Menceritakan seorang wanita agen mata-mata bertransmigrasi ketubuh seorang Putri kerajaan dalam novel yang dia baca.
Semenjak kematiannya ditangan musuh, wanita itu masuk ketubuh barunya menjadi seorang putri yang tertindas. Setelah dirinya masuk ketubuh putri yang sering tertindas itu, dia berusaha merubah alur cerita dan mencegah satu kejadian dimana dia meninggal mengenaskan ditangan wanita licik.
Terus simak dan mampir jika kalian berminat membaca cerita ini, maaf kalau ada kalimat atau cerita yang sama karena ini murni ide dan khayalan saya sendiri.
Terimakasih banyak yang bersedia mampir dan singgah sebentar 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu 0325, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagia 29.
Ketika kaisar mendengar bahwa putrinya merasa bahwa putrinya sedang dicurigai olehnya. Kaisar mengedipkan kedua matanya sekali kemudian dengan cepat menjelaskan pada putrinya bahwa dia hanya menduga saja.
"Bukan maksut ayah menuduhmu, hanya saja ayah merasa pernah melihat jepit rambut ini. Karena itu ayah bertanya padamu hanya itu saja."ujar Kaisar menatap putrinya dengan tatapan merasa bersalah dan berkata bahwa ini hanya kesalahapahaman saja
"Meskipun kakak Victoria tidak begitu menyukaiku sejak lama, tetapi aku sama sekali tidak pernah dendam padanya. Melakukan hal buruk padanya, sama saja aku tidak menghormatinya sebagai seorang kakak."ucap Bianca dengan sedih didepan ayahnya dirinya berusaha menunjukkan sikap seorang adik yang baik dan penyayang
Kaisar yang mendengar betapa tulus dan kasih sayang Bianca pada Victoria, membuat kaisar terharu dan bangga. Ternyata putri ketiganya begitu pengertian dan menyayangi kakaknya dengan baik.
Kaisar maju dua langkah kedepan, lalu dengan lembut mengusap kepala putrinya. Tersenyum tipis merasa bangga telah memiliki seorang putri yang begitu pengertian dan saling menyayangi.
"Ayah bangga padamu, berusahalah untuk lebih dekat dengan kakakmu. Agar hubungan kalian semakin dekat dan akrab."ucap Kaisar tersenyum kecil
"Baik ayah!."jawab Bianca dengan lembut dan patuh meski dibalik wajahnya tersembunyi kebencian
******
Setelah tabib selesai melakukan tugasnya, tabib pun pergi meninggalkan kamar setelah itu disusul ibu untuk kembali beristirahat.
Akan tetapi sejak ibunya telah pergi kekamarnya, Victoria terus merasa kesal ketika tidak melihat pria itu tidak kunjung pergi meningalkan kamarnya.
Sedari tadi duduk sambil menikmati secangkir teh ditangannya, sama sekali tidak beranjak dari duduknya. Sebenarnya ada maksut apa pria itu masih dikamarnya?.
"Sampai kapan kamu bisa pergi, kamu sudah menghabiskan tiga cangkir sedari tadi. Memangnya apa urusanmu berada disini begitu lama?."ucap Victoria menahan kesal nadanya terdengar berat karena kakaknya tidak kunjung pergi dari kamarnya
Bukannya memberi waktu untuknya istirahat tapi pria ini malah mengawasinya, seakan dia adalah tahanan kakaknya sendiri.
Alesio menyesap tehnya dengan perlahan, lalu meletakkan cangkir diatas meja dengan ekspresi datar. Sorot matanya langsung terarah pada Victoria yang terus menatapnya dengan tatapan kesal.
"Tidak ada, apakah kamu tidak suka kalau aku tinggal disini sedikit lebih lama."jawab Alesio dengan santai menatap Victoria yang terlihat merasa terganggu dengan keberadaannya
"Aku sama sekali tidak melarangmu, tapi sudah tiga jam kamu berada disini. Sejak tadi kamu terus menyesap tehmu itu tanpa bicara sepatah kata pun, bagaimana aku tidak merasa kesal."toleh Victoria dengan nada kesal lalu memiringkan tubuhnya menatap kakaknya
Ketika Victoria selesai mengomel padanya, Alesio malah tertawa kecil saat mendengar kekesalan sampai terukir diwajah adiknya ini. Kemudian Alesio beranjak dari duduknya, lalu duduk disamping ranjang tepat disamping Victoria yang juga duduk ditepi ranjang.
"Maaf kalau aku mengabaikanmu, aku hanya sedang berpikir siapa pelaku yang telah menyakitimu itu."ucap Alesio dengan tatapan tenang mengungkapkan apa yang sedang dirinya pikirkan sedari tadi
Saat mendengar ucapan kakaknya, Victoria terdiam menolehkan wajahnya menatap kakaknya. Ternyata kakaknya sedang memikirkan siapa pelaku yang telah melukainya.
"Kenapa harus memikirkan siapa pelakunya sampai sejauh itu."lanjut Victoria menatap kakaknya dengan tatapan santai lalu kembali menatap kedepan
"Orang itu harus ditemukan secepatnya, dan dihukum sepantasnya atas perbuatannya. Menyakiti anggota keluarga kerajaan adalah suatu kejahatan yang besar."ujar Alesio sama sekali tidak bisa melepaskan orang itu dengan mudah
"Kalaupun orang itu tertangkap, kalian semua pasti tidak akan mungkin menghukumnya. Sudah lupakan saja!."sahut Victoria dengan nada rendah acuh tak acuh
"Apa maksut dari ucapanmu itu? Kenapa kami tidak bisa menghukum orang itu?."toleh Alesio bingung satu alisnya naik merasa bingung dengan ucapan Victoria yang aneh
Ketika Victoria mendengar kakaknya terlihat bingung dengan ucapannya tadi. Victoria hanya diam dan tidak bicara, melainkan memutar bola matanya sudah menduga bahwa mereka mungkin saja tidak akan menghukum putri kesayangan mereka itu.
"Kamu akan mengetahuinya sendiri, sebaiknya kamu segera pergi aku ingin tidur siang dulu."ucap Victoria kemudian mengangkat kedua tangannya mendorong lengan kakaknya pergi secara halus
Akibat dorongan Victoria, yang berniat mengusirnya. Alesio memilih menurut melangkah keluar dengan kebingungan dipikirannya.
Soal ucapan Victoria yang cukup aneh dan membingungkan, kenapa Victoria bisa mengatakan bahwa mereka tidak akan bisa menghukum pelaku yang telah menyakiti Victoria.
Apakah orang yang menyakiti Victoria adalah orang yang selama ini membenci Victoria?.
Pada saat Alesio berjalan keluar sambil berpikir, seketika ingatannya langsung mengarah pada satu orang yang memang sudah lama membenci Victoria.
Tetapi apakah mungkin ini perbuatan adik kandungnya lagi yang berulah, kalaupun dia yang melakukannya itu bisa jadi. Karena mendengar penuturan Victoria yang mengarah pada anggota kerajaan.
Kemudian Alesio memutuskan untuk kembali ke kerajaan Langit, disaat dia sedang berjalan untuk menemui adik kandungnya. Dia tidak sengaja berpapasan dengan ibunya, seketika Alesio menghentikan langkahnya lalu memberi hormat pada ibunya.
"Salam hormat ibunda, semoga ibunda selalu sehat dan sejahtera!."ucap Alesio memberi salam hormat sambil menundukkan sedikit kepalanya
"Sejak tadi ibu terus mencarimu, Alesio. Kamu habis darimana saja!."ucap Ratu Venia menatap putranya dengan ekspresi tenang namun juga menahan kesal akan sikap putranya
"Baru saja mengunjungi kediaman adik, memangnya ada apa ibu mencariku?."jawab Alesio kemudian menatap wajah ibunya dengan bingung
"Jadi kamu habis menemui adikmu, Bianca. Tapi kenapa ibu tidak melihatmu berada disana tadi."ujar Ratu Venia heran kalau benar putranya datang kekamar Bianca seharusnya mereka bertemu disana, tapi sedari tadi dirinya tidak melihat keberadaan putranya
Ketika mendengar jika ibunya salah mengira bahwa sebenarnya Alesio datang kekediaman Victoria bukan kekediaman Bianca. Alesio lantas menjelaskan kemana dia pergi dengan nada rendah dan sopan.
"Alesio tidak pergi kekediaman Bianca ibu melainkan kekediaman Victoria!."jelas Alesio dengan ekspresi tenang memberitahu
"Apa?."teriak Ratu Venia terkejut dan seketika menjadi marah menatap putranya
"Untuk apa kamu datang kekediaman wanita itu, bukankah ibu sudah peringatkan jangan pernah datang. Kenapa masih membantah perkataan ibu!."lanjut Ratu Venia dengan nada marah sambil menunjuk putranya sendiri karena tidak suka jika putranya akrab dengan wanita sialan itu