NovelToon NovelToon
Suami Yang Tak Di Inginkan

Suami Yang Tak Di Inginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Nikahmuda / Perjodohan
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Queen adalah seorang Mahasiswa cantik dan salah satu anak dari donatur terbesar di kampusnya, tapi sayangnya nasib Queen tidak seberuntung wajah dan popularitasnya. Di kampus ia di puji karena kecantikkannya. Tapi nilai-nilai Queen sering anjlok, karena gadis itu tidak pernah belajar dengan serius, hidupnya hanya di habiskan untuk clubbing dan nongkrong bersama teman-teman nya. Kini ia terancam di Drop Out dari kampus kalau nilai skripsinya masih buruk.
Meskipun Queen anak dari donatur terbesar... Ibu Farah selaku orangtuanya tidak pernah memanjakannya. Bahkan ia meminta pihak kampus untuk berlaku adil pada anaknya sendiri. Ibu Farah berusaha membuat nilai-nilai skripsi Queen bagus, dengan cara ia memanggil guru privat kerumahnya. Setelah adanya guru privat, hidup Queen semakin tersiksa. Karena tanpa ia sadari sang mama justru menjodohkan pria itu dengannya. Bagaimana hidup Queen setelah menikah dengan guru privatnya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25 : Sah... Sah...

Beberapa jam kemudian...

Matahari mulai naik tinggi. Para tamu undangan berdatangan satu per satu. Suasana rumah keluarga Queen berubah menjadi semakin meriah.

Di lantai atas...

Queen masih duduk di depan cermin besar. Kini riasannya hampir selesai. Kebaya putih dengan detail bordir elegan sudah terpasang sempurna di tubuhnya. Namun berbeda dengan penampilannya yang begitu cantik, ekspresi Queen justru terlihat tegang.

Anggi yang sedari tadi sibuk memotretnya akhirnya berhenti.

"Queen."

"Hm?"

"Lo pucat."

"Gue mau pingsan deh Nggi."

Anggi langsung tertawa. "Hahaha."

"Gue serius."

"Lo cuma gugup."

"Gue nggak pernah nikah sebelumnya, Anggi."

"Ya memang sekali seumur hidup."

"Itu nggak membantu."

Anggi kembali tertawa.

Tak lama kemudian pintu kamar terbuka perlahan. Ibu Farah masuk bersama beberapa tante. Dan untuk sesaat semua orang terdiam. Queen yang biasanya terlihat cuek kini benar-benar tampak seperti pengantin.

Mata Ibu Farah langsung berkaca-kaca. "Ya Allah..."

Queen menoleh. "Ma?"

Ibu Farah tersenyum sambil mengusap sudut matanya. "Anak Mama cantik sekali."

"Mama jangan nangis."

"Mama nggak nangis."

Padahal suaranya sudah bergetar. Beberapa tante ikut tersenyum haru. "Baru kemarin rasanya masih pakai seragam SD."

"Eh sekarang sudah mau nikah."

Queen langsung menunduk malu sekaligus canggung.

Anggi yang melihat itu buru-buru mengabadikan momen tersebut.

Klik. Klik. Klik.

"Anggi!"

"Hehehe."

Sementara itu...

Di lokasi akad, Revan sudah duduk di ruangan khusus keluarga pria. Jas putih gading yang dikenakannya membuat pria itu terlihat jauh lebih berwibawa dari biasanya. Namun satu hal yang tidak berubah... wajahnya tetap serius.

Sampai Kevin duduk di sebelahnya. "Masih sempat kabur ko."

Revan langsung menatapnya datar.

Kevin tertawa. "Gue bercanda."

"Bercanda lo kurang lucu."

Kevin menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Nervous ya?"

Revan menghela napas panjang, kali ini ia merasa tidak memiliki kendali penuh atas dirinya sendiri. Biasanya ia selalu tenang, selalu rasional dan selalu bisa mengambil keputusan tanpa ragu.

Namun hari ini berbeda. Karena hari ini menyangkut Queen. Dan entah sejak kapan, gadis keras kepala itu berhasil menjadi bagian penting dalam hidupnya.

"Van."

"Hm?"

Kevin tersenyum tipis. "Jaga adik gue baik-baik."

Revan terdiam beberapa saat. Lalu mengangguk pelan. "Tenang aja, gue pasti jagain dia."

Mendengar jawaban Revan, Kevin tersenyum lega.

Tak lama kemudian, di rumah Queen. Pintu kamar kembali diketuk.

"Queen." Suara Pak Arman terdengar dari luar.

Ruangan langsung menjadi hening.

Queen yang sejak tadi berusaha terlihat tenang perlahan menoleh ke arah pintu.

"Masuk, Pa."

Pintu terbuka.

Pak Arman masuk perlahan. Begitu melihat putrinya sudah siap dengan pakaian pengantin, langkahnya langsung terhenti.

Untuk sesaat, Pria itu hanya diam. Matanya memandangi Queen cukup lama. Seolah sedang menyimpan momen itu dalam ingatannya. Queen yang biasanya selalu cerewet mendadak ikut diam.

"Pa..."

Pak Arman tersenyum tipis. "Putri Papa sudah besar."

Kalimat sederhana itu membuat dada Queen mendadak terasa sesak. Entah kenapa, tiba-tiba ia ingin menangis.

Pak Arman berjalan mendekat lalu mengusap puncak kepalanya dengan lembut. "Nervous ya?"

Queen mengangguk pelan. "Sangat."

Pak Arman terkekeh kecil. "Papa juga."

Queen langsung tertawa di sela rasa harunya. "Papa kenapa gugup?"

"Karena hari ini Papa akan menyerahkan anak perempuan Papa kepada orang lain."

Ruangan mendadak hening.

Anggi bahkan ikut terdiam. Sedangkan mata Queen mulai memanas.

Pak Arman tersenyum hangat. "Tapi Papa percaya sama Revan."

Queen menatap ayahnya.

"Dia orang baik," lanjut Pak Arman.

Beberapa saat kemudian...

Waktu yang sejak tadi berusaha dihindari Queen akhirnya tiba. Di bawah, seluruh tamu sudah memenuhi area akad yang dihiasi bunga-bunga putih dan krem. Alunan salawat terdengar pelan, menciptakan suasana yang begitu tenang dan sakral.

Queen berdiri di depan pintu kamar, tangannya dingin. Bahkan buket bunga yang dipegangnya sedikit bergetar.

Anggi yang berdiri di samping langsung menyadarinya. "Queen."

"Hm?"

"Lo pucat lagi."

"Gue rasanya mau kabur aja."

Anggi langsung memegang lengannya. "Nggak bisa."

"Kenapa?"

"Karena di bawah ada Ka Kevin."

Queen langsung menghela napas panjang. "Iya juga."

Mereka berdua tertawa kecil.

Tak lama kemudian Pak Arman datang menghampiri.bPria itu mengenakan setelan jas yang rapi. Meski berusaha terlihat tenang, matanya tetap menunjukkan rasa haru yang sulit disembunyikan.

"Siap?"

Queen menatap ayahnya. Lalu menggeleng pelan.

Pak Arman terkekeh. "Papa juga nggak siap."

"Pa..."

Pak Arman mengulurkan tangannya. "Ayo."

Untuk sesaat Queen hanya menatap tangan itu.nTangan yang sejak kecil selalu menggandengnya.nTangan yang selalu melindunginya.bDan hari ini, tangan itu akan menyerahkannya kepada pria lain. Entah kenapa air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.

Perlahan Queen menggenggam tangan ayahnya. "Ayo, Pa."

Di area akad, suasana langsung berubah hening ketika Queen memasuki ruangan. Semua tamu menoleh, Ibu Farah langsung menutup mulutnya karena terharu.

Beberapa tante bahkan sudah mulai menyeka air mata. Sedangkan di kursi depan, Revan yang sejak tadi berusaha terlihat tenang perlahan mengangkat kepalanya.

Kini ia melihat Queen, waktu seolah berhenti. Gadis yang selama ini selalu datang ke kampus dengan wajah kesal. Gadis yang selalu berdebat dengannya. Gadis yang berkali-kali membuatnya kehilangan kesabaran.

Kini berjalan ke arahnya dengan kebaya putih yang membuatnya terlihat begitu anggun. Revan sampai lupa menarik napas.

Kevin yang duduk di sebelahnya langsung menyenggol lengan pria itu pelan. "Van."

Revan hanya terdiam.

"Mulut lo."

Revan langsung tersadar lalu menutup mulutnya yang hampir terbuka karena terlalu terpana.

Kevin menahan tawa. Sedangkan Queen yang melihat itu justru semakin gugup. Karena untuk pertama kalinya, ia melihat Revan bukan sebagai dosennya. Melainkan sebagai pria yang akan menjadi suaminya beberapa menit lagi.

Acara akad pun dimulai, penghulu duduk di depan. Para saksi sudah menempati tempat masing-masing. Ruangan kembali hening. Pak Arman duduk berhadapan dengan Revan. Wajah pria paruh baya itu terlihat tenang, meski kedua matanya sedikit memerah.

Ibu Farah menggenggam tangan Kevin erat. Sedangkan Queen duduk di belakang pembatas dengan jantung yang berdegup sangat cepat.

Ia bahkan bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Lalu suara penghulu terdengar. "Saudara Revan, apakah sudah siap?"

Revan menarik napas panjang. Lalu mengangguk mantap. "Siap."

Penghulu tersenyum.

Prosesi ijab kabul pun dimulai. Semua tamu menahan napas. Pak Arman mengucapkan kalimat ijab dengan suara yang bergetar namun tegas.

Dan ketika tiba giliran Revan menjawab, Pria itu mengucapkannya dengan lantang. Tegas. Jelas. Tanpa ragu sedikit pun.

"Saya terima nikah dan kawinnya Queen Faradila binti Arman Mahendra"

Kalimat itu menggema memenuhi ruangan. Lalu...

"Sah!"

"Sah!"

"Sah!"

Suara para saksi dan tamu langsung terdengar bersamaan.

Allahu Akbar...

Tangis haru langsung pecah di berbagai sudut ruangan. Ibu Farah menangis sambil memeluk Kevin. Pak Arman menundukkan kepalanya sesaat.

Bahkan Anggi ikut menangis sambil tetap merekam semuanya. Sedangkan Queen, ia membeku. Karena baru sekarang semuanya terasa nyata. Ia sudah menikah dan di depan sana.

Revan perlahan mengangkat pandangannya. Tatapan mereka bertemu. Untuk beberapa detik tidak ada suara. Tidak ada kata-kata. Hanya dua orang yang sama-sama masih berusaha menerima kenyataan bahwa mulai hari ini. Mereka bukan lagi dosen dan mahasiswi. Bukan lagi dua orang yang dijodohkan. Melainkan suami dan istri yang sah.

1
Amoera
Queen jangan khianatin pak Revan. kasian dia. lagian mau aja sama sih mokondo🤣
Arditya
cie... akhirnya nikah juga🤭
It's me Sky: hhheeee🤣
total 1 replies
Arditya
sejauh ini keren banget thoor👍
Siska Amelia
good
It's me Sky: terimakasih kaka🙏
total 1 replies
Alia Chans
Satu like = satu bentuk apresiasi. Semangat thor ✍️👈😉






Saling support sabi kali ya😉
It's me Sky: wihh makasih kakak/Smile/
total 1 replies
Reichan Muhammad
ya ampun torrr keren bgttt kmu punya 4 novel yg on going semua
It's me Sky: iya kakak, selama lagi ada ide jalan terus🤭
total 1 replies
Arditya
jadi inget inggit dan mas Arya, tapi ini kemasannya beda top lah thoor👍
It's me Sky: wkwkwkwkwk🤭
total 1 replies
Arditya
wajah di baca ini cerita menarik banget, remajanya dapet kisahnya fresh. suka sma Revan dan Queen. sukses thoor/Smile/
It's me Sky: makasih bnyk/Hey/
total 1 replies
Arditya
seru banget thoor😍
It's me Sky: wihhh makasihhh/Tongue/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!