NovelToon NovelToon
PENGGANTI

PENGGANTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Angst / Pengganti
Popularitas:843
Nilai: 5
Nama Author: nona yeppo

Yura, gadis kesepian yang tiba-tiba harus pulang ke desa tempat nenek nya tinggal selama ini. Sang ibu yang akan menikah lagi menjadi salah satu alasan untuk kepindahannya.


Ia tidak banyak bicara, hanya menurut dan mengemasi barang-barang yang akan ia bawa.


Namun siapa sangka, kepindahannya ke desa membuatnya memiliki kehidupan baru yang lebih berwarna. Ia bahkan bertemu dengan gadis yang memiliki nama yang persis sama dengan namanya.


Lantas, akankah Yura berhasil menemukan kebahagiaan walaupun harus hidup berdampingan dengan gadis yang seolah memiliki ikatan dengannya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nona yeppo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sebuah Foto

Ciiiitttt, bruk....

"Aduh... "

Yura mengaduh kesakitan saat kepala nya menabrak sesuati yang tidak terlalu keras dihadapannya. jantungnya hampir berhenti berdetak karena keterkejutannya.

Mimpi yang terasa nyata itu masih terbayang didalam ingatannya. "Pak dimana ini...? "

Seketika ia mencondongkan tubuh nya ke depan guna bertanya pada supir yang masih fokus memperhatikan kejadian didepan mereka.

Ada insiden kecil yang membuat supir itu melakukan rem mendadak, dan itu lah yang membangun kan Yura dari tidur lelapnya.

"Mendekati stasiun neng... " jawab sang supir.

Yura tak lagi pedulikan rambutnya yang awur-awuran, fokus nya hanya pada Steven saja. Kemudian ia segera mengecek ponselnya, memastikan apakah ia hanya mimpi atau tidak.

Dengan jari yang sedikit bergetar, dan dahi yang mengeluarkan keringat sebesar biji jagung, ia mengutak-atik ponselnya disana.

Tidak ada panggilan seperti ketakutan nya, yang berarti semua hanya mimpi. "Aku pasti sudah stress,,, "

Lantas ucapan nya membuat sang supir menjadi merasa bersalah karena telah menyebabkan keterkejutan besar ini.

"Maaf neng, didepan tadi ada kecelakaan kecil... "

"Yasudah, saya jalan saja pak. Lagipula stasiun nya sudah kelihatan... "

Setelah memberi kan ongkosnya, gadis itu segera turun dan menyandang tas punggung nya lalu berjalan memasuki kerumunan orang-orang yang memadati tempat itu.

Ia menghempaskan tubuh nya kekursi penumpang saat dirinya telah selesai membayar tiketnya.

Ia bersandar pasrah pada sandaran kursi, matanya nanar menatap keluar seolah mencari seseorang disana.

Ting....

Sebuah pesan yang masuk didalam ponselnya segera ia buka. Ia sudah sangat lama menantikan pesan atau bahkan telepon dari Steven.

Harapan nya tentang Steven harus musnah kala pesan itu berasal dari nomor yang tidak tesimpan didalam ponselnya.

Nomor baru itu mengirimkan sebuah foto yang menampilkan sepasang laki-laki dan perempuan yang berdiri secara berdampingan.

Gadis didalam foto itu tersenyum bahagia, sedangkan pria disamping nya itu hanya menatap datar.

Walaupun tatapannya datar, kamera tetap berhasil mengabadikan tangan wanita itu yang tersampir memeluk lengan sang pria.

Lalu mata Yura bergerak kebawah, ada tulisan yang dikirim oleh sesosok misterius itu. Ada apa gerangan ia mengirimkan gambar yang masih belum jelas ke akuratan nya itu? .

"Aku sangat penasaran bagaimana reaksimu setelah melihat kak Steven bersama dengan perempuan itu.."

Begitu tertulis disana, membuat jari jemarinya kembali bergetar hebat. Ia bahkan harus menekan secara kuat-kuat dibagian inang jarinya demi untuk menghentikan getaran hebat yang muncul disana.

Sungguh ia ingin menangis, tapi terhalang oleh keadaan yang tidak memungkinkan. Dihadapan nya ada orang lain yang mungkin akan membuat nya merasa malu.

Berbagai spekulasi yang kemudian bermunculan dikepalanya semakin membuat air matanya keluar jua tanpa bisa dicegah.

Apa ini ada kaitannya dengan mimpi buruknya beberapa saat yang lalu, ? Ditambah lagi ingatannya yang mundur ke tiga bulan yang lalu, dimana Steven ingin mengatakan sesuatu padanya.

Dengan wajah yang tertunduk, ia berulang kali memastikan pria didalam gambar itu. Berharap padangannya yang bermasalah.

Berulangkali pula ia menghapus air matanya dengan gerakan yang sangat halus untuk menyamarkan tindakannya.

Ia tidak ingin jadi bahan perhatian tentu nya, namun kesedihan hati nya juga sangat tidak tertahankan.

Dengan mata yang memerah, dan hidung yang Ikut-ikutan memerah, akhirnya ia memutuskan untuk beranjak ke kamar mandi didalam kereta itu.

Ia tak lagi mempedulikan ponselnya yang tertinggal akibat hidungnya yang sudah terasa sangat penuh.

Hingga tanpa ia sadari, pria dihadapan nya yang sejak tadi memperhatikan nya segera mengambil ponsel itu.

Liam, sejak awal telah duduk dikursi itu sebelum Yura masuk dan duduk dihadapan nya. Ia melihat semua setiap gerakan yang dibuat oleh gadis itu.

Bahkan air mata yang menetes dari mata indah gadis itu pun bisa Liam hitung berapa kali terjatuh membasahi wajahnya.

"Bukan aku yang sengaja mencarimu ra, tapi waktu lah yang membuat kita akhirnya bertemu kembali dalam keadaanmu yang selalu terluka... "

Sebelum gadis itu kembali, ia segera mengembalikan ponsel itu seperti semula. Ia bahkan menggelengkan kepalanya karena kecerobohan gadis itu disaat dirinya sedang tertimpa sebuah masalah.

Seharusnya malam panjang ini akan ia habiskan dengan tidur, namun kiriman gambar itu membuat matanya tetap terjaga hingga pagi.

Setelah kereta tiba, Yura keluar dengan tidak bersemangat. Ia menyeret kakinya asal, sambil kepala nya dipenuhi berbagai pikiran buruk.

Ia kemudian sibuk menghubungi seseorang di sana, sambil terus di tatap oleh Liam dari jarak yang aman.

Berkali-kali ia sambungkan, berkali-kali pula telepon itu tidak bersambut. Kenyataan itu semakin membuat perasaan Yura tak karuan.

Ia berjalan tanpa memperhatikan sekitarnya sehingga tanpa sengaja dirinya disenggol oleh orang yang berjalan di area itu.

Namun dirinya tak sampai terjatuh ketanah karena seseorang menopang tubuhnya dari belakang.

Liam akhirnya tak tahan lagi, ia segera mendekat menopang gadis itu. Entah apa yang akan dikatakan gadis itu, ia tak peduli lagi.

Yura yang pasrah akan terjatuh pada akhirnya merasa bingung karena seseorang telah menahan tubuhnya dari belakang.

Ia menoleh, dan terpaku saat mengetahui orang yang ada dibelakang nya. Matanya seolah terkunci, membuat tubuhnya tidak bisa lagi untuk bergerak.

Liam yang mengerti keadaan gadis itu hanya bisa menarik pelan tangan gadis itu agar segera menyingkir dari keramaian.

Perlahan Yura berjongkok, seolah menemukan sesuatu yang bisa ia jadikan tempat bersembunyi untuk sementara.

Ia membenamkan kepalanya kedalam lututnya, kemudian bahu nya perlahan bergerak naik turun mengikuti irama tangis nya.

Liam segera melepaskan jaketnya lalu menutupi kepala gadis itu. Sesekali ia meyentuh bahu yang tampak lemah itu.

. ..

Kini kedua nya telah duduk di lapangan hijau yang berada tak jauh dari lokasi sekolah Yura. Wajah gadis itu sudah mulai membaik setelah semalam an menahan diri untuk tidak menangis.

"Seandainya foto itu palsu, sayang sekali air matamu... "

Liam berucap sambil menyodorkan sebuah botol minuman kehadapan Yura. Gadis itu sejenak teralihkan dari lamunannya.

"Tapi kak Steven pernah bilang kalau ia ingin mengatakan sesuatu.. "

Yura kemudian memijit pelipis nya yang lumayan pusing karena tangis dan kurang tidurnya. Ia kemudian teringat pada Yura a.

"Apa kabar Yura...? "

Liam kemudian membuang pandangannya menatap langit yang berwarna biru keperakan. Matahari kian meninggi, diikuti panas terik yang mulai menusuk kulit.

"Dia selalu bilang kalau umurnya tidak lama lagi. Sekolah nya juga sudah diputus, dan yah,,, kami sudah menikah... "

Uhuk, uhuk...

"Hanya mengenakan gaun pengantin, tukar cincin, dan disaksikan oleh beberapa orang saja. "

Yura yang tidak menyangka akan mendengar cerita seperti itu hanya bisa mengelap wajahnya yang terciprat air dari mulutnya sendiri.

Walaupun ini adalah keinginannya, tetap saja ia tak menyangka keduanya akan menikah secepat itu.

Sebuah senyum kikuk yang akhirnya terlihat aneh keluar dari mulut Yura. Ia jadi diam seribu bahasa, seolah tak punya ide lagi untuk ia sampaikan.

"Ternyata selama ini kamu benar-benar bermain, tapi mengapa rasanya sangat mengesalkan sekarang...? "

Liam kemudian tertawa kecil, sambil mengacak rambut pendek Yura. Ia akan sangat bahagia jika sedikit saja gadis itu menunjukkan kecemburuan nya. Tapi nihil. Tidak ada raut kecewa, hanya wajah datar yang terpatri disana.

"Aku datang untuk menjemputmu, sesuai permintaan Yura. Sepertinya waktu nya sudah tak lama lagi... "

.

.

.

.

Bersambung...

1
anggita
like👍iklan☝., Liam, Yura.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!