NovelToon NovelToon
Perjalanan Sang Kaisar Pedang Surgawi

Perjalanan Sang Kaisar Pedang Surgawi

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Action / Anak Genius
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: DafToon

Satu Hari 5 Bab... bantu saya untuk terus berkarya😎😎

Di Kota Xiang, seorang jenius muda bernama Xiao Ba pernah dipuja sebagai harapan terbesar Keluarga Xiao karena memiliki Akar Spiritual Suci Tingkat 9, bakat langka yang bahkan sulit ditemukan dalam seribu tahun. Namun semuanya berubah ketika akar spiritualnya hancur secara misterius, membuatnya jatuh dari langit ke dasar kehinaan dalam semalam.

Dulu dipuji, kini dihina.

Dulu didekati, kini dijauhi.

Bahkan keluarga yang pernah memohon perjodohan dengannya datang untuk memutuskan hubungan sambil mempermalukannya di depan semua orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DafToon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Surat Untuk Kakek

Tiga hari setelah percakapan di alun-alun, pasukan Kerajaan Ying meninggalkan Kota Beira.

Tidak ada pengumuman resmi. Tidak ada penjelasan yang diberikan kepada siapa pun. Mereka hanya pergi suatu pagi ketika penduduk kota bangun dan mendapati bahwa kemah-kemah di luar tembok utara sudah kosong, api-api unggun sudah padam, dan jejak-jejak yang ditinggalkan oleh dua ratus lebih prajurit di tanah sudah mulai kabur diterpa angin pagi.

Seperti mimpi buruk yang memilih pergi sendiri sebelum yang tidur sempat terbangun.

Kota Beira kembali ke ritme normalnya dalam waktu yang mengejutkan. Toko-toko dibuka kembali, nelayan kembali ke laut, anak-anak kembali bermain di jalanan yang seminggu lalu dijaga oleh prajurit bersenjata.

Manusia memiliki kemampuan yang luar biasa untuk melanjutkan kehidupan mereka bahkan setelah dihadapkan pada kemungkinan yang mengerikan, seolah kembalinya normalitas sehari-hari adalah cara paling alami untuk menegaskan bahwa mereka masih ada dan masih akan terus ada.

Xiao Ba menyaksikan semua ini dari teras kediaman yang menghadap ke kota di bawahnya.

Ia tidak merasa lega yang besar ketika pasukan itu pergi.

Bukan karena ia tidak menghargai perginya ancaman tersebut. Melainkan karena ia tahu bahwa kepergian ini bukan penyelesaian. Hanya jeda.

Raja Ying Lao tidak akan melupakan keluarga yang berani membuatnya harus menarik pasukannya. Hu Weijun mungkin seorang penasihat yang lebih bijak dari kebanyakan orang di sekitar raja itu, namun kebijaksanaan satu orang tidak selalu cukup untuk mengubah keputusan seseorang yang sudah terlalu lama hidup di lingkaran di mana kekuasaan adalah satu-satunya bahasa yang dipahami.

Ancaman itu belum pergi.

Hanya mundur ke tempat yang tidak terlihat.

Itu berarti waktu yang ia miliki untuk menyelesaikan urusan di sini sebelum ancaman itu kembali dengan bentuk yang lebih serius adalah waktu yang harus digunakan dengan sangat efisien.

Ia membutuhkan dua hari.

Hari pertama untuk memastikan kediaman Keluarga Xiao dalam kondisi yang bisa berdiri sendiri tanpa kehadirannya, dengan orang-orang yang tepat di posisi yang tepat dan pemahaman yang jelas tentang apa yang harus dilakukan dalam berbagai skenario yang mungkin terjadi.

Hari kedua untuk menyelesaikan satu kunjungan yang tidak bisa ditunda lagi.

Ia memulai hari pertama dengan memanggil Penatua Ketiga Xiao Shu dan Penatua Keempat Xiao Lao ke ruang kerja.

Percakapan itu berlangsung lebih lama dari yang biasanya ia lakukan. Mereka membahas setiap skenario yang bisa ia bayangkan, setiap kemungkinan yang perlu diantisipasi, setiap keputusan yang mungkin perlu diambil dalam ketidakhadirannya. Dua penatua itu mendengarkan dengan seksama, bertanya di tempat yang perlu, dan di akhir percakapan menunjukkan pemahaman yang cukup untuk membuat Xiao Ba merasa bahwa kediaman ini tidak akan jatuh karena ketiadaan satu orang.

Sore harinya ia mengunjungi Keluarga Fu.

Bukan kediaman mereka di dalam kota, melainkan tempat di mana Fu Jingmi biasanya berlatih di sore hari, sebuah lapangan terbuka di tepi kota yang menghadap ke arah Tebing Tujuh Roh yang terlihat siluetnya di kejauhan.

Ia menemukan Fu Jingmi sedang berlatih pedang sendirian. Gerakannya sudah lebih terkontrol dari saat terakhir ia melihatnya terluka di dalam kawasan tebing. Luka itu sudah sembuh.

Fu Jingmi menghentikan latihannya ketika mendeteksi kedatangan Xiao Ba.

Keduanya saling memberi anggukan singkat, bahasa yang sudah cukup di antara dua orang yang sudah melewati cukup banyak hal bersama meski tidak pernah benar-benar berniat untuk melakukannya.

"Aku akan pergi dari kota ini dalam waktu dekat," ucap Xiao Ba langsung.

Fu Jingmi tidak terlihat terkejut. "Aku sudah menduga. Kapan?"

"Besok."

Ini yang membuat Fu Jingmi sedikit terkejut, namun hanya sesaat.

"Begitu cepat."

"Situasinya tidak memberikan kemewahan untuk berlambat-lambat."

Fu Jingmi memasukkan pedangnya ke sarung, berbalik sepenuhnya menghadap Xiao Ba.

"Ada yang bisa aku bantu sebelum kamu pergi?"

"Tidak." Xiao Ba menggeleng. "Aku hanya ingin memberitahumu."

"Memberitahuku?" Ada sesuatu di nada suara Fu Jingmi yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya. "Kenapa?"

Xiao Ba memikirkan jawabannya sebentar.

"Karena kamu adalah salah satu dari sangat sedikit orang di kota ini yang tidak pernah memperlakukanku berdasarkan apa yang dikatakan orang lain tentangku," ucapnya akhirnya. "Itu layak untuk mendapatkan sopan santun minimal berupa pemberitahuan."

Fu Jingmi diam selama beberapa detik.

"Ke mana kamu akan pergi?" tanyanya akhirnya.

"Belum tahu pasti. Tapi jauh."

"Sendirian?"

"Untuk sementara."

Fu Jingmi mengangguk pelan, tatapannya ke arah siluet Tebing Tujuh Roh di kejauhan, ke tempat di mana mereka berdua secara tidak terencana menjadi bagian dari cerita masing-masing selama sebulan penuh.

"Hati-hati," ucapnya akhirnya, kata-kata yang sederhana namun diucapkan dengan cara yang menunjukkan bahwa di baliknya ada lebih dari sekadar basa-basi.

"Kamu juga," jawab Xiao Ba.

Ia berbalik dan berjalan meninggalkan lapangan latihan itu.

Di belakangnya, Fu Jingmi menatap punggung yang menjauh dengan ekspresi yang tidak ia tunjukkan kepada siapa pun.

Malam itu, di dalam paviliunnya yang sudah mulai terasa seperti tempat yang ia kunjungi, bukan tempat yang ia tinggali, Xiao Ba duduk di depan meja dan mengambil sepotong kertas serta sebuah kuas.

Ia menulis.

Bukan surat yang panjang.

Melainkan surat yang singkat, namun mengandung semua yang perlu dikatakan dan tidak bisa dikatakan secara langsung karena waktunya tidak memungkinkan.

...----------------...

Kakek,

Ketika Kakek membaca surat ini, aku sudah pergi.

Bukan karena aku tidak ingin pamit secara langsung. Tapi karena aku tahu bahwa jika kita bertemu lagi sebelum aku pergi, Kakek akan mencari cara untuk ikut atau untuk menundanya. Dan aku tidak bisa membiarkan itu terjadi.

Urusan di kediaman sudah aku atur sebaik mungkin. Penatua Shu dan Penatua Lao tahu apa yang harus dilakukan. Kediaman ini tidak akan jatuh hanya karena aku tidak ada.

Tentang Kerajaan Ying, ancaman itu belum pergi. Tapi mereka sedang dalam kondisi tidak yakin tentang apa yang sebenarnya mereka hadapi. Gunakan waktu itu dengan bijak.

Ada hal yang ingin aku katakan dan sudah lama tidak aku ucapkan dengan kata-kata langsung.

Terima kasih.

Untuk semua yang sudah Kakek lakukan. Untuk tidak menyerah bahkan ketika semua orang sudah menyerah. Untuk datang sendiri ke markas Klan Cakar Hitam dengan tubuh yang tidak dalam kondisi terbaik hanya karena tidak bisa menahan diri melihat cucu satu-satunya disakiti.

Kakek sudah cukup. Lebih dari cukup. Sekarang giliran aku. Aku akan menemukan Ayah dan Ibu.

Dan ketika waktunya tiba, aku akan kembali.

Xiao Ba

...----------------...

Ia melipat surat itu, menyegelnya dengan sedikit energi Qi yang membentuk pola sederhana di permukaan lilin penutupnya, dan meletakkannya di atas meja dengan cara yang memastikan ia akan menjadi hal pertama yang terlihat oleh siapa pun yang memasuki ruangan ini.

Lalu ia berdiri, berjalan ke jendela yang menghadap ke Teluk Beira.

Malam ini airnya tenang, permukaan laut yang biasanya selalu bergerak kini terlihat seperti cermin raksasa yang memantulkan bintang-bintang di atasnya dengan presisi yang hampir tidak nyata.

Ia membuka jendela, membiarkan angin laut masuk.

Aroma garam dan laut yang sudah menjadi bagian dari napasnya sejak ia pertama kali mengingat dirinya sedang bernapas.

Besok ia akan meninggalkan semua ini.

Meninggalkan kota yang sudah membesarkannya. Meninggalkan rumah yang menyimpan semua ingatan masa kecilnya. Meninggalkan kakek yang sudah menjadi satu-satunya konstanta dalam kehidupannya sejak ayah dan ibunya pergi.

Namun di luar semua itu, ada sesuatu yang sudah lama menunggunya.

Sebuah jalan yang sudah diletakkan ribuan tahun sebelum ia lahir oleh seseorang yang wajahnya terasa seperti cermin dari wajahnya sendiri.

Sebuah warisan yang jauh lebih besar dari sekadar teknik dan pengetahuan.

Sebuah pertanyaan yang jawabannya tidak bisa ditemukan di dalam batas-batas Kota Beira, Kerajaan Ying, atau bahkan Benua Yancun.

Xiao Ba menutup jendela itu kembali.

Berbalik ke dalam kamar yang sudah mulai ia rapikan sejak tadi sore, meninggalkan hanya benda-benda yang perlu dan tidak mengambil apa pun yang tidak ia butuhkan.

Pedang di pinggangnya.

Tas penyimpanan yang berisi perbekalan secukupnya dan Inti Roh Samudra yang masih tersisa.

Dan ribuan bintang di lautan kesadarannya yang belum semuanya ia buka, warisan sang Kaisar Langit yang akan menemaninya ke mana pun ia pergi.

Sudah cukup.

Lebih dari cukup untuk memulai.

Ia berbaring di tempat tidurnya untuk terakhir kalinya, memejamkan matanya, membiarkan suara ombak yang terdengar samar-samar dari kejauhan mengisi keheningan kamarnya.

Dan dalam keheningan yang diisi oleh suara laut yang tidak pernah berhenti, seorang pemuda berambut hitam panjang yang empat belas tahun lalu lahir di kota ini dengan membawa sebuah anugerah yang hampir menghancurkannya sebelum sempat menyelamatkannya, jatuh tertidur untuk terakhir kalinya sebagai seseorang yang belum pernah pergi lebih jauh dari batas kota yang bisa ia lihat dari puncak Bukit Karang.

Besok semua itu akan berubah.

Fajar menyingsing perlahan di atas Laut Selatan ketika Xiao Ba berjalan keluar dari gerbang kediaman Keluarga Xiao untuk pertama kalinya sebagai seseorang yang berangkat bukan untuk kembali dalam waktu dekat.

Jalanan kota masih sunyi pada jam ini.

Hanya beberapa nelayan yang berjalan ke arah pelabuhan dengan peralatan mereka, beberapa pedagang yang membuka lapak mereka lebih pagi dari yang lain, dan seekor kucing jalanan yang menatapnya dengan rasa ingin tahu sebentar sebelum melanjutkan urusannya sendiri.

Xiao Ba berjalan melalui kota ini untuk terakhir kalinya, membiarkan matanya menyentuh setiap sudut yang sudah ia kenal sejak kecil. Toko pil spiritual tempat sang kakek selalu membelikannya pil penyembuh saat ia sakit. Jembatan kecil di atas saluran air yang ia gunakan untuk duduk dan melempar batu ke air ketika masih sangat kecil. Pohon besar di tepi jalan utama yang daunnya selalu berguguran lebih awal dari pohon lain setiap musim gugur.

Hal-hal kecil yang tidak pernah terasa penting sampai tiba saatnya untuk meninggalkannya.

Ia tiba di gerbang utara kota ketika matahari baru saja muncul di cakrawala. Cahaya pertamanya yang keemasan menyentuh puncak Tebing Tujuh Roh di kejauhan dan membuatnya bersinar seperti emas selama beberapa menit sebelum warna itu perlahan memudar menjadi abu-abu batu biasa.

Penjaga gerbang yang bertugas pagi itu mengenalinya dan membuka gerbang tanpa bertanya.

Xiao Ba melangkah melewati gerbang itu.

Di baliknya, jalan yang membentang menuju utara, menuju wilayah-wilayah yang belum pernah ia masuki, menuju dunia yang jauh lebih besar dari apa yang pernah ia lihat.

Ia tidak berbalik.

Tidak melihat ke belakang ke arah kota yang perlahan mengecil di punggungnya seiring ia berjalan semakin jauh.

Bukan karena tidak ada yang perlu ia lihat di sana.

Melainkan karena ada sesuatu di depan yang lebih besar dari semua yang ada di belakang.

Di lautan kesadarannya, ribuan bintang bersinar dengan cara yang berbeda dari pagi biasa, lebih terang, lebih bersemangat, seolah mereka pun merasakan bahwa perjalanan yang sebenarnya baru saja dimulai.

Angin dari Laut Selatan masih bisa ia rasakan di punggungnya meski ia sudah mulai menjauh dari pantai, seperti kota yang ia tinggalkan itu sedang melepaskannya dengan satu hembusan napas terakhir.

Xiao Ba berjalan.

Dengan pedang di pinggangnya.

Dengan warisan Kaisar Langit di lautan kesadarannya. Dengan nama yang oleh dunia sudah dihapus dari semua papan taruhan dan semua perhitungan tentang siapa yang akan menjadi kuat dan siapa yang tidak. Dengan api yang tidak pernah padam bahkan di titik paling gelap yang pernah ia lalui.

Ia berjalan.

Dan di balik cakrawala yang terus bergeser semakin jauh ke depan seiring setiap langkahnya....

1
Jojo Shua
🔥🔥
Jojo Shua
🔥
Jojo Shua
☕️☕️
Jojo Shua
😍
Jojo Shua
☕️
Dafa Faiha Roshiq: kasih tip dikit dikit dong
total 1 replies
Jojo Shua
😍
syarif ibrahim
akankah waktu berpihak kepada xiao Ba..... 🤔🤔🤔💪
Dafa Faiha Roshiq: pasti berpihak kan gw authornya
total 1 replies
Jojo Shua
😄😄✅️
Jojo Shua
😍
Jojo Shua
🔥🔥
Jojo Shua
😍
Jojo Shua
🔥🔥
Jojo Shua
🔥
Jojo Shua
☕️
Jojo Shua
😍
Dafa Faiha Roshiq: kasih penilaian nya dong
total 1 replies
sibaweh abduh
nice thor
Dafa Faiha Roshiq: Terima kasih bossku
total 1 replies
Jerry K-el
bagus ceritanya mengalir,tdk bertele-tele.
pertahankan👌
Protocetus
Mampir ya ke novelku Remontada
Dafa Faiha Roshiq: done yahhh
total 1 replies
Dafa Faiha Roshiq
teman aku butuh penilaian mu
Dafa Faiha Roshiq
Gimana masih ada yang kurang tidak bro
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!