NovelToon NovelToon
Tak Berniat Mengkhianati Sahabatku

Tak Berniat Mengkhianati Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Obsesi / Pengkhianatan
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lautan Ungu_07

Judul sebelumnya: Obsesi Sahabat Suami.

Regan Han Sebastian dikirim Dady-nya dari Singapura ke Indonesia untuk belajar bisnis di bawah bimbingan Alvero Halim Winata, sahabat sekaligus orang yang paling ia hormati.

Semua berjalan sesuai rencana... hingga Alvero mulai selalu melibatkan kehadiran Regan dalam rumah tangganya.

Kehangatan sebuah keluarga. Tawa seorang anak kecil. Dan perhatian sederhana dari seorang wanita bernama Veyra Alettha, istri dari Alvero.

Regan berusaha menjaga jarak, saat ada perasaan yang tak bisa ia jelaskan kepada siapapun. Ia bahkan memilih kembali ke Singapura demi melupakan semuanya.

Namun saat kembali ke Indonesia, yang pulang bukan lagi Regan yang sama.

Ia membawa perasaan yang tak pernah ia inginkan.

Perasaan yang perlahan berubah menjadi pengkhianatan terhadap satu-satunya sahabat yang paling ia hormati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lautan Ungu_07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Menentang Takdir

Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh lebih. Tapi Renzio masih aktif bermain di ruang tamu. Mungkin karena anak itu tertidur selama di perjalanan tadi.

"Anaknya pintar banget," kata Elea sambil menatap Renzio dengan senyum lebar.

Tangannya meraih tangan Veyra yang duduk di sampingnya. Lalu, menggenggamnya erat. "Vey, kamu juga cepet nikah. Kasih Bunda cucu juga. Mumpung Bunda masih ada."

Veyra langsung membeku. Napasnya tertahan seperkian detik. Sebelum ia membuang napas sambil tersenyum kaku.

"Bunda jangan ngomong kayak gitu. Doain aku aja, ya." Kata Veyra, jarinya mengelus punggung tangan Elea.

"Iya, Bunda selalu doain kamu sama Vania." Tangan Elea beralih mengelus punggung Veyra.

Kali ini Veyra tidak lagi bersuara. Tenggorokannya mendadak begitu kering.

"Vey, istirahat sana, kamu tidur di kamar Vania, ya. Biar temen kamu sama suaminya di kamar kamu."

Veyra menatap Farhan dan Alvero bergantian. Farhan hanya tersenyum lembut, sementara Alvero mengangguk kecil. Seolah memberi persetujuan.

Veyra menelan ludah. "Yaudah, Bun. Aku ke kamar duluan, ya."

Elea mengangguk. "Inget ya. Jangan berantakin kecantikannya Vania. Kalau dia pulang suka protes sama Bunda."

Langkah Veyra terhenti. Ia hanya tersenyum sebelum kembali melangkah masuk ke kamar Vania.

Di depan pintu, Veyra menarik napas. Tangannya gemetar saat memegang gagang pintu.

Begitu pintu dibuka. Aroma green tea bercampur dengan kayu jati, menciptakan aroma khas untuk kamar yang sudah kosong lama.

Veyra menyalakan lampu kamar. Lalu, ia menutup pintu. Pandangannya menatap sekitar. Kasur itu rapi. Lemari besar dari kayu jati masih berdiri kokoh.

Tenggorokan Veyra semakin tercekat saat sesak menghimpit dadanya. Ia mendekati meja belajar Vania. Buku-buku masih tertata rapi. Di atasnya, beberapa piala yang sedikit berdebu.

Pandangan Veyra terpaku lama pada figura foto mereka berdua. Pandangannya berubah buram. Air mata sudah menggenang di ujung matanya.

"Van, Bunda... masih anggap kamu ada..." Gumam Veyra lirih. Jari jempolnya mengusap permukaan foto.

Ia mulai terisak kecil. Hatinya jelas semakin sesak. "Van, maafin kakak... kakak gagal jagain kamu..." Suaranya pecah di ujung.

Veyra berjalan pelan mendekati ranjang, tubuhnya terduduk begitu saja. Tangisnya tidak bisa lagi Ia tahan.

Tangannya meraih selimut yang masih terlipat rapi. Ia memeluknya sambil menggigit selimut, untuk menahan suara tangis. Tapi justru semakin membuat dadanya sesak.

Sementara di ruang keluarga. Renzio sudah mulai merengek kecil di pangkuan Alvero. Dan Mbak Rini sedang membuatkan susu.

"Aduhh, aduhh... sabar ya, susunya lagi buat dulu." Elea mengelus kepala Renzio.

Tak lama, Mbak Rini kembali. Ia cepat-cepat membawa tubuh Renzio. "Ayok sayang, kita tidur yuk!"

"Tidur di kamar Veyra, ya." Kata Elea.

"Iya, Bund. Saya masuk kamar, ya." Mbak Rini segera pergi dan masuk ke kamar.

Suasana di sana seketika berubah hening. Alvero masih duduk sambil menunduk.

Tapi keheningan itu tidak bertahan lama. Farhan menepuk pelan paha Alvero.

"Gimana kerjaan kamu, lancar?" Tanya Farhan.

Alvero menoleh. "Lancar, Yah. Semuanya baik-baik saja."

"Mama sama Papa pada sehat, kan?" Tanya Farhan lagi, seolah berusaha mencairkan suasana. Agar Alvero tidak merasa benar-benar diasingkan.

"Sehat semua, Yah. Mereka juga titip salam buat Ayah sama Bunda." Jawab Alvero.

Elea memperhatikan mereka mengobrol. Ia mengernyit kecil. "Kalian kayak udah akrab lama. Padahal baru ketemu loh."

"Namanya juga laki-laki, Bund." Farhan menjawabnya cepat.

Elea menghela napas. "Udah, Yah. Jangan di ajak ngobrol terus. Kasihan dia pasti capek."

Farhan terkekeh kecil. "Aduhh, maaf ya Al. Ayah kangen ngobrol sama kamu. Jadi lupa kalau kamu abis nyetir." Katanya sambil menepuk punggung Alvero.

"Gak papa, Yah."

"Yaudah, kamu istirahat sana." Kini Elea yang mengelus lengannya.

Alvero menoleh ke arahnya. Ada senyum tulus dan tatapan lembut dari Ibu mertuanya itu. Tapi entah kenapa membuat dadanya sedikit berat.

"Aku masuk kamar, ya." Kata Alvero akhirnya. Ia menunjuk pintu kamar.

Alvero bangun dari duduknya. Ia mendekati pintu kamar Vania. Namun, saat tangannya hendak memegang gagang pintu. Suara Elea menghentikannya.

"Istri sama anak kamu tidur di kamar Veyra."

Alvero membuang napas. "Oh iya, aku lupa, Bund."

Akhirnya Alvero membuka pintu kamar Veyra. Dan Ia langsung masuk.

Di atas ranjang, Mbak Rini langsung terlonjak duduk. Menatap Alvero heran.

"Pak Al, kenapa masuk kamar saya?" Tanyanya.

Alvero nyengir kecil, melihat kepanikkan Mbak Rini. "Tenang aja, saya cuma numpang duduk sebentar."

"Kenapa harus di sini?" Tanya Mbak Rini lagi.

Alvero mendesah pelan. "Kamu ini... kayak baru pertama kali ke sini aja."

Mbak Rini akhirnya tertawa kecil.

"Zio udah tidur?"

"Udah, Pak."

Alvero hanya mengangguk. Kakinya melangkah ke arah meja rias yang bersebelahan dengan beja belajar Veyra.

Ada banyak buku dan beberapa piala juga. Ada beberapa bingkai foto saat Veyra masih kuliah. Tapi tangan Alvero meraih foto Veyra yang tengah berdua dengan Vania. Mereka memakai baju couple yang masih Veyra simpan hingga sekarang.

Jari telunjuknya mengelus foto itu. Ia tersenyum tipis. "Kalau saja kamu masih ada, Van. Mungkin kita gak harus pura-pura terus setiap ke sini." Bisiknya.

Samar suara obrolan di ruang keluarga mulai sunyi. Lampu-lampu rumah sudah dimatikan. Yang artinya, Elea dan Farhan sudah masuk kamar.

"Rini, menurutmu Bunda sudah masuk kamar belum, ya?" Tanya Alvero sambil menatap pintu.

Beberapa detik berlalu, pertanyaan itu tidak ada jawabannya. Membuat Alvero berbalik, ia langsung membuang napas. Mbak Rini sudah tertidur pulas di samping Renzio.

Alvero akhirnya membuka pintu. Benar saja, di sana sudah tidak ada siapa-siapa. Ia mengendap ke kamar sebelahnya, membuka pintu dengan hati-hati. Takut membuat Elea keluar dan takut menganggu Veyra.

Setelah pintu kembali di tutup. Mata Alvero membulat, ia melihat Veyra tengah menangis di atas ranjang sambil menggigit jari telunjuknya.

Selimut yang Veyra peluk sebelumnya sudah jatuh ke lantai. Jadi ia refleks menggigit jarinya untuk menahan suara tangisnya agar tidak keluar.

Alvero cepat-cepat mendekat. Ia ikut duduk di sebelah Veyra. Tangannya menepis pelan tangan Veyra.

"Sayang, jangan!"

Alvero melihat jari telunjuk istrinya, ada bekas gigitan yang mulai memerah. Kulitnya sedikit robek hingga mengeluarkan titik darah kecil. Alvero meniupnya pelan.

Tatapan Alvero jatuh lama ke wajah Veyra yang masih menangis. Dan itu, membuat hatinya ikut sakit. Tangan Alvero mengelus lembut kepala Veyra.

Ia tidak berbuat apa-apa, karena Alvero tahu. Ia tidak bisa mengubah apapun, selain memberi ruang untuk Veyra mengeluarkan semua yang mengendap di dadanya.

Setelah cukup lama Veyra tidak bereaksi. Sekarang ia memeluk Alvero, menenggelamkan wajah di dada suaminya. Tangis yang sejak tadi ia tahan, kini mulai pecah begitu saja.

Alvero tidak berkata sepatah kata pun. Ia hanya terus mengelus punggung Veyra.

Beberapa menit berlalu, tangis Veyra mulai mereda. "Mas..." Suaranya serak.

"Hm?"

"Sampai kapan... Bunda kayak gini? Sampai kapan, aku... aku harus pura-pura?"

"Sshuutt... sayang, itu tetap Bunda. Kamu gak lagi pura-pura."

Veyra melepaskan pelukannya, ia menatap wajah Alvero dengan mata yang sudah merah. "Mas... aku iri sama Bunda. Kenapa harus Bunda yang lupa semuanya... sementara aku... aku ingat semuanya."

Alvero menghela napas pelan. Tangannya menyentuh pipi Veyra yang masih basah. "Karena kamu ada aku. Ada Zio... kalau kamu lupa, Renzio juga gak bakal ada."

"Mas, aku gagal jadi seorang kakak. Aku lalai jagain Vania..."

"Sayang, yang kamu hadapi itu takdir Tuhan. Kalau kamu terus merasa kamu yang gagal... apa kamu juga sedang menentang takdir?" Tatapan Alvero semakin dalam.

"Vania bakal bangga punya kakak seperti kamu," lanjut Alvero. Suaranya semakin pelan.

"Tapi, Mas... kalau seandainya... aku yang gak ada..." Ucapan Veyra terputus, ia menelan ludah keras. "Apa Bunda akan seperti ini juga?" Tanya Veyra.

Alvero mengangguk cepat. "Pasti. Karena kamu dan Vania. Sama-sama anak kesayangan Bunda sama Ayah. Mereka selalu adil, nggak pernah pilih kasih, kan?"

Veyra membalas tatapan Alvero, walaupun buram karena air mata. Ia mengangguk sekali.

Alvero kembali menarik tubuh Veyra ke dalam pelukannya. "Sudah, ya. Selagi Bunda masih ada, kita masih bisa melihat dia. Hanya saja, ingatan Bunda hidup di masa lalu. Bukan sama sekarang."

Alvero menarik napas, lalu membuangnya pelan. Melihat Veyra menangis seperti ini, jelas membuat hatinya ikut sakit. Ikut merasa bersalah, karena ia tidak bisa mengubah apapun.

Yang hanya bisa ia lakukan sekarang, hanya sabar menghadapi Bunda Elea. Bukan menyalahkan siapa-siapa. Apalagi menyalahkan takdir yang bekerja secara rahasia. ​

1
james
kira-kira Veyra kenapa yah/Doge/
james
ah Veyra yang tergoda atau Regan /Sly/
Addb_Rh
Veyra... ingatlah trs suamimu.. jan ingat pria lain.. ya...? 🥲
Lenny Utami
go regan🤭
Lenny Utami
holang kaya ini mahj
Addb_Rh
Ini si, gmn pinternya ngendaliin perasaan aja. Btw, congrats Gan. akhirnya bisa ya ngeyakinin kerja sama sama mereka
Agatha soul
tanggung jawab lhoo
Its me
sikap veyra bisa mancing Regan nih
hati-hati lidah tak bertulang vey
mama Al
untung Alvero ga marah.
kebanyakan suami kan ga suka istrinya dekat dengan pria lain walaupun sahabatnya sendiri
arsyila putri
regan Regan kok bisa sih
Laila Sarifah
Kamu udah mulai ada rasa ya Gan sama Veyra?
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
ooooo.. regan memang begitu toh. mudah akrab ke siapa aja
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
di sini aku mulai curiga regan suka sama veyra
SANG
Lanjut👍👍👍💪👍👍👍👍💪💪💪💪👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
SANG
Like iklan plus komen 💪👍
SANG
Semangat ya thor 💪👍
SANG
Apaan tuh
SANG
Tuh, disana
SANG
Aku kasih suka ya Thor 💪👍
SANG
Habis dari mana sih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!