NovelToon NovelToon
Wanita Bercadar Kesayangan Mafia

Wanita Bercadar Kesayangan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: putri Sefira

Arkan Xavier adalah definisi dari kekejaman. Sebagai pemimpin sindikat mafia paling ditakuti, dunianya hanya dipenuhi dengan pengkhianatan dan genangan darah. Namun, satu malam yang fatal mengubah segalanya. Dalam kondisi sekarat akibat penyergapan, Arkan diselamatkan oleh Aisyah, seorang wanita bercadar yang hatinya sedalam samudera dan imannya sekokoh karang.
​Bagi Arkan, Aisyah adalah anomali—cahaya yang seharusnya tidak pernah bersentuhan dengan kegelapannya. Terobsesi dengan ketenangan yang dimiliki Aisyah, Arkan mulai masuk ke kehidupan wanita itu, menyeretnya ke dalam pusaran bahaya yang belum pernah Aisyah bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Di Bawah Sorotan Cahaya Keadilan

Pesawat jet pribadi itu mendarat di landasan pacu Bandara Halim Perdanakusuma saat senja mulai meluruh. Cahaya lampu landasan yang berkedip-kedip seolah memberi tanda bahwa ketenangan di perbatasan telah berakhir, dan kini mereka memasuki medan pertempuran yang sesungguhnya: rimba beton Jakarta yang penuh dengan intrik hukum dan pengkhianatan.

Arkan berdiri di ambang pintu pesawat, menatap kerumunan lampu kilat kamera dari ratusan awak media yang sudah menunggu di balik barikade polisi. Di belakangnya, Aisyah menggandeng lengan ayahnya, Rahman Malik, yang duduk di kursi roda elektrik. Hamdan berdiri tegap di sisi lain, sementara Sofia Xavier mengenakan kacamata hitamnya, kembali ke peran sebagai wanita tangguh yang pernah menguasai separuh dunia bawah tanah Jakarta.

"Ingat," bisik Arkan tanpa menoleh. "Jangan lepaskan pegangan kalian. Leo dan tim keamanan akan membentuk barisan. Langsung menuju mobil yang sudah disiapkan di bawah tangga."

Aisyah merasakan tangannya dingin. Ini adalah pertama kalinya ia akan terekspos secara publik. Selama ini ia hanya wanita di balik cadar yang berjalan di lorong-lorong kampus yang tenang. Kini, ia adalah pusat dari skandal terbesar dekade ini.

"Ayah siap?" tanya Aisyah lembut pada Rahman.

Rahman Malik tersenyum, meski gurat kelelahan tampak jelas di wajah rentanya. "Selama dua puluh tahun Ayah hidup dalam kegelapan untuk melindungi kalian. Sekarang, biarlah cahaya ini menerangi kebenaran, seberapa pun menyilaukannya."

Pintu pesawat terbuka. Seketika, suara riuh rendah wartawan pecah seperti ombak yang menghantam karang.

"Tuan Arkan! Benarkah Anda menyerahkan diri?!"

"Nona Aisyah, apa hubungan Anda dengan putra bos mafia ini?!"

"Pak Rahman, benarkah Anda adalah otak di balik pencucian uang Xavier?!"

Arkan melangkah turun lebih dulu. Ia tidak memakai rompi antipeluru di luar, namun di balik kemeja hitamnya, ia siap menghadapi kemungkinan terburuk. Ia mengangkat tangannya, memberi isyarat agar suasana tenang.

"Saya Arkan Xavier," suaranya menggelegar melalui pengeras suara yang dipasang Leo. "Saya datang bukan untuk melarikan diri, tapi untuk menyerahkan diri dan membawa saksi kunci yang selama dua puluh tahun ini dikubur hidup-hidup oleh kebohongan klan Xavier. Pak Rahman Malik adalah korban, bukan pelaku. Dan hari ini, kebenaran akan mulai bicara."

Polisi segera mendekat, memborgol tangan Arkan sesuai protokol penyerahan diri yang sudah disepakati pengacaranya. Aisyah melihat pemandangan itu dengan hati yang teriris. Pria yang baru saja ia mulai cintai, kini harus merelakan kebebasannya demi keluarganya.

Tiga hari kemudian, sidang perdana digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Suasana sangat mencekam. Penjagaan diperketat dengan unit K-9 dan penembak jitu di atap gedung, karena intelijen melaporkan bahwa Gideon tidak akan membiarkan sidang ini berjalan lancar.

Aisyah duduk di kursi pengunjung barisan terdepan bersama Sofia. Di kursi pesakitan, Arkan duduk dengan tenang, sementara Rahman Malik bersiap di ruang tunggu saksi dengan tabung oksigen di sampingnya.

Gideon Xavier masuk ke ruang sidang dengan senyum meremehkan. Ia membawa tim pengacara termahal di negeri ini. Di sudut lain, Luciano—yang ternyata berhasil bebas bersyarat berkat koneksi politiknya—duduk dengan mata yang terus mengincar Aisyah.

"Sidang dibuka!" ketukan palu hakim bergema.

Jaksa Penuntut Umum mulai membacakan dakwaan yang sudah dimanipulasi oleh pihak Gideon. Mereka menuduh Rahman Malik sebagai pemilik sah dari perusahaan cangkang yang digunakan untuk transaksi ilegal. Mereka menunjukkan dokumen-dokumen lama dengan tanda tangan Rahman yang dipalsukan secara sempurna.

"Interupsi, Yang Mulia!" Arkan berdiri dari kursinya. "Dokumen itu palsu. Saya memiliki bukti rekaman suara saat paman saya, Gideon, memerintahkan pemalsuan tanda tangan tersebut sepuluh tahun yang lalu."

Kegaduhan pecah di ruang sidang. Gideon tampak tenang, namun rahangnya mengeras.

"Bukti itu tidak sah karena diambil tanpa izin!" teriak pengacara Gideon.

Di tengah perdebatan hukum yang sengit itu, tiba-tiba pintu ruang sidang terbuka. Seorang pria berseragam petugas kebersihan masuk membawa tong sampah besar. Tidak ada yang menaruh curiga, sampai pria itu mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong sampahnya.

Sebuah granat asap.

BOOM!

Asap putih pekat memenuhi ruangan dalam sekejap. Teriakan panik terdengar di mana-mana. Aisyah segera berdiri, mencari keberadaan ayahnya.

"Ayah! Ayah di mana?!" teriak Aisyah.

Dalam kegelapan asap, Aisyah melihat bayangan seseorang mendekati ruang tunggu saksi. Itu bukan petugas keamanan. Itu adalah pembunuh bayaran kiriman Gideon yang ingin menghabisi Rahman sebelum ia sempat memberikan kesaksian.

Aisyah berlari menembus asap, mengabaikan keselamatannya sendiri. Ia melihat pria itu sudah mengangkat pisaunya ke arah ayahnya yang sedang terbatuk-batuk karena asap.

"Jangan!" Aisyah menerjang pria itu, menggunakan tas medisnya yang berat untuk memukul punggung si pembunuh.

Pria itu berbalik dan mendorong Aisyah hingga terbentur meja. Namun, sebelum ia sempat menyerang kembali, sebuah tangan besar mencengkeram lehernya dari belakang.

Arkan. Meskipun tangannya masih diborgol, ia menggunakan rantai borgolnya untuk menjerat leher si penyerang dengan kekuatan yang luar biasa. Matanya merah karena amarah.

"Sudah kubilang... jangan menyentuh keluargaku!" desis Arkan.

Polisi anti-huru-hara masuk dan mengamankan situasi. Gideon dan Luciano mencoba melarikan diri melalui pintu belakang, namun Leo sudah menunggu di sana dengan timnya.

Setelah kekacauan di pengadilan, kondisi kesehatan Rahman Malik drop drastis. Tekanan darahnya melonjak dan ia mengalami serangan jantung ringan akibat menghirup asap terlalu banyak. Ia segera dilarikan ke rumah sakit tempat Aisyah dulu praktik.

Di depan ruang ICU, Aisyah terduduk lemas. Pakaiannya kotor, cadarnya sedikit robek. Ia merasa gagal sebagai calon dokter karena tidak bisa melindungi ayahnya dari bahaya fisik.

Sofia duduk di sampingnya, merangkul bahu Aisyah. "Kau sudah melakukan yang terbaik, Nak. Kau menyelamatkannya tadi. Jika bukan karena kau, pisau itu sudah mengenai jantungnya."

Tak lama kemudian, Arkan datang dengan pengawalan ketat polisi. Ia diizinkan menjenguk sebentar karena statusnya sebagai pelapor yang kooperatif. Ia melihat Aisyah yang hancur, dan hatinya terasa diremas.

"Aisyah..." panggil Arkan pelan.

Aisyah mendongak, air mata membasahi pipinya di balik kain cadar. "Kenapa keadilan harus sesulit ini, Tuan Arkan? Kenapa orang baik seperti Ayah harus terus menderita sementara mereka selalu punya cara untuk lolos?"

Arkan berlutut di depan Aisyah, mengabaikan tatapan sinis polisi yang menjaganya. "Karena keadilan bukan tentang siapa yang lebih kuat, tapi tentang siapa yang lebih tahan menderita demi kebenaran. Ayahmu sedang berjuang, dan kau harus menjadi kekuatannya."

Tiba-tiba, dokter keluar dari ruang ICU. "Keluarga Pak Rahman? Kondisinya kritis. Beliau membutuhkan donor darah dengan rhesus yang sangat langka. Stok kami kosong karena ada kecelakaan beruntun tadi sore."

Aisyah segera berdiri. "Ambil darah saya! Saya anak kandungnya!"

"Maaf, Nona. Anda sedang dalam kondisi syok dan anemia ringan setelah kejadian di pengadilan tadi. Darah Anda tidak cukup kuat untuk prosedur ini," ujar dokter.

Arkan berdiri tegak. "Ambil darah saya. Golongan darah saya sama dengan beliau. Saya pernah memeriksa rekam medis beliau saat di biara."

Dokter ragu menatap polisi. "Tapi dia tahanan..."

"Saya penjaminnya!" Sofia Xavier berdiri. "Ambil darah putra saya sekarang. Ini masalah nyawa!"

Proses transfusi dilakukan. Arkan berbaring di tempat tidur sebelah Rahman Malik. Ia menatap wajah pria tua yang dulu dibenci ayahnya itu.

Saat darahnya mengalir masuk ke tubuh Rahman, Arkan merasa seolah-olah ia sedang memberikan sebagian dari nyawanya untuk menebus nyawa yang dulu hampir dirampas keluarganya.

"Aisyah..." gumam Arkan saat proses hampir selesai.

Aisyah yang berdiri di antara kedua ranjang itu menggenggam tangan Arkan dan tangan ayahnya secara bersamaan. "Terima kasih, Arkan. Terima kasih..."

Satu minggu kemudian, dengan kondisi yang mulai stabil, Rahman Malik memberikan kesaksiannya melalui video konferensi dari ranjang rumah sakit. Kesaksiannya yang sangat detail, didukung oleh bukti rekaman yang disimpan Sofia dan pengakuan sukarela dari Arkan, tidak memberikan ruang bagi Gideon untuk berkelit.

Gideon Xavier dijatuhi hukuman penjara seumur hidup atas tuduhan pembunuhan berencana, pemalsuan dokumen, dan pencucian uang. Luciano kembali masuk penjara dengan masa hukuman yang lebih berat.

Namun, Arkan pun tidak lepas dari jerat hukum. Sebagai pemimpin klan selama tiga tahun terakhir, ia dijatuhi hukuman lima tahun penjara karena kelalaian dan keterlibatan tidak langsung dalam beberapa transaksi ilegal perusahaan.

Di hari Arkan akan dipindahkan ke Lapas, Aisyah menunggunya di depan mobil tahanan.

"Lima tahun bukan waktu yang sebentar, Aisyah," ucap Arkan, kini ia memakai baju tahanan oranye, namun auranya tetap berwibawa. "Kau tidak perlu menungguku jika itu terlalu berat."

Aisyah mendekat, ia memberikan sebuah bungkusan kecil berisi Al-Qur'an saku dan sebuah buku catatan medis. "Ayah sudah memaafkan Anda. Abang Hamdan sudah mulai menganggap Anda sebagai adik. Dan saya... saya sudah memutuskan untuk mengabdi di panti asuhan sambil menunggu kepulangan Anda."

Aisyah menatap mata Arkan dengan keteguhan yang luar biasa. "Lima tahun hanya angka bagi mereka yang punya tujuan. Dan tujuan saya adalah menjadi alasan bagi Anda untuk tetap menjadi orang baik di dalam sana."

Arkan tersenyum tulus. Ia tidak pernah merasa sekaya ini meski ia telah kehilangan seluruh harta Xavier-nya. "Tunggu aku, Dokter Aisyah. Saat aku keluar nanti, aku ingin menjadi orang pertama yang mendengar kau memanggil namaku tanpa gelar 'Tuan' lagi."

Mobil tahanan itu melaju, membawa pergi sang mantan mafia menuju penebusan dosanya.

Aisyah berdiri di sana sampai debu mobil itu menghilang. Ia tahu, perjalanan mereka masih panjang, namun untuk pertama kalinya, langit Jakarta tampak begitu jernih bagi mereka berdua.

1
Amiera Syaqilla
salam sejahtera author🤗
sefira🐼: salam juga😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!