Aliora Amerta gadis cantik 19 tahun. Hidupnya berubah ketika pamannya berhutang besar pada Saga. Untuk melunasi hutang itu, Liora dipaksa menikah dengan Saga, pria yang sangat ditakutinya.
Sagara Verhakc berusia 27 tahun. Di dunia bisnis ia dikenal sebagai CEO jenius dan juga kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Helena Fox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 28
Sore itu langit mulai meredup. Mansion kembali sunyi. Namun bagi Liora ketenangan itu terasa masih menekan.
Sejak kejadian di taman ia lebih banyak diam.
Duduk di sudut kamar ia hanya Menatap kosong. Perasaannya campur aduk.
Takut. Sesak. Dan lelah.
Tok tok.
Ketukan pelan di pintu. Liora menoleh.
“Masuk…”
Pintu terbuka perlahan. Seorang pelayan perempuan masuk. Wajahnya terlihat ragu. Tangannya menggenggam sesuatu. Kemudian masuk dengan mengendap- ngendap takut jika melihat tuannya.
“Nona… ini ada titipan.” Ucapnya pelan.
Liora mengernyit. “Titipan?”
Pelayan itu mendekat. Dengan hati-hati menyerahkan sebuah kertas kecil.
Liora mengambilnya. ia menatap kertas dalam lipatan kecil itu dengan Bingung.
Belum sempat ia membuka....
Ceklek!
Pintu terbuka keras.
DEG!
Saga.
Masuk. Tatapannya langsung tajam. Menangkap situasi dalam satu detik. Matanya tertuju pada kertas di tangan Liora.
Dan tanpa peringatan ia meraih.
Menarik kertas itu. “Kamu—”
Liora kaget. Namun tidak sempat melawan. Saga sudah membuka kertas itu.
Membacanya. Dan dalam sekejap wajahnya berubah.
Gelap. Lebih dari sebelumnya. Rahangnya mengeras. Tangannya mengepal.
Isi pesan itu sangat singkat.
Namun cukup.
“Kalau kamu mau keluar dari neraka itu, aku bisa bantu.
~V ~”
DEG.
Aura di ruangan langsung berubah.
Mencekam. Saga mengangkat kepala. Tatapannya langsung menuju pelayan itu yang sudah bergetar ketakutan.
“Siapa yang memberi ini.”
Suaranya rendah. Namun penuh tekanan.
Pelayan itu gemetar. “M-maaf Tuan… saya hanya disuruh—”
“Siapa.”
Nada suaranya turun. Lebih pelan. Lebih berbahaya.
Pelayan itu pucat. Tubuhnya gemetar hebat.
“S-saya tidak tahu… dia hanya—”
DOR!
Suara itu memecah ruangan. Satu tembakan. Pelayan itu terjatuh.
Tubuhnya diam. Tidak bergerak lagi. tewas akibat peluru saga tepat mengenai kepala pelayan itu.
DEG!!
Liora membeku. Matanya membesar. Tubuhnya langsung mundur.
Napasnya tercekat. “Sa… Saga…”
Suaranya bergetar. Ketakutan kembali memenuhi dirinya.
Lebih besar dari sebelumnya.
Air matanya langsung jatuh. Ia tidak menyangka semudah itu.
Tanpa ragu.
Tanpa jeda.
Saga masih berdiri. Tatapannya dingin. Seolah tidak terjadi apa-apa. Namun tangannya masih menggenggam kertas itu.
Kertas yang sama. Yang membuatnya kehilangan kendali.
Perlahan ia menoleh ke arah Liora.
Dan kali ini tatapannya bukan hanya dingin. Tapi penuh sesuatu yang lain.
Obsesi.
Yang semakin jelas.
“Berani sekali…” gumamnya pelan.
Liora mundur lagi. Sampai punggungnya menyentuh dinding.
Tubuhnya gemetar..“Sa… aku gak tahu…” ucapnya cepat.
Takut. Karna liora memang benar-benar tidak tahu siapa pengirim surat itu.
Namun juga ingin menjelaskan.
“Aku belum baca—”
Namun Saga sudah melangkah mendekat.
Dengan Cepat, Menarik Liora hingga menabrak tubuhnya.
DEG!
Tangannya mencengkeram pinggang Liora. Sangat Kuat. Membuat liora takut.
“Mereka pikir bisa mengambilmu dariku.”
Suaranya rendah. Hampir seperti bisikan. Namun penuh tekanan.
Liora menggeleng. Air matanya terus jatuh. “Aku gak—”
“Diam.”
Potong Saga. Ia menarik Liora lebih dekat.
Membawanya dalam pelukannya. Terlalu kuat. Seolah takut kehilangan.
Namun juga menahan.
“Mau kabur lagi?” Tanyanya.
Nada suaranya berbahaya. Liora langsung menggeleng cepat.
“Nggak… aku gak—”
Ia bahkan tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Karena ketakutan sudah menguasai. saga selalu membunuh orang tepat di depannya.
Saga menatapnya.
Lama. Seolah memastikan.
Seolah membaca. Lalu ia berbalik sedikit.
“Ben.”
“Ya, Tuan.”
“Perketat penjagaan.”
“Baik, Tuan.”
“Tidak ada yang boleh masuk tanpa sepengetahuanku.”
Suaranya tegas. Tidak bisa ditawar.
“Dan—”
ia berhenti sejenak. Tatapannya kembali ke Liora.
“Awasi dia ketika aku pergi, Jangan biarkan berkeliaran.”
DEG.
Liora menunduk. Tubuhnya masih gemetar. saga tetap orang yang sama.
Perasaan sesak itu kembali. Lebih kuat.
Saga kembali menarik Liora.
Mendekat. Tangannya naik ke dagu Liora. Memaksanya menatap.
“Kalau kamu tetap di sini—” ucapnya pelan,
“tidak akan ada yang menyentuhmu.”
DEG.
Kalimat itu yang dulu terasa seperti perlindungan sekarang terdengar seperti kurungan.
Liora mulai berontak , ia tidak suka di kurung apalagi di awasi..
" Lepas!.... Aku juga punya hak!!"
Dia mulai berani menatap wajah saga yang begitu dekat dengannya.
" Hak!?.... Kamu ada dalam kuasa aku , dan aku tak memberikan itu!!"
" KAMU KETERLALUAN!!! FUCK YOU!!" liora lepas kendali ia memukul- mukul dada dan bahu saga.
" FUCK MAN...DAMN MAN!!!!!...."
Saga masih tetap diam menerima semua teriakan dan pukulan liora.
Lalu ia mencengkeram tangan liora." Tapi aku tidak peduli.... Semua yang jadi milikku tidak boleh ada yang memiliki!"
" AKU BUKAN MILIKMU!!!!"
" DIAM!!! DAN MENURUT KALAU TIDAK INGIN KAU KEHILANGAN NYAWAMU!!!" Teriak saga.
DEG
" Kalau gitu bunuh aku sekarang!!!"
Saga menyeringai " Aku tidak membunuhmu, Tapi menyiksa mu"
Tubuh liora langsung melemas, Takut
Kata menyiksa begitu jelas terngiang di otaknya.
" Kamu gak bisa mengambil hidupku....." lirih liora pelan.
Ia hanya diam. Air matanya jatuh tanpa suara.
Sementara di hadapannya Saga semakin tenggelam. Dalam perasaan yang tidak ia kendalikan.
Bukan lagi sekadar menjaga. Namun.memiliki. Sepenuhnya.
Tanpa ruang. Tanpa celah.
Dan itu semakin berbahaya.
" Diam dan menurut lah!"
Kemudian tanpa aba-aba saga membopong tubuh liora bak karung beras di punggung nya.
Liora diam tak berontak , Karna ia tahu semakin berontak maka saga semakin tidak mendengarkannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...........................