Di dunia di mana energi gaib dan iblis berkeliaran, Nam Ling adalah pemburu iblis yang telah hidup lebih dari seratus tahun berkat kekuatan pedang abadi yang menyatu dengan dirinya. Dulu seorang prajurit kerajaan yang terhormat, dia kehilangan segalanya ketika iblis membanjiri daratan dan membunuh orang tersayangnya.
Setelah menghabiskan abad untuk memburu makhluk kegelapan, Nam Ling tiba di Desa Hua—tempat yang dikabarkan menjadi sarang energi jahat baru yang lebih kuat dari iblis biasa. Di sana, dia bertemu dengan Yue Xin, seorang gadis muda yang memiliki kemampuan melihat jalur energi gaib dan menyimpan rahasia besar tentang asal-usul kekuatan pedang Nam Ling.
Saat makhluk kegelapan yang lebih kuat mulai muncul dan mengancam keselamatan seluruh daratan, Nam Ling harus memilih antara melanjutkan dendam pribadi atau bekerja sama dengan Yue Xin dan penduduk desa untuk menghentikan bahaya yang akan menghancurkan dunia. Di balik pertempuran yang tak berkesudahan, tersembunyi rahasia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keiro_ganteng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 – MULA BARU BAGI SEMUA
Matahari sudah tinggi menyinari markas sekte ketika Liya mulai membimbing anggota sekte dan penduduk Desa Hua yang datang belajar. Tempat yang dulu jadi sumber kegelapan kini berubah menjadi pusat pembelajaran energi alam, dengan reruntuhan yang sudah diperbaiki menjadi ruangan belajar yang nyaman dan penuh cahaya.
“Energi alam bukan sesuatu yang harus kita kuasai,” ujar Liya dengan suara lembut sambil berdiri di depan kelompok yang berkumpul. Rambut putihnya berkilau di bawah sinar matahari, dan gaun ungu mudanya bertiup lembut oleh angin. “Kita harus belajar untuk menyatu dengannya, seperti air yang mengalir menyatu dengan sungai.”
Nam Ling berdiri di sisi Liya, melihat dengan bangga bagaimana anggota sekte yang dulu tersesat kini dengan antusias belajar cara mengendalikan kekuatan mereka untuk kebaikan. Yue Xin berada di barisan depan, mencatat setiap kata yang diucapkan oleh Liya dengan penuh perhatian.
Setelah sesi belajar selesai, Pak Zhang datang dari arah Desa Hua dengan beberapa warga membawa makanan dan buah-buahan. “Kami ingin berbagi dengan kalian,” ucapnya dengan senyum hangat. “Sejak kedatangan Master Liya, suasana di sekitar sini menjadi jauh lebih damai. Desa pun merasa lebih aman.”
Liya tersenyum, menerima hidangan yang disuguhkan. “Kita semua adalah satu keluarga yang tinggal di bawah langit yang sama,” jawabnya. “Mari kita makan bersama sebagai bukti bahwa perbedaan masa lalu tidak akan menghalangi persahabatan masa depan.”
Saat mereka makan bersama di halaman tengah markas, sebuah pesawat terbang kecil berbentuk burung muncul dari arah pegunungan jauh. Ia mendarat dengan lembut di tangan Liya, membawa sehelai surat kecil yang terbuat dari kulit pohon. Liya membacanya dengan ekspresi yang menjadi lebih serius.
“Pesan dari sekte lain di kaki Gunung Tianwu,” ucapnya setelah selesai membaca. “Mereka mengalami masalah dengan energi gelap yang muncul secara tiba-tiba, dan mereka meminta bantuan kita.”
Nam Ling segera berdiri. “Kita harus pergi membantu mereka. Jangan sampai masalah itu menyebar dan mengancam desa-desa di sekitarnya.”
Liya mengangguk, lalu melihat ke arah anggota sekte yang sudah siap membantu. “Beberapa dari kalian bisa ikut serta,” ujarnya. “Ini akan menjadi kesempatan untuk menunjukkan bahwa kita telah berubah dan siap membantu sesama.”
Keesokan paginya, mereka berangkat dalam sebuah kelompok kecil – terdiri dari Nam Ling, Liya, Yue Xin, dan tiga anggota sekte yang sudah mahir mengendalikan energi alam. Perjalanan ke kaki Gunung Tianwu memakan waktu hampir seharian, namun mereka tidak merasa lelah karena terus berbagi cerita dan pengetahuan sepanjang jalan.
Saat tiba di markas sekte yang meminta bantuan, mereka disambut dengan wajah penuh harapan. Markas tersebut terlihat dalam keadaan kacau, dengan jejak energi gelap yang masih jelas di setiap sudut.
“Kami tidak tahu dari mana energi itu muncul,” ucap pemimpin sekte tersebut dengan suara khawatir. “Kita mencoba menahannya tapi kekuatannya terlalu besar.”
Liya segera mulai memeriksa setiap sudut markas. Setelah beberapa saat, ia menemukan sebuah lorong kecil yang tersembunyi di balik reruntuhan. “Di sini,” ucapnya dengan suara tegas. “Ada sumber energi yang tidak stabil di dalam lorong ini. Kita harus segera menangani sebelum terlalu terlambat.”
Mereka memasuki lorong yang cukup gelap, namun cahaya dari tangan Liya dan Pedang Abadi Nam Ling menerangi jalan dengan cukup jelas. Di ujung lorong, mereka menemukan sebuah batu permata besar yang mengeluarkan energi gelap dengan intensitas tinggi. Batu itu terlihat seperti sedang dipaksa untuk melepaskan kekuatannya oleh mantra yang tidak dikenal.
“Ini bukan kekuatan alam yang alami,” ucap Nam Ling sambil menyentuh dinding sekitar batu. “Ada yang sengaja memasang mantra untuk membangkitkan kekuatan ini.”
Liya mengangguk, lalu mulai mengucapkan mantra yang indah dan penuh kekuatan. Cahaya biru muda dari tangannya menyelimuti batu permata, sementara Nam Ling membantu dengan menyebarkan cahaya merah dari pedangnya. Bersama-sama, mereka mulai menetralkan energi gelap dan membersihkan mantra yang terpasang.
Prosesnya memakan waktu hampir dua jam, namun akhirnya batu permata kembali stabil, mengeluarkan cahaya putih lembut yang menyegarkan. Udara di sekitarnya menjadi segar kembali, dan semua jejak energi gelap menghilang tanpa bekas.
“Sekarang sudah aman,” ucap Liya dengan senyum lega. “Tetapi kalian harus belajar cara menjaga keseimbangan energi agar hal serupa tidak terulang.”
Pemimpin sekte tersebut mengangguk dengan rasa hormat. “Kami akan belajar dari kalian. Tolong ajari kami cara hidup berdampingan dengan alam seperti yang kalian lakukan.”
Setelah beberapa hari memberikan pembelajaran dan membantu memperbaiki markas tersebut, mereka memutuskan untuk kembali. Perjalanan pulang terasa lebih menyenangkan, dengan semua orang merasa puas karena telah bisa membantu sesama.
Saat tiba kembali di markas sekte asal, mereka disambut dengan sorakan kegembiraan dari anggota sekte dan penduduk Desa Hua yang sudah menunggu. Makan malam besar telah disiapkan untuk merayakan keberhasilan mereka.
“Kita telah menunjukkan bahwa kekuatan sejati ada pada kesediaan untuk saling membantu,” ucap Liya saat berdiri di depan semua orang. “Baik sekte maupun desa, kita adalah satu kesatuan yang kuat. Mari kita jaga kedamaian ini bersama untuk generasi mendatang.”
Nam Ling tersenyum, melihat wajah-wajah yang penuh bahagia di sekelilingnya. Yue Xin datang mendekat, memegang tangan Liya dengan penuh rasa hormat. “Terima kasih, Bu Liya. Karena kamu, kita semua punya masa depan yang lebih baik.”
Matahari mulai tenggelam, menyinari langit dengan warna jingga dan merah. Semua orang berkumpul lebih erat, merasa bahwa mereka telah menemukan keluarga yang sesungguhnya – keluarga yang dibangun dari kerja sama, kepercayaan, dan cinta akan alam serta semua yang ada di dalamnya.