NovelToon NovelToon
Aku Ini Istrimu

Aku Ini Istrimu

Status: sedang berlangsung
Genre:KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Penyesalan Suami
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author:

Aku nggak pernah membayangkan kalau gaun putih ini bakal terasa seberat rantai besi. Menikah dengan Bara Adiwangsa bukan mimpi indah yang jadi nyata, tapi awal dari sandiwara panjang yang nggak tahu kapan selesainya.

Bara itu suamiku, tapi dia yang paling sering bikin aku merasa nggak berharga. Dia bisa bersikap manis di depan orang tuanya, lalu berubah jadi orang lain yang kasar saat dia bersamaku.

Capek? Banget. Karena suamiku mungkin berpikir dia bisa menginjak-injak harga diriku hanya karena dia merasa telah "membeliku". Dia bisa saja menatapku dengan jijik, mengacuhkanku seolah aku hanyalah pajangan mati di pojok ruangan. Dia bisa memuja masa lalunya atau mencari pelarian pada orang lain, tapi ada satu kenyataan pahit yang tidak akan pernah bisa dia hapus, sekeras apa pun dia mencoba.

"Tatap aku, Bara. Hina aku sesukamu, tapi jangan pernah lupa satu hal... Aku Ini Istrimu."

Bab 25 Apa Aku Hamil

Melihat kondisi Renata yang kurang memprihatinkan, Bara menggeser duduknya lebih dekat, matanya menyipit memperhatikan setiap detail di wajah istrinya. "Renata, kamu kelihatan kurang tidur. Aku perhatiin dari tadi muka kamu kurang segar," ucap Bara dengan nada yang mulai terdengar khawatir.

​Renata diam sejenak, ia mencoba mengatur napasnya karena tiba-tiba ada rasa bergejolak di ulu hatinya. "Emang rasanya sedikit mual, dan tiba aja pusing pas habis sarapan tadi. Tapi aku nggak apa-apa, Mas," jawabnya pelan, mencoba tersenyum meski bibirnya tampak pucat.

​Bara tidak lantas percaya. Ia menyentuh punggung tangan Renata, memastikan suhu tubuh istrinya. "Serius? Kamu nggak kenapa-kenapa kan? Aku takut kamu nggak enak badan karena masuk angin gara-gara tidur di sini semalaman."

​Reno yang tadinya asyik dengan ponselnya pun kini ia meletakkan ponselnya itu. Kemudian menatap Renata dengan saksama. "Lho, Renata... gue perhatiin juga lo emang pucat banget. Kelihatan kecapean gitu, nggak kayak biasanya."

​Renata merasa heran ditatap oleh dua pria itu sekaligus. "Kalian berdua kenapa sih? Aku baik-baik a—"

​Kalimat Renata terputus. Rasa mual yang sedari tadi ia tahan mendadak naik ke kerongkongan. Wajahnya berubah dari pucat menjadi semakin putih. Tanpa sempat berkata-kata lagi, Renata segera membekap mulutnya dan lari sekencang mungkin menuju kamar mandi di sudut ruangan.

​Brak!

​Pintu kamar mandi tertutup keras, disusul suara Renata yang terdengar sedang muntah-muntah hebat. ​Bara dan Reno tersentak kaget. Mereka berdua langsung berdiri dari sofa secara bersamaan.

​"Sayang!" panggil Bara panik, ia segera menyusul dan mengetuk pintu kamar mandi. "Sayang, kamu di dalam kenapa?"

​Reno masih mematung di tempatnya, matanya membelalak kaget. "Bar, jangan-jangan itu gara-gara makan bubur pedas tadi?" celetuk Reno, namun sedetik kemudian ia menggelengkan kepala sendiri. "Eh, tapi kan tadi sambalnya cuma dikit banget..."

​Di dalam kamar mandi, suara Renata masih terdengar sangat tersiksa, membuat detak jantung Bara berpacu jauh lebih cepat daripada biasanya.

Suara keran air terdengar mengucur deras, berusaha menyamarkan suara napas Renata yang tersengal-sengal. Ia membungkuk dalam di depan wastafel, memuntahkan seluruh sarapan yang baru saja masuk ke perutnya hingga dadanya terasa sesak. Rasa asam dan pahit tertinggal di tenggorokan, membuat matanya sedikit berair.

​Setelah beberapa saat, gejolak di perutnya perlahan mereda. Rasa mual yang tadi menyerang sehebat badai kini berangsur surut, menyisakan lemas yang menjalar ke seluruh tubuhnya.

​Renata kumur-kumur dengan air keran, membersihkan sisa-sisa muntah di mulutnya berulang kali sampai ia merasa benar-benar bersih. Ia menatap pantulan dirinya di cermin; wajahnya memang sangat pucat, dengan lingkaran hitam tipis di bawah matanya akibat kurang tidur dan tekanan

batin semalaman.

​“Apa ini karena aku kelelahan, atau apa aku salah makan?” batinnya sambil mengusap wajah dengan air dingin agar terasa lebih segar.

​Ia merapikan rambutnya sebentar, mencoba memasang wajah setenang mungkin agar tidak membuat Bara semakin cemas. Namun, ia tahu betul, begitu ia membuka pintu ini, suaminya pasti sudah berdiri di sana dengan beribu pertanyaan.

​Perlahan, Renata membuka kunci pintu kamar mandi dan melangkah keluar dengan langkah yang masih sedikit gontai.

​"Ren..." panggil Bara lirih, ia masih berdiri tepat di depan pintu dengan wajah yang luar biasa tegang. "Gimana? Masih mual? Kita panggil dokter atau suster dulh ya buat periksa kamu?"

​Bara langsung memegang kedua bahu Renata, menatap mata istrinya dalam-dalam, mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada wanita di hadapannya ini. Sementara itu, Reno berdiri di belakang Bara, tampak bingung antara ingin membantu atau hanya menonton saja.

Renata menggeleng lemah, ia mencoba melepaskan tangan Bara dari bahunya meski tenaganya terasa sangat terkuras. "Nggak usah, Mas. Mungkin cuma masuk angin karena semalam tidurnya nggak bener. Aku istirahat sebentar juga nanti sembuh."

​"Nggak bisa gitu, sayang" sahut Bara keras kepala. Matanya menyiratkan ketakutan yang nyata. "Muka kamu pucat banget lho. Nanti biar Reno, yang panggil suster atau dokter yang jaga di depan."

​"Bener tuh! Gue panggil sekarang aja yah," Reno yang tadinya bingung langsung sigap berlari keluar kamar.

​"Mas, jangan lebay deh, malu sama dokter kalau cuma karena mual..." Renata berusaha memprotes, namun kepalanya mendadak berdenyut hebat. Pandangannya sedikit kabur.

​Bara tidak peduli. Tanpa aba-aba, ia langsung menyambar tubuh Renata dan menggendongnya menuju sofa panjang di ruangan itu. "Udah diem aja. Kamu itu keras kepala banget kalau dibilangin. Sekarang kamu tiduran dulu aja di sini."

​Renata hanya bisa pasrah saat Bara menyandarkan tubuhnya dengan hati-hati. Bara kemudian mengambil minyak kayu putih dari tas kecil Renata dan mulai mengoleskannya ke pelipis istrinya dengan gerakan yang sangat lembut—sesuatu yang sangat jarang ia lakukan.

Sesekali meniup pelan pelipis Renata agar rasa hangatnya tidak terlalu menyengat. Matanya tidak lepas dari wajah sang istri, seolah takut jika ia berkedip sedikit saja, kondisi Renata akan memburuk.

​Sementara itu, di ruangan jaga perawat, Reno sudah sampai dengan langkah tergesa. Ia segera mendekati salah satu suster yang sedang duduk santai sambil menikmati gorengan di sela waktu kerjanya. Padahal belum waktunya jam istirahat suster di hadapan Reno asik makan gorengan.

​"Permisi, Suster," sapa Reno cepat.

​Suster itu tersentak kaget, hampir tersedak bakwan yang sedang dikunyahnya. Ia segera mendongak, melihat sosok pria tampan dengan pakaian formal berdiri di depannya. Dengan cekatan, ia membersihkan sisa makanan di bibirnya menggunakan tisu, lalu berdiri tegak dengan sikap profesional.

​"Iya, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" jawab suster itu ramah.

​"Ini, Suster, saya minta tolong ke ruangan VIP No. 02. Istri sepupu saya mengalami mual-mual, barusan dia muntah hebat di kamar mandi," jelas Reno dengan nada mendesak.

​"Oh, baik Pak. Mari kita cek dulu kondisinya. Saya ambil tensimeter dan peralatan dulu sebentar," sahut suster itu sigap.

​Setelah mengambil peralatan medis yang diperlukan, suster tersebut melangkah mendahului. "Mari, Pak."

​Reno mempersilakan perawat itu jalan duluan, lalu ia mengikuti dari belakang dengan perasaan was-was. Begitu mereka sampai di depan pintu kamar VIP, Reno membukanya perlahan.

​Di dalam ruangan, pemandangan yang menyambut mereka cukup mengharukan. Bara masih duduk di pinggir tempat tidur, menggenggam tangan Renata sementara tangan lainnya masih sibuk memijat lembut tengkuk istrinya.

​"Ini susternya sudah datang, Bar," ucap Reno memecah suasana.

​Suster tersebut langsung mendekati Renata. "Permisi Bu, saya periksa dulu ya tensinya. Sejak kapan mulai terasa mualnya?"

​Renata mencoba duduk bersandar meski kepalanya masih terasa berputar. "Barusan aja, Sus. Kalau mual, habis selesai sarapan langsung terasa mual banget," jawabnya lirih.

​Bara berdiri di samping Renata yang duduk lemas, matanya menatap tajam ke arah suster, seolah-olah tatapannya itu bisa membantu mempercepat proses pemeriksaan. "Tolong dicek yang teliti ya, Sus. Istri saya pucat sekali tadi."

​Suster itu tersenyum tenang sambil melingkarkan manset tensimeter di lengan Renata. "Iya Pak, tenang dulu ya. Kita cek tanda-tanda vitalnya dulu."

​Suasana ruangan menjadi hening, hanya terdengar suara detak pompa manual dari alat tensi tersebut, sementara Bara dan Reno menunggu dengan napas tertahan.

Reno masih mematung, matanya tak lepas dari sosok Renata yang tampak lemas. Pikirannya melayang liar, mencoba menebak-nebak teka-teki medis di depannya. Ehm... kayaknya Renata hamil deh, batinnya tiba-tiba. Namun, sedetik kemudian ia menggelengkan kepala dalam hati. Ah... perasaan gue aja kali ini. Sok tahu banget lo, Ren!

​Bara yang menyadari gelagat aneh sepupunya itu langsung menyenggol lengan Reno. "Sst... lo mikirin apaan dari tadi? Gue lihat-lihat malah lo yang jadi bengong kepikiran begitu," tegur Bara dengan suara rendah.

​Reno tersentak, mencoba menutupi kecanggungannya. "Eh... enggak kok. Gue cuma pengen tahu aja apa yang dialami bini lo, Bar. Takutnya dia beneran kecapekan gara-gara nemenin Om Baskoro."

Bara memperhatikan gerak-gerik Reno yang tampak tidak tenang, seolah sahabatnya itu sedang menyembunyikan sebuah teori konspirasi di balik wajah konyolnya.

​Suster yang sejak tadi fokus memeriksa tanda-tanda vital Renata akhirnya melipat kembali alat tensinya. Ia menatap wajah pucat Renata dengan dahi sedikit berkerut, seolah sedang menimbang-nimbang sesuatu yang tidak tertulis di alat medisnya.

​"Sepertinya saya akan bawa Ibu ke IGD buat dicek secara keseluruhan ya, Bu," ujar perawat itu dengan nada profesional namun tegas. "Biar dokter di sana yang melakukan pemeriksaan lebih mendalam, karena mualnya sepertinya cukup hebat."

​Renata sontak mendongak, matanya membelalak kecil karena terkejut. "Ke IGD, Sus? Nggak usah, saya cuma—"

​"Boleh banget tuh, Sus!" potong Bara dengan cepat, suaranya naik satu oktaf, tidak membiarkan istrinya menyelesaikan kalimat penolakan itu. "Saya nggak mau istri saya kenapa-kenapa karena terlalu lama nunggu di sini."

​Suster itu mengangguk paham, menyadari betapa protektifnya seorang Suami di hadapannya ini. "Kalau begitu saya permisi sebentar mau ambil kursi roda di depan. Ibu mohon jangan banyak bergerak dulu ya."

​"silakan, Suster. Terima kasih," ucap Bara singkat, suaranya kembali berat namun penuh penekanan.

​Begitu pintu tertutup, Renata menatap Bara dengan tatapan protes. "Mas, jangan berlebihan deh. Aku cuma mual biasa, malu kalau sampai harus ke IGD segala."

​"Nggak ada yang berlebihan kalau soal kesehatan kamu, Renata," sahut Bara tanpa menoleh, matanya masih menatap pintu, seolah sedang menghitung detik sampai kursi roda itu tiba. Di belakang mereka, Reno hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, semakin yakin bahwa instingnya soal "kejutan besar" di dalam perut Renata bukanlah sekadar isapan jempol belaka.

​Tak lama kemudian, suster tadi kembali masuk sambil mendorong sebuah kursi roda besi yang berdecit pelan di lantai rumah sakit. "Mari, Bu. Silakan naik, biar saya bantu," ucap suster itu dengan ramah.

​Renata perlahan bangkit dan duduk di kursi roda tersebut. Namun, saat suster itu baru saja hendak memegang tuas pendorong, Bara segera menahan kursi roda tersebut dengan tangannya yang kekar.

​"Biar saya saja, Sus, yang dorong kursi roda ini," ucap Bara tegas, tak ingin orang lain mengambil alih tugas untuk menjaga istrinya.

​Suster itu sedikit terkejut namun langsung tersenyum maklum. "Silakan, Pak."

​Mereka pun berjalan bersamaan menuju koridor rumah sakit yang panjang. Bara mendorong kursi roda dengan sangat hati-hati, memastikan setiap guncangan di lantai tidak membuat Renata semakin pusing. Reno berjalan di samping mereka, masih dengan sisa-sisa pemikiran "sok tahu"-nya yang ia simpan rapat-rapat.

​Sementara itu, Renata hanya bisa terdiam di atas kursi roda. Perasaannya campur aduk antara rasa mual yang masih tersisa dan debaran jantung yang aneh. Ia menatap punggung tangan Bara yang menggenggam erat pegangan kursi roda, merasakan perhatian suaminya yang luar biasa pagi ini—sesuatu yang membuatnya merasa hangat sekaligus bertanya-tanya, kejutan apa yang sebenarnya sedang disiapkan oleh takdir untuk mereka di ruangan IGD nanti.

Suasana di ruang IGD yang siang ini terasa hening bagi Bara, Renata, dan Reno begitu mereka sampai di sana. Dokter piket ruang IGD yang melihat kedatangan mereka segera bangkit dan mengarahkan agar Renata dibantu naik ke atas brankar.

"Permisi... Dokter, ada pasien yang harus di periksa." Ucap perawat itu.

Kedatangan pasien di jam segini, Dokter segera bangun dari kursinya, kemudian mendekat ke Renata dan berkata. ​"Mari, Bu, tiduran sebentar. Saya cek kondisinya," ucap dokter itu dengan tenang. Ia mulai menempelkan stetoskop ke dada dan perut Renata dengan saksama. "Keluhannya apa, Bu?"

​"Ini, Dok... saya merasa mual-mual, dan barusan sudah saya muntahkan semua. Terus sekarang kepala saya sedikit pusing," jawab Renata dengan suara yang masih lemah.

​Dokter itu tampak berpikir sejenak. Saat stetoskopnya berpindah ke area perut, dahinya sedikit berkerut. Ada sesuatu yang berbeda, namun ia tetap bersikap profesional. "Baik. Tapi perut Ibu merasa sedikit sakit atau kram?"

​"Iya, Dok, ini juga terasa sedikit sakit. Apa saya salah makan ya tadi barusan?" tanya Renata cemas.

​Dokter itu menjauhkan stetoskopnya, lalu menatap mereka bertiga secara bergantian. Kalimat selanjutnya yang keluar dari mulut sang dokter benar-benar membuat jantung mereka seolah berhenti berdetak.

​"Begini, Bu. Perkiraan saya, Ibu tidak mengalami gejala sakit pada umumnya seperti mual-mual biasa atau maag. Tapi, ini perkiraan saya... Ibu sedang mengandung janin yang ada di dalam perut Ibu. Bisa saja Ibu mual-mual karena awal dari tanda kehamilan."

​Mendengar itu, Bara terperanjat di tempatnya berdiri. Renata yang berbaring di brankar spontan menutup mulutnya dengan telapak tangan, matanya membelalak tak percaya.

​"Tapi... ini benar, Dok? Istri saya hamil? Apa bagaimana?" tanya Bara dengan nada suara yang bergetar antara panik dan bahagia yang tertahan.

​Dokter itu tersenyum simpul, mencoba menenangkan suasana. "Begini, Pak. Ini baru diagnosa awal atau perumpamaan saya berdasarkan pemeriksaan fisik tadi. Jadi," dokter itu kini menatap Renata, "Ibu coba pakai test pack terlebih dahulu setelah ini. Nah, nanti hasilnya akan lebih jelas. Kalau sudah kelihatan hasilnya, Ibu bisa datang lagi ke rumah sakit untuk diperiksa lebih lanjut oleh dokter spesialis kandungan ya, Bu."

​Renata mengangguk pelan, pikirannya masih berkecamuk. "Tapi... ini saya nggak kenapa-kenapa kan, Dok? Maksudnya, janinnya?"

​"Tenang saja, Bu. Saya juga tidak akan memberikan obat-obatan keras untuk Ibu sekarang agar lebih aman. Tapi kalau nanti hasilnya di test pack ternyata negatif, berarti memang Ibu hanya mengalami gejala penyakit umum. Saya harap hasilnya positif, Bu," ucap dokter itu menyemangati.

​"Amin," jawab Renata singkat dengan suara nyaris berbisik.

​"Mari semua, saya tinggal dulu. Silakan diselesaikan urusannya," pamit dokter itu kembali ke mejanya.

​Suasana di sekitar brankar itu kini terasa sangat canggung namun penuh harapan. Reno, yang sejak tadi berdiri di belakang, hanya bisa menyenggol lengan Bara sambil berbisik penuh kemenangan, "Apa gue bilang, Bar? Insting gue emang nggak pernah meleset!"

​Bara tidak menjawab, ia hanya terus menggenggam tangan Renata, menatap istrinya dengan tatapan yang kini dipenuhi oleh binar yang baru.

Renata bangkit dengan perlahan, dibantu oleh Bara untuk kembali duduk di kursi roda. Mereka meninggalkan area IGD menuju lift, namun suasana di antara mereka mendadak hening dan berat. Pikiran Renata melayang jauh, membayangkan berbagai kemungkinan yang bisa terjadi.

​Di tengah koridor yang panjang, Renata akhirnya memecah keheningan dengan suara yang terdengar ragu. "Mas... semisalnya kalau aku bener-bener nggak hamil gimana, Mas? Apa tanggapan kamu? Aku takut kamu kecewa."

​Bara menghentikan langkahnya sejenak. Ia membungkuk, menyejajarkan wajahnya dengan Renata, lalu mengelus rambut istrinya dengan sangat lembut. Tatapannya yang biasanya tajam, kini melunak. ​"Sayang, kamu jangan berpikir yang negatif dulu. Apalagi kamu bicara seperti itu, ingat... omongan adalah doa lho," jawab Bara menenangkan.

​Mata Renata mulai berkaca-kaca saat menatap suaminya. "Yah... aku juga nggak mau, Mas, kalau ternyata aku nggak hamil. Aku kepengen banget mengandung anak dari kamu, Mas. Aku pengen kita punya keluarga yang lengkap."

​Bara tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus yang jarang ia tunjukkan. "Yaudah, intinya kamu sekarang jangan banyak pikiran dulu. Nanti kita pulang dulu ya, biar kamu bisa istirahat dan kamu bisa pakai test pack di rumah."

​Renata hanya mengangguk patuh, merasa sedikit lega mendengar jawaban Bara yang tidak menekannya.

​Tak terasa, mereka sudah sampai di depan pintu kamar VIP nomor 02. Sebelum mereka sempat memutar kenop pintu untuk melihat kondisi Om Baskoro, Reno tiba-tiba menahan langkah mereka. Ia berdiri tegak dengan wajah yang tampak lebih serius dari biasanya.

​"Bar," panggil Reno. Bara menoleh. "Biar gue aja yang nungguin Om Baskoro di sini. Lo mending anterin bini lo pulang sekarang. Kasihan juga kalau dia harus pulang sendiri atau nunggu lama di sini, di tambah kondisinya lagi nggak fit gitu."

​Ia menepuk bahu Bara, seolah memberi dukungan penuh bagi sepupunya itu untuk fokus pada urusan rumah tangganya. "Soal Om Baskoro, tenang aja. Nanti kalau ada apa-apa atau Dokter datang lagi, gue langsung kabari lo."

​Bara menatap Reno dengan rasa terima kasih yang tak terucap, lalu kembali beralih pada Renata yang tampak sangat membutuhkan sandaran saat ini.

1
tifara zahra
bikin renata hamil tor
Mr. Han: Boleh sih kak, tapi kita belom tau nih, nanti renata bakal mengalami gejala mual-mual apa itu cuma penyakit umum, atau bisa jadi hamil. Jangan lupa baca kelanjutannya kak. Terimakasih😍
total 1 replies
Nanda
salam kenal yah...
neng aja
bintang 5 buat renata hehehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!