Di mata dunia, aku adalah Nyonya Kalandra yang terhormat. Di mata suamiku, aku hanyalah penipu yang menjijikkan."
Dua tahun Isvara bertahan dalam pernikahan dingin karena sebuah Perjanjian Pra-Nikah yang membelenggunya. Andra, suaminya yang dulu memujanya, kini hanya menyisakan kebencian sedalam samudra setelah rahasia identitas Isvara terbongkar.
Andra tidak tahu, di balik aura tegas Isvara yang disegani banyak orang, jantung wanita itu sedang menghitung mundur sisa detaknya. Isvara tidak butuh dimaafkan, dia hanya ingin bertahan sampai napas terakhirnya habis tanpa ada yang perlu merasa kehilangan.
Saat Isvara akhirnya menyerah dan berhenti membujuk, mampukah Andra tetap membencinya ketika menyadari bahwa "penipuan" terakhir Isvara adalah menyembunyikan kematiannya sendiri?
"Kebencianmu adalah alasan jantungku masih berdetak, Andra. Tapi sekarang, aku sudah lelah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Dibalik Nafas Terakhir Isvara
Matahari siang menyengat Jakarta dengan beringas, namun di dalam kamar Isvara, suasana tetap terasa dingin dan sepi. Isvara masih bersandar di sofa malasnya ketika ponsel di atas meja nakas bergetar. Sebuah nama muncul di layar, membuat pertahanan dingin di wajah Isvara seketika meluruh.
Bunda Neli.
"Halo, Bun..." suara Isvara terdengar sangat lirih saat mengangkat telepon itu.
"Vara sayang? Kamu sedang sibuk, Nak? Bunda merindukanmu. Kalau kamu ada waktu senggang hari ini, bisakah mampir ke rumah Bunda? Bunda baru saja membuatkan sayur lodeh kesukaanmu," suara lembut di seberang sana terasa seperti oase di tengah padang pasir bagi Isvara.
Isvara terdiam sejenak. Tubuhnya sangat lemas, napasnya masih terasa pendek, dan wajahnya di cermin tampak sangat pucat hingga menyerupai porselen retak. Namun, keinginan untuk merasakan pelukan hangat Bunda Neli satu-satunya orang yang memberinya cinta tanpa syarat jauh lebih besar daripada rasa sakit fisiknya.
"Aku datang, Bun. Tunggu Vara ya," jawabnya pelan.
Isvara tidak merasa perlu meminta izin pada Andra. Hubungan mereka sudah lama melewati batas "suami-istri" yang normal. Bagi Isvara, mereka hanyalah dua orang yang terikat kontrak profesional dan kebencian yang dipendam. Ia hanya mengirim pesan singkat pada sekretarisnya bahwa ia akan keluar sebentar, lalu meminta sopir pribadi keluarga Prayudha untuk menyiapakan mobil.
Perjalanan menuju panti asuhan memakan waktu sekitar dua jam. Di dalam mobil, Isvara hanya menyandarkan kepalanya ke kaca jendela, menatap kosong ke arah luar. Gedung-gedung pencakar langit Jakarta berkelebat cepat. Ia menyadari banyak hal yang berubah; gedung-gedung lama yang dulu sering ia lihat saat masih remaja kini sudah beralih fungsi menjadi mal mewah atau apartemen minimalis. Semuanya berubah, semuanya bergerak maju, kecuali hatinya yang seolah terjebak dalam ruang hampa.
Dua jam berlalu, mobil memasuki sebuah kawasan yang lebih asri dan tenang. Di depannya berdiri sebuah bangunan megah yang tampak hangat dengan sentuhan arsitektur modern-tropis. Ini adalah rumah dan panti asuhan yang ia renovasi total setahun lalu. Dulu, tempat ini hanyalah bangunan tua dengan atap bocor di mana ia dan anak-anak panti lainnya harus berdesakan.
Isvara sengaja memisahkan area panti asuhan dengan kediaman pribadi Bunda Neli. Ia ingin Bunda memiliki privasi dan kenyamanan di masa tuanya, sebuah rumah yang benar-benar menjadi tempat berteduh tanpa harus terganggu hiruk-pikuk puluhan anak kecil. Bagi Isvara, memberikan rumah ini adalah satu-satunya cara ia membalas budi atas napas kehidupan yang diberikan Bunda Neli dulu.
Begitu mobil berhenti, sosok wanita paruh baya dengan kerudung instan dan senyum tulus sudah berdiri di teras. Bunda Neli. Beliau selalu tahu kapan Isvara akan sampai, seolah ada ikatan batin yang tak terlihat.
Isvara turun dari mobil dengan langkah perlahan, berusaha menjaga keseimbangannya. Begitu matanya bertemu dengan mata Bunda Neli, Isvara merasa pertahanannya runtuh.
"Bunda..."
Bunda Neli langsung menghambur memeluk anak asuhnya itu. Namun, saat tangan Bunda menyentuh bahu Isvara yang kini terasa jauh lebih kurus dan kulitnya yang dingin, raut cemas seketika muncul di wajah beliau. Bunda Neli adalah satu-satunya orang di luar tim medis yang tahu rahasia terbesar Isvara; tentang jantungnya yang mulai menyerah.
Bunda Neli menangkup wajah Isvara, menatap lekat mata sayu itu. "Nak, kenapa sepucat ini? Bunda sudah curiga saat kamu bilang sedang di rumah dan tidak ke kantor pagi tadi. Harusnya Bunda yang ke rumahmu, bukan kamu yang menempuh perjalanan jauh begini," ucap Bunda Neli dengan nada suara yang bergetar menahan tangis.
Isvara memaksakan sebuah senyum kecil, ia menyandarkan kepalanya di bahu Bunda. "Bun, aku baik-baik saja. Aku hanya... merindukan pelukan Bunda. Boleh aku masuk? Aku ingin ke kamarku yang dulu, Bun. Aku ingin tidur sebentar di sana."
Bunda Neli mengangguk cepat, ia merangkul pinggang Isvara, membantunya berjalan masuk ke dalam rumah. "Tentu, sayang. Kamarmu selalu siap. Bunda selalu membersihkannya setiap hari karena Bunda tahu, suatu saat kamu akan pulang mencari ketenangan."
Mereka berjalan melewati lorong rumah yang asri dengan gemericik air mancur kecil di tengah taman dalam. Isvara menghirup aroma kayu cendana yang menenangkan di rumah itu, mencoba mengusir sesak di dadanya. Namun, saat mereka sampai di ambang pintu menuju ruang tengah yang terhubung langsung dengan kamar pribadinya dulu, langkah Isvara mendadak terkunci.
Seluruh aliran darahnya seolah berhenti mengalir. Napasnya tercekat, lebih menyakitkan daripada serangan jantung yang biasa ia alami.
Di sana, di sofa ruang tengah kediaman Bunda Neli, duduk seseorang yang sangat ia kenal. Seseorang yang baru saja ia usir dari pikirannya semalam, namun kini berdiri tegak menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
Pria itu meletakkan cangkir tehnya, lalu berdiri perlahan.
"Vara..."
Isvara mematung. Matanya melebar, menatap sosok Dewa Abraham yang kini berada di rumah paling pribadinya. Bukan hanya Dewa, tapi di sudut lain, Andra pun muncul dari arah dapur dengan wajah yang sangat gelap, memegang ponselnya yang masih menyala.
Dua pria dari masa lalu dan masa kininya berada di satu ruangan yang harusnya menjadi tempat persembunyiannya. Isvara merasakan dunianya berputar hebat. Oksigen di sekitarnya seolah disedot habis, meninggalkan ia yang terengah di ambang pintu, terjebak dalam jebakan yang sama sekali tidak ia duga.
"Kenapa... kalian ada di sini?" bisik Isvara, sebelum penglihatannya perlahan mulai menggelap.
Aku sesak Isvara...