sephia terkekeh pelan.
"Kirain ketiduran."
Alan ikut tersenyum.
"Belum."
"Terlalu banyak yang dipikirin."