NovelToon NovelToon
Kontrak Cinta Sang Kepala Pelayan

Kontrak Cinta Sang Kepala Pelayan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author:

Punya ijazah S1 Akuntansi dengan predikat Cum Laude ternyata tidak berguna di hadapan tagihan rumah sakit yang mencapai ratusan juta. Demi menyelamatkan nyawa ibunya, Arini terpaksa membuang gengsinya dalam-dalam dan melamar menjadi kepala pelayan di penthouse mewah milik Adrian—seorang CEO muda kaya raya yang terkenal sedingin es kutub utara.Kerja keras Arini yang super rapi dan cerdas perlahan menarik perhatian sang Kakek pemilik takhta konglomerasi. Salah paham pun terjadi. Demi mempertahankan posisinya sebagai pewaris tunggal, Adrian terpaksa berbohong dan mengenalkan pelayannya itu sebagai calon istri.Sebuah kontrak pernikahan satu tahun akhirnya disodorkan di atas meja marmer.Gaji ratusan juta, seluruh utang lunas, dengan satu syarat mutlak: Dilarang saling jatuh cinta.Mampukah Arini bertahan menghadapi sikap dingin sang konglomerat di bawah satu atap yang sama? Ataukah pernikahan pura-pura ini justru akan mencairkan hati sang es kutub utara yang selama ini membeku?

Bab 19 (Tanda Pertama dan Proteksi Berlebih)

Satu bulan berlalu sejak konfrontasi sengit di kediaman Kakek Wijaya. Baskoro benar-benar bersih dari operasional perusahaan setelah skorsingnya dipantau ketat oleh Yudha. Kehidupan pernikahan nyata Arini dan Adrian di penthouse berjalan dengan penuh kehangatan, jauh dari bayang-bayang kaku selembar kertas kontrak lama yang kini sudah mereka lupakan seutuhnya.

Pagi itu, aroma kopi hitam Arabika Gayo pesanan Adrian yang baru saja disajikan oleh pelayan harian menguar memenuhi ruang makan. Adrian seperti biasa sudah rapi dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku, siap mencermati tablet kerjanya untuk memantau pergerakan bursa saham.

Arini melangkah keluar dari kamar dengan langkah yang sedikit gontai. Wajahnya tampak lebih pucat dari biasanya. Namun, begitu indra penciumannya menangkap pekatnya aroma kafein yang memenuhi udara pagi itu, perutnya mendadak bergejolak hebat. Rasa mual yang teramat sangat menghantam ulu hatinya tanpa peringatan.

"Ugh..." Arini refleks menutup mulutnya dengan telapak tangan, berbalik cepat, dan berlari setengah runtuh menuju kamar mandi di dekat dapur bersih.

Adrian menghentikan ketikannya seketika. Mendengar suara Arini yang sedang memuntahkan cairan bening di wastafel, sang CEO langsung berdiri dari kursi kebesarannya. Topeng tenangnya tanggal berganti kecemasan. Ia melangkah lebar, mengabaikan cangkir kopinya, lalu mendorong pintu kamar mandi yang tidak dikunci.

"Sayang? Kamu kenapa?" tanya Adrian, suaranya dipenuhi gurat kepanikan yang nyata saat melihat tubuh istrinya yang melemas.

Arini bersandar lemas pada pinggiran wastafel, napasnya memburu dengan peluh dingin yang membasahi pelipisnya. "Tidak tahu, Mas... kepala aku mendadak sangat pusing, dan aroma kopi kamu pagi ini rasanya sangat menyengat dan membuat mual."

Adrian tidak menjawab dengan kata-kata kosong. Ia meraih tisu basah, mengusap pelipis Arini dengan gerakan yang teramat lembut, lalu tanpa permisi menyurukkan lengan kekarnya ke bawah lutut dan punggung Arini. Ia mengangkat tubuh ramping istrinya itu dalam satu gerakan instan, membawanya kembali ke kamar utama mereka.

"Mas, turunkan aku. Aku bisa jalan sendiri," protes Arini lemah, namun debaran jantungnya yang menggila karena kedekatan fisik mereka membuat suaranya terdengar seperti bisikan pasrah.

“Diamlah, Baby. Wajahmu sudah seputih kertas," potong Adrian tegas. Ia merebahkan Arini di atas seprai sutra abu-abu gelap, lalu mengambil gawainya dan menekan tombol panggil cepat. "Yudha, batalkan semua rapat direksiku sebelum makan siang. Panggil dokter pribadi keluarga Wijaya ke penthouse sekarang juga. Jangan terlambat satu menit pun."

Satu jam kemudian, dokter spesialis keluarga Wijaya selesai melakukan pemeriksaan menyeluruh di dalam kamar. Arini berbaring dengan gelisah, sementara Adrian berdiri di samping ranjang dengan kedua tangan terlipat di dada, menatap sang dokter dengan mata elangnya yang tajam seolah sedang mengintimidasi rekan bisnis.

“Bagaimana keadaannya, Dok? Apa istri saya keracunan makanan?" tuntut Adrian dingin.

Dokter senior itu tersum tipis, merapikan stetoskopnya kembali ke dalam tas medis. "Tidak ada keracunan makanan, Pak Adrian. Nyonya Muda hanya mengalami kelelahan ringan dan gejala awal morning sickness. Selamat, Pak Adrian. Usia kandungan Nona Arini sudah memasuki minggu keempat."

Ruangan seketika senyap total. Kalimat dokter itu laksana petir di siang bolong bagi Arini. Ia membelalakkan matanya, refleks menyentuh perutnya yang masih rata di balik piyama katun. Otak akuntansinya mendadak lumpuh. Minggu keempat. Itu berarti benih cinta nyata mereka telah tumbuh sejak malam penyatuan emosional mereka yang indah sebulan yang lalu.

Arini menoleh perlahan, menatap Adrian. Sang Es Kutub Utara itu berdiri mematung. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Adrian Wijaya kehilangan kata-kata. Fokus matanya turun menatap lurus ke arah perut Arini, lalu beralih menatap manik mata istrinya dengan binar emosi yang begitu pekat, campur aduk antara keterkejutan mendalam dan rasa kepemilikan yang luar biasa besar.

Setelah dokter pribadi itu berpamitan dan diantar keluar oleh Yudha, Adrian melangkah mendekati ranjang. Ia duduk di tepi kasur, memotong jarak di antara mereka. Tangan besarnya bergerak perlahan, meraba jemari Arini, lalu menautkan jari-jari mereka erat-erat hingga gelang berlian di tangan Arini berkilau redup.

"Mulai hari ini, tidak ada aktivitas luar rumah tanpa izinku," ucap Adrian rendah, suaranya serak namun sarat akan proteksi mutlak yang tidak bisa dibantah. "Kamu tidak sedang menjaga dirimu sendiri lagi, Arini. Di dalam tubuhmu, ada pewaris sah dari seluruh hidupku."

Arini menelan ludah dengan susah payah, menatap wajah kaku Adrian yang kini melunak sepenuhnya oleh rasa sayang. "Mas... sifat posesifmu ini mulai keluar lagi."

"Aku tidak peduli," bisik Adrian seksi, menundukkan kepalanya hingga bibirnya menyentuh kening Arini dalam sebuah kecupan yang sangat lama, hangat, dan posesif. "Aku tidak bisa melepaskanmu atau anak kita, Sayang."

1
sakura
Hallow guys xixi mimin minta maaf karna seminggu ga update tapi tenang aja udah sekarang updatenya doble”. jangan lupa like,komen, dan share yaa cinta-cintaku🫶🏻
sakura
jangan lupa kasih like nya ya manteman,biar authornya ini jadi semangat buat nulisnya xixi😗🫶🏻🙆🏻‍♀️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!