(Tokoh utama Pria+Wanita)
Raka Pradipta adalah seorang suami yang selama menikah hanya menjadi alat penghasil uang bagi keluarga istrinya, ia di paksa membiayai kehidupan seluruh keluarga istrinya. Tapi karena rasa cinta yang sangat besar Raka menjalani kehidupannya dengan sepenuh hati tanpa mengeluh sedikitpun. Namun, ketika sebuah kenyataan pahit menghantamnya, rasa sayang yang selama ini hanya ia simpan untuk istrinya lenyap seketika ketika istrinya lebih memilih berkhianat dengan seorang pria yang lebih segalanya darinya, Raka pun di paksa menceraikan sang istri lalu ia di usir tanpa hormat oleh keluarga istrinya itu.
Namun, tak ada yang menyangka jika Raka adalah seorang anak dari penguasa jaringan bisnis di negaranya, dan apakah identitas aslinya itu akan di ketahui keluarga mantan istrinya?
ayo simak cerita baru author yang satu ini, semoga para reader suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mochamad Fachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Rumah sakit
Malam semakin larut ketika mobil Raka akhirnya memasuki area rumah sakit swasta terbesar di pusat kota. Begitu kendaraan berhenti di jalur darurat, beberapa tenaga medis yang sudah lebih dulu dihubungi langsung bergerak cepat mendekat membawa brankar.
Raka keluar lebih dulu lalu membuka pintu sisi penumpang. “Kau bisa berdiri?” tanyanya singkat.
Jono meringis kecil sambil menekan lengannya. “Tentu saja masih bisa... harga diriku belum serapuh itu,” gumamnya pelan, meski wajahnya terlihat jauh lebih pucat dibanding sebelumnya.
Namun baru mencoba turun, langkahnya sedikit goyah, Raka refleks menahan pundaknya. “Jangan sok kuat.”
Jono berkedip beberapa detik sebelum tertawa kecil lemah. “Wah... ternyata bos besar bisa perhatian juga.”
Tatapan Raka tetap datar. “Kalau kau pingsan di sini, aku malas menggendongmu.”
“Ya ampun, kau tega sekali,” balas Jono lirih.
Tak lama kemudian tenaga medis membawa Jono masuk ke ruang penanganan, seorang dokter menghampiri Raka dengan ekspresi yang terlihat profesional.
“Kami akan menangani lukanya dulu, kemungkinan perlu pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan tidak ada masalah yang serius,” jelasnya singkat.
Raka mengangguk kecil. “Pastikan dia mendapat perawatan terbaik.”
Dokter itu sedikit terdiam saat mengenali siapa pria di hadapannya, lalu buru-buru mengangguk sopan. “Tentu saja, Pak.”
Sementara itu, Jack baru tiba beberapa menit kemudian dengan langkah cepat namun tetap tenang, di tangannya sudah ada tablet berisi laporan awal.
“Tuan muda,” ucapnya rendah. “Van pertama sempat masuk kawasan industri lama dan yang satunya masih di lacak, kita masih mengikuti dari jauh agar tidak kehilangan jejak mereka.”
Raka berdiri di depan kaca ruang observasi sambil memperhatikan siluet Jono yang sedang diperiksa tenaga medis.
“Lalu CCTV?” tanyanya pendek.
“Sudah mulai diamankan, plat kendaraan ternyata palsu, tetapi salah satu kamera lalu lintas menangkap wajah pengemudi beberapa detik,” jawab Jack. “Kami sedang mencocokkan dengan data kriminal dan jaringan keamanan.”
Raka terdiam sesaat, tatapannya perlahan berubah dingin, jauh lebih dingin dibanding biasanya.
“Mereka tahu rute jalan pulangku,” ujarnya pelan.
Jack langsung memahami maksud itu. “Kemungkinan ada kebocoran informasi.”
“Atau seseorang memang sengaja membocorkannya,” balas Raka datar.
Jack berdiri lebih tegak. “Apakah saya perlu mulai menyelidiki dari internal perusahaan?”
“Mulai dari semua kemungkinan,” jawab Raka tenang. “Orang yang berusaha melawanku tidak mungkin bertindak serapi ini tanpa bantuan.”
Jack mengangguk kecil. “Baik, Tuan muda.”
Namun sebelum percakapan berlanjut, ponsel Raka tiba-tiba bergetar, nama yang muncul di layar membuat alisnya sedikit bergerak.
Selina.
Raka menatap layar beberapa detik sebelum akhirnya menerima panggilan.
“Halo?”
Suara di seberang terdengar cepat, sedikit lebih tinggi dari biasanya.
“Kamu belum sampai ke rumah?” tanya Selina tanpa pembukaan. “Tante Shanum mulai bertanya dari tadi, bahkan makan malam...”
Ia berhenti mendadak.
“Kenapa suaramu aneh?” tanyanya lebih pelan.
Raka terdiam sepersekian detik sebelum menjawab singkat, “Aku sedang di rumah sakit.”
Hening sesaat. “…Apa?” suara Selina berubah cepat. “Rumah sakit? Kamu kenapa?”
“Aku tidak apa-apa,” jawab Raka tenang. “Temanku terluka.”
Nada napas di ujung sana terdengar berubah, jelas lega sekaligus masih tegang. “Kamu benar-benar tidak apa-apa?” tanyanya lagi, kali ini lebih pelan.
Raka melirik ke arah ruang observasi sebelum menjawab pendek, “Tidak.”
Di sisi lain telepon, Selina terdiam beberapa detik lebih lama dari biasanya. “Rumah sakit mana?” ucapnya tiba-tiba.
Raka sedikit mengernyit. “Untuk apa kau menanyakan itu?”
“Aku tanya lokasi rumah sakitmu,” balas Selina cepat, nada suaranya terdengar sedikit kesal. “Masa aku harus mencarinya di satu kota?”
Raka terdiam sepersekian detik, sorot matanya bergerak singkat ke arah Jack sebelum kembali menatap ruang observasi.
“Kau tidak perlu datang,” ucapnya tenang. “Sudah malam.”
“Raka,” potong Selina cepat, kali ini nada suaranya terdengar jauh lebih serius dari biasanya. “Aku tidak sedang meminta izin.”
Di sampingnya, Jack menundukkan kepala sedikit, jelas memilih berpura-pura tidak mendengar.
Raka mengembuskan napas pendek. “Rumah Sakit Medika Pratama.”
“Baik,” jawab Selina cepat.
Namun sebelum sambungan terputus, suara Raka kembali terdengar datar. “Dan jangan datang sendirian.”
Selina terdiam sepersekian detik. “…Kau mengkhawatirkanku?” tanyanya refleks.
Raka tidak langsung menjawab. “Aku malas menjelaskan nanti pada Mama, kalau asistenku ikut masuk rumah sakit juga,” balasnya tenang.
“Dasar menyebalkan,” gerutu Selina pelan, meski sudut bibirnya tanpa sadar sedikit terangkat. “Tunggu saja.”
Sambungan berakhir.
Raka menurunkan ponsel perlahan sementara Jack masih berdiri di samping dengan ekspresi profesional yang tampak tenang.
Beberapa detik berlalu sebelum pria itu akhirnya berdeham kecil. “Tuan muda,” ucap Jack hati-hati. “Apakah saya perlu menyiapkan ruang tunggu khusus untuk Nona Selina?”
Tatapan Raka langsung beralih padanya.
Jack buru-buru menundukkan kepala lagi. “Saya hanya berjaga-jaga.”
Raka tidak menjawab, hanya mengalihkan pandangan kembali ke arah kaca observasi, tak lama kemudian, seorang dokter keluar dari ruang tindakan sambil melepas sarung tangan medis.
“Pak Raka?” panggilnya sopan.
Raka segera melangkah mendekat. “Bagaimana keadaannya?” tanyanya singkat.
Dokter mengangguk kecil. “Lukanya cukup dalam, tetapi pelurunya hanya melukai jaringan otot bagian luar dan tidak mengenai tulang ataupun pembuluh utama,” jelasnya profesional. “Kami sudah menghentikan perdarahan dan membersihkan area luka.”
Raka mengembuskan napas kecil yang nyaris tak terlihat.
“Namun pasien perlu observasi malam ini,” lanjut dokter. “Ia kehilangan cukup banyak darah dan kemungkinan akan mengalami demam ringan atau nyeri hebat beberapa hari ke depan.”
“Tapi dia sadar, Dok?” tanya Raka.
Dokter mengangguk. “Masih sadar. Bahkan sejak tadi masih sempat bercanda dengan perawat.”
Sudut bibir Raka bergerak tipis, nyaris tak terlihat.
“Itu memang sifat dia,” gumamnya pelan.
“Kalau Anda mau, pasien bisa ditemui sebentar.”
Tanpa banyak bicara, Raka langsung melangkah masuk ke ruang rawat observasi.
Di dalam ruangan, Jono terlihat bersandar di ranjang dengan lengan sudah diperban rapi. Wajahnya masih pucat, tetapi begitu melihat Raka masuk, ekspresinya langsung berubah aneh.
“Hah...” gumamnya sambil menunjuk dirinya sendiri. “Aku masih hidup?”
Raka berdiri di sisi ranjang sambil melipat tangan. “Sayangnya begitu.”
Jono langsung mendecak pelan. “Teman macam apa kamu ini, kau mengharapkan aku mati?”
Namun beberapa detik kemudian ia melirik sekitar ruangan, ranjang VIP, monitor canggih, sofa pendamping besar, bahkan pencahayaan kamar yang jauh lebih nyaman dibanding rumah sakit biasa.
Matanya membulat perlahan. “Tunggu...” katanya sambil menelan ludah. “Jangan bilang ini kamar rumah sakit yang tarifnya bisa bikin orang miskin langsung pingsan?”
Raka menarik kursi lalu duduk santai. “Jangan banyak bicara.”
Jono menghela napas panjang lalu menatap langit-langit kamar, ia lalu menoleh pelan ke arah Raka.
“Hidupmu ternyata lebih kacau dari hidupku.”
kite cuhi2 waktu bace
masih sj menyalahkan raka
pdhal! sjk nikah raka jd sapi perah di kel rasti, tp msh tetep diam sj
Hati hati Doni mending ditabung saja, kalau perlu deposito kan.
hati 2 lo ilang, lagian raka bukannya kasih ATM sj lbh simpel ya, ni dion pergi2 bw uang banyak lo, takutnya di smbil. nenek. lampir
siap2 ya farhan km nanggung hutang jel rasti🤣🤣🤣puyeng puyeng deck km