Memiliki jabatan perwira, wajah tampan, di gilai banyak wanita, dan juga terlahir dari keluarga konglomerat tak lantas membuat Aabid diliputi kebahagiaan dalam berumah tangga.
Bagaimana tidak, istri yang ia nikahi masih dalam hitungan hari itu, sedang bersama seorang pria di dalam kamar, kamar yang dipersiapkan untuk malam pertama Aabid bersama istrinya, yang rencananya akan mereka lakukan setelah Aabid pulang tugas, namun...
Penasaran dengan alurnya? yukk baca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penapianoh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SANG PERWIRA 29
Hari di mana selina melangsungkan pernikahan akhirnya tiba. Riuh kebahagiaan terlihat jelas di rumah sederhana miliknya.
Sejak subuh selina sudah dikelilingi oleh perias yang berjumlah tiga orang. Sementara perias lain merias Asri dan juga para penerima tamu yang lain.
Entah berapa banyak dana yang harus dikeluarkan Harun. Tapi, Harun tak ambil pusing, baginya kebahagiaan selina tidak bisa diukur dengan uang.
Di dalam kamar Dito tampak menyiapkan penampilan terbaiknya. Baju batik bercorak hijau dikenakannya, rambut ditata rapi menggunakan minyak rambut yang merknya tidak terkenal, lalu disemprotkannya minyak wangi di akhir tampilan.
"Gimana, Om? Udah keren belum?" tanya Dito di depan cermin.
"Keren, emang kamu mau ngapain dandan kayak gitu?Yang nikah bukannya kakak kamu, selina?" tanya Aabid yang terlihat sama, tak ada perubahan, bahkan baju pun belum ia ganti dari semalam.
"Ish, Om. Dito kan mau nyumbang lagu nanti. Gimana sih," jawab Dito lalu kembali menatap cermin di depannya.
Tawa Aabid pecah seketika mendengar jawaban dari
Dito. Lepas. Tawa lepas yang sudah lama ia tidak memilikinya.
Tapi tak lama tawa itu terhenti kala Dito dengan cepat memberi isyarat Aabid untuk diam. Jari telunjuk ia letakkan di bibir, matanya melirik ke kanan dan ke kiri.
Seketika pula Aabid menghentikan tawanya. Dengan menutup mulutnya menggunakan telapak tangan.
"Jangan keras-keras, Om," bisik Aabid.
"Sorry."
Dito menghempaskan tangannya.
"Emang kenapa kalau Dito nyumbang lagu? Asal Om tahu, di sekolah Dito dulu anggota band."
"Yassalam." Reflek Aabid berujar lalu kembali tertawa kali ini tawanya lebih ia kontrol, sehingga tidak terlalu keras.
Entah mengapa ia merasa begitu geli mendengar ocehan Dito barusan.
"Om, nggak percaya banget? Kayak bisa aja. Paling nyanyi tembang kenangan bisanya. Ya, kan?" Merasa diejek maka Dito mengejek Aabid balik.
"Jangan menghina. Kita buktikan. Tapi jangan kampungan." Merasa tertantang Aabid pun menanggapinya.
"Apa maksudnya?"
"Lagunya yang beken. Kita duet," tantang Aabid tanpa pikir panjang.
"Widih, oke. Siapa takut." Dito menerima tantangan dari Aabid dengan tanpa ragu dan penuh suka cita.
"Dito. Keluarga A' Dimas sudah datang. Buruan keluar!" Panggilan dari luar terdengar melengking dan tajam.
Pertanda bahwa Dito harus segera keluar.
"Sampe ketemu di panggung, Om."
"Hem."
Dito keluar kamar dengan terburu. Setelahnya Aabid mengusap wajahnya.
"Aduh anak kecil ditanggepin. Malah ngajak duet lagi. Duet apa? Ngomong aja semua pada lari." Aabid mengeluh pada diri sendiri, menyesali perbuatan yang pasti akan memalukan diri sendiri nanti.
Pintu dibuka lagi, Aabid tersentak, menatap ke arahnya.
"Om, buruan keluar udah mau akad. Penghulunya udah OTW. Om ngapain masih di situ?" Dito kembali datang, tidak masuk kamar, tapi hanya melongok kan kepalanya.
"Iya. Sebentar lagi."
"Buruan."
"Ya."
Pintu kembali ditutup oleh Dito namun kali ini ia tak menguncinya dari luar. Aabid pun mengunci pintu karena hendak mengganti baju. Ia lantas mengeluarkan batik dari dalam tas.
Batik berwarna merah ia kenakan bersama celana hitam berbahan kain. Warna yang mampu menambah aura kegagahan saat Aabid mengenakannya.
Di depan kaca ia menatap wajahnya, lama. Lalu tangannya terulur meraih alat cukur jenggot manual yang ia suruh beli Dito di warung dekat rumahnya kemarin.
Sementara Aabid mempersiapkan diri. Di bagian luar, tepatnya ruang tamu, para tamu mulai berdatangan, tak terkecuali keluarga Asri.
Di sebelah Hasna duduk kedua putri dan suaminya. Tidak ketinggalan juga Ayu yang kini menatap kagum pada pria idaman, yang sudah mengganti jas dengan pakaian pengantin, bersiap mengucap ijab kabul yang hanya menunggu hitungan menit. Dimas.
Di tempat duduknya, Dimas diapit oleh mama dan papanya. Dadanya berdebar tak beraturan. Tak sabar menunggu pujaan hatinya keluar dari kamar dan menjadi miliknya sepenuhnya.
Dimas menunggu dengan perasaan yang tak menentu. Sampai penghulu datang dan siap untuk melakukan tugasnya.
Tak lama selina benar-benar keluar, ditemani kedua orang tuanya kala diberitahukan pada mereka bahwa penghulu sudah datang.
Balutan kebaya berwarna putih dan singer yang menjadi ciri khas pengantin sunda dikenakannya.
Dimas semakin tertegun melihat sang pujaan hati yang semakin bersinar dan memancarkan pesonanya.
Tak berbeda dengan Dimas. Dada selina pun berdebar hebat. Ia tak menyangka jika dirinya sampai di titik ini, melepas masa lajang, di mana setelah ini kehidupannya akan berubah.
Semua akan ia berikan pada sang suami. Pengabdian hingga kehormatannya akan ia berikan pada pria yang tak bisa mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Di balik rasa berdebar, tentu rasa syukur tak kalah besar hadir dalam diri selina. Ia bersyukur karena setelah ini tak akan lagi menjadi beban pikiran kedua orang tuanya.
"Silahkan duduk, Nak selina, Nak Dimas," seru penghulu, menunjuk tempat duduk di depannya. Rasa berdebar kedua mempelai pun semakin menggila.
Dimas menatap selina dengan senyum yang tak pernah memudar, hatinya berbunga-bunga tak sabar mengucap ikrar.
Ia menuju ke depan penghulu setelah mengulurkan tangan ke arah selina yang menyambut uluran tangannya dengan senyuman malu.
Tepat di hadapan mata Ayu, kedua tangan itu berpegangan erat, Dimas berjalan tanpa mengalihkan pandangan ke arah lain, ia seolah memuja dan mengagumi penampilan selina kali ini dan itu membuat Ayu seakan ingin mati saja.
Dadanya sesak, matanya mengembun, harusnya ia tak datang, tapi karena neneknya memaksa maka ia terpaksa datang dengan segala rasa sakit yang menderanya.
Tangannya terus meremas kebaya merah yang ia kenakan, matanya tak lepas dari pria yang menjadi harapan namun gagal untuk dia dapatkan.
Sorot kebencian lalu ia arahkan pada sepupu yang ia anggap sebagai penghambat dan penghancur kebahagiaannya itu. Selina.
"Bagaimana Dimas, Selina. Sudah siap? Para saksi sudah siap?" tanya Penghulu.
"InsyaAllah siap," jawab Dimas tersenyum samar.
Kemudian disahut dengan jawaban yang sama oleh para saksi yaitu Veri dari pihak selina dan Om dari Dimas dari pihak Dimas.
"Baik kita mulai sekarang."
Penghulu lalu membuka prosesi akad nikah dengan mengucapkan Al Fatihah, istigfar, dan syahadat bersama seluruh tamu undangan yang hadir.
Kemudian tangannya terulur ke arah Dimas. Dimas menyambut dengan dada yang tak hentinya berdebar.
"Dimas Arya Shaka. Saya nikahkan engkau dan saya kawinkan engkau dengan Selina Ningtyas binti Harun dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan uang sebesar dua juta rupiah dibayar tunai."
"Saya terima nikahnya Selina Ningtyas ...."
"Dimas!" Suara melengking nyaring terdengar, seorang pria dan wanita dengan penampilan sosialita terlihat membelah kerumunan tamu yang sedang menyaksikan pengucapan janji suci.
Sontak Dimas bangkit dari tempat duduknya ia terperangah, melihat siapa yang datang dengan mata melebar ia hanya bisa mematung bak orang terkena serangan jantung.
"Siapa, A'?" tanya selina yang mengikuti Dimas beranjak dari duduknya.
Dimas tak bisa menjawab, lidahnya kelu. Dan semakin kelu kala wanita dan pria itu melangkah maju ke arahnya dengan napas memburu.
"Ma-ma, Papa. Kenapa ada di sini?"
Plak!
Bukan jawaban yang Dimas dapatkan melainkan pukulan keras mengenai tepat di pipinya.
Seketika Dimas memegangi pipinya yang terasa panas. Seketika juga semua yang ada di ruangan itu terperangah. Tak terkecuali selina. Ia reflek memegang pundak Dimas.
"Papa, Mama? Bukannya Papa sama mama kamu ada di sini?" tanya selina menunjuk pada sepasang pria dan wanita yang juga sudah berdandan rapi memakai kebaya yang disiapkan perias dan sejak tadi mendampingi Dimas.
Namun, keduanya langsung tertunduk begitu selina menyebut mereka. Ada apa ini? Pikiran selina mulai tak tenang.
"Diam kamu!" Wanita itu pun menyela, tangannya menghempaskan tangan selina dari pundak Dimas dengan kasar.