Walaupun lima belas tahun telah berlalu, namun nyatanya Zenion masih belum mampu melupakan malam kelam yang menghancurkan seluruh hidupnya.
Kala itu, sebuah tragedi berdarah pecah di kerajaan tempat Zen tinggal, meninggalkan luka dan trauma yang membekas seumur hidup. Di kepalanya masih teringat jelas bagaimana sang ibu dihabisi dengan brutal di tengah kobaran api kastil yang melalap habis tempat tinggal mereka.
—————————
"Jangan sakiti mereka. Aku mohon!"
Suara napas yang tersengal hebat, deru langkah kaki yang memburu, dan suasana mencekam menyelimuti samar-samar kenangan pahit yang melintas tak beraturan dalam gelapnya dunia mimpi.
"Zen... Lucy... lari dari sini! Cepat lari!"
Seruan panik seorang wanita muda terdengar jelas. Tubuhnya terbelenggu dalam cengkeraman enam pria bertubuh besar, sementara suaranya terdengar serak dan penuh keputusasaan.
"Lepaskan ibuku! Lepaskan!" teriak bocah laki-laki itu dengan suara parau.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laabki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sore yang menggelap di Distrik Bawah
Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui jendela besar ruang kerja Raja Arthur, memantulkan cahaya keemasan di atas meja kayu ek yang dipenuhi tumpukan dokumen kerajaan yang belum sempat dibaca.
"Berita mengenai kejadian di Panti Asuhan Esmeralda tidak boleh sampai keluar dari istana," ucap Sang Raja pada Zen, Amanda, dan Abraham yang berdiri sejajar di depannya.
Amanda menatap Raja Arthur lekat-lekat. "Apakah ada alasan khusus mengapa informasi ini harus dirahasiakan, Yang Mulia?"
Arthur terdiam sejenak sebelum menjawab.
"Aku khawatir seseorang di luar sana menyadari bahwa kita mulai bergerak." Raja Arthur bangkit perlahan dari kursinya. Jubah putih kebesarannya bergeser pelan menyapu lantai marmer saat pria paruh baya itu berjalan mendekati tiga ksatrianya.
"Orang yang menyuruh anak itu bukan orang biasa," lanjut sang Raja. Tatapannya bergerak perlahan menelusuri wajah para ksatria di hadapannya satu per satu. "Jika kita bergerak terlalu gegabah, mereka akan sadar bahwa kita mulai memburu jejak mereka."
Sang Raja mengalihkan perhatiannya pada Abraham. "Aku juga tidak ingin Parlemen mengetahui bahwa istana sedang melakukan penyelidikan. Rakyat Castlewood sudah terlalu sering hidup dalam ketakutan beberapa tahun terakhir. Satu rumor kecil saja bisa membuat situasi berubah kacau."
"Apa yang harus kami lakukan, Yang Mulia?" tanya Abraham kemudian.
"Selidiki tiga hal." Tatapan intensnya menyapu wajah para ksatria di hadapannya. "Siapa yang menyuruh anak panti itu. Dari mana asal belatinya. Dan... kenapa mereka menargetkan Cassia."
"Namun penyelidikan ini harus dilakukan diam-diam," lanjut Arthur. "Kalian tidak akan bergerak bersama."
Abraham mengerutkan dahinya. "Berpencar?"
Arthur mengangguk pelan. "Jika tiga ksatria inti Castlewood berjalan bersama sambil menginterogasi orang-orang, rakyat akan curiga." Raja paruh baya itu kembali berjalan menuju kursinya. "Aku ingin semuanya terlihat seperti patroli biasa."
"Baik, Yang Mulia. Apakah ada hal lain yang harus kami selidiki?" tanya Abraham, memastikan tidak ada detail yang terlewat.
"Cukup tiga itu saja," jawab Arthur singkat.
Setelah Raja memberikan titahnya, ketiga ksatria itu memberikan hormat terakhir secara serempak. Zen, Amanda, dan Abraham kemudian berbalik dan melangkah meninggalkan ruang kerja tersebut.
...*************************...
"Benda jelek apa yang sedang kau pegang itu, Cassia?"
Cassia langsung menoleh tajam ke arah Damian yang duduk di depannya, merasa terusik oleh komentar kurang ajar dari sang kakak.
"Apa maksudmu! Benda ini aku dapatkan dari anak-anak panti asuhan," ralat Cassia dengan nada tegas, membela pemberian yang ia anggap berharga itu. Damian hanya tersenyum melihat reaksi adiknya.
Cassia kembali menurunkan pandangannya pada mahkota daun pemberian anak-anak panti yang kini sudah mulai layu. Dengan fokus, jemarinya yang lentur mencoba membetulkan kembali beberapa helai daun yang terlepas dari rangkaiannya. Ia tidak ingin benda ini rusak sedikit pun. Bayangan wajah anak-anak yang membuatnya dengan sungguh-sungguh terlintas di benaknya, membuat Cassia merasa memiliki tanggung jawab besar untuk merawat benda sederhana itu dengan sebaik mungkin.
Saat ini Cassia dan Damian sedang berada di gazebo taman istana, sebuah bangunan kecil berbentuk segi enam yang dikelilingi oleh rumpun mawar merah yang mekar sempurna. Mereka tidak hanya berdua di tempat itu. Di salah satu sudut gazebo yang teduh, berdiri Merria, sang pendamping setia Cassia yang sedang mengawasi dengan sikap tenang.
"Apakah kau yakin sudah merasa lebih baik, Merria?" suara Cassia memecahkan keheningan, menatap pendamping kesayangannya itu penuh perhatian. "Kalau masih tidak enak badan, kau boleh beristirahat dulu sampai benar-benar sembuh."
Merria yang berdiri tegak di dekat pilar putih, menunduk hormat. "Tidak apa-apa, Putri. Hamba sudah merasa jauh lebih baik dibandingkan hari-hari kemarin."
Damian sedikit memiringkan kepalanya, menatap wajah pucat wanita paruh baya itu dengan tatapan intens. "Kau demam, Merria? Pantas saja aku tidak melihatmu di samping Cassia beberapa hari ini."
"Benar, Pangeran. Hanya demam biasa karena terlalu kelelahan," jawab Merria dengan suara yang masih sedikit serak.
Damian menggeleng kepala dengan dramatis, matanya beralih kembali pada Cassia yang masih sibuk dengan mahkota daunnya. "Kau lihat? Merria sampai sakit hanya karena dia terlalu lelah mengurusmu yang sangat susah diatur."
Refleks, Cassia langsung memandang Damian tajam, tidak terima dituduh seperti itu. Bibirnya berdecih lembut.
"Itu di luar kuasaku, Damian! Lagi pula, aku sudah berulang kali menyuruhnya agar tidak selalu mengikutiku, tapi Merria tetap saja keras kepala."
Damian menghela napas panjang. "Dia hanya melakukan tugasnya untuk memastikan kau tidak melakukan hal-hal konyol sesuka hatimu."
Cassia hanya mengerucutkan bibirnya, sengaja mengabaikan sindiran kakaknya itu. Ia sedang malas berdebat, lagi pula Cassia tahu betul bahwa jika ia meladeni Damian, ujung-ujungnya dialah yang akan mengalah dan berakhir dihukum membersihkan kandang kuda.
Hubungan mereka memang selalu seperti itu. Ibarat api dan air yang terus berbenturan dalam satu tempat. Damian selalu menempatkan keselamatan dan kepentingan Cassia di atas segalanya, hingga sikapnya sering terasa terlalu mengekang bagi sang Putri. Di mata Damian, Cassia adalah adik keras kepala yang terlalu sering bertindak sesuka hati tanpa memikirkan risikonya.
Perbedaan cara pandang inilah yang menciptakan jurang antara ketegasan Damian yang kaku dengan jiwa bebas Cassia yang meledak-ledak. Meskipun cara Damian menunjukkan kasih sayang lebih menyerupai didikan militer daripada kelembutan seorang saudara, Cassia tidak bisa berbohong pada hatinya sendiri. Di balik gerutu dan wajah dongkolnya, ia tetap menyayangi kakak satu-satunya itu lebih dari ia menyayangi dirinya sendiri. Baginya, Damian adalah satu-satunya pelindung yang paling ia percayai, meski untuk mengakuinya saja Cassia butuh gengsi yang setinggi langit.
Damian bangkit dari duduknya, lalu berjalan mendekati Merria. Suaranya merendah namun penuh perintah yang tak terbantahkan. "Pastikan Cassia tetap berada di dalam istana hari ini. Jangan biarkan dia keluar sendirian," titahnya dengan nada serius.
Merria menundukkan kepalanya dalam-dalam sebagai tanda hormat. "Baik, Pangeran. Hamba akan menjaga Putri dengan sebaik mungkin."
Pangeran itu kemudian melangkah keluar dari gazebo segi enam tersebut. Jubah mahalnya yang berwarna gelap sedikit terseret di atas rerumputan hijau yang mengelilingi fondasi batu alam bangunan itu.
Cassia mendengus keras, sengaja membuang muka saat punggung Damian perlahan menjauh meninggalkan gazebo. Matanya yang biasanya berbinar kini meredup oleh rasa dongkol. Padahal ia sudah membayangkan serunya kabur dari istana membosankan ini demi mencari tanaman herbal di pasar distrik tengah. Rencana yang telah ia susun rapi di kepalanya sejak kemarin itu terpaksa harus tertunda sampai Damian benar-benar lengah.
"Sangat menyebalkan," gumamnya pelan sambil menghentakkan kakinya sedikit ke lantai. Namun baginya, larangan adalah sebuah tantangan. Ia akan tetap keluar istana apa pun alasannya.
Gadis itu menghela napas panjang, mencoba mengusir kekesalannya agar tidak merusak suasana hatinya. Jemarinya kembali bergerak lincah pada mahkota daun di tangannya, berusaha menyelamatkan sisa-sisa pemberian tulus dari anak panti asuhan. Meskipun hatinya sedang mendidih, ia tidak bisa membiarkan benda berharga ini terbengkalai.
"Merria," panggilnya tanpa menoleh ke arah pendampingnya itu. "Apa kau juga merasa ada sesuatu yang sedang disembunyikan Damian dariku? Aku merasa ayah dan Damian sedang merahasiakan sesuatu dariku."
Merria tersenyum kecil. Sorot matanya memandang Cassia dengan ketulusan yang menenangkan. Rambut cokelatnya yang mulai disisipi beberapa helai putih tersanggul rapi di belakang kepala, memberinya kesan hangat.
"Pangeran Damian dan Yang Mulia hanya mengkhawatirkan keselamatan Anda, Putri," jawabnya pelan. "Mereka sangat menyayangi Anda, jadi tidak perlu terlalu memikirkannya."
mata Cassia langsung mendelik. Ia merasa jawaban pendamping itu tidak nyambung namun gadis itu terlalu malas untuk mendebatnya. Putri muda itu akhirnya hanya menghela napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi gazebo sambil menatap taman istana di depannya. Entah kenapa, pagi ini semua orang terasa sangat menyebalkan baginya.
...********************************...
Sore yang menggelap di Distrik Bawah.
Langkah kaki Zen bergema pelan di atas jalanan berbatu yang lembap saat ia menyusuri pemukiman di Distrik Bawah. Sesuai perintah Raja Arthur, ia tidak mengenakan zirah ksatria lengkapnya. Ia memilih jubah pengelana berwarna gelap yang membungkus tubuh tegapnya, menyembunyikan pedang yang tersampir di pinggang agar terlihat seperti warga biasa yang sedang melintas.
Pikirannya masih tertuju pada belati milik anak perempuan di panti asuhan Esmeralda. Logamnya memiliki guratan yang tidak biasa, dan ia harus menemukan seseorang di pinggiran Castlewood yang mengenali polanya. Sudah berjam-jam lamanya ia habiskan berkelana, namun hingga langit mulai menggelap, ia belum mendapatkan jawaban apa pun. Sebagian besar pandai besi hingga penempah pedang di distrik ini menggelengkan kepala; mereka tidak ada yang mengenali jenis besi maupun motif ukiran pada belati tersebut.
Zen berhenti di depan sebuah gang yang remang-remang. Ia merogoh saku di samping jubahnya, mengeluarkan belati itu. Ia memperhatikannya dengan saksama di bawah cahaya lampu-lampu minyak yang mulai dinyalakan di rumah-rumah penduduk. Motifnya memang terbilang langka dan sangat asing bagi persenjataan standar Castlewood, tidak heran sulit menemukan pengrajin yang tahu motifnya.
Zen menarik napas panjang, kemudian mendongak menatap langit yang kini mulai berubah warna menjadi kelabu gelap. Cahaya kemerahan senja telah sepenuhnya memudar, digantikan oleh remang-remang malam yang menyelimuti Distrik Bawah. Zen memutar belati itu di tangannya, merasakan keseimbangan berat yang tidak lazim. Besinya tidak memantulkan cahaya dengan cara yang normal, melainkan seolah menyerapnya ke dalam guratan-guratan gelap di permukaan logam.
'Kalau anda mencari tahu soal guratan sehalus itu, coba datangi lelaki tua di luar tembok Distrik Bawah. Dia satu-satunya penduduk Castlewood yang paham mengenai barang-barang langka dari wilayah luar...'
Suara salah seorang penempah besi yang ia temui sebelumnya kini terngiang kembali di kepalanya.
Ingatan itu menjadi satu-satunya kompas yang ia miliki untuk mencari bukti petunjuk terakhir. Zen menyarungkan kembali belati itu ke dalam saku jubahnya, lalu melangkahkan kaki menembus lorong sempit yang pengap oleh aroma kayu lapuk dan sisa-sisa serutan gergaji.