Alvaro Zaidan Alexander adalah anak ketiga dari empat bersaudara, ia adalah anak tengah yang hampir terlupakan oleh keluarganya sendiri semenjak sang mamah meninggal, keluarganya yang dulunya harmonis dan hangat sekaranh hanya keluarga dingin dan juga kaku.
Dan ada satu kejadian yang membuatnya berubah yaitu musuh bebuyutan sang Papah yang mengincarnya yang membuat sang Papah dan 3 saudaranya berubah seketika...
Apa yang di inginkan oleh musuh Papah kepada Alvaro?
Apakah mereka berhasil melindungi Alvaro atau tidak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Patmandari Nugraheni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 28 Hari Kepulangan Alvaro
Suatu hari tepatnya pada hari sabtu, hari berjalan begitu lambat di dalam kamar rawat nomor 245. Alvaro menyandarkan punggungnya pada tumpukan bantal yang menopang tubuhnya, sementara sepasang matanya tidak lepas dari arah jam dinding yang sedang berdetak dan detak jantungnya berpacu sedikit lebih cepat karena rasa tidak sabar yang ia rasakan.
Elvano yang duduk di kursi yang berada di dekat ranjang selalu setia di samping kembarannya dan ia hanya bisa terkekeh melihat tingkah Alvaro yang tidak sabar untuk keluar dari rumah sakit. Lalu ia mengulurkan tangannya kearah Alvaro, setelah Alvaro menerima uluran tanggannya ia pun menggenggam jemari Alvaro yang masih sedikit lemas karena masa pemulihan, lalu ia mengusap tangan Alvaro yang ada di genggamannya untuk menyalurkan rasa tenang kepada Alvaro.
"Sabar, Al. Jangan gelisah gitu kita jadi pulang kok tenang aja, nanti tensimu malah naik kalau naik lagi pulangnya bakal lama dokter Angga bakal berubah pikiran pas liat tensimu" goda Elvano dengan nada di buat bercanda namun penuh kasih sayang. Alvaro pun hanya bisa memajukan bibirnya beberapa senti saat mendengar ucapan dari adik kembarnya itu, tetapi ia tidak melepas genggaman dari adik kembarnya itu.
Tak lama kemudian, terdengar suara derap langkah kaki yang berwibawa terdengar mendekat kearah pintu kamar rawat milik Alvaro. Pintu kamar rawat nomor 245 yang bercat coklat itu terbuka secara perlahan-lahan, menampilkan sesosok dokter muda yang selama ini menangani Alvaro di rumah sakit yaitu dokter Angga yang berjalan masuk dengan senyum dan juga kaca mata yang ia kenakan sebagai ciri khasnya, dan juga di belakangnya di ikuti oleh seorang perawat yang membawakan sebuah map yang lumayan tebal berisikan dokumen rekam medis milik Alvaro selama ia di rawat di rumah sakit dan juga wadah berisikan thermometer untuk mengecek suhu tubuh Alvaro.
Setelah sang dokter dan juga perawat melangkah memasuki ruang rawat Alvaro, sang papah yang melihat itu pun langsung berdiri tegas dari sofa yang ia duduki yang ada di ruangan Alvaro. Diikuti oleh Arlan dan Erlan yang mendadak ikut berubah tegang juga, atmosfer di dalam ruangan seketika berubah penuh dengan harapan di dalamnya untuk Alvaro.
Dokter Angga dan juga perawat yang membawa map milik Alvaro dan juga wadah berisikan thermometer untuk mengecek suhu tubuh Alvaro dan mereka pun melangkah mendekati ranjang, memberikan sapaan hangat sebelum mulai memeriksa denyut nadi milik Alvaro, mendengar detak jantung milik Alvaro yang stabil dengan alat stetoskop miliknya dan juga mengukur suhu tubuh remaja itu untuk terakhir kalinya.
Setelah memeriksa kondisi Alvaro yang sudah mulai stabil ia pun menyuruh perawat yang ada di belakangnya untuk mencatat semua kondisi Alvaro di rekam medis, dokter itu pub sedikit menaikkan kaca mata yang ia kenakan karena sedikit melorot sampai kepangkal hidung. Ia pun menatap kearah Alaric dan seluruh anggota keluarga yang sedang menahan napas menantikan Keputusan darinya itu.
“Bagaiman kondisinya dok? Apakah putra saya sudah benar-benar aman untuk dan boleh pulang untuk sore hari ini?” tanya sang papah dangan nada suara yang sedikit bergetar dan sekaligus berharap kearah dokter Angga.
Dokter Angga pun hanya bisa terkekeh pelan, menyadari betapa proktektif dan tegangnya seluruh pria di dalam ruangan ini. Ia pun menoleh kearah Alvaro yang masih duduk di atas ranjang sambil menatapnya dengan penuh keharapan dan dengan mata yang berbinar-binar kearahnya.
“Melihat perkembangan vital miliknya yang sudah sangat stabil sejak siang tadi, dan juga demamnya juga sudah turun total dan juga peradangan di juga lambungnya sudah stabil… sore ini Alvaro sudah boleh pulang dan menjalani rawat jalan” ucap dokter Angga dengan tenang.
Mendengar kalimat dari dokter Angga, membuat Alvaro langsung menghembuskan napas dengan sangat amat lega, seolah-olah beban berat yang dari tadi menghimpitnya terbang begitu saja dari hatinya.
Senyum manis yang sudah berhari-hari hilang entah kemana kini terbit kembali, untuk menghiasi wajah manis Alvaro yang meskipun masih sedikit pucat. Elvano tidak bisa lagi Manahan rasa bahagianya ia pun bersorak kecil dan juga merangkul bahu Alvaro dengan hati-hati karena Alvaro masih sedikit lemas dan juga ia takut jika ia merangkulnya dengan kuat membuat Alvaro sesak napas kembali.
“Alhamdulillah… terima kasih ya dokter Angga” ujar Arlan dan Erlan serempak. Karena perasaan lega yang luar biasa langsung membuncah di dalam dada kedua kakak kembar tertua tersebut, membuat senyum cukup lebar terukir di wajah mereka yang biasanya tampak kaku dan juga dingin.
“Iya sama-sama, tapi ingat ya pak Alaric…” ucap dokter Angga mengalihkan pandangannya kearah sang papah dang wajah yang kembali serius dan juga cukup tegas.
“Sesampainya nanti di rumah Alvaro harus istirahat total untuk beberapa hari kedepan dan tidak boleh kelelahan sama sekali nanti bakal memicu sesak napasnya kembali, dan tidak boleh telat makan ya pak nanti juga bakal menyebabkan peradangan di lambungnya kembali. Nanti untuk obatnya bisa di tebus ya pak sebelum pulang nanti obatnya cuma ada empat macam obat yaitu untuk lambungnya, lalu obat panas jika Alvaro mengalami nyeri atau panas kembali, ada inhaler kalua sewaktu-waktu Alvaro sesak kembali dan terakhir itu ada antibiotik untuk paru-paru dan di minum tiga kali sehari sesudah makan, ya pak. Nanti keseluruhannya bakal di jelaskan kembali oleh apoterker ya pak saat penembusan nanti” jelas dokter Angga kepada sang papah.
“Baik dok, terima kasih penjelasannya. Oh ya ok saya mau tanya itu infusnya bakal di lepas kapan ya?” tanya sang papah ke pada dokter Angga.
“Oh kalua infusnya bakal di lepas kalua infusnya sudah habis pak, kalua sudah habis nanti bisa panggil perawat yang sedang berjaga” jawab dokter Angga kepada sang papah dan papah pun hanya bisa mengangguk.
Setelah dokter Angga memberikan penjelasan terakhir dan berpamitan keluar untuk mengurus dan melekapi berkas kepulangan resmi Alvaro, atmosfer di dalam kamar rawat milik Alvaro langsung berubah total menjadi penuh dengan kebahagiaan dan juga kehangataan. Alaric melangkah mendekati ranjang milik Alvaro, lalu ia mengusap rambut milik Alvaro dengan telapak tangannya yang hangat dan penuh kasih saying kepada anak ketiganya.
Lima menit kemudian, Alvaro pun secara spontan melihat kearah infus miliknya yang masih terpasang rapi di tangannya saat cairan infus yang ia rasa sudah habis ia pun memanggul kakak keduanya yaitu Erlan yang berada di depannya.
“Kak…” panggil Alvaro kepada Erlan yang mulai mengemasi barang-barang mereka.
“Iya kenapa Al?” tanya Erlan kepada Alvaro yang masih saja menatap kearahnya dengan muka yang sudah benar-benar merasa lega.
“Itu kak cairan infusnya udah habis” jawab Alvaro sambil menunjuk kearah infus yang cairannya sudah habis.
“Oh ya sudah sebentar ya Al” ucap Erlan kepada Alvaro masih saja menunjuk kearah infus yang cairannya habis dan ia pun hanya bisa mengangguk sebagai jawabannya kepada sang kakak.
“El temenin Al dong di sampingnya, kakak mau panggil perawat dulu buat lepas infus Al dulu” ucap Erlan lagi kali ini kepada adik bungsunya yaitu Elvano.
“Ok kak, sebentar ya” ujar Elvano kepada kakak keduanya itu.
Setelah Erlan pergi dari tempatnya, Elvano pun menghampiri Alvaro yang masih duduk manis di ranjang rumah sakit miliknya. Beberapa menit kemudian Erlan pun kembali bersama perawat yang berada di belakangnya untuk melepas infus milik Alvaro yang cairannya sudah habis.
“Misi ya dek mas mau lepas infus kamu dulu” ucap perawat itu kepada Alvaro dan ia pun hanya bisa mengangguk sebagai jawaban kepada perawat tersebut.
Beberapa menit kemudian, perawat itu pun sudah melepas infus yang ada di tangan Alvaro dan menutup bekas infus itu dengan plester dan juga kapas yang ia bawa sebelum ke ruang rawat Alvaro.
“Sudah ya pak” ucap perawat tersebut kepada Erlan.
“Makasih ya mas” jawab Erlan kepada perawat tersebut.
“Iya pak sama-sama, saya permisi ya pak” ujar perawat tersebut kepada Erlan, dan Erlan pun hanya memberikan senyum simpulnya.
Saat perawat itu pergi dari ruangan Alvaro Erlan pun berjalan mendekati ranjang milik Alvaro dan juga di temani oleh adik kembarnya yang tidak laian dan tidak bukan adalh Elvano yang ia minta untuk menemani Alvaro.
Setelah beberapa menit, Arlan, papah dan juga uncle Sam pun keluar dari kamar tamu yang ada ruang rawat di sana sambil membawa tas yang berisikan baju-baju mereka selama mereka menginap di rumah sakit untuk menjaga Alvaro.
“Sudah di lepas infusnya?” tanya Arlan kepada ketiga adiknya.
“Sudah bang” jawab Erlan.
“Kalian tunggu sini bentar ya, papah sama uncle Sam mau urus administrasi sama ambil obat milik Alva” ucap sang papah kepada keempat anaknya itu.
“Iya pah” jawab Arlan mewakili ketiga adiknya itu.
Setelah papah dan juga uncle Sam pergi untuk mengurus administrasi dan juga mengambil obat di apotik, suasan di dalam kamar rawat Alvaro penuh dengan kehangatan yang selama ini Alvaro rindu-rindukan.
Setelah beberapa menit, papah dan juga uncle Sam pun kembali keruang rawat milik Alvaro. Sang papah melihat keempat anaknya kembali hangat pun merasa hatinya sangat hangat dan juga damai saat melihat interaksi keempat anaknya itu.
“Anak-anak, ayo kita pulang ini sudah selesai administrasinya sama ambil obatnya” ucap sang papah kepada anak-anaknya.
“Bentar pah, montorku gimana?” tanya Elvano.
“Papah sudah urus nanti akan ada bawahan papah yang ambil kok tenang aja” jawab sang papah kepada anak bungsunya itu.
“OK pah” ucap Elvano.
“Sudah telpon bawahanmu buat ambil montornya Elkan?” tanya sang papah kepada uncle Sam.
“Sudah tuan, dia sudah menunggu di bawah” jawab uncle Sam kepada sang papah.
“Ya sudah, ayo kita turun” ucap sang papah kepada keempat anaknya.
Sepuluh menit kemudian, mereka semua pun sudah sampai di lobi rumah sakit sementara Alvaro berjalan di topang oleh kakak tertuanya dan kedua saudaranya yang lainnya pun membawa tas yang berisikan baju-baju milik mereka selama mereka merawat Alvaro di rumah sakit, dan di sana sudah ada bawahan uncle Sam untuk membawakan montor milik Elvano kemansion Alexander.
“Permisi tuan besar, tuan Sam dan tuan muda” ucap bodyguard tersebut memberikan hormat kepada mereka.
“El mana kunci montornya?” tanya sang papah kepada Elvano.
“Oh iya, ini kunci montornya, sama ini kertas parkirnya” ucap Elvano sambil menyerahkan kunci dan juga kertas parkir montonya itu kepada orang tersebut.
“Baik tuan muda El, saya permisi dulu mari” ucap bodyguar tersebut untuk mengambil montor milik El.
“Ya sudah uncle Ambil mobil dulu sebentar” ujar uncle Sam.
Beberapa menit kemusian, uncle Sam pun kembali bersama mobil mewah milik keluarga Alexander yang harganya sangat fantastis. Mereka semua pun masuk kedalam mobil dan berjalan pulang kearah mansion Alexander.