Diana Veronika berniat memberi tahu kekasihnya tentang kehamilannya, berharap pria itu akan ikut bahagia.
Namun bukannya bertanggung jawab, Samuel justru meninggalkannya karena tak berani melawan orang tuanya dan memilih wanita dari perjodohan keluarga.
Hamil sendirian, Diana berusaha bangkit demi anaknya, hingga seorang CEO dingin perlahan hadir dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Izinkan aku menjaga kalian
“Hai, kamu mau ke mana...?”
Seorang anak kecil berwajah lucu terus berlari tanpa memedulikan Samuel.
“Sini, kejal aku...” ucapnya dengan suara cadel.
Samuel tersenyum tipis. Ia mengejar bocah laki-laki itu dengan langkah santai.
“Jangan kabur kamu...”
Bocah itu tertawa riang. Suara tawanya terdengar begitu jelas dan membuat hati Samuel terasa hangat dengan cara yang aneh.
Namun, tiba-tiba seorang pria datang dan langsung menggendong bocah itu.
“Stop ya, Nak. Kamu tidak bisa bermain dengannya lagi,” ucap pria itu sambil melirik Samuel dengan tatapan tajam.
Samuel mengernyit bingung.
“Kenapa? Apa salahnya kalau dia bermain denganku?” tanyanya heran.
Pria itu langsung menatapnya dengan sorot penuh kebencian.
“Kenapa bertanya seperti itu? Apa kamu lupa kalau kamu sudah membuangnya bersama ibunya. Tidak ada hakmu lagi untuk bertemu dengannya.”
Deg!
Tubuh Samuel langsung menegang. Wajahnya pucat seketika.
Pria itu berbalik dan langsung membawa anak kecil tersebut pergi.
“Tidak! Jangan pergi!” teriak Samuel sambil mengejar mereka.
Namun anak kecil itu hanya menoleh sekilas. Wajah lucunya yang tadi penuh tawa kini berubah datar.
Samuel terus berlari mengejar, tetapi pria dan anak kecil itu perlahan masuk ke dalam sebuah cahaya terang.
“Tidak...!”
“Sam, bangun...”
Citra menepuk pipi suaminya pelan.
Samuel langsung terbangun dengan tubuh tegak. Napasnya memburu, wajahnya dipenuhi keringat dingin.
Ia menatap sekeliling kamar dengan pandangan kacau, lalu mengembuskan napas berat.
“Mimpi itu lagi...” gumamnya pelan. Sudah beberapa malam terakhir Samuel terus bermimpi hal yang sama.
“Kamu mimpi apa?” tanya Citra dengan nada penasaran.
“Mimpi anak kecil itu lagi,” jawab Samuel sambil mengatur napasnya.
“Lagi? Berarti kamu sering mimpi itu,” ucap Citra.
Samuel mengangguk pelan. Tiba-tiba pikirannya kembali tertuju pada Diana.
Saat itu... dia sendiri yang memaksanya menggugurkan darah daging mereka.
“Apa jangan-jangan...” lirihnya.
Ia menggeleng pelan dengan wajah tegang.
“Tidak mungkin...”
“Sudahlah, Sam. Itu cuma bunga tidur,” ucap Citra sambil kembali menarik selimutnya, bersiap melanjutkan tidur.
Samuel tidak menjawab.
Ia bangkit dari tempat tidurnya lalu melangkah menuju balkon kamar.
Citra hanya melirik sekilas dengan wajah acuh, lalu kembali memejamkan mata.
Angin malam langsung menerpa wajah Samuel saat pintu balkon terbuka. Suasana mansion terlihat begitu sunyi di tengah dini hari.
Sudah beberapa bulan pernikahannya dengan Citra berlangsung, tetapi mereka belum juga memiliki anak.
Tiba-tiba Samuel teringat sumpah Diana.
“Aku bersumpah... kamu tidak akan pernah mendapatkan keturunan!”
Grrraaaammm!
Suara petir menggelegar di langit malam membuat Samuel tersentak.
Jantungnya berdebar lebih cepat.
“Kenapa aku jadi kepikiran begini...” gumamnya sambil menatap langit gelap.
Seketika ia mengingat sesuatu.
Dengan tangan sedikit gemetar, Samuel mengeluarkan ponselnya dari saku celananya lalu menelepon seseorang.
“Temui saya besok.”
°°••°°
“Selamat pagi gantengnya Oma.”
Kartika begitu antusias melihat Reyhan yang sedang berjemur di pagi hari.
“Selamat pagi juga, Oma,” balas Diana dengan suara kecil sambil melambaikan tangan mungil Reyhan.
Dua hari telah berlalu, Diana dan sang putra akhirnya kembali ke rumah.
“Diana, biar Ibu saja yang gendong. Kamu sarapan dulu, Nak. Kamu butuh banyak nutrisi,” ucap Kartika sambil mengambil alih Reyhan dari gendongan Diana.
“Tidak merepotkan, Bu?” tanya Diana dengan nada tidak enak. Selama ini Kartika selalu banyak membantunya.
Kartika menggeleng cepat. “Tidak. Ibu malah senang,” jawabnya sambil mencubit pelan pipi Reyhan. “Oh iya, Rey... Oma Kartini ingin ke sini. Katanya ingin melihatmu, Nak.”
“Ibu Kartini mau ke sini, Bu?” tanya Diana dengan nada antusias.
Kartika membalas dengan anggukan. “Katanya ingin bertemu anak ganteng ini.”
Diana tersenyum. Ia begitu senang mendengar Kartini—ibu kosnya dulu di kota Westoria—ingin menemuinya. Diana sudah menganggap wanita itu seperti orang tuanya sendiri.
“Kamu makan dulu, Nak. Biar Ibu yang jaga Reyhan.”
Diana mengangguk, lalu kembali masuk ke dalam rumah.
Di meja makan, sudah tersedia banyak hidangan yang dimasak Kartika, membuat hati Diana terasa hangat dan terharu.
Tak selang lama, Diana selesai makan dan tak lupa mandi.
Setelah semuanya selesai, ia kembali menghampiri putranya.
Namun langkahnya terhenti.
Reyhan sudah tidak lagi berada dalam gendongan Kartika, melainkan berada di pelukan Niel.
Diana mendekat perlahan.
“Niel...”
Niel menoleh, lalu tersenyum tipis.
“Hai.”
“Ibu mana?”
“Dia pulang ke rumahnya. Katanya ada temannya datang,” jawab Niel sambil menggendong Reyhan dengan santai.
Diana menatap keduanya bergantian, lalu tersenyum kecil.
“Kamu terlihat biasa saja saat menggendong Reyhan,” ucap Diana.
Diana tersenyum kecil melihat cara Niel menggendong Reyhan dengan begitu natural, seolah pria itu sudah terbiasa melakukannya sejak lama.
“Padahal ini pertama kalinya kamu menggendong bayi, kan?” tanya Diana sambil mendekat.
Niel menatap bayi kecil di lengannya, lalu mengangguk pelan.
“Pertama kali.”
Diana menaikkan alisnya. “Tapi kamu kelihatan santai banget.”
Niel terkekeh pelan, sangat tipis sampai hampir tak terlihat.
“Mungkin karena dia anak yang tenang.”
Seolah mengerti sedang dibicarakan, Reyhan malah membuka matanya pelan lalu menatap wajah Niel.
Diana tersenyum gemas. “Dia bahkan nggak nangis sama sekali.”
“Dia anak pintar,” ucap Niel singkat sambil mengusap pipi kecil Reyhan dengan jarinya.
Deg.
Entah kenapa dada Diana terasa hangat melihat pemandangan di depannya.
Niel terlihat... seperti seorang ayah.
Pikiran itu membuat Diana buru-buru mengalihkan pandangannya.
“Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Niel tiba-tiba.
Diana langsung tersentak. “Hah? A-aku nggak menatap kamu.”
Niel menatapnya datar. “Kamu menatapku hampir satu menit.”
Wajah Diana langsung memerah.
“Aku cuma lihat Reyhan!”
“Hmm.”
Jawaban singkat itu justru membuat Diana semakin salah tingkah.
“Boleh aku gendong dia?” tanya Diana cepat, berusaha mengalihkan suasana.
Niel menggeleng pelan.
“Kamu baru selesai mandi dan makan. Duduk saja dulu.”
Diana melongo. “Kamu bahkan ngomong kayak ibu-ibu.”
Niel menatapnya datar.
“Karena kamu keras kepala.”
Diana cemberut kecil.
Belum sempat membalas, suara mobil terdengar dari luar rumah.
Diana langsung berdiri dari duduknya.
Dan saat melihat siapa yang masuk, mata Diana membulat lebar.
“Ibu Kartini…”
Seorang wanita paruh baya langsung membuka tangan lebar-lebar.
“Diana!”
Diana spontan berlari kecil lalu memeluk wanita itu erat.
“Ibu…” suara Diana bergetar. “Aku kangen sekali…”
Kartini ikut menangis sambil mengusap punggung Diana.
“Ibu juga sangat merindukanmu, Nak.”
Setelah beberapa saat, Kartini melepas pelukannya lalu menatap Diana dari atas sampai bawah.
“Kamu sehat… dan kamu sekarang sudah jadi seorang ibu.”
Diana tersenyum sambil mengangguk pelan.
“Iya, Bu.”
Kartini lalu menoleh saat mendengar suara kecil Reyhan.
Matanya langsung berbinar.
Kartini langsung menghampiri Niel yang masih menggendong Reyhan.
Namun langkahnya tiba-tiba berhenti.
Matanya menyipit menatap Niel.
“Kamu kan pengusaha sukses itu kan?” ucap Kartini.
Niel hanya mengangguk sopan.
“Ya Tuhan, kamu ganteng banget. Mirip oppa Korea,” ucap Kartini dengan antusias.
Diana hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah ibu kos lamanya itu.
“Anda ingin menggendong Reyhan?” tanya Niel.
Kartini langsung mengangguk cepat.
Niel pun segera menyerahkan Reyhan ke gendongan Kartini.
Kartini tampak begitu antusias. Ia langsung mengajak Reyhan berkeliling rumah sambil menceritakan hal-hal random, membuat Diana terkekeh kecil melihat tingkahnya.
“Dia siapa?” tanya Niel sambil mendekati Diana.
“Dia Ibu Kartini, sepupu Ibu Kartika,” jawab Diana. “Selama di Westoria, aku sudah menganggap beliau seperti ibuku sendiri.”
Niel mengangguk pelan.
Ia terdiam sejenak, menatap Kartini yang masih sibuk berbicara dengan Reyhan penuh semangat.
“Diana.”
“Iya?”
“Aku ingin mengatakan sesuatu padamu.”
Diana mengerutkan kening bingung.
“Apa?”
Niel menatap Diana dalam-dalam, lalu berkata dengan suara rendah namun tegas.
“Izinkan aku menjaga kamu dan Reyhan.”
Deg!
Selamat menikmati kesengsaraanmu...
SELAMANYA!!!
Mpusss...