Usai memutuskan hubungan dua setengah tahun dengan Reza, Tari merasa lelah dengan drama cinta dan tekanan keluarga. Belum sembuh sepenuhnya, ia dipaksa ibunya mengikuti kencan buta—dan takdir malah mempertemukannya dengan Aldo, adik kandung mantan pacarnya sendiri.
Wajahnya mirip, tapi sikapnya sangat berbeda: lebih dingin, lebih tajam, dan seolah menyimpan rahasia serta dendam tersembunyi. Pertemuan yang dipaksa keluarga perlahan membangkitkan perasaan yang tak seharusnya ada. Di tengah gosip lingkungan dan luka lama yang mulai terbuka kembali, Tari dihadapkan pada satu pertanyaan berat:
Apakah ia berhak merasakan bahagia di samping orang yang masih terikat erat dengan masa lalunya yang menyakitkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HebiKage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah-Langkah Kecil Menuju Mimpi
Malam itu, mataku sama sekali tak mau terpejam. Berjam‑jam lamanya aku hanya berbaring terjaga, menatap kegelapan kamar yang sunyi.
Bukan karena rasa cemas yang berlebihan atau ketakutan yang melumpuhkan—setidaknya tidak sepenuhnya begitu. Namun kepalaku terasa begitu penuh sesak, dipenuhi oleh deretan rencana yang harus disusun, daftar keperluan yang harus disiapkan, serta serangkaian pertanyaan yang belum kutemukan jawabannya.
Ada begitu banyak hal yang harus dipikirkan: permohonan visa, pembuatan paspor, pemesanan tiket pesawat, tempat tinggal sementara di Melbourne, persiapan uang saku, perlindungan asuransi kesehatan, jadwal kuliah, tumpukan tugas yang menanti, rencana jalan‑jalan, hingga keperluan belanja barang‑barang pribadi.
Dan di ujung segala daftar itu, selalu ada satu nama yang muncul paling akhir, namun terasa paling berat dan paling sulit untuk diselesaikan di dalam hati: Aldo.
Pikiran tentangnya selalu hadir sebagai hal yang paling dalam, yang membuat segalanya terasa indah namun sekaligus memberatkan dada.
Aku memutar badan di atas kasur yang empuk, memeluk erat bantal guling seolah benda itu bisa menjadi pengganti sosoknya, lalu kembali menatap langit‑langit kamar yang memiliki guratan retak di sana‑sini. Langit‑langit yang sama persis yang dulu sering kulihat berbulan‑bulan silam—saat aku menangis tersedu‑sedih karena sakit hati akibat sikap Reza, saat aku mulai ragu apakah hubungan kami ada gunanya, hingga saat aku pertama kali menyadari satu hal penting: bahwa cinta sejatinya seharusnya tidak membawa rasa sakit dan kekalutan.
Langit‑langit yang sama, namun lihatlah betapa berubahnya hidupku saat ini. Segalanya telah bergeser, tumbuh, dan berjalan ke arah yang jauh lebih baik.
***
Tepat pukul delapan pagi, ponselku yang tergeletak di samping bantal bergetar pelan. Sebuah pesan masuk tertera jelas di layar: Dari: Aldo.
"Selamat pagi, Tari. Kamu sudah bangun belum?"
Aku tersenyum sendiri membaca tulisan itu. Seperti kebiasaan yang tak pernah terputus, dialah orang pertama yang selalu menyapaku begitu pagi.
"Selamat pagi. Sudah bangun dari tadi, belum tidur lagi sejak semalam. Kamu sendiri bagaimana?" balasku cepat.
Tak lama, pesan balasan datang: "Baru saja selesai berolahraga. Lari pagi keliling perumahan tempatku tinggal."
Aku menulis lagi dengan nada sedikit menggoda: "Kamu berolahraga? Wah, rasanya agak aneh mendengarnya."
"Lho, memangnya aku ini hanya dianggap bisa duduk diam di depan laptop seharian saja ya?"
"Iya, kira‑kira begitu."
"Wah, kurang ajar juga jawabanmu,"
Aku ikut tertawa kecil dalam hati, lalu mengetikkan permintaan yang sedari tadi menggantung di pikiranku: "Aldo, ada hal yang mau kuminta tolong."
"Apa saja, silakan."
"Aku benar‑benar bingung harus memulai dari mana. Mengurus visa, paspor, tiket perjalanan, sampai mencari tempat tinggal di sana… semuanya terasa rumit dan banyak sekali syaratnya. Aku jadi bingung sendiri."
"Jangan sampai bingung berlarut‑larut. Tenang saja, aku yang akan bantu urus bersamamu."
"Kamu yakin bisa bantu? Kan ini hal yang jarang kita temui sehari‑hari."
"Kalau belum tahu, aku bisa pelajari. Demi kamu, aku rela mempelajari hal apa saja, seberat apa pun materinya."
Aku menggigit bibir bawahku, berusaha menahan senyum yang melebar begitu mendengar janji manisnya itu.
"Kamu ini suka sekali bicara berlebihan, Aldo."
"Memang berlebihan, tapi aku tahu kamu suka mendengarnya kan?"
"Iya… aku suka banget," akuku jujur.
"Sudah begitu saja. Aku jemput kamu pukul sepuluh pagi. Kita berangkat ke kantor imigrasi."
Aku mengernyit bingung: "Ke imigrasi? Buat apa kita ke sana?"
"Untuk mengurus pembuatan paspor. Memangnya kamu sudah punya paspor yang berlaku?"
"Belum sama sekali. Aku belum pernah membuatnya."
"Ya sudah, berarti kita urus hari ini juga. Sekalian saja biar cepat selesai."
"Serius? Secepat itu langkahnya?"
"Tidak ada waktu untuk menunda‑nunda, Tari. Beasiswa dan kuliahmu sudah dimulai bulan Agustus nanti. Sekarang ini sudah masuk bulan Mei."
"Aku tahu waktunya mepet, tapi…"
"Tidak ada kata 'tapi' lagi. Aku jemput pukul sepuluh. Bersiaplah ya," tulisnya tegas namun tetap lembut.
Aku menghela napas panjang. Benar kata Aldo, waktu tidak akan berhenti menunggu. Namun di sudut hati, masih ada sesuatu yang mengganjal, rasa yang tak bisa kujelaskan dengan kata‑kata.
"Baiklah. Pukul sepuluh aku sudah siap di depan."
"Siap, Nyonya Penulis," balasnya menutup percakapan pagi kami.
Aku meletakkan kembali ponselku, beranjak dari kasur, lalu berjalan menuju kamar mandi dengan perasaan yang campur aduk.
***
Tepat pukul sepuluh pagi, Aldo sudah tiba menjemputku di depan pagar kosan.
Ia mengenakan kemeja putih lengan panjang yang selalu menjadi ciri khasnya—namun hari ini kemeja itu terlihat sedikit kusut di bagian kerah, sepertinya ia bergegas berangkat hingga tak sempat merapikannya sempurna. Rambutnya yang biasanya disisir rapi ke belakang, kali ini tampak agak berantakan di bagian belakang telinga.
"Kamu… sepertinya kurang tidur ya?" tanyaku begitu duduk di kursi penumpang.
Aldo menyalakan mesin kendaraan, lalu menghela napas pelan. "Aku juga sama, semalaman tak bisa memejamkan mata."
"Kenapa bisa begitu?" tanyaku lagi, menatap wajahnya yang terlihat agak lelah namun tetap bersinar.
Ia melirikku sekilas, lalu kembali memusatkan perhatian pada jalanan di depan. "Pikiranku penuh memikirkan keadaanmu, memikirkan keberangkatanmu, memikirkan segala hal yang akan berubah nanti."
"Aldo…" panggilku lembut.
"Aku tahu kita sudah membicarakan hal ini berkali‑kali. Aku sudah bilang kalau aku mendukungmu sepenuhnya, dan pendirianku itu takkan berubah," ucapnya perlahan, lalu terdiam sejenak sambil mengetukkan jarinya pelan pada lingkar kemudi—tik… tik… tik…—irama yang ia lakukan saat sedang berusaha menenangkan diri sendiri. "Tapi… ada 'tapi'‑nya juga."
"Tapi apa?" desakku pelan.
Aldo menarik napas panjang sebelum melanjutkan, suaranya terdengar lebih berat dari biasanya. "Tapi aku ini manusia biasa, Tari. Di depanmu aku bisa bersikap tegar, berani, dan seolah tak ada yang berat. Namun saat malam tiba dan aku sendirian… rasa takut itu datang merayap masuk, tak bisa kutolak."
"Takut akan hal apa?" tanyaku lembut, meski hatiku sudah bisa menebak jawabannya.
Aldo tak langsung menjawab. Ia terus menyetir dengan pandangan tajam ke jalan raya, namun kerutan halus di dahinya tampak jelas—tanda ia sedang bergulat hebat dengan isi hatinya sendiri.
"Aku takut kehilanganmu," jawabnya akhirnya, hampir berbisik. "Takut dua tahun itu ternyata waktu yang terlalu lama untuk dipisahkan jarak. Takut nanti kamu bertemu orang lain yang lebih cocok di sana. Takut perlahan kamu mulai melupakan kenangan‑kenangan kita berdua…"
"Aldo," potongku cepat sambil meraih tangan kanannya yang sedang memegang kemudi. Mobil sedikit berayun ke samping karena gerakanku, namun Aldo segera menyeimbangkannya kembali dengan tenang. "Dengarkan aku baik‑baik: aku takkan pernah melupakanmu. Aku takkan pernah mencari atau melihat orang lain selain kamu. Fokusku hanya ada pada kuliahku dan menulis cerita‑cerita yang kucintai. Dan setiap malam, sebelum aku tidur, aku akan selalu menelepon atau mengirim kabar padamu, tak peduli seberapa lelah pun aku saat itu."
Aldo tersenyum—senyum yang masih terasa rapuh dan tertahan, namun cukup untuk membuat dadaku terasa sesak oleh kasih sayang. "Janji itu?"
"Janji yang takkan pernah ingkar," jawabku tegas.
Kembali keheningan menyelimuti perjalanan kami, namun bukan keheningan yang kaku. Mobil terus melaju membelah jalanan ibu kota, menuju kantor Imigrasi Kelas I Khusus Jakarta Selatan di kawasan Kuningan.
***
Pukul sebelas lewat tiga puluh menit, kami tiba di tempat tujuan.
Barisan antrean di sana terlihat sangat panjang. Puluhan orang duduk berjejer di kursi‑kursi plastik yang disusun rapi, masing‑masing memegang map berisi dokumen penting yang disiapkan. Suasana di dalam ruangan terasa agak panas dan pengap—penyejuk udara tak bekerja secara maksimal, sementara cahaya matahari siang masuk dengan bebas lewat kaca‑kaca jendela besar di bagian depan.
Aldo berjalan ke meja pelayanan untuk mengambil nomor antrean. "Nomor kita 047", katanya kembali duduk di sampingku. "Sedang dilayani nomor 023. Masih ada dua puluh empat orang di depan kita."
"Aku sanggup menunggu berapa pun lamanya. Kamu tidak harus ikut duduk di sini kalau ada urusan lain—"
"Aku tidak akan ke mana‑mana," potongnya lembut namun tegas. "Aku tetap di sini, menemanimu sampai selesai."
Aku tersenyum lega. "Baiklah, terima kasih."
Kami pun duduk berdampingan di atas kursi plastik yang keras dan agak terasa panas itu. Aku membawa satu buku untuk mengisi waktu luang—novel Pulang karya Leila S. Chudori yang sudah berminggu‑minggu kubaca namun belum juga selesai. Sedangkan Aldo membawa jurnal penelitian ilmiah yang tebal sekali, penuh dengan tulisan kecil, grafik, dan tabel angka yang membuat kepalaku terasa pening hanya dengan sekilas melihatnya.
"Kamu tidak bosan menunggu begini sambil membaca tulisan yang rumit begitu?" tanyaku, melirik halaman bukunya.
"Bosan membaca jurnal penelitian? Tidak sama sekali. Justru hal ini yang membuatku tertarik," jawabnya santai.
"Menariknya di mana coba?" tanyaku penasaran.
Aldo menoleh menatapku, lalu tersenyum geli. "Kamu benar‑benar ingin tahu penjelasannya sampai habis?"
"Iya, aku ingin tahu apa saja yang membuatmu begitu antusias dengan pekerjaanmu itu."
Aldo segera membuka bukunya ke halaman yang ditandai, lalu mulai bercerita dengan semangat yang tumbuh perlahan. Ia menjelaskan tentang hubungan erat antara pengalaman masa kecil yang kurang bahagia atau penuh trauma dengan perilaku kriminal seseorang saat dewasa nanti. Ia juga menjabarkan bagaimana pola asuh orangtua dan lingkungan tempat tumbuh sangat berpengaruh pada perkembangan pola pikir dan karakter anak. Tak lupa ia menambahkan bahwa dengan bantuan dan pendampingan yang tepat sejak dini, risiko seseorang terjerumus ke jalan yang salah dapat dicegah sedini mungkin.
Aku menyimak setiap kata yang keluar dari mulutnya. Bukan sekadar mendengar suara, tapi benar‑benar menyerap maknanya. Saat berbicara demikian, mata Aldo tampak berbinar terang, tangannya bergerak‑gerak membuat gambaran di udara, dan nada bicaranya berubah‑ubah mengikuti antusiasme yang ia rasakan. Di momen seperti ini, terlihat jelas betapa ia sangat mencintai pekerjaannya. Dan hal itulah yang membuat sosoknya terasa semakin menarik dan mengagumkan di mataku.
"Nomor antrean nol‑empat‑tujuh… silakan maju ke loket nomor dua!" seru petugas bersuara lantang memecah percakapan kami.
Kami berdua tersentak kaget sejenak. Aldo segera berdiri, lalu dengan sigap menolongku bangkit dari kursi, berjalan bersamamu menuju tempat pelayanan.
Di balik kaca loket, duduk seorang wanita paruh baya berkacamata tebal yang menatapku dengan pandangan datar dan rutin.
"Mau buat paspor baru atau sekadar memperpanjang masa berlaku yang lama?" tanyanya tanpa senyum.
"Buat yang baru, Bu," jawabku sopan.
"Formulir isiannya sudah terisi lengkap?"
"Belum, Bu. Belum sempat mengisi."
Wanita itu menghela napas pendek, seolah sudah sangat sering menjumpai orang yang datang tanpa persiapan matang. "Ambil dulu formulir kosongnya di meja panjang sebelah sana, lalu isilah dengan benar dan jelas. Jangan ada yang terlewat."
Aku berjalan menuju meja yang ditunjuk, mengambil selembar formulir, lalu mulai menulis segala keterangan yang diminta: nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, alamat tempat tinggal, pekerjaan, nomor telepon yang bisa dihubungi, hingga nama kedua orangtuaku.
Pertanyaan‑pertanyaan yang sebenarnya sangat sederhana dan biasa saja, namun anehnya jari‑jariku terasa berat dan kaku saat memegang pena.
"Tari, tak perlu gugup berlebihan begitu," bisik Aldo dari samping, berdiri dekat agar bisa membantuku jika ada yang bingung. "Ini hanya sekadar lembaran formulir biasa saja."
"Aku tidak gugup kok," sanggahku pelan, meski hatiku berkata lain.
"Kalau tidak gugup, kenapa tanganmu gemetar hebat begini?" tunjuknya lembut.
Aku menatap tanganku sendiri. Benar kata Aldo—tanganku bergetar halus, seolah tubuhku sendiri memberi sinyal bahwa ada sesuatu yang besar sedang terjadi.
"Aku… aku sendiri tak tahu kenapa bisa begini," gumamku bingung.
Aldo mengulurkan tangannya, menahan genggamanku sebentar hingga rasa gemetar itu perlahan hilang.
"Kamu merasa demikian karena kenyataan mulai terasa nyata, Tari," ucapnya lembut namun mengerti. "Paspor itu adalah bukti resmi perjalananmu. Begitu dokumen ini ada di tanganmu, berarti kau benar‑benar bisa pergi meninggalkan tanah air. Dan pergi ke tempat yang jauh… hal itu memang menakutkan bagi siapa saja."
Aku menatapnya lekat‑lekat, takjub bagaimana ia bisa memahami apa yang kurasakan tanpa banyak bertanya. "Kamu seolah‑olah bisa membaca isi kepalaku ya?"
Aldo tersenyum tipis. "Ingat tidak, aku ini bekerja sebagai psikolog forensik? Membaca perilaku dan perasaan orang lain adalah bagian dari pekerjaanku sehari‑hari."
"Kalau begitu, coba tebak apa yang sedang ada di pikiranku sekarang?" tantangku sedikit tersenyum.
Ia menatapku dalam, lalu menjawab tenang: "Kamu sedang merasa takut, namun di saat yang sama bahagia. Kamu bangga bisa meraih kesempatan ini, tapi juga bersedih karena harus berpisah sebentar. Semua rasa itu bercampur menjadi satu, membuatmu bingung harus bereaksi bagaimana."
Aku terdiam tak mampu berkata apa‑apa. Sekali lagi, Aldo selalu benar.
"Namun tak perlu cemas, Tari. Semua perasaan itu sangat wajar dan manusiawi," sambungnya melepaskan tanganku agar aku bisa kembali menulis. "Sudah, lanjutkan mengisi formulirmu. Aku tetap di sini menunggumu sampai selesai."
Aku menarik napas panjang, mengumpulkan kembali ketenangan, lalu menyelesaikan sisa isian dengan tulisan yang lebih mantap.
***
Kira‑kira dua jam berlalu sejak kami mulai mengurus segalanya, akhirnya semuanya rampung. Petugas memberitahu bahwa paspor baru itu bisa diambil kembali dalam waktu sekitar satu minggu ke depan. Aldo pun mengantarku pulang dengan perasaan yang jauh lebih lega daripada saat berangkat pagi tadi.
"Langkah pertama sudah selesai dengan baik," katanya sambil memarkirkan mobil di depan pagar kosan.
"Iya… terima kasih banyak ya, Aldo," jawabku sambil melepas sabuk pengaman.
"Terima kasih untuk apa?" tanyanya balik, seolah tak merasa melakukan hal istimewa.
"Terima kasih sudah bersedia menemaniku, bersabar menunggu antrean, dan menenangkan hatiku yang sempat kacau tadi."
Aldo tersenyum hangat. "Kapan pun kamu butuh aku, dalam hal apa pun juga, aku akan selalu ada di sisimu. Ingat itu baik‑baik."
Aku menatapnya lama—berusaha mengingat setiap lekuk wajahnya agar tak pudar dari ingatan: bekas luka kecil tipis di bagian alis kirinya, bingkai kacamata bulat yang selalu ia pakai, hingga rambutnya yang sedikit berantakan di bagian belakang. Semua hal kecil itu terasa sangat berharga bagiku.
"Aldo… aku…" suaraku tersendat sejenak.
"Ada apa? Katakan saja apa yang ada di hatimu," desaknya lembut.
"Aku sangat… sangat menyayangimu," ucapku akhirnya dengan tulus, tanpa ragu sedikit pun.
Aldo terdiam sejenak, matanya berbinar bahagia mendengar pengakuan itu. Lalu ia tersenyum—senyum paling hangat dan indah yang pernah kulihat darinya.
"Aku juga sangat menyayangimu, Tari. Lebih dari yang kau bayangkan. Sampai ke bintang‑bintang di langit dan kembali lagi ke sini, kepadamu."
Kami pun saling berpelukan erat di dalam mobil yang perlahan terasa hangat tersentuh sinar matahari sore. Di momen itu, meski banyak hal berat masih menanti ke depan, dunia terasa begitu sempurna karena kehadirannya di sisiku.