NovelToon NovelToon
Checkpoint

Checkpoint

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:901
Nilai: 5
Nama Author: Quoari

Novel ini memiliki karakter utama wanita bernama Aiena. Gadis berusia dua puluh lima tahun di awal mulai cerita yang terjebak di dalam hubungan yang tidak sehat dengan pacarnya.

Tiap hari ulang tahun adalah kesempatan untuk checkpoint bagi Aiena. Apabila ia mengatakan ia bahagia dan puas dengan hidupnya, maka itu menjadi titik checkpoint-nya. Sebaliknya, ia suatu hari pada ulang tahunnya ia menyesal akan keputusannya dan mengatakan ingin kembali ke masa lalu, maka ia otomatis kembali ke titik checkpoint terakhirnya.

Bermula dari penyesalannya tidak bisa memberikan yang keturunan bagi suami yang begitu mencintainya, Aiena di masa kini berniat kembali ke masa lalu untuk menghindari toxic relationship dengan mantannya dan bertemu jodohnya, pria yang di masa kini menjadi suaminya lebih cepat dalam kondisi yang lebih baik. Namun ketika Aiena mengulang cerita hidupnya, ia justru bertemu orang lain yang tidak mampu ia tolak pesonanya.

Cerita menjadi semakin kompleks ketika Aiena menyadari siapa pria yang merebut hatinya itu, bertemu dengan sang mantan pacar toxic, dan bertemu dengan pria yang dipercaya sebagai jodohnya dalam situasi yang kini jauh berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quoari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keluarga Kecil Sean

Aiena melangkah perlahan di samping Shane, memasuki area all day dining restoran hotel bintang lima itu. Di salah satu meja besar  yang menghadap ke arah kolam renang outdoor, Sean sudah menunggu. Ia melambaikan tangan dengan semangat, didampingi oleh seorang wanita cantik dan seorang balita yang sedang sibuk memainkan sendok kecil.

“Maaf kami sedikit terlambat, Sean,”ujar Shane sembari menarik kursi untuk Aiena sebelum ia sendiri duduk.

“Santai, Shane! Kami juga baru sampai lima menit yang lalu,” balas Sean dengan gaya khasnya yang santai. Ia kemudian menoleh ke arah istrinya. “Oh ya, perkenalkan, ini istriku, Lina. Dan ini si anak kami, Arina.”

Aiena mengulurkan tangan dengan senyum ramah, menyambut jabat tangan hangat dari Lina. “Aiena.”

“Lina. Ini Arina. Ari, ini Auntie Aiena.”

“Halo, Arina!”

Arina, putri kecil mereka yang berusia tiga tahun, mendongak sejenak saat diperkenalkan, menatap Aiena dengan mata bulat yang menggemaskan sebelum kembali sibuk dengan dunianya sendiri.

Karena calon customer mereka belum juga menampakkan batang hidungnya, Shane mencoba memanfaatkan waktu untuk memulai pembicaraan bersama Sean terlebih dahulu. Ia mengeluarkan i-Pad dari tas kerjanya dan membukanya di atas meja. 

“Sean, tentang rencana kolaborasi untuk ekspansi kuartal depan, aku sudah meninjau draf yang kamu kirim kemarin. Proyek ini potensi suksesnya besar. Customer yang bakal datang ini kemungkinan mau langsung kontrak.”

Sean mencoba memusatkan perhatian pada layar ponsel Shane yang menampilkan grafik pertumbuhan. “Iya, aku setuju. Kalau kita bisa mengunci kesepakatan malam ini dengan customer itu, area cakupan kita akan…”

“Sayang, tolong bantu potongkan daging Arina,” potong Lina sembar menyodorkan piring anaknya ke arah suaminya.

Tanpa membantah sedikit pun, Sean langsung mengambil pisau dan garpu, mengabaikan kalimat bisnisnya yang menggantung. “Oh, iya. Sini biar aku potongin.”

Shane berdehem, mencoba kembali ke topik. “Seperti yang kubilang kemarin, Sean, asal sudah ada dua customer besar yang mau kontrak, kita sudah aman.” 

“Setuju,” sahut Sean asal sambil masih sibuk memotong daging. 

Kembali Shane hanya bisa menghela napas pendek, menukar pandang dengan Aiena yang menahan senyum melihat sisi lain dari rekan bisnis Shane yang katanya selalu dapat diandalkan itu. 

Sean terlihat jauh lebih condong mengikuti perintah istrinya daripada memikirkan margin keuntungan perusahaan tempatnya bekerja. Mengingatkan Aiena kembali pada pertemuan pertama mereka beberapa bulan lalu.

“Kamu ada calon customer lain, Sean? Mungkin kita bisa jadwalkan ketemu minggu ini atau minggu depan.”

“Ada beberapa yang bisa dicoba, besok pagi kucoba hubungi—”

“Pa! Mau pup!” Tiba-tiba suara cempreng Arina memecah diskusi serius tentang ekspansi pasar yang baru saja kembali berlanjut.

Lina menatap Sean dengan tatapan yang seolah memberi komando tanpa suara. Sean langsung meletakkan alat makannya dengan gerakan sigap, wajahnya yang tadi mencoba terlihat profesional kini sepenuhnya berubah menjadi wajah ayah siaga.

“Aduh, maaf sekali, Shane, Aiena. Putriku dapat panggilan alam,” ujar Sean sambil menggendong Arina yang sudah mulai merengek. “Kalian belum order, kan? Pesan dulu saja, silahkan.”

Shane hanya bisa mengangguk menyandarkan punggungnya di kursi, menatap kepergian Sean ke arah toilet restoran dengan pandangan pasrah. 

Sedangkan Aiena tertawa kecil, menyentuh lengan Shane untuk menenangkan tunangannya itu.

Lina tetap disana. Tidak berinisiatif membantu suaminya sama sekali. Ia justru mengeluarkan ponselnya dan berfoto menggunakan kamera depan. Mengabaikan Shane dan Aiena di seberang meja.

***

Suasana di meja bundar itu menjadi semakin kontras ketika dua pria berpakaian rapi, calon customer potensial yang sedari tadi dinanti, akhirnya tiba dan mengambil tempat duduk bersama mereka. 

Shane berdiri dengan sigap, menyalami mereka dengan ketegasan seorang pemimpin yang sangat menghargai waktu, sementara Sean hanya mampu membalas salam dengan gerakan kikuk karena tangan kanannya sibuk menahan botol minum Arina yang hampir terjatuh.

“Senang sekali akhirnya bisa bertemu langsung, Pak Shane, Pak Sean,” ujar salah satu customer.

“Kami sangat tertarik dengan konsep yang kalian tawarkan. Kita hanya perlu sedikit diskusi soal harga dan teknis operasionalnya,” ucap satu lainnya.

Shane mengangguk, sorot matanya berubah menjadi sangat tajam dan fokus. Ia menyadari bahwa citra profesionalitas perusahaan sedang dipertaruhkan di sini. “Terima kasih. Seperti yang kita bicarakan via telepon kemarin, soal harga dan teknis operasional kita bisa bicarakan.”

“Untuk harga dulu,” kata salah satu customer yang lebih tua.

Sean menjawab, “harga bisa menyesuaikan kuantitasnya. Semakin besar kuantitas harga juga semakin murah.”

Namun, di tengah penjelasan Sean mengenai harga, suara rengekan Arina mulai menginterupsi udara. “Pa! Minum! Mau jus jeruk!”

“Iya, Sayang, sebentar ya,” bisik Sean dengan nada panik. Ia mencoba menoleh ke arah Lina, namun sang istri tampak sangat menikmati hidangan beef back ribs-nya, seolah-olah kebisingan di sekitarnya hanyalah suara latar yang tidak perlu dipedulikan.

Shane mencoba mengambil alih pembicaraan saat Sean sibuk dengan anaknya. “Kira-kira Bapak butuh berapa per bulannya? Biar kami hitungkan best price-nya untuk Bapak.”

“Pa! Mau main game! Tabletnya mana?” Arina kini mulai menarik-narik lengan kemeja Sean yang sedang menghitung dengan kalkulator ponsel, membuat konsentrasi pria itu pecah seketika.

“Sean,” panggil Shane pelan, memberikan kode dengan tatapan mata agar rekannya itu bisa mengendalikan situasi. Namun Sean hanya bisa memberikan senyum minta maaf yang sangat tipis kepada para customer.

“Maaf, Pak. Anak saya sepertinya sedang sangat aktif malam ini,” ujar Sean canggung, lalu ia merogoh tasnya untuk memberikan tablet kepada Arina.

Keadaan justru memburuk saat mereka sudah sampai di tahap negosiasi harga yang serius. Arina kini merasa gerah dan mulai menarik kunciran rambutnya hingga terlepas, karet rambut berwarna merah itu terlempar dan hampir mengenai wajah Aiena yang ikut menyimak dengan tenang.

Agar tidak mengganggu, Sean membawa Arina ke pangkuannya, namun bocah kecil itu mulai merengek lebih keras karena mulai mengantuk. Di sisi meja yang lain, Lina tetap tenang menyuap makanannya, sesekali mengelap sudut bibirnya dengan tisu tanpa ada niat sedikitpun untuk mengambil alih Arina dari pelukan suaminya yang kewalahan.

Shane menyadari bahwa Sean sudah tidak mungkin lagi berkontribusi dalam diskusi ini. Dengan kecakapan yang luar biasa, Shane langsung mengambil alih seluruh kendali pembicaraan. Ia menjawab setiap pertanyaan teknis dengan detail yang sangat memuaskan, sesekali memberikan instruksi kepada Aiena untuk menunjukkan data pendukung yang sudah disiapkan di iPad-nya.

Tiba-tiba, tangis Arina pecah. Suara tangisannya yang melengking membuat beberapa pengunjung restoran menoleh ke arah mereka. Arina sudah benar-benar mengantuk dan mulai memukuli bahu Sean karena rasa tidak nyaman.

Sean berdiri dengan wajah yang sangat merah karena malu. Ia menggendong Arina yang menangis histeris ke pundaknya. Berusaha menimang putrinya agar bisa tidur dalam gendongannya.

“Pak Sean, kalau udah ngantuk, kalian duluan saja, saya diskusi dengan Pak Shane saja tidak apa-apa,” ucap sang customer pada akhirnya.

Dengan canggung Sean mengangguk, meminta maaf dan berpamitan. Diikuti oleh Lina. Keluarga kecil itu meninggalkan restoran terlebih dahulu. Membiarkan sisa diskusi ditangani oleh Shane sepenuhnya.

“Mohon maaf, Pak…”

“Tidak masalah, Pak Shane. Kami juga ayah, jadi tahu lah. Sebentar lagi Pak Shane juga akan ada di masa-masa seperti itu.”

Shane tertawa kecil, sebuah tawa yang mencairkan suasana namun tetap sopan. “Doakan saja ya, Pak. Tapi istri saya sepertinya sangat bisa diandalkan.”

Karena pujian dan lirikan mata Shane, wajah Aiena memanas. Ia tersenyum kecil sambil tersipu malu. Dalam hati, ia berjanji akan menjadi ibu yang baik untuk anak-anak mereka nanti.

***

1
Wid Sity
daritadi gangguin papamu Mulu, cil. Papamu sibuk, kenapa gak main sama mamamu aja sih
Quoari: Bocil ngga paham, karna ngga ditegur juga sama mamanya
total 1 replies
Wid Sity
egois banget. Padahal Sean lagi repot banget. Lina malah diem aja, gak bantuin. Padahal posisinya Sean lagi bahas kerjaan
Quoari: Betul, semua Sean, mana Sean takut istri
total 1 replies
Wid Sity
betul. Di zaman sekarang sangat langka Nemu cowok seperti Shane
Quoari: Banyaknya yang seperti haze
total 1 replies
Wid Sity
sangat pengertian
Quoari: Beneran idaman yang ini
total 1 replies
Wid Sity
aw, sangat gentleman 😍
Wid Sity
Shane berasa tua ya, Aiena dipanggil mbak, Shane dipanggil pak
Quoari: 🤣🤣 iya ya. Tapi emang tuaan shane
total 1 replies
Wid Sity
kadang jodoh tu misteri dan tidak disangka sangka
Wid Sity
Aiena dipasang kacamata kuda, jadi lihatnya ke Haze Mulu
Quoari: Iya, gabileh lihat yang lain
total 1 replies
Wid Sity
lengket banget kayak magnet
Wid Sity
kok bisa mereka curi2 waktu tidur bersama? Itu kan study tour, ada banyak orang
Quoari: Bisa, karna nginep hotel. Bisa kerjasama ama temennya
total 1 replies
Wid Sity
waduh, padahal masih kecil, belum waktunya
Quoari: Udah punya ktp
total 1 replies
Wid Sity
kasihan banget jadi nyamuk, wkwkwk
Quoari: Gapapa dia kerja😄
total 1 replies
Wid Sity
gak sekalian nitip asbak Bali ni
Quoari: Yang itu ya 🤭
total 1 replies
Wid Sity
ternyata muka dua. Mentang2 Aiena udah jadi calon istrinya bos, malah jadi ramah
Quoari: Takut kl mau judes sama bosnya aiena
total 1 replies
Wid Sity
lepas dari sampah, akhirnya dapat berlian
Quoari: Betul, aiena beruntung
total 1 replies
Wid Sity
cepet banget gosip menyebar
Wid Sity
kayaknya orang tua dimana mana tu sama aja. Mengharapkan cucu segera
Quoari: Iya, pada kebelet gendong cucu 🤣
total 1 replies
Wid Sity
yang kelihatan simple dan sederhana tu malah elegan lo, Na
Wid Sity
waw gercep, langsung melamar 😍
Quoari: Dewasa dan serius, jadinya cepet
total 1 replies
Wid Sity
tiba-tiba jadi merakyat
Quoari: Menyesuaikan pasangan
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!