☞☞☞Memiliki suami karena sebuah perjodohan tidaklah mudah. Terlebih suamiku tidak mencintaiku dan masih mencintai mantannya.
Menjalin hubungan terpaksa dengan orang yang asing bagiku, membuatku ingin hampir menyerah.
Terlebih ia adalah laki-laki pertama bagiku. Karena sebelumnya aku tidak pernah menjalin hubungan dengan seorang laki-laki.
✏🌷💃Ini merupakan novel keduaku. Semoga kalian suka. Terus dukung karyaku dengan like komen dan votenya ya. Mengandung unsur dewasa jadi mohon bijak dalam berkomentar🤗💃*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nieyha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MEMBUAT KESAL
Please, like komen dan votenya ya semoga kita selalu sukses dalam berkarya 🤗🤗🤗🤗
********
"Turunkan disini saja. Aku bisa menyambung dengan taksi online", Lia berucap setelah beberapa menit terdiam di dalam mobil Leon merasakan sesak dan hawa mencekam.
"Jangan gila kamu. Papa pasti sedang memata-matai kita. Bukankah kamu senang diantar pulang olehku sesuai keinginannmu?", Leon berucap dengan percaya diri.
"Jangan terlalu percaya diri Tuan. Saya bukan wanita rendahan seperti itu", Lia berkata kembali secara formal.
"Hah...aku sudah tahu dengan akal licik wanita sepertimu", Leon terus menghadiahi dengan kata-kata tak menyenangkan.
"Terserah Anda. Anda bisa meninggalkan saya disini kalau Anda tidak suka", lagi-lagi Leon harus kalah dengan ucapan Lia. Mana berani ia meninggalkan Lia seorang diri di pinggir jalan. Bisa-bisa papanya mencekiknya sampainya ia di rumah.
Mereka kembali terdiam. Kali ini Lia sudah tidak merasakan hawa menakutkan seperti di awal tadi. Satu kunci yang menjadi kelemahan Leon sudah ia pegang. Laki-laki menakutkan itu ternyata takut dengan papanya.
Leon sendiri mencoba mengobati kekesalannya. Saat ini bagaikan ia menjadi supir pribadi anak majikannya. Yang mengantar pulang dengan cuma-cuma. Betapa sialnya nasibnya hari ini.
Ia memutar lagu jazz kesukaannya. Memecah keheningan di dalam mobil. Yang saat itu pukul tujuh malam.
Leon terus melajukan mobilnya. Hingga lampu lalu lintas menyala merah. Mengharuskannya untuk berhenti. Samping perempatan lampu merah itu terdapat
sebuah restoran.
Ia melihat wanita tinggi semampai berkulit putih menggandeng seorang pria. Masuk ke dalam restoran itu. Siapa lagi kalau bukan Caca mantannya.
Menurut informasi yang ia peroleh dari anak buahnya, Caca sedang menjalin hubungan asmara dengan rekan bisnisnya yaitu Tuan Alex yang waktu itu berkunjung ke kantornya.
Namun yang ia lihat saat ini berbeda. Caca nampak bersama pria lain yang ia sendiri tak mengenalnya. Lalu apakah hubungan Caca dengan Tuan Alex sudah kandas dan telah berganti kekasih baru? Rasa penasaran menyelimutinya. Ia kemudian memukul stir mobilnya.
Tanpa ia sadari Lia memperhatikan kemana arah mata Leon tertuju sampai ia begitu terlihat kesal.
"Apakah itu kekasihmu?", dengan berani Lia langsung bertanya. Ia tidak mau asal menebak yang hanya membuat sakit kepala.
"Siapa yang kamu maksud?", Leon balik bertanya sambil melajukan mobilnya kembali karena lampu lalu lintas sudah menyala hijau.
"Itu wanita bersama pria yang masuk ke restoran", jelasnya.
"Bukan urusanmu", Leon memperlihatkan ekspresi semakin kesalnya. Walaupun sebenarnya ia sangat malu karena Lia sampai mengetahuinya.
Lia tertawa sangat senang. Berhasil membuat Leon kesal. Ia tahu kalau Leon juga sangat malu.
"Apa yang sedang kau tertawakan?", tanyanya seakan tak terima.
"Tidak apa-apa. Aku hanya berpikir benar saja kalau wanita itu memilih selingkuh. Karena dia pasti tidak tahan punya pasangan sepertimu", Lia berbalik terus meledek Leon. Entah kenapa ia semakin berani.
"Jaga ucapanmu. Aku harus mengantarmu kemana? Dari tadi kamu belum memberikan alamat untukku".
"Jl. Anggrek no. xxxxx", Lia hanya menjawab singkat.
Leon berpikir sejenak. Sepertinya ia mengenal alamat itu. Bukankah itu alamat apartemen Amanda ketika magang waktu itu? Apakah mungkin wanita ini punya apartemen disana? Ucapnya ketika ia menyadari kalau dirinya dulu sering ke apartemen itu.
"Kenapa melihatku? Apa yang sedang kamu pikirkan?", Lia bertanya ketika merasa sepasang mata melihat ke arahnya.
mending sama aku saja bang...