NovelToon NovelToon
Nikah Kontrak; Istri Cegil Si Direktur Dingin

Nikah Kontrak; Istri Cegil Si Direktur Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Aksarasastra

Premis:
Demi menyelamatkan bisnis keluarganya yang hampir bangkrut, Alya Prameswari terpaksa menerima perjodohan dengan Adrian Wijaya, seorang Direktur muda yang dingin dan terkenal tidak menyukai wanita “cegil”. Namun pernikahan mereka hanyalah kontrak.
Alya yang sebenarnya cukup tenang justru berpura-pura menjadi istri paling menyebalkan agar Adrian segera menceraikannya.
Sayangnya rencananya gagal. Semakin Alya bersikap cegil, Adrian justru semakin sabar dan mulai melindunginya.
Ketika akting Alya berubah menjadi perasaan yang nyata, ia harus memilih: terus berpura-pura… atau mengakui bahwa ia tidak lagi ingin pernikahan kontrak itu berakhir.
Saksikan Terus Cerita ini, update setiap hari 💚

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Aksarasastra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mahkota dari Rafia.

“Alya, kamu yakin kamu baik- baik saja?”

Pertanyaan itu datang lagi, kali ini lebih dekat, lebih nyata, namun tetap terasa seperti gema dari dunia lain yang belum sepenuhnya melepaskannya. Alya berdiri kaku di dekat meja dekorasi, jemarinya perlahan bergerak tanpa sadar, seolah mencari sesuatu untuk menenangkan pikirannya sendiri.

Napasnya masih belum sepenuhnya stabil setelah khayalan aneh yang barusan menghantamnya seperti badai. Namun alih- alih berhenti, pikirannya justru seperti pintu yang rusak..., lalu terbuka lebar tanpa kendali.

Matanya jatuh pada sebuah botol kecil di atas meja.

Parfum.

Botolnya elegan, transparan, dengan cairan berwarna lembut yang berkilau terkena cahaya lampu kristal. Itu adalah parfum yang tadi ia pakai, aroma floral yang lembut, segar, dan mahal. Alya menatapnya lebih lama dari yang seharusnya, seolah mencoba memastikan sesuatu. Parfum nya masih utuh kan? Parfum Dior Blooming Bouquet netto 150 ml itu harganya mencapai 3-4 juta lebih.

Lalu perlahan…

Dunianya bergeser lagi.

Aroma itu berubah.

Bukan lagi bunga.

Bukan lagi kesegaran.

Melainkan bau yang menusuk.

Asam.

Busuk.

Seperti air got yang menggenang di bawah jembatan, bercampur dengan bau kencing tikus yang menyengat dan menempel di hidung tanpa ampun. Alya refleks menutup hidungnya, wajahnya langsung berubah pucat.

“Ya ampun…” gumamnya panik, “ini aku?? Ini aku jadi bau? Alya jadi bau begini…?”

Ia mengangkat lengannya sendiri, mencium dengan ragu.

Dan dalam khayalannya, ia hampir muntah.

“Bau got…” bisiknya lirih, “Alya bau got…”

"AAAAAA!!!!"

Ia mundur satu langkah, matanya membesar, seolah tubuhnya sendiri telah mengkhianatinya. Dalam bayangannya, orang-orang di sekitarnya mulai menjauh, menutup hidung, berbisik -bisik dengan tatapan jijik yang menusuk lebih tajam dari kata-kata.

Namun sebelum pikirannya selesai dengan satu teror…

Matanya sudah berpindah.

Ke meja lain.

Kue pengantin.

Kue itu besar, bertingkat, dihias dengan sempurna menggunakan krim putih dan ornamen bunga yang indah. Itu adalah pusat perhatian ruangan, simbol dari perayaan yang seharusnya bahagia. Alya menatapnya, dan untuk sesaat, ia ingin berpegangan pada kenyataan itu.

Namun lagi-lagi…

Dunianya retak.

Krim putih itu perlahan berubah warna.

Perlahan sekali.

Menjadi kusam.

Lalu hitam kehijauan.

Jamur mulai muncul di permukaannya, kecil-kecil lalu semakin besar, menyebar seperti penyakit yang tidak bisa dihentikan. Aroma manis berubah menjadi bau asam yang membuat perutnya mual.

Dalam khayalannya, seseorang menyodorkan potongan kue itu padanya.

“Alya, makan,” suara itu terdengar samar.

Dan tanpa bisa menolak…

Ia membayangkan dirinya memakannya.

Gigitan pertama terasa aneh.

Gigitan kedua membuat perutnya bergejolak.

Dan detik berikutnya—

“...Aduh…”

Alya membungkuk sedikit di dunia nyata, tangannya refleks memegang perut lalu jemarinya meremas bagian perut dengan cengkraman kuat.

“Mencret…” gumamnya lirih dengan wajah panik, “aku… mencret di hari pernikahan…”

Ibunya yang berdiri di samping langsung menoleh cepat. “Alya?!”

Namun Alya sudah tenggelam lagi.

Lebih dalam.

Matanya turun ke tangannya sendiri.

Ke perhiasan yang ia pakai.

Kalung emas yang berkilau di lehernya, gelang elegan di pergelangan tangan, cincin dengan batu kecil yang memantulkan cahaya dengan indah. Ia menyentuhnya satu per satu, seperti ingin memastikan bahwa semuanya nyata.

Namun sentuhan itu justru menjadi pintu berikutnya.

Dalam sekejap, kilau emas itu menghilang.

Digantikan oleh sesuatu yang… sangat berbeda.

Kalungnya berubah.

Menjadi tali rafia warna-warni.

Kasar.

Murahan.

Dengan hiasan batang daun singkong yang dililit seadanya, seperti kerajinan anak TK yang terlalu dipaksakan. Alya menatapnya dengan ekspresi kosong yang perlahan berubah menjadi horor dan benar-benar sangat menakutkan.

“Ini… fashion apa lagi ini…” bisiknya pelan.

Gelangnya ikut berubah.

Menjadi karet gelang warna -warni.

Persis seperti yang biasa mengikat kangkung di pasar.

Beberapa bahkan sudah longgar, hampir putus, menggantung tidak jelas di pergelangan tangannya.

Alya mengangkat tangannya perlahan.

Wajahnya datar.

Namun matanya penuh ketidakpercayaan.

“Ini aku habis beli sayur atau habis nikah, sih…” gumamnya.

Cincin di jarinya tidak luput dari nasib yang sama.

Emasnya hilang.

Digantikan oleh cincin logam kasar dari uang koin yang di lubangi, dengan batu akik besar yang warnanya mencolok dan… entah kenapa terlihat sangat tidak cocok.

"Apa?! Alya pakai batu akik?! AAAAAA!!!"

Alya menatapnya lama.

Sangat lama.

Lalu menarik napas dalam.

“Baik,” katanya pelan, seolah mencoba berdamai dengan keadaan, “setidaknya aku masih punya cincin…”

Namun suaranya melemah di akhir kalimat.

Karena bahkan dalam khayalannya sendiri…

Ia tidak bisa meyakinkan dirinya.

Dunia itu kembali berubah.

Langit menjadi gelap.

Hujan turun lagi.

Lebih deras dari sebelumnya.

Alya kini berdiri di bawah langit terbuka, tanpa atap, tanpa perlindungan. Air hujan membasahi tubuhnya, rambutnya menempel di wajah, pakaian compang- campingnya semakin berat dan dingin.

Tidak ada AC.

Tidak ada kasur empuk.

Tidak ada selimut hangat.

Hanya tanah dingin dan suara hujan yang tidak berhenti serta aroma jalanan.

Ia mencoba berbaring.

Namun tubuhnya langsung menegang.

Wajahnya berubah panik.

“Enggak bisa…” gumamnya, suaranya mulai bergetar.

Ia menggulingkan tubuhnya ke kanan.

Lalu ke kiri.

Semakin panik.

“Enggak bisa…” ulangnya, kali ini lebih keras.

Ia duduk mendadak.

Air hujan membasahi wajahnya.

Matanya membesar.

“AAAAAA!!! Alya nggak bisa tidur tanpa AC!” teriaknya tiba-tiba, suaranya pecah di tengah hujan.

Ia memegang kepalanya sendiri, ekspresinya seperti seseorang yang baru saja menyadari tragedi terbesar dalam hidupnya.

“Alya nggak bisa, Bunda!” lanjutnya dengan nada dramatis yang berlebihan. “Alya nggak bisa tidur kalau nggak dingin! Ini panas! Lembap! Nyamuknya juga banyak!”

Ia berdiri.

Menengadah ke langit.

Hujan terus mengguyur tanpa ampun.

Dan seperti belum cukup…

Ia menambahkan dengan suara yang lebih tinggi.

“Alya juga nggak bisa tidur tanpa kuota!” teriaknya lagi. “Alya butuh nonton drama Jepang sebelum tidur! Ini penting untuk kesehatan mental Alya!”

Petir menyambar.

Langit bergemuruh.

Dan dalam satu detik—

“Alya!”

Suara itu menariknya kembali dengan kasar.

Dunia hujan itu hancur.

Lenyap.

Alya tersentak.

Ia kembali ke ruangan pernikahan.

Lampu kristal masih menyala.

Tamu-tamu kini benar-benar menatapnya.

Semua mata.

Tanpa kecuali.

Ibunya menggenggam lengannya dengan panik. “Alya, kamu kenapa?!”

Ayahnya terlihat kaget.

Beberapa tamu bahkan berhenti berbicara.

Sunyi.

Benar-benar sunyi.

"Jika Pak Direktur tidak juga datang, maka pernikahan batal. Dan Alya akan jadi miskin, Alya gamau jadi gelandangan. Ini gaboleh terjadi! Walaupun pernikahan ini hanyalah nikah kontrak, perjodohan, Alya harus bisa!"

Alya berdiri di tengah ruangan.

Dengan gaun pengantin yang sempurna.

Dengan rambut yang masih rapi.

Dengan perhiasan yang masih berkilau.

Namun napasnya masih terengah.

"Alya takut miskiiiin," lirihnya.

"AAAAAA!!!"

Matanya membesar.

Dan tanpa sadar—

Ia baru saja meneriakkan semuanya dengan suara keras.

Tentang AC.

Tentang kuota.

Tentang drama Jepang.

Dan kini…

Seluruh perhatian tertuju padanya.

1
Aphing Zora
suka ceritanya bagus. lanjut Thor 👍
Aksara_Sastra: uwwu, maacii. Dukung terus yaaak, biar bisa update tiap hari dan crazy up. wopyuuu 💚
total 1 replies
April Mei
kerennnnnnnn
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Aksara_Sastra: Dukung terus yaaa, 💚
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!