"Apa lo takut?"
"Bukan. Gue cuma nggak mau dia ikut terluka."
Kalimat itu membuat Agnesa membeku.
Seumur hidupnya, Naren Aksara Gavindra adalah sumber masalah yang selalu ingin ia hindari. Ketua geng sekolah yang dingin, keras kepala, dan selalu berurusan dengan keributan.
Sementara Agnesa Valeria Anabella adalah Ketua OSIS yang hidupnya dipenuhi aturan, jadwal, dan kedisiplinan.
Mereka seharusnya berdiri di dua sisi yang berlawanan.
Namun sejak hari Agnesa berdiri di antara Naren dan musuhnya, sesuatu mulai berubah.
Di tengah ancaman Black Venom yang semakin dekat, rahasia masa lalu yang belum selesai, dan perang yang bisa pecah kapan saja, Naren justru sibuk memikirkan satu hal yang paling tidak masuk akal:
Tatapan Agnesa.
Dan yang lebih berbahaya, Agnesa mulai memikirkan Naren juga.
Tapi ketika perasaan tumbuh di antara mereka, sebuah pertanyaan muncul—
Apa yang akan terjadi jika gadis yang selalu mematuhi aturan jatuh hati pada laki-laki yang hidupnya adalah pelanggaran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayunda geaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penutupan baksos
Lampu gantung kristal di atas meja makan kediaman Anabella berpijar dengan intensitas yang tepat, memantulkan bias cahaya pada piring-piring porselen yang berjajar simetris.
Di luar, sisa hujan sore tadi masih menetes dari ujung daun mahoni, menciptakan bunyi tik... tik... tik... yang konsisten menghantam pipa talang.
Jarum jam di dinding ruang tengah baru saja melewati angka sembilan lewat empat puluh lima menit malam ketika denting pisau dan garpu yang beradu dengan piring menjadi satu-satunya melodi di ruangan itu.
Cring. Cring.
Agnesa duduk tegak, bahunya tidak menyentuh sandaran kursi kayu jati yang diukir halus.
Di hadapannya, Ayahnya sedang memotong steak dengan presisi, sementara Ibunya menyesap air mineral dari gelas berkaki tinggi.
Rambut Agnesa sudah tidak seberantakan tadi siang, namun ada beberapa helai di dekat tengkuk yang sengaja tidak ia selipkan ke balik telinga.
"Tadi Mama dengar dari Pak Herman, laporan baksosmu sudah selesai," Ibunya membuka suara, memecah kesunyian yang kaku.
Agnesa mengangguk pelan. "Sudah, Ma. Tadi ada sedikit kendala di bagian logistik, tapi sudah diperbaiki."
"Bagus. Mama tidak mau ada cacat di kegiatan terakhirmu sebelum fokus ke persiapan ujian internasional," sambung Ibunya.
Di tengah meja, terdapat vas bunga berisi tulip putih yang masih segar.
Wanginya yang lembut bersaing dengan aroma saus lada hitam yang kuat.
Agnesa memperhatikan pantulan wajahnya di sendok perak; hidungnya tampak lebih lebar dan matanya terlihat lelah.
Di sudut ruangan, sebuah mesin pendingin udara bekerja dengan suara dengung halus, hmmm..., menjaga suhu ruangan tetap di angka delapan belas derajat.
Sepotong brokoli di piring Agnesa dibiarkan utuh, terendam dalam genangan saus yang mulai mendingin dan mengental.
"Oh ya, Agnesa," Ayahnya meletakkan pisau.
Tuk.
"Tadi Papa lewat depan sekolahmu jam dua siang. Papa lihat banyak anak laki-laki bergerombol di parkiran motor belakang. Kelihatannya berandalan. Kamu tidak berurusan dengan mereka, kan?"
Agnesa berhenti mengunyah. Lidahnya mengecap rasa pahit yang tertinggal dari kaleng kopi murah pemberian Naren tadi pagi.
"Itu area parkir umum, Pa. Siswa memang sering di sana."
"Siswa atau sampah?" Ayahnya menatap tajam.
"Papa dengar ada geng motor yang namanya Zentrix atau semacamnya. Jangan sampai nama keluarga kita terseret kalau mereka membuat masalah. Kamu itu Ketua OSIS, kamu punya wewenang untuk menertibkan mereka."
Agnesa meletakkan garpunya dengan perlahan. Ia meraih serbet kain di pangkuannya, lalu menekankannya ke sudut bibir berkali-kali, meski tidak ada sisa makanan di sana.
Ia menunduk, menatap barisan kancing kemeja tidurnya yang berwarna biru pucat.
Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk pinggiran meja makan dengan ritme yang tidak beraturan—empat ketukan cepat, satu ketukan lama.
Ia tidak menjawab pernyataan Ayahnya selama hampir sepuluh detik.
"Agnesa?" tanya Ibunya.
"Mereka... tidak seburuk yang orang-orang bicarakan, Pa."
Ayahnya mendengus.
Cuih.
"Tidak buruk? Mereka itu parasit pendidikan. Hanya tahu cara merusak fasilitas dan membuang waktu."
"Naren—maksud saya, pemimpin mereka—dia membantu distribusi sembako kemarin."
Suasana mendadak menjadi lebih dingin dari embusan AC. Ayahnya menyandarkan punggung, matanya menyipit.
"Kamu menyebut namanya seolah kamu mengenalnya secara personal."
Agnesa teringat pada koleksi perangko milik kakeknya yang disimpan di dalam album plastik tebal.
Ada satu perangko dari negara yang sudah tidak ada lagi di peta. Perangko itu gambarnya burung cendrawasih, tapi warnanya sudah pudar karena terkena jamur.
Kakeknya pernah bilang bahwa sesuatu yang langka tidak selalu berharga bagi semua orang, tapi bagi kolektor, jamur itu justru menambah cerita.
Agnesa merasa seperti perangko itu sekarang; berada di dalam album yang sangat rapi, dilindungi plastik mahal, tapi perlahan-lahan ia merasa jamur di hatinya mulai tumbuh karena udara yang terlalu lembap di rumah ini.
Apakah kura-kura juga merasa lembap di dalam tempurungnya sendiri? Ataukah ia justru merasa kering karena tidak ada yang pernah menyentuh kulit aslinya?
"Saya hanya bekerja secara profesional sebagai Ketua OSIS, Pa," suara Agnesa kembali datar, sedatar garis horison di laut saat fajar.
"Profesionalisme tidak butuh pembelaan untuk orang seperti mereka," Ayahnya kembali meraih gelas kopinya.
"Besok penutupan baksos. Papa minta kamu pulang tepat waktu. Ada pertemuan dengan keluarga Mahendra. Kita akan bicara soal rencana studimu ke Oxford."
"Mahendra juga ikut?"
"Tentu. Keluarganya punya koneksi kuat di sana. Mahendra anak yang sopan, terdidik. Sangat kontras dengan... siapa tadi? Naren?"
Agnesa tidak menyahut lagi.
Ia memaksakan diri memakan potongan daging terakhir di piringnya. Rasanya seperti mengunyah karet penghapus yang sudah keras.
Nyam. Nyam.
Setelah makan malam yang melelahkan secara mental itu usai, Agnesa naik ke kamarnya.
Ia menutup pintu dengan bunyi klik yang pelan. Ia tidak langsung menyalakan lampu utama, hanya lampu meja yang cahayanya berwarna kekuningan.
Agnesa berjalan menuju meja belajarnya.
Di sana, tas sekolahnya tergeletak dengan posisi miring. Ia mengeluarkan sebuah plastik kecil yang tadi diberikan Venzo di depan gudang.
Ia mengeluarkan buku catatan hitam polos dan satu lembar stiker hewan laut.
Agnesa meraba permukaan sampul buku itu dengan ujung jarinya. Ia tidak membukanya. Ia justru mengambil sebuah penggaris besi, lalu mengukur panjang buku itu—sebuah aksi yang sama sekali tidak dibutuhkan.
Ia merapikan letak stiker lumba-lumba di atas meja agar sejajar sempurna dengan tepian buku catatan tersebut.
Ponselnya di atas kasur bergetar.
Bzzzt. Bzzzt.
Ada pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal, tapi ia tahu siapa pemiliknya dari gaya bicaranya.
0812-xxxx: Stikernya udah sampe? Venzo bilang lo kayaknya bakal suka ubur-ubur.
Agnesa mengetik dengan cepat.
Agnesa: Kenapa ubur-ubur?
0812-xxxx: Karena mereka nggak punya otak tapi tetep bisa hidup di laut yang dalem. Mirip lo kalau lagi ngerjain laporan OSIS sambil ngantuk.
Agnesa hampir saja menarik sudut bibirnya, namun ia menahannya.
Agnesa: Itu penghinaan atau pujian?
0812-xxxx: Tergantung lo liatnya dari mana. Udah makan? Tadi siang cuma makan cilok kan lo di kantin?
Agnesa: Saya makan steak malam ini. Dan saya tidak makan cilok tadi siang.
0812-xxxx: Steak ya? Pasti piringnya lebih gede daripada dagingnya. Mewah tapi bikin laper lagi.
Agnesa meletakkan ponselnya di atas meja, layarnya masih menyala.
Ia melihat ke arah cermin. Wajahnya yang "rapi" versi orang tuanya kini tampak asing baginya.
Agnesa merasakan tenggorokannya tiba-tiba terasa tersumbat, seolah ada sisa saus lada hitam yang menyangkut di sana.
Ia menarik napas panjang, namun dadanya terasa kaku. Ia menyentuh lehernya sendiri, meraba nadinya yang berdenyut cepat.
Dug-dug. Dug-dug.
Ia berjalan menuju jendela, membukanya sedikit.
Angin malam yang membawa bau tanah basah masuk, menerbangkan beberapa helai kertas di mejanya.
Agnesa tidak segera menutupnya kembali, ia membiarkan angin dingin itu menyentuh kulit wajahnya.
"Ubur-ubur..." gumamnya sendiri. "Setidaknya mereka tidak perlu punya rencana studi ke Oxford."
Ia kembali ke ponselnya.
Agnesa: Besok hari terakhir. Kamu datang?
Lama tidak ada balasan.
Agnesa memperhatikan status 'Online' yang muncul dan hilang bergantian di bawah nama kontak itu.
0812-xxxx: Kenapa? Takut nggak ada yang bikin kemeja lo basah lagi?
Agnesa: Bukan. Saya hanya ingin memastikan semua anggota distribusi hadir untuk paraf laporan terakhir.
0812-xxxx: Cuma buat paraf?
Agnesa: Ya.
0812-xxxx: Oke. Gue dateng. Tapi gue nggak mau pake pulpen item. Gue mau pake pulpen warna-warni punya Abyan.
Agnesa meletakkan ponselnya kembali. Kali ini ia benar-benar mematikan layarnya.
Tek.
Agnesa meraih buku catatan hitam dari Naren.
Ia membukanya ke halaman pertama yang masih kosong.
Ia mengambil pulpen hitam miliknya, hendak menuliskan namanya di sana, namun tangannya berhenti satu sentimeter di atas kertas.
Ia menarik kembali pulpennya, lalu menutup buku itu rapat-rapat.
Ia memasukkan buku itu ke dalam laci mejanya yang paling dalam, di bawah tumpukan formulir pendaftaran Oxford yang sudah ia isi setengah.
Ia berjalan menuju tempat tidur, merebahkan tubuhnya tanpa mengganti baju tidurnya dengan yang lebih rapi.
Ia menatap langit-langit kamar yang dihiasi lampu downlight yang redup.
"Papa benar," bisik Agnesa pada kegelapan.
"Mereka memang parasit. Mereka menempel di kepala saya dan tidak mau pergi."
Di kejauhan, terdengar suara raungan mesin motor Ninja yang sangat ia kenal, melintas di jalan raya utama di depan kompleks perumahannya.
Suaranya semakin menjauh, lalu hilang digantikan oleh suara jangkrik yang mulai bernyanyi di taman bawah.
Agnesa memiringkan tubuhnya, memeluk bantal gulingnya dengan erat.
Matanya terbuka lebar, menatap lurus ke arah pintu lemari pakaiannya yang tertutup rapat.
Kakinya yang tadi dibilang Naren "agak pincang" kini ia tekuk, menyembunyikan luka kecil di lututnya yang masih tertutup plester bergambar kelinci pemberian Naren tempo hari.
Ia tidak melepas plester itu, meski Ibunya tadi sempat bertanya mengapa ada bau minyak kayu putih yang menyengat dari arahnya.
Pukul sepuluh lewat lima belas malam.
Agnesa akhirnya memejamkan mata.
Di dalam kepalanya, ia tidak sedang berada di ruang makan mewah atau di perpustakaan Oxford.
Ia sedang berdiri di depan sebuah toko kelontong yang bau sabun batangan, menunggu hujan reda bersama seorang laki-laki yang kepalanya "keras" dan tidak takut pecah karena air hujan.
"Hanya paraf," gumamnya terakhir kali sebelum kesadarannya hanyut.
Suasana rumah itu benar-benar sunyi sekarang.
Hanya ada detak jam dan bayangan tulip di meja makan bawah yang perlahan-lahan mulai layu karena suhu AC yang terlalu rendah.
Rabu itu berakhir dengan sebuah rahasia yang tersimpan rapi di dalam laci meja belajar, di antara mimpi tentang Oxford dan kenyataan tentang sebuah buku catatan hitam yang belum sempat diisi satu kata pun.
BERSAMBUNG…
Bab Selanjutnya ➜
"Susu itu. Kenapa rasanya stroberi?"
"Nggak tahu. Tadi di minimarket adanya cuma itu sama rasa santan. Lo mau rasa santan?"
Naren Bikin Agnesa Bingung? Yuk Intip Kelanjutan Hubungan Mereka di Bab 16: Rasa yang Salah