NovelToon NovelToon
Tolong Rebut Suamiku Dan Ambil Takdirku

Tolong Rebut Suamiku Dan Ambil Takdirku

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Pelakor jahat
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Kak_Hans

Jihan Fahira memergoki suaminya selingkuh dengan sahabatnya. saat dia kembali dari rumah sakit. Saat itu suami dan sahabatnya sedang melakukan hubungan yang tidak pantas di dalam sebuah villa.

Saat itu Jihan tewas di tangan suami dan sahabatnya sendiri. Namun keajaiban muncul dalam hidupnya. Dia di beri kesempatan kedua. Jihan kembali hidup ke enam tahun yang lalu.

Kesempatan kedua untuk membalas dendam dan mengubah kembali takdir tragis yang akan terjadi di masa depan.

Mampukah Jihan membalas dendam dan mengubah takdir tragis yang akan menimpanya ?

Follow Ig: Hans_Sejin13.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21

Hush...! Kak Hendrick... Akh... Sst..!" Regina, mengkhayal dirinya di sentuh oleh Hendrick di dalam kamar mandi.

Tangannya meraba-raba tubuhnya, kemudian sambil menggesek-gesekkan v***** nya. Membayangkan di setiap sentuhan.

🚪Tuk! Tuk! Tuk!

Hendrick mengetuk pintu kamar mandi. Regina yang sedang menikmati sensasi di setiap sentuhan, langsung terkejut dan menghentikan gerakannya.

"Regina... Kamu ada di dalam...?" Tanya Hendrick.

Dirinya berniat untuk meminta maaf atas apa yang terjadi tadi.

"Ia, kak! Aku di dalam... Ada apa...?" Jawab Regina, kemudian segera merapikan pakaiannya.

"A-aku cuma mau bilang, maaf soal tadi, aku tidak bermaksud melecehkan mu? Kamu tidak marah kan Regina?!" Ujar Hendrick, dengan terbata-bata, wajahnya masih sedikit merah.

"Tidak apa-apa kak! Aku tidak marah," jawab Regina.

Regina kemudian membuka pintu kamar mandi secara perlahan. Dengan wajahnya yang memerah, dan napas yang masih terengah-engah.

"Kak Hendrick! Kamu masih di sini...?" Tanya Regina, saat membuka pintu dan melihat Hendrick yang masih berdiri di depan pintu.

"I-ia... Kamu ada urusan penting dengan Jihan...?" Tanya Hendrick, mengalihkan pembicaraan.

"Tidak ada kak! Aku hanya ingin menginap malam ini di sini...?" Ucap Regina., sedikit berjalan mendekati Hendrick.

Namun sebenarnya alasan utamanya adalah untuk mengetahui detail proposal milik Jihan. Regina mencoba mencari tahu seperti apa proposal yang di buat oleh Jihan.

"Re-Regina... Bagaimana kalau kita ngobrolnya jangan di sini...?" Ucap Hendrick, dirinya masih saja gugup, karena hanya ada mereka berdua di dalam rumah.

"Baik kak! Sekalian kita menunggu Jihan..." Ujar Regina.

Mereka kemudian kembali ke ruang tamu, dan akhirnya berbincang-bincang, namun saat itu mata Regina memperhatikan dimana Jihan menaruh salinan data dari proposal yang dia buat.

•••☘☘☘•••

Saat itu Jihan yang sedang berada di luar, dirinya kemudian teringat bahwa semua catatan yang dia tulis berada di dalam laci, di ruangan kerjanya yang tidak ia kunci.

"Astaga! Aku lupa, semua catatan ku ada di dalam laci... Aku lupa menguncinya, bagaimana jika mereka melihatnya...!" Ucap Jihan yang sekarang terlihat sangat panik.

Jihan kemudian segera pergi mencari taksi. Di pinggir jalan raya.

"Aku harus segera pulang... Bagaimana ini, kenapa tidak ada satupun taksi yang lewat...!" Ujarnya sambil melihat kearah jalan raya, berharap ada taksi yang lewat saat itu.

Dirinya sangat cemas dan panik, takut salah satu dari mereka ada yang membuka laci di kamar nya. "Sial... Aku harus segera pulang, bagaimana ini..." Ujarnya sambil menggigit ujung jarinya, tubuhnya tampak gemetar dan gelisah.

Karena tidak ada juga taksi yang lewat, Jihan akhirnya memutuskan untuk berlari menuju rumahnya.

Dengan langkah yang terburu-buru Jihan berlari sekencang-kencangnya menuju rumahnya.

•••☘☘☘•••

Di dalam rumah. Regina dan Hendrick yang sedang mengobrol, walaupun masih sedikit canggung. Regina saat itu bertanya kepada Hendrick apakah dia akan menikah dengan Jihan.

Dengan ragu-ragu Regina membuka mulutnya lalu bertanya. "K-Kak Hendrick... Ehmm...! Kakak! Apa kak Hendrick, Tahun ini ada rencana menikah dengan Jihan...?" Ujarnya dengan terbata-bata dan sedikit serak.

"Heeem... Sepertinya ia, aku dan Jihan baru bertunangan, mungkin aku akan melamar nya untuk menikah!" Jawab Hendrick tegas.

"Oh... Semoga berhasil kak!" Ucap Regina, namun dalam hatinya penuh rasa iri.

Regina kembali bertanya kepada Hendrick. Apakah dia tahu di mana Jihan menyimpan proposal yang di buat oleh Jihan.

"Kak! Apakah kakak tahu dimana di mana Jihan menyimpan proposal miliknya...?" Tanya Regina tegas, tanpa basa-basi menanyakan nya kepada Hendrick.

"Proposal apa...?" Jawab Hendrick, dirinya sedikit bingung, karena tidak tahu proposal apa yang di maksud Regina.

"Kakak tidak tahu...? Itu proposal yang di tolak oleh pak Toni, aku ingin membantunya memperbaiki proposal milik nya..." Ujar Regina.

"Tidak tahu! Coba kamu cari di kamar atau ruang kerjanya...!" Ujar Hendrick, menyuruh Regina mencarinya sendiri.

Dalam hati Regina tersenyum puas mendengar perkataan Hendrick. Itu adalah sesuatu yang dia harapkan.

"Kak! Kalau begitu aku cari dulu ya..." Ujar Regina, dirinya berdiri dari sofa, kemudian berjalan menuju kamar Jihan.

Regina membuka pintu kamar Jihan, lalu menyalakan lampu kamarnya.

Tap! Regina menekankan tombol lampu, dan kamar Jihan terlihat sangat jelas. Regina berpikir sejenak dimana Jihan menyimpan nya.

"Jihan dimana kamu menyimpan nya!" Bisik nya, dirinya kemudian segera mencari salinan proposal itu.

Di perjalanan Jihan yang berlari sangat kencang, akhirnya sampai di halaman rumahnya, dirinya terengah-engah dan berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya.

"HUUH...! Akhirnya aku sampai!"ujar Jihan menghela nafas panjang sambil tengah-tengah.

Dirinya sudah berdiri di halaman rumahnya, kemudian segera masuk, Jihan membuka pintu dengan kencang.

Brak!

Suara pintu yang terbuka dengan kencang. Hendrick yang sedang duduk sambil menonton televisi langsung terkejut dengan suara gebrakan pintu.

"Jihan... Kamu kenapa...?" Tanya Hendrick, saat melihat Jihan yang sedang terengah-engah.

"Hendrick! Dimana Regina...?" Tanya Jihan, nafasnya masih terengah-engah.

Hendrick, kemudian mengatakan dimana Regina berada. "Regina...! Dia ada di kamar mu... Ada apa... Kenapa kamu terengah-engah seperti itu?" Ucap nya, kemudian bertanya kepada Jihan.

Namun saat itu Jihan menghiraukan pertanyaan Hendrick kepada dirinya. Dengan langkah cepat Jihan segera pergi ke kamarnya menyusul Regina.

Di dalam kamar, Regina belum juga menemukan proposal itu, kemudian matanya tertuju kepada laci kecil di bawah meja kerjanya Jihan.

"Mungkin di situ... Jihan menyimpan proposal nya" bisik nya, matanya tertuju kepada laci kecil itu, kemudian berjalan mendekat. Dia membungkuk bersiap untuk membuka laci tersebut.

Saat dia berjalan, kemudian tangannya menyentuh laci itu, saat dia akan membukanya.

Brak!

Jihan sampai dan membuka pintu kamarnya. "Regina! Sedang apa kamu di kamar ku...?" Tanya Jihan, yang saat itu melihat Regina hampir membuka lacinya.

Regina terkejut melihat Jihan sudah sampai di rumah. "Jihan, kamu sudah pulang...!" Ucapnya, saat itu tangannya kembali menutup laci itu yang sudah sedikit terbuka.

"Regina, jawab apa yang kamu lakukan di dalam kamar ku?" Tanya Jihan secara tegas.

Saat itu Regina sedikit bingung, alasan apa yang harus dia katakan kepada Jihan. "A-anu Jihan, aku hanya mencari-" ucap Regina kemudian di potong oleh Jihan.

"Sudah, sekarang kamu keluar dari kamar ku..." Ujar Jihan, dengan suara tinggi yang terdengar marah.

"Jihan... Kamu kenapa? Apa kamu marah denganku...?" Tanya Regina, dirinya sedikit gemetar saat itu.

Jihan kemudian menghela nafas panjang, dia tahu ini bukan saatnya marah kepada Regina, lalu menyuruh Regina keluar dari kamarnya secara lebih halus.

"Maaf Regina! Aku tidak bermaksud begitu... Aku juga tidak marah sama kamu...!" Ujar Jihan, sedikit lebih lembut.

Regina juga tampak kesal dengan Jihan karena datang dan menggalakan rencananya, keluar dari kamar Jihan. Dirinya juga sengaja menyenggol Jihan saat keluar dari kamarnya Jihan.

"Baiklah Jihan, aku keluar sekarang juga!" Ujarnya kesal, kemudian berjalan dan sengaja menyenggol lengan Jihan.

Setelah itu Jihan menutup pintu kamarnya. Lalu melihat laci nya. "Syukurlah, Regina sepertinya belum melihat nya" ucap Jihan merasa lega.

"Sepertinya aku harus menyimpan catatan ini di tempat yang lebih aman" ujar Jihan kemudian menyimpannya di tempat yang tidak mungkin di ketahui oleh Regina.

"Regina... Tunggu sebentar lagi... Belum saatnya kamu merasakan penderitaan yang aku alami... Aku pastikan kamu akan mengambil semua takdir ku..."

𝐵ℯ𝓇𝓈𝒶𝓂𝒷𝓊𝓃ℊ...ღ

1
Sandrina
cocok, emang munafik banget, sahabat macam apa itu 🤬🤬🤬
Sandrina
greget banget sama sahabat nya ini, playing fictim
Sandrina
astaghfirullah, baru baca udah di suguhin yg kayak gini 😭
Nana✨
Tabiat sahabatmu yang sangat kau percaya, Jihan🥺
Rahma
ini lagi
Rahma
astaga 😭 baru baru baca, udah di kasih yg becekbecek😭
Tina
Kopi untukmu Thor 🤗
Tina
Bisa²nya pembukaan aku langsung reflek istighfar 😭
Sishrye
ohhhhh......
Nana✨
Belahan jiwa maksudnya belahan suami apa gimana, jir!
한스Hans: , emm, makasih udah mampir kak🙏, pantai terus ya ceritanya, nanti ada
total 1 replies
Nana✨
Astaghfirullah😭😭
pojok_kulon
Jangan sampai Regina yang menjadi madunya 🤭🤭
한스Hans: 🤣 Kaka bisa aja🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!