NovelToon NovelToon
Perjodohan Terpaksa

Perjodohan Terpaksa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rara M.

Putra Setiawan, perwira tentara dingin yang menyimpan dendam, menerima perjodohan dengan Citra Lestari, dokter lembut putri musuhnya. Pernikahan ini hanyalah senjata untuk menghancurkan keluarga Citra dari dalam. Namun, saat ia berniat menyakiti, ketulusan wanita itu perlahan meruntuhkan tembok kebenciannya. Di antara balas dendam dan cinta yang tumbuh diam-diam, Putra harus memilih menuntaskan amarah, atau mempertahankan hati yang mulai ia miliki?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara M., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebenaran

Getaran tanah perlahan mereda, namun ketegangan di dalam ruangan tambang justru terasa semakin membebani dada setiap orang. Cahaya keemasan yang sempat muncul tadi ternyata hanya berasal dari lampu minyak kuno yang tersusun rapi di sepanjang dinding lorong dalam, yang secara otomatis menyala akibat pergeseran tanah bukan sesuatu yang gaib. Suara berat yang terdengar tadi ternyata hanyalah gema yang terdistorsi oleh struktur gua yang rumit, membuatnya terdengar seolah berasal dari sumber yang tak terlihat.

Adiwinata menghela napas panjang, berusaha menenangkan diri meski matanya masih memancarkan kewaspadaan tinggi. Ia sadar bahwa posisinya mulai terdesak, namun ia tetap berpegang teguh pada rencananya. Tatapannya kini beralih dari Andi ke arah lorong yang mulai terang itu.

“Jangan percaya pada omongan bocah itu,” desis Adiwinata, mencoba memulihkan kendali situasi. “Dia hanya mengulang kata‑kata yang mungkin pernah didengarnya secara tidak sengaja, atau sekadar mengarang cerita untuk menakut‑nakuti kita. Di sana hanya ada ruang penyimpanan dokumen dan harta warisan, tidak ada rahasia aneh seperti yang dia katakan.”

Namun, Citra tidak sepenuhnya yakin. Sebagai dokter, ia kembali memeriksa kondisi putranya dengan teliti. Ia menekan pergelangan tangan Andi, memperhatikan irama detak jantung yang kini jauh lebih stabil dan kuat dibandingkan beberapa menit lalu.

“Tubuh manusia memiliki mekanisme pertahanan diri yang luar biasa. Racun yang disuntikkan ke tubuh Andi kemungkinan besar adalah zat yang bekerja perlahan, namun memiliki struktur kimia yang kebetulan bisa dinetralisir oleh zat alami yang tinggi di dalam darahnya mungkin pengaruh genetik dari keturunan yang telah hidup di daerah ini selama berabad‑abad dan terbiasa dengan unsur tanah tertentu. Itu penjelasan medis yang masuk akal, bukan keajaiban.” ucap Citra

Putra mengangguk setuju, tangannya tetap menggenggam erat lengan istrinya. Rasa khawatir masih ada, namun ketenangan Citra memberinya kekuatan untuk berpikir jernih. Ia menatap tajam ke arah Adiwinata.

“Tapi soal apa yang dikatakan Andi tentang kematian ayahku dan asal‑usul Citra... itu butuh penjelasan nyata darimu,” tantang Putra. “Kau yang menyusun rencana ini, kau yang mengatur semuanya. Apa yang sebenarnya kau sembunyikan dari kami?”

Adiwinata terdiam sejenak, lalu tertawa sinis. “Kalian memang keras kepala. Baiklah, jika kalian ingin tahu lebih banyak, mari kita lanjutkan. Di dalam sana tersimpan semua catatan asli, dokumen, dan juga barang‑barang bukti yang mungkin bisa menjawab rasa ingin tahu kalian. Tapi ingat, nyawa kalian tetap ada di tanganku. Jangan coba‑coba berbuat curang.”

Dengan isyarat tangan, Adiwinata memerintahkan para pengawal untuk bergerak maju. Arga dan dua orang pengawal lainnya berjalan di depan, sedangkan Adiwinata berjalan di belakang Putra, Citra, dan Kolonel Bayu, tetap memegang erat alat suntik berisi racun itu sebagai jaminan.

Lorong yang mereka lewati terbuat dari batu alam yang kokoh, dipenuhi deretan lampu minyak yang menerangi jalan dengan cahaya kuning keemasan. Di sepanjang dinding terukir tulisan dan lambang kuno yang menggambarkan sejarah pertambangan dan kehidupan leluhur mereka. Suasana terasa lembap dan sejuk, namun aroma debu tua dan kertas usang perlahan tercium semakin kuat seiring mereka berjalan semakin dalam.

Setelah berjalan sekitar lima menit, mereka tiba di sebuah pintu besar yang terbuat dari kayu jati tua yang diperkuat besi. Di bagian tengah pintu terukir lambang keluarga yang sama dengan yang ada di medali peninggalan ayah Putra.

“Ini dia,” gumam Adiwinata. “Pintu ini bisa dibuka dengan kunci khusus yang hanya dimiliki oleh keturunan sah, atau dengan tetesan darah sebagai pengenal alami. Seperti yang kukatakan sebelumnya.”

Kolonel Bayu melangkah maju sedikit, matanya meneliti setiap sudut pintu itu dengan pandangan yang penuh kenangan. “Aku pernah melihat pintu ini dua puluh lima tahun lalu, saat kami menemukan lokasinya bersama Agus. Saat itu kami sepakat untuk tidak membukanya sebelum waktunya tiba, agar tidak jatuh ke tangan orang yang salah.”

“Dan sekarang waktunya telah tiba,” potong Adiwinata cepat. Ia menoleh ke arah Andi. “Teteskan darahmu di bagian tengah ukiran itu, dan pintu ini akan terbuka.”

Putra menatap Adiwinata dengan curiga, namun melihat kondisi Andi yang kini sudah mulai sadar dan tampak lebih kuat, ia mengangguk pelan kepada istrinya. Citra mengeluarkan pisau bedah kecil yang selalu ia bawa, lalu dengan hati‑hati membuat sayatan kecil di ujung jari Andi. Setetes darah jatuh tepat di atas ukiran di pintu.

Beberapa detik kemudian, terdengar suara mekanisme besi yang berputar pelan dari balik dinding, disusul bunyi “klik” yang jelas. Pintu besar itu perlahan terbuka ke dalam, memperlihatkan sebuah ruangan yang tidak terlalu luas namun tertata rapi.

Di dalamnya terdapat beberapa rak kayu yang berisi tumpukan dokumen, surat, dan buku catatan yang sudah menguning dimakan usia. Di sudut ruangan terdapat sebuah peti besi besar, namun tidak terlihat tumpukan emas atau perhiasan yang melimpah seperti yang dibayangkan banyak orang. Yang paling menarik perhatian adalah sebuah meja batu di tengah ruangan, di atasnya tergeletak sebuah kotak besi kecil dan sebuah surat yang disegel dengan lilin.

Adiwinata melangkah masuk lebih dulu, matanya berbinar melihat isi ruangan itu. Namun, sebelum ia sempat mengambil apa pun, Kolonel Bayu sudah bergerak cepat dan berdiri di depan meja, menghalangi jalannya.

“Jangan bergerak, Adiwinata,” perintah Kolonel Bayu tegas. “Kita lihat bersama apa yang sebenarnya tersimpan di sini.”

Adiwinata mendengus kesal, namun tidak berani berbuat banyak karena melihat pasukan setianya yang masih berada di pintu masuk siap siaga. Putra dan Citra masuk perlahan, mendekati meja batu itu. Andi yang masih dalam gendongan Citra menunjuk tepat ke arah surat yang tersegel itu.

“Itu... tulisan tangan Kakek,” bisik Andi pelan.

Putra tertegun, lalu meraih surat itu dengan hati‑hati. Ia memecahkan segel lilinnya, lalu membuka lembaran kertas yang sudah rapuh itu. Saat ia mulai membaca isinya, wajahnya perlahan berubah, dipenuhi keterkejutan dan kesedihan yang mendalam.

“Apa tertulis di sana?” tanya Citra pelan, menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.

Putra menelan ludah, lalu membacakan sebagian isinya dengan suara bergetar:

“Jika surat ini dibuka, berarti aku mungkin sudah tiada. Adiwinata bukanlah sekadar orang yang serakah. Dua puluh lima tahun lalu, kami tidak hanya menemukan harta, tapi juga bukti bahwa ia bekerja sama dengan kelompok yang ingin menguasai sumber daya negara ini dengan cara yang melanggar hukum. Ia juga memiliki rencana lain: ia ingin menyatukan garis keturunan keluarga besar dengan cara mengatur pernikahan, agar ia bisa menguasai seluruh hak warisan secara sah. Ia bahkan menyembunyikan fakta bahwa anak perempuan yang ia temukan sebatang kara setelah kecelakaan di tambang bertahun lalu anak yang kemudian diadopsi oleh keluarga dokter adalah putri dari rekanku yang juga dibunuh karena menolak bekerja sama dengannya. Anak itu bernama Citra...”

Napas Citra tercekat. Tangannya gemetar hebat, matanya membelalak tak percaya. Ia menatap Putra, lalu menoleh ke arah Adiwinata yang kini terlihat pucat pasi, tertangkap basah.

“Jadi... itu benar?” gumam Citra pelan. “Orang tua yang membesarkanku bukanlah orang tuaku yang sebenarnya? Dan kau tahu hal ini selama ini, Adiwinata?”

Adiwinata tersenyum getir, tidak lagi berusaha menyangkal. “Ternyata Agus meninggalkan catatan yang lengkap. Ya, aku tahu. Aku mengadopsimu ke keluarga yang baik agar kau tumbuh sehat dan terpelajar, agar kelak kau bisa menjadi pasangan yang sempurna untuk Putra. Dengan begitu, darah kedua keturunan yang berhak atas warisan ini akan bersatu, dan kekuasaan akan sepenuhnya ada di tanganku.

Namun, tepat saat Adiwinata hendak meraih kotak besi kecil di meja itu, tiba‑tiba Arga yang berdiri di dekat pintu masuk tiba‑tiba mengarahkan senjatanya bukan ke arah Putra dan yang lain, melainkan tepat ke punggung Adiwinata. Wajahnya yang tadinya setia kini berubah tegas dan serius.

“Permainanmu sudah berakhir, Jenderal,” ucap Arga dengan suara yang berbeda dari biasanya. “Selama ini aku hanya berpura‑pura setia padamu. Kolonel Bayu sudah menghubungiku sejak lama, dan aku menyusup untuk mengumpulkan bukti semua kejahatanmu. Semua pembicaraan tadi sudah terekam oleh alat perekam yang tersembunyi di bajuku, dan pasukan resmi sudah mengepung seluruh area tambang ini.”

Adiwinata berbalik dengan wajah penuh amarah, namun ia sadar bahwa ia telah dikepung dari segala arah. Rencananya yang rumit selama puluhan tahun runtuh seketika. Namun, di tengah kekalahannya, ia masih tersenyum tipis dan menatap tajam ke arah Putra dan Citra.

“Kalian mungkin mendapatkan bukti ini, mungkin menangkapku,” ucapnya pelan namun penuh tekanan. “Tapi ingatlah, di dalam dokumen‑dokumen itu juga tersimpan nama‑nama pejabat tinggi yang terlibat dalam jaringan ini. Mereka tidak akan tinggal diam melihat rahasia mereka terbongkar. Bahkan setelah aku hilang, bahaya masih akan terus mengintai kalian dan anak kalian. Apakah kalian siap menghadapi konsekuensi dari kebenaran ini?”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!