Veyra Aletha, ia tidak pernah berniat mencintai siapapun selain suaminya. Baginya, Alvero Halim Winata adalah rumah pertama, lelaki yang ia pilih untuk membangun keluarga kecil mereka bersama putra semata wayang mereka, Renzio Althar Halim.
Kehidupan pernikahan tidak selalu berjalan seperti yang dibayangkan. Di tengah kesibukan Alvero yang semakin tenggelem dalam pekerjaan, hadir Regan Han Sebastian, sahabat sekaligus rekan kerja suaminya yang selalu punya waktu untuk hadir saat Veyra merasa sendiri.
Menemani Renzio bermain. Mengantar Veyra saat Alvero sibuk. Datang membawa makanan. Dan perlahan mengisi ruang kosong yang tidak pernah Veyra sadari sebelumnya.
Hingga suatu hari, kecelakaan mengubah segalanya. Veyra dinyatakan hilang di lokasi kejadian.
Saat semua orang percaya Veyra telah hilang, Regan justru membawanya pergi ke Singapura. Menyimpan rahasia besar yang perlahan mengaburkan batas anatara cinta, rasa bersalah, dan obsesi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lautan Ungu_07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Berusaha Profesional
Suara alarm dari ponsel Regan terus berbunyi di atas meja. Regan mengerjap, tapi membiarkan suara itu terus memenuhi kamarnya.
Hawa dingin dari AC membuat Regan menarik selimut, hingga menutupi setengah wajahnya.
"Kenapa pagi cepet banget?" Tanyanya pada diri sendiri.
Setelah beberapa menit, Regan akhirnya membuka mata. Menatap kosong langit-langit kamar.
Penthouse itu kembali sunyi, tak ada lagi omelan Sofia atau ejekan Raymond.
Sudah satu jam berlalu. Pintu kamar Regan terbuka pelan, ia keluar dengan stelan yang sudah rapi. Mengenakan kemeja putih dan rompi hitam.
Sebelum kembali menutup pintu kamar, Regan mematung beberapa detik. Pandangannya mengintari seluruh ruangan, terutama bagian dapur.
Karena hari sebelumnya, Sofia sudah sibuk di dapur. Dengan aroma rempah-rempah yang menyeruak.
"Udah pulang, ya?" Katanya sambil menutup pintu kamar. Lalu, melangkah ke dapur.
Rasa kosong menggantung di dadanya. Saat kakinya benar-benar menginjak dapur, tak ada sambutan dari Sofia.
Mata Regan tertuju pada selembar kertas di atas meja makan. Ia meraihnya, lalu membaca setiap tulisan di sana.
"Makan yang banyak, ya. Jangan makan mie instan terus. Banyakin makan-makanan sehat. Mamy masakin banyak untuk beberapa hari kedepan. Kamu tinggal masukin microwave aja, ya. Love you sayang!"
Kedua sudut bibir Regan tertarik, menciptakan senyum manis, namun menyimpan kesedihan.
"Tunggu aku pulang, Mamy." Gumamnya sambil membuka kulkas.
Beberapa masakan khas China, India dan Singapura berjajar setiap rak. Ada juga buah yang sudah Sofia potong-potong. Bahkan setiap wadah sudah ditenpeli label kecil agar Regan tidak bingung memilih menu.
Regan meraih satu kotak yang berisi ayam kecap jahe. Ia memasukkannya ke dalam microwave.
Dan hampir sepuluh menit, makanan itu sudah panas. Regan duduk sendirian di meja makan, matanya sesekali terus mengintari ruangan itu.
...****************...
Matahari sudah berada di tengah langit. Menciptakan hawa panas yang menyengat. Cahayanya menembus masuk ke jendela kaca ruang kerja Alvero.
Alvero sedang duduk sambil memeriksa permintaan laporan keuangan dari klien.
Di hadapannya, Ahsan duduk menunggu.
"Kamu hubungi klien itu. Katakan, beri saya waktu dua hari." Ucap Alvero sambil menutup map biru tua.
Ahsan meraih map itu. "Baik, Pak. Kalau begitu saya langsung pamit, ya." Ahsan bangun dari duduknya.
Namun, setibanya di dekat pintu, Ahsan kembali menoleh. "Pak Al, mau ke kantin bareng lagi? Ini sudah jam makan siang."
Wajah Alvero terangkat menatap Ahsan. Ia tidak langsung menjawab. Seolah sedang dilanda kebingungan.
"Ehh, nanti saja. Saya belum lapar." Tolak Alvero.
"Oke, saya duluan." Ahsan mengacungkan jari jempolnya, lalu keluar dari ruangan Alvero.
Setelah pintu kembali tertutup rapat, Alvero menatapnya sebentar. Lalu beralih ke layar laptop.
Sebenarnya, rasa lapar sudah Alvero rasakan. Hanya saja, ia tidak ingin menjadi pusat perhatian lagi seperti hari sebelumnya.
Jadi sekarang, Alvero menunggu cafeteria cukup sepi.
Sementara di lorong, Regan berjalan santai menuju lift, untuk makan siang. Nomor dua puluh lima bergerak turun ke sepuluh.
Begitu lift berbunyi pelan, pintu terbuka otomatis. Regan langsung keluar.
Suasana cafeteria setiap siang selalu ramai. Suara obrolan dan aroma makanan bercampur jadi satu.
Di dekat pintu masuk, Regan mengambil satu nampan.
Setelah nampan terisi oleh beberapa macam makanan, Regan duduk di kursi bagian belakang. Dan di sampingnya, dipenuhi para karyawan-karyawan perempuan.
Regan menghela napas. "Semoga aja tidak ada yang rese." Gumamnya.
Begitu ia duduk, dua perempuan langsung menatapnya. Regan hanya tersenyum sambil mengangguk.
"Tumben banget akhir-akhir ini makan di sini? Biasanya di bawa ke ruangan?" Tanya salah satu perempuan.
Regan menoleh, mulut yang sibuk mengunyah itu berhenti sesaat. "Udah bosan saja. Lagi pengen lihat cewek-cewek cantik di perusahaan ini."
Kelima perempuan di meja sebelahannya sontak tersenyum.
"Bisa aja, Pak."
Regan hanya menaikkan alisnya sekali.
"Bilang aja lagi kena hukuman, Pak Al!" Celetuk satu perempuan yang tepat berada di samping Regan.
"Jangan sok tahu," jawab Regan cepat.
Perempuan itu hanya terkekeh. Ia segera bangun dari duduknya. Lalu beralih duduk di kursi yang satu meja dengan Regan.
"Aku tahu loh," katanya.
"Diam! Saya lagi makan!" Regan menegurnya dengan suara datar.
"Saya tahu." Jawabnya.
Perempuan itu, Jenar. Rekan kerja Ahsan yang satu profesi. Yaitu, perwakilan Alvero untuk menemui klien, atau disaat klien meminta penjelasan keuntungan.
Tatapan Regan jatuh menusuk ke arahnya. Tapi mulutnya masih mengunyah dengan santai. Ia tidak menanggapinya lagi.
"Pak Regan, mau aku bantu cari calon investor gak nih?" Katanya.
Regan hanya diam. Seolah tidak ada siapa-siapa di depannya.
"Aku bisa loh. Nanti aku kasih trik dan tipsnya. Biar Pak Regan bisa lepas dari hukuman, Pak Al." Katanya lagi.
Regan memutar bola matanya malas.
"Hm, aku kasihan aja sih sama kalian. Gara-gara Pak Al ngasih hukuman sama Pak Regan, dia jadi gak bisa makan dengan tenang." Jenar memajukan wajahnya.
"Dia sampai tidak nyaman makan di sini. Karena banyak desas-desus, yang mengaggumi ketampanannya." Lanjut Jenar, suaranya dibuat pelan. Dan ekpresinya dibuat seserius mungkin.
Regan masih tidak memberikan satu jawaban pun. Ia membuka tutup botol air meneral, dan meneguk minumannya.
"Pak Regan, nanti aku..."
"Berisik!" Potong Regan sambil menyuapi satu anggur hijau ke mulut Jenar. Dan Regan, cepat-cepat bangun dari duduknya.
Jenar mengunyah anggur itu sambil menatap langkah Regan.
Sementara Regan, ia berjalan menuju tempat kotak makanan tersusun. Ia mengambil satu, air minum dan beberapa makanan penutup.
Setelah semuanya lengkap, Regan segera keluar. Dan naik lift.
Begitu tiba di lantai dua puluh lima. Regan tidak langsung masuk ke ruangannya. Melainkan ke ruangan Alvero.
Mendengar cerita Jenar tadi, membuat Regan paham atas ketidaknyamanannya Alvero. Sekaligus khawatir kalau Alvero telat makan, dan asam lambungnya kambuh.
Di depan pintu, Regan berdiri, ia menarik napas.
"Harus profesional," katanya sebelum mengetuk pintu.
"Masuk!"
Setelah samar suara itu terdengar, Regan membuka pintu.
"Al aku..." Ucapannya seketika terhenti. Ia cepat-cepat berdeh kecil. Merubah ekpresi menjadi serius.
"Selamat siang, Pak Al. Maaf mengganggu, saya hanya mengantarkan makan siang."
Regan menyusun makanan di meja kaca yang berada tak jauh dari meja kerja Alvero.
Alvero memperhatikan Regan dengan sedikit rasa asing.
"Makanannya sudah siap. Kalau begitu, saya kembali ke ruangan saya." Regan berbalik, melangkah menuju pintu.
"Regan, tunggu!" Alvero menghentikan langkah Regan yang sudah berada di ambang pintu.
Regan menoleh. "Kenapa?" Tanyanya datar.
Alvero tidak langsung berbicara. "Orangtuamu... sudah pulang?" Ucapnya setelah diam beberapa detik.
Regan mengangguk sekali. "Sudah."
"Regan, Zio nanyain kamu terus."
Mendengar nama itu, tubuh Regan membeku seperkian detik. Lalu ia tersenyum tipis. "Nanti aku main ke rumah."
Tangan Regan memegang gagang pintu, ia hendak menutup pintu itu.
"Regan."
Tapi suara Alvero kembali menghentikan gerakannya.
"Iya?"
"Terima kasih."
Regan hanya mengangguk. Dan sekarang pintu itu benar-benar terutup. Alvero hanya menatap permukaan pintu.
Ia terkekeh. "Kenapa jadi asing. Bukannya dia sedang berusaha profesional?" Gumamnya.
Alvero menutup pelan laptopnya. Kemudian, Ia duduk di sofa sambil membuka makanan di atas meja.
Sementara di lorong. Regan hanya tersenyum kecil. Hanya untuk satu hal. Yaitu, mendengar Renzio yang mencarinya. Membuat Regan merasa tidak benar-benar kesepian setelah orangtuanya pulang.
masih banyak cewek cantik kok. 🤣
normal ya Reg, punya pacar makanya🤣
ngalahin anaknya Al, ih kamu Reg.. 😩🤦🏻♀️🤦🏻♀️
apa Alvaro siap di binor sama Regan