NovelToon NovelToon
Koki Kesayangan Raja Naga

Koki Kesayangan Raja Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Fantasi Wanita
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Risa Jey

Li Yunru tidak pernah menyangka, bahwa cincin perak berukir naga yang menjadi hadiah saat membeli seekor kelinci akan mengubah seluruh hidupnya—menyeretnya ke dunia kuno tempat manusia dan beastmen hidup berdampingan.

Belum sempat memahami situasi, Li Yunru malah terikat sebagai pasangan hidup Raja Naga Putih wilayah utara, Bai Muzhi. Berkat cincin misterius itu, mimpi Li Yunru untuk menjadi koki akhirnya terwujud. Namun, kedatangannya ke dunia itu ternyata bukan kebetulan.

Sedikit demi sedikit, tabir asal-usulnya mulai terbuka. Dan musuh-musuh yang selama ini bersembunyi ikut bergerak. Di tengah bahaya, rahasia dan takdir yang menantinya ... mampukah Li Yunru bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa Jey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nenek Caolan

Bai Muzhi menyesap tehnya perlahan. "Nenek tidak perlu tegang. Ini bukan masalah tubuhku kali ini, tapi soal masalah pribadi," jawabnya.

Neneknya, Yun Caolan, sudah lama meninggalkan Istana Shing. Tetapi orang-orang masih memanggilnya Putri Yun. Hanya saja wanita tua itu selalu membenci gelar tersebut.

Setelah resmi meninggalkan Istana Shing, Nenek Caolan tinggal di puncak pegunungan paling utara yang selalu diselimuti hawa dingin sepanjang tahun.

Wanita tua itu tidak mau dipanggil putri atau gelar kebangsawanan lainnya. Ia lebih memilih mengasingkan diri di tempat sunyi ini dan menikmati ketenangan yang tidak bisa ia dapatkan di istana.

Nenek Caolan meliriknya sekilas sambil menyesap teh. "Masalah pribadi? Aneh sekali," katanya.

"Apa?" Bai Muzhi menaikkan sebelah alisnya.

"Biasanya yang datang ke sini cuma cucuku yang dingin dan menyebalkan, mengeluh tentang ini dan itu. Tapi hari ini tampaknya gunung es mulai menghangat."

Mendengar ini, pria itu sedikit canggung sejenak dan akhirnya berkata, "Aku telah menemukan pasangan."

Nenek Caolan tidak menunjukkan keterkejutannya sama sekali. "Nenek tahu. Deng Gubo sudah memberi tahu nenek sebelumnya. Apakah ada yang salah dengan gadis manusia itu?"

"Apakah nenek tidak keberatan?"

"Jika nenek keberatan, sudah lama nenek datang ke sana dan memisahkan kalian."

"... Sebaiknya jangan. Hong Maxing dan Hei Sanfeng saja tidak bisa mengalahkannya."

Nenek Caolan tampak bingung. Tangannya yang memegang cangkir berhenti di udara.

Bai Muzhi meletakkan cangkir teh yang baru saja diminumnya. "Gadis itu istimewa. Dan sebenarnya aku sedikit bingung dengan identitasnya."

"Jadi intinya, inilah alasan mengapa kamu datang ke nenek?"

"Ya. Aku ingin tahu apakah nenek punya petunjuk."

"...."

Cucunya yang biasanya dingin kini datang dengan wajah penuh pertanyaan. Bukannya pergi ke biksu tua untuk meramal, mengapa justru datang padanya? Ia bukan wanita tua buta yang mengetahui segalanya.

Pada akhirnya, Nenek Caolan hanya menghela napas pelan sebelum bertanya, "... Ada apa?"

"Ini tentang ras peri hutan ...."

Bai Muzhi mulai menceritakan semua hal yang membuatnya bingung selama beberapa hari terakhir ini, tanpa melewatkan detail sedikit pun.

Nenek Caolan mendengarkan dengan serius. Keningnya berkerut, tatapannya sedikit menyipit saat pikirannya menyusuri ingatan lama. Ia menyesap tehnya lagi, lalu tanpa sadar teringat pada sebuah peristiwa di masa lalu—saat ia pernah menjodohkan Bai Muzhi dengan seorang gadis dari ras peri hutan.

"Seperti apa penampilan gadis manusia itu?"

Bai Muzhi menyebutkannya dengan detail. Namun setelah mendengar ciri-ciri tersebut, Nenek Caolan kembali mengerutkan keningnya, bahkan lebih dalam dari sebelumnya.

"Tidak ada ciri-ciri ras peri hutan seperti dia, bukan?" katanya dengan pasti.

Bai Muzhi mengangguk pelan. "Ya, aku juga berpikir demikian. Namun dia memiliki darah peri hutan di tubuhnya."

"Kamu yakin matanya berwarna kuning kecokelatan?" tanya Nenek Caolan dengan nada kurang yakin.

"Ya, aku yakin. Matanya kuning kecokelatan. Mengapa nenek bertanya soal ini?"

"... Bukan apa-apa. Hanya saja aku teringat dengan seseorang." Ia terdiam sejenak, seolah ragu untuk melanjutkan. "Jika bisa, bawalah dia ke sini dan biarkan aku melihatnya secara langsung. Aku ingin memastikan apakah tebakanku benar atau tidak," jelasnya.

"Bisakah nenek memberi tahuku lebih dulu?"

Wanita tua itu menolak dengan tegas. "Tidak. Aku akan mengatakannya kalau semuanya sudah pasti."

Bai Muzhi tidak menuntut jawaban lebih lanjut, meski hatinya terasa gatal oleh rasa penasaran. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, pikirannya sulit tenang.

"Mengapa nenek tidak ikut saja denganku ke istana? Sudah lama nenek tidak ke sana."

Nenek Caolan menatapnya sekilas, lalu mendengus. "Aku sudah tua. Tulang lamaku sudah tidak lagi sama seperti dulu."

"Aku bisa menggendongmu."

"Humph! Mimpi! Dulu aku bisa menghajar kakekmu. Jika aku digendong olehmu, orang-orang akan mengira aku sudah lama kehilangan kekuatan."

Intinya, wanita tua itu malu jika harus digendong cucunya sendiri. Ia tidak ingin dianggap sebagai wanita tua lemah yang mudah diremehkan.

Setelah mengobrol cukup lama, Bai Muzhi akhirnya bangkit dan meninggalkan kediaman Nenek Caolan.

Setelah cucunya itu benar-benar pergi, Nenek Caolan menghela napas panjang, tatapannya menerawang jauh.

"Aku harap tebakanku benar. Dengan begitu, aku tidak akan menyesali kesepakatan dengan gadis kecil ras peri hutan itu di masa lalu," gumamnya pelan.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Beberapa hari berlalu lagi. Bai Muzhi akhirnya mengajak Li Yunru untuk mengunjungi neneknya di pegunungan paling utara. Kali ini ia tidak mengubah wujudnya menjadi naga, melainkan menggunakan kereta kuda seperti manusia biasa.

Namun setibanya di kaki pegunungan, kereta kuda itu berhenti. Jalan yang tersisa tidak bisa lagi dilalui kendaraan.

Bai Muzhi turun lebih dulu, lalu membuka tirai kereta dan berkata pada gadis itu, "Dari sini, kita akan menaiki anak tangga menuju kediaman nenek."

"Jalan kaki?"

"Ya."

"... Kamu serius?"

Li Yunru turun dari kereta, lalu menatap deretan anak tangga batu yang menjulang ke atas tanpa terlihat ujungnya. Ia menelan ludah, ekspresinya perlahan berubah kaku.

"Seberapa jauh?"

"Intinya sampai ke puncak."

"...."

Li Yunru memang ahli bela diri. Namun ia tidak pernah mendaki, apalagi menjadi seorang pecinta alam. Ruu yang berada di pelukannya pun mulai merasa malas, karena ia harus melompat satu per satu mengikuti tinggi anak tangga yang tidak biasa.

Melihat Bai Muzhi sudah naik lebih dulu, Li Yunru dan Ruu pun mengikutinya dari belakang. Awalnya semuanya terlihat baik-baik saja. Gadis itu masih sempat menikmati pemandangan sekitar, sesekali memakan camilan atau minum air.

Namun setelah waktu yang cukup lama, langkahnya mulai melambat. Napasnya menjadi berat dan keringat membasahi dahinya.

"Bai Muzhi, bisakah kita istirahat lebih dulu? Aku lelah sekali. Apakah masih jauh untuk mencapai puncak pegunungan?" tanyanya dengan napas terengah-engah.

"Kita bahkan belum sampai setengah jalan."

"Apaa??!" Li Yunru dan Ruu berteriak bersamaan.

Ruu merasa dirinya sudah berubah menjadi kelinci kurus saat ini. Ia hampir tidak memiliki energi untuk melompat lagi di anak tangga yang tampaknya tidak ada habisnya. Bahkan Li Yunru sendiri akhirnya tumbang dan duduk begitu saja di tangga.

"Aku akan menggendongmu." Pria itu berjongkok. "Ayo, naiklah, agar kita cepat sampai."

Li Yunru merasa sedikit terharu. Tanpa banyak berpikir, ia bangun dan naik ke punggung pria itu.

"Kamu akhirnya peka juga, pasanganku~"

"Aku hanya khawatir kamu lapar dan berhenti di tengah perjalanan. Jika tidak, kita akan kesorean saat tiba di puncak."

"... Jadi kamu hanya khawatir aku akan menunda perjalanan?"

"Ya."

"...."

Pria tak berperasaan! pikir gadis itu.

Ruu melompat dan ikut menumpang di bahu Li Yunru, menambah beban di punggung Bai Muzhi. Namun pria itu tidak mengatakan apa-apa. Ia tetap menaiki anak tangga dengan langkah stabil, seolah beban itu tidak berarti apa-apa baginya.

Li Yunru tiba-tiba menyandarkan dagunya di bahunya. "Kalau begitu ... bolehkah aku mencium pipimu?"

Bai Muzhi mengerutkan kening dan tidak terlihat suka. "Jangan harap mencium raja ini sembarangan."

Ruu terlihat antusias. "Tuan, cium aku saja."

Kali ini giliran Li Yunru yang berekspresi jijik. "Penuh bulu, bleehh! Dasar kelinci bau. Jika kamu bisa berubah menjadi kelinci yang tampan setelah dicium, aku mungkin akan berpikir dua kali."

"Berani menjadi manusia, raja ini akan mengutuknya lebih dulu menjadi pria berperut buncit di masa depan," ucap Bai Muzhi tiba-tiba.

"...."

Manusia dan naga sama-sama mendiskriminasi seekor kelinci roh! Ruu tampak tidak senang dan akhirnya diam.

Setelah menempuh waktu yang cukup lama, mereka akhirnya tiba di puncak.

Li Yunru segera turun dari punggung Bai Muzhi. Ia menarik napas panjang, lalu memeluk Ruu sambil mengikuti pria itu memasuki halaman sebuah kediaman yang luas namun terlihat sepi.

Salju menutupi hampir seluruh permukaan tanah, namun anehnya pohon dan rumput di sana masih tumbuh dengan baik.

"Kalian akhirnya datang," kata Nenek Caolan yang menyambut mereka di depan pintu utama. Ia berjalan perlahan dengan punggung sedikit bungkuk menuju keduanya.

"Nenek ..." Bai Muzhi menyapanya dengan hormat.

Namun Nenek Caolan mengabaikan cucunya begitu saja. Tatapannya langsung tertuju pada Li Yunru yang berdiri di sampingnya. Ia menatapnya tanpa berkedip.

Kemudian, wanita tua itu melangkah mendekatinya. Bibirnya kemudian bergetar.

"Kamu—tidak mungkin ...."

Bahunya sedikit merosot. Ia mengangkat tangan kanannya yang keriput, menunjuk ke arah Li Yunru dengan jari telunjuk. Lalu air mata tiba-tiba jatuh membasahi pipinya.

Li Yunru dan Bai Muzhi sama-sama terkejut.

Terutama Li Yunru yang tiba-tiba merasa seperti seseorang yang baru saja menganiaya seorang wanita tua.

"Ini—ini ... wanita tua, mengapa kamu tiba-tiba menangis?"

1
A
masih lah. kan ada adudu
Marsya
klau diliat2 keisengannya,itu si elang botaklah🤣🤣🤣🤣🤣
Marsya
aiaiai.....,sang merak muncul thor😉😉😉😉😉
🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya яᷢ⃞🐰☕︎⃝❥
🤣🤣 ya ya sama-sama kelompok burung kalian, ayam dan merak 🤣

ayo Yunru botakin aja Lan Peijun🤣🤣
🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya яᷢ⃞🐰☕︎⃝❥
ternyata itu artinya Ben, kupikir itu typo atau apa /Facepalm/
🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya яᷢ⃞🐰☕︎⃝❥
gak boleh, Yunru harus tetap sama Bai Muzhi, gak boleh yang lain/Curse//Curse/
🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya яᷢ⃞🐰☕︎⃝❥
nona ben??? siapa kak??
🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya яᷢ⃞🐰☕︎⃝❥
/Facepalm//Facepalm/ aduhhh... tadi dielus, dicium, sekarang di plak plak plak🤣🤣
Sonya Kapahang
TIDAAAAAKKKKKKKK.. aku yg tidak setuju klo Yunru sm si Merak juga...
Yunru hrs tetap sm Tuan Naga satu²nya.. ga boleh ada yg lain.. apalagi Merak bau.. bikin botak aj itu Merak...
🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya яᷢ⃞🐰☕︎⃝❥
/Facepalm//Facepalm/ pria narsistik lagi🤣🤣
🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya яᷢ⃞🐰☕︎⃝❥
sudah kena bawang dan keluar darah, eh di tambah malah dilepaskan dari ketinggian oleh elang 🤣, aduh kasian banget, tapi itu memang cocok buat Yan Diming, sepertinya itu masih kurang untuk memberinya pelajaran 🤣

Yunru kamu udah mulai berani ya minta cium dulu 🤣/Facepalm//Facepalm/
🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya яᷢ⃞🐰☕︎⃝❥
kok aku baca ini, geli ya 🤣 aku ngebayangin dia bicara seperti itu sambil mendayu-dayu🤣/Facepalm/
🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya яᷢ⃞🐰☕︎⃝❥: beneran loh kak, sambil ngebayangin dia bergerak gemulai dengan suara mendayu-dayu🤣
total 2 replies
🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya яᷢ⃞🐰☕︎⃝❥
sabar ya maxing🤣🤣, kamu malah merekomendasikan untuk Yunru membuat peraturan tertulis🤣
🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya яᷢ⃞🐰☕︎⃝❥: wajib kak khusus Hong Maxing buat peraturan tertulis biar dia gak lupa 🤣🤣
total 2 replies
Marsya
korban pertama naga diduduki,korban kedua elang dibotaki,korban ketiga rubah diracuni,skarang korban keempat ular dipukuli,🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤭🤭🤭🤭😉😉😉👍👍👍👍
Author Risa Jey: waktunya cari mangsa baru /Hey//Hey/
total 1 replies
🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya яᷢ⃞🐰☕︎⃝❥
🤣🤣🤣 kasian, itu artinya cermin air gak boleh lihat wajah Yunru🤣
Author Risa Jey: ada hubungannya dengan si kelinci nanti, mengapa itu cermin maunya lihat dia terus 😅
total 1 replies
🦋⃞⃟𝓬🧸≛⃝⃕|ℙ$Cintya яᷢ⃞🐰☕︎⃝❥
hahaha🤣🤣 ngatain diri sendiri/Facepalm/
Sonya Kapahang
Yah.. belum tau dia siapa Yunru.. udh kena serang 2 kali tp msh ga kapok..
Author Risa Jey: kalau kapok, bukankah dia pengecut? 🤣🙏
total 1 replies
Sonya Kapahang
Terlalu percaya diri kamu Ruu..
Klo kata Yunru, Narsistik sekali kelinci gendut ini 😒😒😒
Author Risa Jey: Maklum, dibesarkan Bai Muzhi sebelumnya. Ya gini jadinya /Cleaver/
total 1 replies
Sonya Kapahang
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Liatin aj noh pantatnya si Ruu yg montok dan seksih
ER
kaka kalau ada buku cetakan kabarin yaa mau belii
ER: serius gak ada kak , padahal sebagus itu novel²nyaa , apalagii ini udah 2026
udah baca novel kak risa dari 2019
kirain udah ada cetakann nyaa
tapi mudah mudahn segera ya kak
aku dukung apapun asal itu punya kaka semangat teruss
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!