NovelToon NovelToon
Ceo'S Plus Size Wife

Ceo'S Plus Size Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Sejak kematian istrinya, Darren, seorang CEO kaya raya, hidup dalam kesepian. Bukannya mendapat dukungan, ia justru dimanfaatkan oleh ketiga anaknya yang hanya peduli pada harta warisan. Saat mencari ketenangan di taman, hidupnya berubah ketika bertemu Jihan, gadis baik hati yang baru saja dihina dan ditinggalkan kekasihnya karena penampilannya.
Ketika Darren tiba-tiba terkena serangan jantung, Jihan tanpa ragu menolongnya dan bahkan menghabiskan tabungan terakhirnya untuk biaya rumah sakit. Ketulusan Jihan menyentuh hati Darren hingga ia melamar gadis itu sebagai bentuk rasa terima kasih dan kekaguman.
Akankah Jihan menerima lamaran pria kaya yang jauh lebih tua darinya? Dan mampukah mereka menghadapi amarah anak-anak Darren yang merasa posisi mereka terancam oleh kehadiran calon ibu tiri yang tak pernah mereka bayangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Melihat Riko mengaduh kesakitan sambil mengusap bokongnya, Andre dan Angela langsung berdiri dari sofa dengan wajah memerah menahan amarah.

Mereka tidak pernah menyangka perempuan yang mereka ejek gajah itu akan senekat ini.

"Papa!! Lihat kelakuan perempuan ini! Dia sudah keterlaluan!" teriak Andre dengan napas memburu.

"Usir dia, Pa! Usir perempuan gila ini dari rumah kita sekarang juga!"

"Iya, Papa! Angela tidak sudi punya mama angkat yang kasar seperti dia!" timpal Angela sambil menghentakkan kakinya ke lantai, air mata kemarahan mulai menggenang di pelupuk matanya.

Darren hanya diam, berdiri tegap di samping Jihan dengan melipat kedua tangannya di dada.

Sorot matanya dingin, sepenuhnya menyerahkan kendali rumah kepada istri barunya.

Jihan menurunkan gagang sapunya, lalu menatap Darren dengan tenang.

"Mas, mulai malam ini, tolong bekukan semua kartu kredit dan debit mereka tanpa terkecuali. Tarik semua kunci mobil mewah yang mereka pakai selama ini. Besok, berikan Andre dan Riko sepeda motor biasa untuk mereka berangkat kerja."

Jihan kemudian mengalihkan pandangannya kepada Angela yang mulai pucat. "Dan untuk Angela, mulai besok, Mama sendiri yang akan mengantarmu ke kampus."

Angela seketika menggelengkan kepalanya dengan histeris.

"Angela tidak mau!! Memangnya Mama mau mengantarku pakai apa? Naik angkot? Malu-maluin!"

Jihan tidak memedulikan protes Angela. Ia berjalan mendekati meja, meletakkan dokumen pelimpahan wewenang yang diberikan Darren tadi dengan ketukan tegas.

"Aturan kedua," lanjut Jihan, suaranya terdengar tenang namun tidak menerima bantahan.

"Mama hanya akan memberikan uang jajan bulanan sebesar dua juta rupiah untuk kalian masing-masing. Tidak ada lagi uang tidak berseri dari Papa kalian."

"Dua juta?! Mana cukup buat gaya hidup kami seminggu!" potong Riko yang masih bersembunyi di balik sofa.

"Kalau tidak cukup, makanya berhemat," sahut Jihan santai.

"Mulai besok, Mama juga akan membawakan kalian bekal makanan dari rumah supaya tidak perlu jajan mahal di luar. Dan satu lagi, sepulang kerja atau kuliah, kalian bertiga wajib membantu Bibi merapikan rumah dan memasak di dapur."

Mendengar rentetan aturan yang memotong semua kemewahan mereka, ketiga anak itu menatap Darren, berharap sang ayah akan membela mereka seperti biasanya. Namun, Darren justru tersenyum bangga dan mengangguk setuju pada setiap perkataan Jihan.

Jihan melangkah kembali ke samping Darren, lalu dengan mesra menggenggam tangan kekar suaminya itu erat-erat di hadapan ketiga anak tirinya.

"Ini rumah Papa kalian, tempat kalian bernaung dan menikmati fasilitas dari keringatnya yang tidak pernah kalian hargai. Jadi, jika kalian tidak mau menuruti aturan baru dari Mama..." Jihan menjeda kalimatnya, tatapannya berubah setajam silet. "...kalian boleh angkat kaki dan keluar dari rumah ini malam ini juga. Silakan hidup mandiri tanpa uang sepeser pun dari Darren Bramantyo."

Andre, Riko, dan Angela seketika bungkam seribu bahasa.

Mereka saling berpandangan dengan wajah pias, menyadari bahwa masa-masa mereka menjadi parasit yang angkuh telah resmi berakhir di tangan ibu tiri baru mereka.

"Karena semuanya sudah jelas dan tidak ada lagi yang perlu diperdebatkan, mari kita makan malam," ajak Darren dengan suara yang jauh lebih ringan.

Beban di pundaknya seolah menguap melihat bagaimana istri barunya itu langsung mengambil kendali dengan berani.

Sebelum menuju ke ruang makan, Jihan memilih untuk melangkah ke dapur terlebih dahulu.

Ia ingin melihat situasi di sana sekalian berkenalan dengan para pekerja rumah tangga.

Di dalam dapur yang luas dan bersih itu, ia disambut oleh seorang wanita paruh baya berwajah ramah.

"Perkenalkan, Nyonya, nama saya Bibi Diana, kepala pelayan di rumah ini," ucap wanita itu dengan sangat sopan bersama beberapa pelayan lainnya.

Jihan tersenyum hangat. "Panggil Jihan saja, Bi. Mohon bantuannya, ya."

Saat matanya mengedar ke seluruh penjuru dapur, pandangan Jihan mendadak terkunci pada sepotong kue cokelat yang tampak begitu menggoda di atas meja konter.

Kulit bagian atasnya yang retak-retak khas fudgy brownies panggang langsung membuat air liur Jihan menetes.

Tanpa membuang waktu, Jihan langsung mengambil potongan besar brownies tersebut dan memasukkannya ke dalam mulut.

Rasa cokelat yang pekat dan manis langsung memanjakan lidahnya.

"Sayang, ayo kita ke ruang makan," panggil Darren yang tiba-tiba menyusul ke dapur.

Jihan menoleh spontan dengan mata membelalak lucu.

"Oopps... maaf, Mas. Aku tidak bisa menahannya," ucap Jihan dengan suara bergumam karena bibirnya penuh dengan piringan brownies cokelat.

Darren hanya bisa tertawa gemas melihat pipi istrinya yang menggembung seperti tupai.

Ia mengusap sisa cokelat di sudut bibir Jihan dengan ibu jarinya, lalu menuntun Jihan berjalan menuju ke ruang makan mewah.

Sesampainya di ruang makan, suasana hangat langsung mendadak berubah dingin.

Andre, Riko, dan Angela sudah duduk di kursi masing-masing.

Alih-alih menyambut kedatangan ayah mereka, ketiganya justru sibuk dengan ponsel masing-masing dan memasang wajah masam, sama sekali tidak menghiraukan Darren yang baru saja duduk di kursi utama.

Mereka memperlakukan ayah mereka seperti pajangan tak kasat mata.

Melihat suaminya kembali diabaikan secara keterlaluan, senyum ramah di wajah Jihan langsung lenyap.

BRAK!!

Jihan menggebrak meja makan marmer itu dengan telapak tangannya yang kuat, membuat piring-piring porselen di atasnya berdenting keras.

Andre, Riko, dan Angela langsung tersentak kaget dan refleks menjatuhkan ponsel mereka ke atas meja.

Dengan wajah yang kembali tenang seolah tidak terjadi apa-apa, Jihan menoleh ke arah suaminya sambil tersenyum manis.

"Mas, mari pimpin doa sebelum kita makan." ucap Jihan yang sekarang terbiasa memanggil 'Mas' kepada suaminya.

Darren yang sempat terpukau dengan ketegasan istrinya langsung menganggukkan kepalanya dengan bangga.

"Baik, mari kita berdoa."

Melihat aura Jihan yang tidak main-main, ketiga anak tiri itu terpaksa melipat tangan mereka dan menunduk dengan kikuk, tidak berani lagi menyentuh ponsel mereka.

Setelah doa selesai diucapkan, Darren menatap sekeliling meja makan dengan binar bahagia yang sudah lama hilang dari matanya.

"Ayo, kita mulai makan malam ini dengan tenang."

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, meja makan kediaman Bramantyo akhirnya diwarnai oleh keheningan yang penuh rasa hormat, berkat kehadiran sang ibu tiri yang tak terduga.

Makan malam yang berlangsung dalam keheningan yang menegangkan itu akhirnya selesai.

Begitu Darren meletakkan sendok dan garpunya, Andre, Riko, dan Angela langsung bersiap untuk berdiri dan beranjak pergi menuju kamar masing-masing untuk menghindari Jihan.

Namun, baru saja Andre hendak mendorong kursinya ke belakang, suara tenang namun tegas dari Jihan kembali menginterupsi pergerakan mereka.

"Selesai makan, jangan langsung pergi," ucap Jihan sembari mengelap bibirnya dengan tisu.

"Bawa piring kotor kalian masing-masing ke dapur, lalu cuci sampai bersih."

Mendengar perintah itu, Angela langsung mendelik tidak percaya.

Ia menatap Jihan dengan pandangan muak. "Mencuci piring? Sudah ada Bibi dan pelayan lain di rumah ini yang digaji untuk melakukan itu! Kenapa harus kami?" sahut Angela ketus.

"Betul, Pa! Kami ini anak pemilik rumah, bukan pelayan!" timpal Riko ikut memprotes.

Jihan melipat tangannya di atas meja, menatap mereka bertiga dengan tatapan mendidik.

"Bibi Diana dan pelayan di sini tugasnya adalah membantu kita mengurus rumah, bukan menjadi budak yang harus membereskan semua kemalasan kalian. Mulai malam ini, apa pun yang kalian kotorkan, kalian sendiri yang harus membersihkannya."

Jihan memberikan lirikan kecil kepada Darren, dan sang CEO hanya memberikan anggukan tegas sebagai tanda bahwa ia mendukung penuh perintah istrinya. Tidak ada pembelaan sama sekali dari sang ayah.

Melihat tidak ada celah untuk menghindar, Andre yang merupakan anak tertua akhirnya menghela napas kasar.

Dengan wajah super masam, ia mengangkat piring kotornya.

Riko dan Angela yang melihat kakak sulung mereka menyerah, terpaksa ikut mengambil piring dan gelas kotor mereka dengan hentakan kasar yang disengaja.

Mereka bertiga berjalan beriringan membawa piring kotor itu ke dapur belakang dengan langkah yang dihentak-hentakkan.

Sesampainya di dapur, Bibi Diana yang sedang bersiap mencuci piring tampak terkejut melihat ketiga anak majikannya datang membawa piring kotor sendiri-sendiri.

"Eh, Den Andre, Non Angela... biar Bibi saja yang cuci," ucap Bibi Diana merasa tidak enak.

"Tidak usah, Bi. Biarkan mereka yang mencuci sendiri. Bibi silakan istirahat saja," seru Jihan setengah berteriak dari arah ruang makan, membuat langkah Bibi Diana langsung terhenti dengan canggung.

Angela menyalakan keran air dengan kasar, lalu mulai menggosok piringnya dengan spons sabun sambil merengut menyedihkan.

Jari-jarinya yang bermenikur rapi kini harus menyentuh sisa-sisa makanan.

"Ishhh... ibu tiri menyebalkan!" umpat Angela setengah berbisik dengan nada yang sangat jengkel.

"Sabar, Ngel. Lihat saja nanti, kita harus cari cara agar Papa sadar dan mengusir perempuan gajah itu dari rumah ini," bisik Riko penuh dendam sembari membilas gelasnya dengan asal.

Sementara di ruang makan, Jihan yang mendengar samar-samar keluhan anak-anak tirinya hanya tersenyum tipis.

Ia tahu jalan untuk mendidik mereka masih panjang, tetapi setidaknya, malam ini istana dingin milik Darren sudah mulai memiliki aturan yang nyata.

"Ayo, Sayang, kita ke kamar," ajak Darren lembut sembari mengulurkan tangannya pada Jihan setelah memastikan anak-anaknya menyelesaikan tugas mereka di dapur.

Jihan menganggukkan kepalanya dengan senyum manis.

Sebelum melangkah pergi, ia menyempatkan diri menengok ke arah dapur dan setengah berteriak memberikan peringatan terakhir.

"Lekas istirahat kalau sudah selesai! Karena besok kalian harus berangkat kerja tepat waktu, dan kamu, Angela... besok pagi-pagi sekali Mama yang akan mengantarmu ke kampus!"

Terdengar helaan napas pasrah bercampur jengkel dari arah belakang, namun Jihan tidak memedulikannya lagi.

Ia membalikkan badan dan berjalan masuk ke dalam kamar utama yang luas bersama suaminya.

Pintu kamar tertutup rapat, menyisakan ruang privasi yang hangat bagi sepasang suami istri baru ini.

Darren berbalik, menatap Jihan lekat-lekat, lalu menggenggam kedua tangan istrinya dengan tatapan yang dipenuhi rasa syukur yang mendalam.

"Terima kasih banyak, Jihan. Terima kasih karena sudah mengembalikan ketegasan yang sempat hilang di rumah ini," ucap Darren tulus.

Jihan tersenyum hangat, mengusap punggung tangan kekar suaminya.

"Mas, ini sudah menjadi kewajibanku sebagai istrimu sekarang. Aku tidak akan membiarkan siapa pun, termasuk anak-anakmu sendiri, mengabaikan dan menginjak harga dirimu lagi."

Hati Darren berdesir hebat mendengar kalimat pelindung itu.

Di saat semua orang di luar sana hanya melihatnya sebagai sosok CEO yang kuat dan kaya raya, hanya Jihan yang mampu melihat kerapuhannya dan bersedia menjadi tempatnya bersandar.

Jihan kemudian melangkah menuju ruang ganti untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya.

Ia menanggalkan pakaiannya, lalu menggantinya dengan pakaian tidur katun berpotongan longgar yang sangat nyaman.

Saat Jihan keluar dari ruang ganti sambil menyisir rambutnya yang basah, Darren yang sudah berbaring di atas ranjang king size langsung menatapnya tanpa berkedip.

Menyadari tatapan intens dari suaminya, Jihan sengaja berjalan mendekat dengan gaya berlenggok yang dibuat-buat, mencoba menggoda Darren.

Darren menelan salivanya perlahan, sebuah senyuman asimetris terukir di bibir tampannya.

"Sayang, jangan menggodaku seperti itu. Ingat, suamimu ini pria paruh baya yang jantungnya baru saja sembuh semalam," goda Darren dengan suara beratnya.

Jihan tertawa kecil, suara tawa renyahnya seketika memecah ketegangan di kamar itu.

Ia meletakkan sisirnya, lalu merangkak naik ke atas ranjang yang empuk.

"Ayo, Mas Darren, kita tidur. Katanya tadi sudah lelah?"

Darren bersiap untuk menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya. Namun, di luar dugaan, justru Jihan-lah yang bergerak lebih cepat.

Dengan tubuh suburnya yang kuat, Jihan menarik bahu kekar Darren terlebih dahulu, lalu mendekap tubuh suaminya itu ke dalam pelukannya yang hangat dan posesif.

Greb!

Darren sempat tersentak kaget dengan keagresifan istrinya, namun dalam hitungan detik, rasa nyaman yang luar biasa langsung melingkupi seluruh tubuhnya.

Wajah Darren terkubur di ceruk leher Jihan yang harum, sementara tangan Jihan mengusap punggungnya dengan penuh kasih sayang.

"Hmm... hangatnya..." gumam Darren dengan suara lirih yang kian menjauh karena rasa kantuk mulai menyerangnya.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun melewati malam yang dingin dan sepi, Darren akhirnya bisa memejamkan matanya dengan senyuman kedamaian yang menghiasi wajahnya, terlelap dalam pelukan hangat sang istri tercinta.

1
sri hastuti
punya anak2 laki2 biadab semuanya thor, jangan dikasih harta, biar tau rasa ,pengrn tak bikin mati aja 2 anak itu 😡😡😡
my name is pho: iya kak
total 1 replies
falea sezi
gugat cerai aja deh laki bego
falea sezi
laki goblok😒 g tau diri
sri hastuti
jd anak kok durhaka spt itu thor, pengen tak lenyap o aja 2 anak gak tau diri itu, atau semua hartanya jangan dikasih, kasih ke panti aja,biar tau rasa 😡😡😡😡
Vie
hadir kak.... 👍👍👍
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!